Friday, June 23, 2017

The Jose Flash Review
Transformers: The Last Knight

Meski selalu dihujani caci maki dari para kritikus, Transformers tetap kokoh sebagai salah satu franchise terbesar dan paling menguntungkan di seluruh dunia sepanjang masa. Tak heran jika Paramount Pictures selaku pemegang rights-nya terus melaju dengan sineas yang selama ini melambungkan popularitasnya, Michael Bay. Berkali-kali mengaku tak mau lagi menangani installment lanjutan, nyatanya sampai installment kelima bersub-judul The Last Knight (TLK) ini masih berada di arahan tangan besinya. Mark Wahlberg, Stanley Tucci, John Turturro, dan bahkan Josh Duhammel kembali mengisi peran dari installment-installment sebelumnya. Ditambah kehadiran Sir Anthony Hopkins, the new Transformers’ Babe mengikuti jejak Megan Fox dan Rose-Whitely Huntington, Laura Haddock, bintang muda Amerika-Peru jebolan serial Nickelodeon, Isabela Moner, Liam Garrigan yang sekali lagi memerankan karakter King Arthur setelah di serial Once Upon a Time, serta finalis program kontes Sky One’s Project Catwalk yang barusan kita lihat di Fantastic Beasts and Where to Find Them dan Stratton, Gemma Chan. Masih dihujani caci maki kritikus, bahkan dicap sebagai installment terburuk dalam franchise Transformers, dan hasil box office domestik pekan pertamanya terendah, tapi hasil box office internasionalnya masih sangat memuaskan. So yes, the franchise shall go on, with even more fantastical visual.

Sejak pertarungan akbar yang meluluh-lantakkan Hong Kong, Transformers dinyatakan ilegal di seluruh dunia. Optimus Prime menghilang di luar angkasa sementara Autobots lainnya bersembunyi sendiri-sendiri, menghindari TRF (Transformers Reaction Force), pasukan khusus yang dibentuk untuk memburu para Transformers. 

Ada beberapa pihak yang diam-diam menyembunyikan Autobots, menunggu saat yang tepat untuk kembali menampakkan diri. Salah satunya Cade Yeager yang bahkan sampai harus lost contact dengan sang putri demi menyembunyikan lokasi keberadannya. Ada juga gadis remaja yang ternyata piawai urusan mekanis Transformers dan memiliki Autobots berbentuk skuter Vespa, Izabella. 

Yeager tiba-tiba didatangi Transformers berbentuk manusia, Cogman, yang mengaku diutus seseorang bernama Sir Edmund Burton untuk menjemputnya ke kastil beliau di Inggris. Ada sesuatu yang penting membutuhkan bantuannya. Sesampai di Inggris, Sir Burton menjelaskan sejarah panjang Transformers yang ternyata sudah membantu umat manusia di bumi sejak era King Arthur, bahkan punya andil dalam mengalahkan NAZI era Perang Dunia II, dan mengapa mereka terus berdatangan ke bumi. Bersama seorang wanita seksi yang ternyata bergelar profesor di Oxford, Viviane Wembley, Yeager ditakdirkan menyelesaikan misi penting untuk melindungi bumi dari ancaman Quintessa yang mengaku sebagai dewi para Transformers dari Planet Cybertron.

Sama seperti installment-installment sebelumnya, speaking of franchise Transformers sudah bukan membahas plot cerita per film lagi, tapi konsep besar yang terus diperluas (atau diulur-ulur?) dari installment ke installment. TLK akhirnya memberi penjelasan yang fundamental tentang eksistensi Transformers dengan umat manusia. Tak terlalu rumit, malahan termasuk generik dan formulaic, tapi setidaknya membuat semuanya menjadi masuk akal dan merujuk pada konsep asal franchise Transformers, terutama dari versi komik dan serial animasinya. Ada hint pula akan kemunculan sosok Unicron yang menjadi bagian dari konsep mitologi fiktif representasi Kebaikan dan Kejahatan di versi serial animasinya, yang tentu membawa franchise versi layar lebarnya ini lebih jauh lagi. 

Sekitar sebulan sebelum perilisan resmi, Bay sempat menyampaikan bahwa ia meng-hire 14 penulis naskah yang ditempatkan di ruang terkunci untuk membangun perkembangan kisah Transformers lebih lanjut yang berbeda-beda. Hasilnya ternyata cukup menarik. Pemanfaatan legenda King Arthur dieksplor lebih jauh sehingga terasa lebih ‘masuk’ ke mitologi Transformers secara keseluruhan, juga dalam pengembangan selanjutnya melalui karakter Yeager dan Vivianne. Harus diakui pengembangan baru ini masih menimbulkan pertanyaan, “kenapa baru sekarang?”. Bukan formula-formula baru pula (terasa sekali inspirasi-inspirasi dari film lain, terutama Star Wars Saga dan Marvel Cinematic Universe), tapi I think it’s better than going nowhere at all.

Bay lantas mengejah-wantahkan konsep besar ini lewat alur plot yang cepat, sekedar meruntut kronologis, nyaris tanpa pengembangan karakter yang membuat penonton perduli terhadap nasib mereka selain sekedar karakter-karakter tipikal yang dihadirkan hanya sesuai fungsinya, dan heavily relying on visual spectacle yang bombastis lewat adegan-adegan battle serta selipan humor-humor khas Bay yang nyerempet seksis dan rasis. Dengan durasi yang tergolong panjang (149 menit), storytelling Bay ini akhirnya hanya berhasil bagi mereka yang benar-benar mengikuti perkembangan konsep besar Transformers (setidaknya versi layar lebar) sejak awal. Bagi penonton yang hanya sekedar menonton tiap installment tanpa benar-benar mengingat tiap perkembangannya, akan semakin tersesat untuk mengikuti plotnya. Hanya menikmati battle sequences yang sebenarnya semakin dahsyat berkat pemanfaatan teknologi kamera IMAX dengan aspect ratio 1.90:1 secara maksimal) dengan durasi demikian memang akan terasa sangat melelahkan. 

Sinematografi Jonathan Sela masih termasuk mampu mengemban estafet dari Mitchell Amundsen, Ben Seresin, dan Amir Mokri secara konsisten menghasilkan visual spectacle signatural-nya (mungkin mereka hanya bekerja mengikuti arahan Bay semata. I don’t know). Visual-visualnya tau betul memaksimalkan penggunaan teknologi kamera IMAX 3D termutakhir, Alexa IMAX 65, lewat pilihan shot dan camera work, terutama dalam upaya menimbulkan kesan epic dan grandeur. Itulah mengapa TLK sebenarnya wajib dinikmati di layar IMAX as it was specifically intended to be. Format 3D-nya secara konsisten menghadirkan depth of field yang jarang dicapai film-film 3D konversi kebanyakan dan pop-out gimmick yang tak terlalu mencolok tapi berhasil membuat penonton beberapa kali bereaksi. Tim editing (ada 6 editor!) mengemban tugas yang cukup berat merangkai footage-footage sesuai konsep besar yang sebenarnya cukup banyak tapi harus dihadirkan secara dinamis dan dengan timing yang tepat untuk adegan-adegan battle. Masih terasa kelewat panjang dan hanya sekedar meruntut kronologis, tapi mereka sudah melakukan yang terbaik untuk mempertemukan semua kepentingan. Sound design masih cukup konsisten dari installment-installment sebelumnya. Masih terdengar maksimal di fasilitas audio teater IMAX. Sementara Steve Jablonsky mencoba mempertahankan signatural epic score-nya dengan beberapa variasi yang terdengar etnik untuk momen-momen dramatis. Menarik meski tak terlalu memorable pula.

Mark Wahlberg masih melanjutkan kualitas performa yang konsisten dari installment sebelumnya sebagai Cade Yeager. Laura Haddock pun mampu melanjutkan tongkat estafet sebagai Transformers’ Babe dengan pesona yang tak kalah menarik perhatian. Isabela Moner sebagai Izabella tak kalah mencuri perhatian, mainly of her physical exoticism yang mau tak mau sedikit mengingatkan penonton akan pesona Megan Fox. Sementara daya tarik terbesar adalah Sir Anthony Hopkins yang terlihat begitu menikmati bersenang-senang (bayangkan, kapan lagi melihat beliau berisik di perpustakaan tapi justru nyinyir balik pengunjung yang meng-hush beliau?), tanpa meninggalkan kharisma khasnya yang begitu kuat, terutama saat menyampaikan narasi historis Transformers. Kembalinya Josh Duhammel, Stanley Tucci, John Turturro hanya sekedar menimbulkan celetukan, “oh dia balik lagi” dari penonton, tanpa porsi (apalagi perkembangan) lebih.

Bagi penggemar dan mereka yang mengikuti betul franchise Transformers, TLK memberikan pengembangan konsep besar yang menarik dengan visual spectacle yang semakin bombastis. Sementara bagi penonton yang sekedar menonton tanpa perduli atau memperhatikan perkembangan konsepnya dari installment ke installment akan semakin tersesat. Pada akhirnya jadi melelahkan dengan durasi yang demikian panjang. Namun setidaknya battle sequences yang dihadirkan masih worth your admission fee asal dinikmati di format IMAX 3D as it was intended to be. Bagi penggemar, TLK juga menjadi bridging menarik ke pengembangan konsep yang mereferensi dari versi serial animasinya (jangan kelewatan mid credit scene yang menampilkan Gemma Chan!). Selanjutnya, spin-off Bumblebee juga sedang dipersiapkan yang konon katanya menggunakan treatment yang berbeda, yaitu ala 80-an. Mungkin bisa jadi alternatif segar bagi Anda yang sudah jenuh dengan versi Bay. Yang pasti Transformers masih akan berdiri kokoh sebagai salah satu franchise terbesar di dunia.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates