Saturday, June 17, 2017

The Jose Flash Review
Planetarium

Jika kita selama ini sudah muak dengan film horror ber-treatment ala dokumenter pemanggilan arwah atau penampakan makhluk halus, pernah kah terbersit pertanyaan, sejak kapan ide memfilmkan peristiwa paranormal dimulai? Planetarium, sebuah film Perancis besutan sutradara wanita, Rebecca Zlotowski (Grand Central, Belle épine, You and the Night) mencoba untuk mengangkat kisah fiktif di balik fenomena yang masih terus berlangsung hingga kini. Meski berstatus film Perancis, Planetarium dibintangi Natalie Portman, Lily-Rose Depp (putri Johnny Depp dan  Vanessa Paradis), aktor watak sekaligus penulis naskah, Emmanuel Salinger, Pierre Salvadori, dan aktris Inggris, Amira Casar. Diputar pertama kali di Venice Film Festival, Planetarium menyambangi bioskop-bioskop non-XXI seluruh Indonesia. Tentu ini merupakan kesempatan yang sayang untuk dilewatkan bagi penggemar sinema Perancis, sinema Eropa klasik, maupun arthouse. 

Dua bersaudari asal Amerika Serikat, Laura dan adiknya, Kate Barlow memutuskan untuk memulai hidup baru di Perancis. Kemampuan keduanya untuk berkomunikasi dengan arwah menyedot perhatian publik, termasuk produser film kaya raya yang mengaku membutuhkan mereka bedua untuk berkomunikasi dengan almarhum saudaranya, Andre Korben. Puas dengan kinerja mereka, Andre menawari mereka untuk tinggal di rumahnya agar bisa sering berkomunikasi dengan saudaranya kapan saja, dan bahkan beride untuk merekam ritual-ritual yang mereka lakukan dan ‘menjualnya’. Laura mengambil kesempatan emas ini untuk mengembangkan bakatnya sebagai aktris. Sementara Andre justru semakin mendekati Kate. Di tengah karirnya yang terus menanjak, Laura baru mengendus niatan ganjil Andre mendekati Kate. 

Dijual sebagai drama fantasi dengan sedikit bumbu misteri, Planetarium sebenarnya lebih tepat disebut sebagai drama saja. Ada cukup banyak elemen menarik yang diramu ke dalam plot. Mulai hubungan kakak-beradik, pilihan antara ego dan persaudaraan, intrik misteri niatan Andre yang sebenarnya, serta highlight utama dan tergambar jelas pada karakter-karakternya (terutama Laura, Andre, dan Kate); obsesi. Plotnya mengalir cukup lancar meski membuat penasaran karena koherensi antar adegan yang kerap agak jauh. Ada kalanya, bahkan hingga akhir film, penonton dibuat bingung akan arah yang ingin dicapainya. Apakah jawaban atas misteri-misteri yang makin lama makin ambigu, seperti apakah Kate dan Laura benar-benar punya kemampuan berkomunikasi dengan arwah atau apakah niatan Andre yang sebenarnya, atau perkembangan karakter utama, yaitu Laura, ketika dihadapkan pada pilihan, prioritas, maupun kecurigaan-kecurigaan. In the end mungkin pointless, mungkin juga Anda akan menemukan konklusi sendiri-sendiri sesuai dengan kedekatan personal. 

Selain kemampuannya untuk terus bikin penasaran atas keganjilan-keganjilan yang ada, daya tarik Planetarium yang tak kalah mencuri perhatian adalah style penyutradaraan maupun visualisasi Zlotowski. Lihat saja pilihan-pilihan shot maupun pergerakan kamera George Lechaptois yang mengalir bak keindahan-keindahan sinema Perancis klasik dan mengarah ke style film-noir. Begitu efektif dalam mengundang rasa penasaran penonton. Editing Julien Lacheray pun mendukung konsep sinema Perancis klasik. Seringkali lebih terasa style over substance, terlebih karena koherensi antar adegan yang teras agak ‘aneh’, tapi harus diakui, memberi nilai estetika lebih terhadap tampilan keseluruhan film. Musik dari Robin Coudert mungkin terkesan minimalis, tapi cukup efektif menggiring atmosfer sekalipun mendukung nuansa film secara keseluruhan. 

Di lini cast, Natalie Portman jelas mendominasi. Selain karena porsi yang memang paling banyak, juga performa yang luar biasa ‘membius’. Antara kecurigaan, kemisteriusan, kelembutan, ketegaran, dan keanggunan, ditampilkan dengan keseimbangan yang terjaga dan convincing. Lily-Rose Depp pun tampil cukup memikat sebagai Kate. Chemistry yang dijalinnya, baik dengan Portman maupun Emanuelle Salinger terasa kuat sekaligus misterius. Salinger sendiri memberikan performa misterius dengan kharisma yang kuat. Di lini cast pendukung, Amira Casar sebagai Eva Said dan Louise Garrel sebagai Fernand Prouve cukup mencuri perhatian.

Secara keseluruhan, Planetarium mungkin menyuguhkan plot dengan arah tujuan yang ambigu, membingungkan, arium regert so in  dan bisa jadi, juga melelahkan bagi beberapa tipe penonton. Namun harus diakui ia cukup konstan membuat penonton terus penasaran, dan yang paling jelas, performa akting serta style sinema klasik yang cukup signatural di era modern ini. Selebihnya, tentu kesan dan arah tujuan film tergantung dengan masing-masing pribadi penonton. Bagi saya, ia memaparkan kisah tentang obsesi dengan berbagai elemen-elemen pendukung yang mungkin lebih baik left unanswered, termasuk korelasi judul Planetarium dengan plot yang disodorkan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates