Saturday, June 10, 2017

The Jose Flash Review
The Mummy (2017)

Di Hollywood, prestise sebuah studio film (apalagi major) bisa jadi diukur dari ada berapa banyak dan seberapa besar franchise yang dikantongi. Jika Disney masih memimpin dengan mimiliki franchise Star Wars dan Marvel Cinematic Universe dan Warner Bros. punya DC Extended Universe dan Harry Potter, Universal Pictures yang juga termasuk major studio sejak lama terus menggali potensi franchise yang ada, selain Fifty Shades dan Fast and Furious yang sebenarnya sudah sangat menguntungkan. Sejak lama pula ia berusaha menghidupkan kembali franchise Dark Universe dengan ‘koleksi’ karakter-karakter monster klasiknya, seperti Mummy, Frankenstein, Dracula, The Invisible Man, dan Wolf Man yang pernah berjaya di era 30-50’an. Sempat mencoba memulai dengan Dracula Untold pada 2014 lalu. Hasilnya sebenarnya tak buruk (dengan budget sekitar US$ 70 juta, menghasilkan US$ 217 juta lebih di seluruh dunia. Hanya saja di pasar domestik cuma berhasil mengumpulkan US$ 56 juta lebih), tapi Alex Kurtzman (sutradara People Like Us dan penulis naskah berbagai film blockbuster, seperti Mission: Impossible III, Star Trek versi 2009, Transformers, serta The Amazing Spider-Man 2) dan pihak studio memutuskan untuk membatalkan Dracula Untold sebagai bagian dari Dark Universe, sementara installment terbarunya, The Mummy lah yang dianggap sebagai film pertama dari konsep pembangunan franchise tersebut.

Dengan menggandeng Tom Cruise, Russell Crowe, Annabelle Wallis (Annabelle dan King Arthur: Legend of the Sword), dan Sofia Boutella (masih ingat Gazelle di Kingsman: The Secret Service dan Jaylah di Star Trek Beyond?) di jajaran cast, beserta tim penulis naskah meliputi David Koepp (Jurassic Park, Mission: Impossible, Spider-Man, War of the World, Indiana Jones and the Kingdom of the Crystall Skull, Angels & Demons, serta Jack Ryan: Shadow Recruit), Christopher McQuarrie (The Usual Suspects, Valkyrie, The Tourist, Jack Reacher, Edge of Tomorrow, serta Mission: Impossible - Rogue Nation), dan Dylan Kussman, The Mummy versi 2017 ini jelas merupakan proyek yang ambisius bagi Universal Pictures.
Nick Morton, seorang pencari harta karun, dan partner-nya, Chris Vail, tak sengaja menemukan makam Ahmanet saat berada di Irak. Seorang arkeolog wanita, Jenny Halsey, menduga bahwa itu bukanlah makam melainkan penjara yang menjawab misteri tentang Ahmanet, putri Mesir Kuno yang bersekutu dengan Iblis dan membunuh keluarganya demi mendapatkan takhta kerajaan. Sarkofagus berisi jazad Ahmanet yang dulunya di-mumi hidup-hidup diterbangkan ke London untuk diteliti lebih lanjut. Malang, pesawat yang mereka semua tumpangi diserang oleh rombongan burung gagak dan jatuh. Sempat diduga telah tewas, Nick terbangun di kamar mayat. Semenjak itu hidupnya terus-terusan dibayangi oleh sosok Ahmanet., pun juga arwah Chris Vail yang seolah-olah selalu menuntunnya bak masih hidup. Jenny membawa Nick kepada atasannya, Dr. Henry Jekyll yang bertugas memburu ancaman supernatural di bawah Natural History Museum of London. Nick harus menerima kenyataan bahwa kemungkinan tubuhnya sudah dikendalikan oleh kekuatan jahat Ahmanet.
Masih ingat The Mummy versi sutradara Stephen Sommers dengan bintang Brendan Fraser dan Rachel Weisz sejak 1999 lalu? Ya, The Mummy memang sudah tidak lagi bermain-main di domain horror, melainkan action-adventure bak Indiana Jones. The Mummy versi Alex Kurtzman ini pun sejatinya masih ingin bermain-main di ranah yang kurang lebih sama. Membangun ulang mitologi fiktif The Mummy yang konon, kali ini mengambil inspirasi desain karakternya dari Apocalypse di franchise X-Men (mirip juga dengan Enchantress di Suicide Squad), sebenarnya menawarkan konsep yang cukup menarik, termasuk sebagai start-off dari franchise Dark Universe dengan memperkenalkan karakter Dr. Henry Jekyll yang sosok aslinya tentu sudah diketahui banyak orang yang akrab dengan literatur Inggris.
Sayangnya, The Mummy versi 2017 ini seolah hanya sebagai etalase menjelaskan visualisasi konsep besarnya secara kronologis semata. Kurtzman gagal memberikan ‘nafas’ adventurous sebagaimana The Mummy versi Sommers yang jauh lebih seru dengan selipan komedi-komedi yang masih berhasil pula. Tanpa adanya tata suara yang powerful dan dukungan Dolby Atmos, adegan-adegan dahsyat yang dimilikinya, terutama serangan burung gagak, mungkin tak akan menjadi semakin hambar. Jangan dulu mengharapkan character development maupun investment, upayanya menggerakkan plot (baca: meruntut kronologis) sudah lebih dulu melelahkan. Ditambah lagi dengan upaya Tom Cruise melawak yang trying too hard, tapi jelas-jelas punya karakteristik yang kalah jauh dengan, let’s say, Brendan Fraser.
Tom Cruise memberikan ‘roh’ yang tak jauh berbeda dengan karakter Ethan Hunt atau Jack Reacher ke dalam karakter Nick Morton. Tak salah sebenarnya, tapi apa yang tampak di layar seolah ia sebenarnya sudah lelah memerankan karakter sejenis. Chemistry yang dibangunnya bersama Annabelle Wallis sebagai Jenny pun terkesan sekedar formalitas elemen plot saja. Sementara Wallis sendiri sejatinya tampil meyakinkan sebagai seorang arkeolog cerdas sekaligus adventurous. Russell Crowe mengisi peran Dr. Henry Jekyll dengan kharisma yang kuat, sebagaimana peran-peran yang dimainkannya selama ini. Menarik untuk melihat perkembangan karakter di installment-installment berikutnya. Jake Johnson sebagai Chris Vail tampil cukup kocak sesuai kebutuhan karakternya. Namun tentu saja above all, daya tarik yang paling mencuri perhatian adalah Sofia Boutella sebagai Putri Ahmanet. Wajah dan aura aktingnya yang khas membuatnya menjadi sosok karakter yang cukup ikonik dan menarik.
Sinematografi Ben Seresin cukup meng-‘eksplor’ angle-angle yang menarik dalam bercerita, terutama untuk adegan-adegan petualangannya. Adegan terbaiknya, yaitu serangan gagak di pesawat, ditangani dengan baik pula. Chaotic dan ketegangannya cukup terasa, tanpa harus membuat pusing. Editing Gina Hirsch, Paul Hirsch, dan Andrew Mondshein mungkin bukan penyebab yang menjadikan bentuk akhirnya sekedar menggerakan secara kronologis semata. Setidaknya editing masih ‘menggerakkan’ dengan pace yang cukup pas, meski kompensasinya adalah character serta emotional investment yang semakin tereduksi. Score music Brian Tyler cukup mendukung perpaduan nuansa etnik Mesir dengan melodi Paint It, Black dari The Rolling Stones yang memberi kesan ‘misteri’, dan blockbuster orchestra, tapi masih belum se-hummable score The Mummy versi Sommers.
Sebagai sebuah film aksi-petualangan, The Mummy versi Kurtzman ini terasa hanya perduli untuk menjelaskan konsep dan menggerakkan plot secara kronologis semata. Minim spirit adventurous, emosi, apalagi pengembangan karakter. Sangat jauh jika dibandingkan, let’s say, trilogi The Mummy versi Sommers. Start-off yang kurang meyakinkan sebagai pondasi Dark Universe, tapi sebenarnya tak masalah terus saja dilanjutkan asal dengan treatment yang lebih ‘layak’, tak perlu mengulang lagi seperti yang dilakukan pada Dracula Untold. Jika Anda penasaran dengan konsep The Mummy kali ini, tak ada salahnya ditonton. Setidaknya, pilihlah teater dengan fasilitas audio-visual paling mumpuni untuk mendapatkan pengalaman terbaik. Minimal, Dolby Atmos atau sekalian IMAX 3D. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates