Friday, June 9, 2017

The Jose Flash Review
Mine

Apa yang akan Anda lakukan jika tak sengaja menginjak ranjau darat? Apakah Anda akan terus berdiam sampai pertolongan datang atau segera menjauh sehingga setidaknya kerusakan yang diakibatkan oleh ranjau bisa diminimalisir? Pertanyaan ‘what if’ itulah yang coba disodorkan oleh duo asal Italia, Fabio Guaglione dan Fabio Resinaro yang bekerja sama menyusun naskah sekaligus menyutradarai film layar lebar pertama mereka bertajuk Mine setelah E:D:E:N (2004), The Silver Rope (2006), dan Y/N: You Lie, You Die (2012). Memanfaatkan konsep satu lokasi setting dan minim karakter, Mine seolah seperti film indie berbudget murah, tapi tak boleh diremehkan begitu saja dengan dukungan cast dari Armie Hammer, Annabelle Wallis, dan Tom Cullen.

Mike Stevens, seorang anggota marinir Amerika Serikat ditugaskan untuk mengeksekusi salah satu terduga teroris di Afrika Utara. Melihat keadaan, ia membatalkan misi tersebut. Saat perjalanan menuju desa terdekat yang disepakati sebagai titik temu, ia dan partnernya, Tommy Madison, justru terjebak di padang pasir yang ternyata juga merupakan lading ranjau darat. Tak sengaja menginjak salah satu ranjau, Mike memutuskan untuk terus berdiam di tempat agar tidak meledak, sementara bantuan baru bisa datang sekitar 50 jam ke depan. Dengan berbagai akal dan cara, Mike berusaha bertahan hidup tanpa bisa bergerak secara signifikan jika tak mau tubuhnya hancur berantakan karena ledakan ranjau.
Bagi saya, selalu menarik mengikuti film thriller minimalis yang mana hanya ada satu atau dua karkater yang terjebak di satu tempat tertentu. Let’s say semacam Phone Booth, Saw, Buried, dan yang rilis nyaris bersamaan dengan Mine di Indonesia, The Wall. Mine secara otomatis menjadi salah satu film favorit saya sepanjang masa di konsep film sejenis.
Mari kita mulai dari bagaimana duo Fabio menangani momen was-was dan ketegangan demi ketegangan dengan begitu heart-pounding. Momentumnya selalu tepat sasaran, thanks to editing Matteo Santi, Fabio Guaglione, dan Filippo Mauro Boni, termasuk untuk match-editing yang stylish dan tepat guna. Sinematografi Sergi Vilanova pun mengeksplorasi setting sekaligus emosi dengan sangat maksimal. Satu setting lokasi saja tak lantas membuat Mine terasa monoton. Namun yang terpenting, ia juga berhasil menyampaikan tiap detail adegan dengan visualisasi yang jelas dan emosi yang juga terpancar maksimal. Dengarkan juga detail sound design yang terdengar begitu clear, crispy, dan pembagian kanal surround yang maksimal (itulah mengapa saya menyarankan untuk menyaksikan Mine di teater dengan fasilitas audio-visual yang mumpuni). Tak ketinggalan score music Luca Balboni dan Andrea Bonini yang memancarkan eksotisme saat memberi ‘rasa’ lebih sesuai kebutuhan momen dan emosi.
Elemen lain yang membuat saya begitu jatuh hati pada Mine adalah esensi utamanya yang mungkin bagi beberapa penonton sangat ‘menipu’ dan ‘buang-buang waktu’, tapi jika mau direfleksikan lebih lanjut, sangat valuable. Tak hanya soal ‘fakta atau kepercayaan’ (ini juga sebenarnya tak benar-benar ‘menipu’ jika Anda jeli membaca tiap detail adegan-adegan sebelumnya. So it’s definitely something well-designed, not just coming out of nowhere), tapi juga soal ‘mending mana’; berdiam diri di tempat agar tak meledak dengan resiko tak ada bantuan datang dalam waktu dekat, yang mana ada ancaman kelaparan, kehausan, dan kekeringan yang juga akan berbuntut pada kematian. Atau memilih untuk bergerak dengan resiko sebagian anggot tubuh hancur tapi ada kesempatan untuk selamat karena masih mampu menuju ke desa terdekat.
Kemudian ternyata masih ada ‘kejutan’ lain berupa filosofi yang punya kaitan erat terhadap kepribadian karakter Mike Stevens secara keseluruhan sepanjang film. Tak hanya lewat perkembangan karakter, tapi juga sekaligus dimanifestasikan secara visual yang semakin diperjelas dengan teknik match-editing. Sisipan filosofi ini mungkin masuk dengan cara yang kurang mulus, tapi tetap merupakan sesuatu yang istimewa, terlebih di ranah konsep treatment-nya. Menjadikan Mine tak sekedar another one-man-stuck-in-a-place thriller yang mendebarkan semata, tapi ada pembangunan konsep dan esensi yang tak kalah menariknya bagi saya. Kendati ada kritik yang mem-bash karena penggambaran bagaimana cara kerja ranjau darat yang salah (sebagaimana juga penggambaran yang dilakukan film-film Hollywood kebanyakan), saya masih bisa memakluminya atas nama pergerakan cerita sekaligus medium penyampaian value-value-nya, dan tak merubah kekaguman maupun kecintaan saya terhadap Mine.
Mendominasi porsi, Armie Hammer memberikan performa yang all-out. Tiap detail gesture-nya menyampaikan emosi terdalam, termasuk yang terkait masa lalunya. Sulit untuk membuat penonton tak bersimpati terhadap karakternya. Tom Cullen pun mendukung dengan cukup memorable lewat karakter Tommy Madison. Namun favorit saya tentu saja Clint Dyer sebagai pria suku Berber yang punya kharisma begitu kuat nan bersahaja, along with the little girl, Inés Píñar Mille. Sayang, Annabelle Wallis sebagai tunangan Mike, Jenny (trivia: nama karakter yang dimainkannya di sini sama dengan nama karakter yang ia mainkan di The Mummy versi 2017. Keduanya tayang di waktu yang nyaris bersamaan) tak punya banyak porsi untuk menjadi lebih menarik lagi.
Di tipe treatment-nya, Mine adalah film yang eksepsional. Ada elemen-elemen tambahan yang menarik, yang membuatnya tak sekedar menjadi thriller yang mendebarkan semata. Jika Anda masih ingin daya tarik lain lagi dari Mine, konon ada teori yang menyebutkan bahwa ending sebenarnya juga merupakan metafora, bukan hanya yang tampak dari permukaan terluarnya saja. Well, it’s just a theory. Keputusan mana yang akan dipercaya tergantung dari Anda sendiri. Manapun yang benar, Mine tetap menjadi film yang menarik untuk disimak dan didiskusikan.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates