Friday, June 9, 2017

The Jose Flash Review
Mantan

Di perfilman nasional ada semacam ‘mitos’ bahwa film Indonesia yang rilis selama bulan puasa Ramadhan akan dijauhi penonton. Secara logika, mungkin karena di bulan Ramadhan orang-orang lebih disibukkan oleh kegiatan buka bersama dan teraweh. Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa masih ada kesempatan untuk menggaet penonton selama punya potensi yang menarik perhatian penonton. Ini terbukti dengan film-film summer blockbuster Hollywood (yang selama beberapa tahun terakhir selalu jatuh sekitar bulan Ramadhan juga) yang tetap berhasil mendulang penonton. Mencoba mematahkan ‘kutukan’ tersebut, Renée Pictures justru memanfaatkan momen Ramadhan untuk perilisan film terbarunya, Mantan, lewat tagline ‘silaturahmi bersama mantan’. Dengan menggandeng aktris-aktris populer, mulai comeback Luna Maya, Karina Nadila, ‘muse’ Renée yang popularitasnya kian melambung sejak memyandang gelar Putri Indonesia Pariwisata 2017, Ayudia Bing Slamet yang juga kian melambung sebagai YouTuber bertajuk #TemanTapiMenikah, Kimberly Ryder, serta debut akting dari penyanyi alumni Indonesian Idol, Citra Scholastika. Dari naskah yang disusun Gandhi Fernando (kembali merangkap sebagai aktor), Mantan mempercayakan pengarahannya kepada  sutradara wanita muda, Svetlana Dea yang mana juga merupakan debut layar lebarnya setelah web-series School of the Dead.

Sebelum melangsungkan pernikahannya, Adi berniat mengunjungi para mantan pacarnya di lima kota yang berbeda; Daniella di Bandung, Frida di Yogyakarta, Juliana di Bali, Tara di Medan, dan Deedee di Jakarta. Tujuannya ia ingin memastikan siapa tahu salah satu dari mereka adalah soul mate-nya. Hanya saja mungkin dulu mereka menjalin hubungan di saat yang tidak tepat. Perjalanan meruntut masa lalu pun dimulai. Masalah-masalah yang belum usai di masa lalu pun kembali mencuat.

Secara premise, Mantan bisa dibilang sangat-sangat sederhana tapi konsepnya tergolong unik dan yang paling penting, bisa relatable dengan banyak orang. Tantangannya kemudian adalah bagaimana bisa memaksimalkan kesan dan rasa dari konsep teknis yang minimalis. Konsep dialog-driven seperti yang pernah digunakan oleh Richard Linklater di trilogi Before-nya jelas bertumpu pada naskah Gandhi sebagai pondasi yang kuat dengan memasukkan detail-detail latar belakang hubungan antar karakter lewat dialog-dialog yang kerap kali diselipi joke-joke smart, serta variasi karakteristik para mantan yang mewakili ragam problematika seputar mantan secara umum sehingga salah satunya atau malah beberapa kasus menjadi  relatable dengan penonton. Ia seolah mengajak penonton untuk ‘kepo’ menguping konversasi-konversasi antar karakter yang mengalir natural, mulai awal-awal yang awkward hingga mencuatnya kembali permasalahan-permasalahan lama yang belum terselesaikan dan selama ini terpendam. Semuanya menggiring penonton untuk menganalisis tiap detail dialog dan merangkainya menjadi satu timeline utuh perkembangan kepribadian karakter Adi. Tak mudah membuat konsep dialog-driven menjadi sajian mengasyikkan dan jauh  dari kesan membosankan. Pengarahan Svetlana terbukti cukup mampu men-drive mood, terutama dalam menyusun alur dialog serta emosi yang mengalir natural dan runtut. Ruang sempit kamar hotel memberikan kesan personal dan intim dari tiap mantan. Mungkin akan terasa lebih solid jika koneksi antar-babaknya disertai narasi yang mengantarkan komentar kesan personal dari karakter mantan yang akan dihadirkan berikutnya. Narasi seperti ini baru dimunculkan setelah titik balik sebagai konklusi dengan flashback stock dari tiap mantan yang dimaksud. Dengan adegan penutup (diperjelas mid-credit scene di beberapa site) yang dihadirkan, membuat perjalanan perkembangan kepribadian Adi menjadi full-circle. Menegaskan sebuah perjalanan pencarian jati diri melewati masa-masa kelam tapi menjadi pelajaran-pelajaran berharga untuk tingkat hubungan berikutnya yang lebih serius.

Mungkin ada yang mempertanyakan motivasi Adi melakukan perjalanan yang seolah-olah sekedar cari gara-gara semata atau membuka luka lama. Namun sebenarnya secara konsepsi umum, terutama bagi mereka yang sedang mempersiapkan pernikahan, wajar jika muncul perasaan mengganjal yang tak terdefinisikan penyebabnya, disertai keraguan apakah pilihan pasangan hidupnya benar-benar ‘the one’ mengingat pernikahan sejatinya adalah keputusan penting, yang paling menentukan, dan untuk seumur hidup. Wajar jika penonton mempertanyakan motivasinya, karena karakter Adi sendiri dibuat bingung apa sebenarnya tujuan perjalanannya hingga menjelang ujung konklusi, yaitu ketika sampai pada giliran Deedee, mantan terakhir yang menjadi titik balik karakter Adi. Sayang, penyampaian momen yang sejatinya menjadi jawaban dari tujuan perjalanan Adi sepanjang film dan resolusinya masih terasa kurang jelas dan bold, terkandung lewat dialog, seperti “ada yang bilang, ngalir aja dulu”, “memang harus seimbang ‘kan?”, dan “Gue bisa jadi diri sendiri, pakai banget”, tapi tersamarkan oleh banter Adi-Deedee yang kerap agak kurang koheren. Perlu waktu lebih bagi penonton untuk memproses serta memahami resolusi titik baliknya. 

Penampilan cast menjadi pilar penting berikutnya. Pilihan cast Mantan ternyata tak hanya karena faktor popularitas semata tapi memanfaatkan image serta kelebihan masing-masing dalam membawakan perannya. Gandhi Fernando kali ini menemukan peran yang dapat ia bawakan dengan performa terbaik, yaitu comedic tanpa harus gimmick-gimmick komikal berlebihan. Lihat saja ekspresi dan gesture awkwardness atau ketika membentuk chemistry dengan tiap mantan. Sedikit kelewat dramatis di beberapa part serius, tapi di part serius lain terasa pas dan berhasil mencuri simpati penonton. Ayudia Bing Slamet menjadi ‘mantan’ favorit saya sebagai Daniella. Part karakternya menjadi pembuka yang impresif dengan rollercoaster emosi yang mengalir natural, convincing, dan dramatisir yang sesuai kebutuhan. Karina Nadila menunjukkan sisi ‘menggoda’ sebagai Frida yang ternyata tergolong berhasil. Kimberly Ryder pun menunjukkan kapasitas akting terbaiknya lewat peran Juliana dengan dialog full-English. Luna Maya tampil menyegarkan suasana lewat karakter Tara yang mirip-mirip image figur aslinya selama ini di depan publik. Sementara Citra Scholastika masih kurang pas dalam menerjemahkan karakter Deedee berikut dialog-dialog yang dibebankan kepadanya yang seharusnya menjadi titik balik plot. Namun sebagai debut akting, setidaknya ia masih tampil cukup layak. Sama sekali tidak buruk.

Teknis Mantan boleh saja minimalis, tapi cukup dimanfaatkan secara maksimal. Terutama sekali sinematografi handheld Petir yang shaky tapi tak sampai kelewat bikin pusing. Sayangnya ada beberapa momen penting yang seharusnya bisa lebih menonjolkan emosinya lewat pilihan angle yang lebih tepat. Editing Andhy Pulung pun cukup rapi merangkai babak demi babak dengan pace yang mengalir lancar meski beberapa transisi seharusnya bisa jauh lebih mulus lagi. Score music dari Aditya Putra menggabungkan elemen orkestra sederhana a la komedi romantis Hollywood dan alunan sederhana tapi cukup menggiring emosi di part-part dramatis. Tak istimewa ataupun signatural, tapi cukup memberikan rasa lebih pada adegan-adegannya. Berpadu dengan musik-musik alternatif seperti Something Beautiful dari Tim Halperin yang begitu populer di banyak film romantis atau video wedding, menjadi elevasi mood di konklusi, Who Said, Lion, dan Not Far Away dari Oak Tree Suite, dan Dancing to the Beat dari Clarrence Murray yang sinematis bak komedi-komedi romantis Hollywood, serta  tak boleh dilewatkan, Salah Caramu dari band Ayudia, Dengarkan Dia yang begitu pas dengan film, baik dari segi lirik maupun melodi.

Mencoba menyuguhkan konsep sederhan, minimalis, tapi unik dan menarik untuk disimak, Mantan bisa jadi sajian fresh yang masih jarang ada di film Indonesia. Mungkin penyampaiannya butuh analisis lebih untuk dipahami (mungkin akan lebih mudah bagi penonton yang pernah mengalami dan merasakan posisi karakter Adi) secara utuh, tapi effort yang dilakukan, terutama naskah dengan penyusunan dialog yang runtut, mengalir natural, urutan yang tepat guna, dan selipan humor-humor cerdas, ditambah performa para aktor yang rata-rata berhasil menghidupkan konsepnya, Mantan cukup delivered, baik sekedar sebagai hiburan baper-baperan yang sedang trend di kalangan remaja, maupun pemicu pemikiran yang lebih serius dan dewasa tentang hubungan asmara. Apa yang Anda cari dari pencarian pasangan hidup? Selagi Anda berkontemplasi dan memutuskan, Mantan bisa jadi salah satu trigger-nya.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.

PS: jika Anda memperhatikan kredit Mantan, ya, saya memang bertindak sebagai associate producer sekaligus subtitle writer untuk film ini. Tulisan ini saya buat seobjektif mungkin berdasarkan hasil observasi yang saya pribadi alami selama proses pasca produksi hingga promosi (saya baru bergabung tepat setelah masa produksi usai).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates