Saturday, June 17, 2017

The Jose Flash Review
47 Meters Down

Kehadiran The Shallows tahun 2016 lalu membuktikan bahwa sub-genre creature, terutama hiu, masih punya ‘taring’. Belum lagi ditambah film TV Sharknando yang bahkan sudah sampai installment kelima. Maka keputusan Byron Allen’s Entertainment Studios membeli hak tayang wide-release film bertajuk In the Deep di bioskop seluruh dunia dari Dimension Films (milik Weinstein Co.) yang awalnya hanya akan merilis untuk Home Video dan Video on Demand lewat Anchor Bay Entertainment saja, tergolong berani tapi tepat. Film indie produksi Inggris yang ‘hanya’ ber-budget US$ 5 juta ini justru sengaja diposisikan sebagai summer movie dengan judul 47 Meters Down (47MD), bersaing langsung dengan Wonder Woman, The Mummy, dan Cars 3. Siapa sangka film yang awalnya bahkan tak dilirik ini berhasil mengumpulkan US$ 11.2 juta untuk pasar domestik Amerika Serikat di minggu pertama penayangannya. Apa sebenarnya yang menarik dari 47MD sehingga membuat distributor berani membeli dan merilisnya di musim persaingan film-film Hollywood paling ketat? Disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Johannes Roberts, dibantu Ernest Riera (keduanya berkolaborasi untuk The Other Side of the Door), 47MD juga menandai kembalinya aktris-penyanyi, Mandy Moore di layar lebar setelah tahun-tahun sebelumnya ‘hanya’ menyambangi layar TV, bersama aktris serial Pretty Little Liars dan The Vampire Diaries, Claire Holt.

Kate dan Lisa, saudari yang sedang menikmati liburan di Meksiko. Kate yang lebih ‘happy go lucky’ ingin menghibur Lisa yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya karena alasan bosan. Lisa merasa bahkan untuk satu-satunya hal yang ia lebih unggul dari Kate, juga mengalami kegagalan. Padahal Kate tidak pernah merasa sedang berkompetisi dengan saudarinya. Dua pria asing yang flirting dengan mereka bercerita tentang pengalaman diletakkan di dalam sebuah kotak perangkap besi yang diturunkan di dalam laut sehingga bisa berinteraksi dengan hiu dari jarak dekat tapi tetap aman. Kate merasa tertantang, sementara Lisa seperti biasa, ragu-ragu untuk melakukan hal se-nekad itu. Dengan bujukan agar tak lagi menjadi manusia yang membosankan, Lisa akhirnya setuju untuk bergabung.
Awalnya keduanya begitu menikmati tantangan tersebut. Namun petaka dimulai ketika katup pengaman kotak perangkap besi mereka terlepas dan tenggelam hingga kedalaman 47 meter. Segala upaya mereka lakukan tak hanya untuk bertahan hidup, tapi juga mendapatkan pertolongan. Selain serangan hiu, nyawa mereka juga terancam oleh oksigen yang semakin menipis seiring dengan berjalannya waktu.
Sebagai sebuah film bergenre survival, 47MD melakukan semua kebutuhannya dengan cukup baik. Mulai character investment yang cukup layak untuk membuat penonton bersimpati dengan kedua karakter utama, sampai penanganan adegan-adegan yang mendebarkan hingga mampu membuat penonton (setidaknya saya) kerapkali panik, berseringai, bahkan sempat berteriak secara spontan. Pemilihan kakak-beradik sebagai character investment terasa tepat untuk membentuk bond tanpa perlu proses yang berlama-lama. Begitu juga setup karakteristik keduanya yang sederhana tapi cukup rasional. Sedikit ‘tipuan’ di menjelang akhir mungkin akan membuat kesal beberapa penonton, tapi sebenarnya jika mau meruntut detail plot, datangnya tidak come out of nowhere. Sudah ada ‘warning’ yang bagi penonton jeli seharusnya menjadi bekal untuk perkembangan plot selanjutnya.
47MD mungkin juga akan membuat penonton yang mengharapkannya sebagai film ber-sub-genre shark attack sedikit kecewa. ‘Penampakan’ hiu-nya memang tak banyak. Ini bukan sesuatu yang salah. Ia memang bukan pure film shark-attack. Basically, ini adalah sebuah survival dimana ancamannya bukan hanya hiu, tapi juga variabel-variabel lain yang tak kalah mengancam nyawa, seperti kehabisan oksigen. Namun tentu saja ‘serangan hiu’ yang menjadi salah satu elemen terpenting, dihadirkan pada momen klimaks yang menurut saya, merupakan keputusan yang tepat dalam membangun ketegangan.
Above all, yang terpenting adalah kepiawaian Johannes Roberts dalam membangun suasana yang begitu mendebarkan dari adegan-adegan yang dihadirkan. Score music dari tomandandy menjadi salah satu elemen pendukung terkuat dalam menggiring suasana intens dan most of the time, justru menjadi pemicu kepanikan. Sinematografi Mark Silk menghadirkan tiap adegan upaya survival-nya cukup jelas sehingga tak sulit untuk membuat penonton seolah berada di tengah-tengah situasi. Editing Martin Brinkler berhasil menyusun ketegangan serta berkali-kali mengundang kepanikan dengan timing yang tepat. Durasi 89 menit pun terasa sangat efektif dan maksimal dalam menyampaikan semua kebutuhan pembangunan plot-nya.
Mandy Moore dan Claire Holt sebagai kakak-beradik, Lisa dan Kate, mungkin terasa seperti just another helpless chick victim di genre serupa, tapi setidaknya keduanya masih berhasil menjalin chemistry yang cukup untuk mengundang simpati penonton. Tak sampai menyentuh atau ‘menggerakkan’, tapi cukup bersimpati dan peduli terhadap nasib mereka. Sementara Chris Johnson sebagai Javier, Yani Gellman sebagai Louis, Santiago Segura sebagai Benjamin, dan Matthew Modine sebagai Captain Taylor tak lebih dari sekedar pemeran pendukung yang replaceable by anybody.
Di banyak aspek, 47MD mungkin tak sekuat The Shallows. Namun jelas ia juga bukan sajian survival dan creature yang buruk dan asal jadi. Bahkan menurut saya masih jauh lebih baik dari statusnya yang nyaris menjadi film kelas B. Setidaknya intensitas adegan-adegan survival dan shark-attack-nya masih tergarap baik, dengan character investment cukup efektif, dan detail survival yang tak asal-asalan tapi cukup jelas bagi penonton terawam sekalipun. Bagi penggemar film pemicu adrenalin, sangat sayang untuk dilewatkan.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates