5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies

What if Ario Bayu, Muhadkly Acho, Arifin Putra Dwi Sasono, and Cornelio Sunny play dumb and fight the zombies?
Opens Dec 14.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

After glorious trip worldwide, the latest feminist heroine from Mouly Surya comes home.
Read more.

Justice League

The DC superheroes are finally united, bringing justice for all.
Read more.

Star Wars: The Last Jedi

What path Rei will choose? The Jedi or the Sith?
Opens Dec 15.

Chrisye

Witness the side of Indonesian music legend you never know before.
Opens Dec 7.

Tuesday, June 27, 2017

The Jose Flash Review
Insya Allah Sah

Hari Raya Lebaran tak afdol rasanya tanpa film yang punya nafas Islami tapi juga bisa dinikmati oleh penonton umum. Maka komedi menjadi medium yang pas untuk ‘berdakwah’ kepada golongan tertentu sekaligus menghibur golongan yang lebih luas. MD Pictures mempersembahkan Insya Allah Sah (IAS) yang diangkat dari novel karya Achi TM (seorang penulis skenario sinetron dan FTV yang sudah menulis 22 novel tapi baru IAS yang diterbitkan oleh penerbit sebesar Gramedia Pustaka Utama) berjudul sama yang diterbitkan pertama kali tahun 2015. Novel yang konon ditulis sebagai upaya terakhir sebelum sempat memutuskan pensiun dari kepenulisan ini segera dikontrak oleh MD untuk diangkat ke layar lebar. Meski akhirnya baru 2017 ini benar-benar diproduksi di bawah penanganan Benni Setiawan (Bukan Cinta Biasa, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, Toba Dreams, Love and Faith) selaku sutradara dan penulis naskah adaptasi, dengan dukungan Titi Kamal, Pandji Pragiwaksono, Richard Kyle, dan puluhan cameo yang tersebar di sepanjang film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Surat Kecil untuk Tuhan [2017]

Selain horror, rupanya tema yang selalu mendapatkan tempat di hati penonton Indonesia adalah drama yang menguras air mata. Tak heran jika tahun 2011 lalu, Surat Kecil untuk Tuhan (SKuT) yang diangkat dari novel karya Agnes Davonar mencetak box office dengan perolehan 748.842 penonton. Speaking of tear-jerking, Agnes Davonar bisa dikatakan sebagai penulis paling piawai di tema tersebut. Tercatat sudah cukup banyak karya mereka berdua (ya, Agnes Davonar adalah nama pena untuk duo kakak-beradik, Agnes Li dan Teddy Li) yang diangkat ke layar lebar. Mulai SKuT, Gaby dan Lagunya, Ayah, Mengapa Aku Berbeda?, My Blackberry Girlfriend, My Idiot Brother, Sebuah Lagu untuk Tuhan, dan Bidadari Terakhir. Kerap mengeksploitasi penyakit sebagai tear-jerker, tak menyurutkan antusiasme pembaca dan penonton untuk mengikuti tiap kisah yang ditelurkan. Turut menyemarakkan Hari Raya Lebaran tahun 2017 ini, Falcon Pictures yang dikenal sebagai pencetak box office beberapa tahun terakhir, mencoba mengangkat ‘formula’ khas Agnes Davonar dengan judul yang sama, Surat Kecil untuk Tuhan (versi tahun 2011 di LSF terdaftar sebagai Surat Kecil untuk Tuhan (SKuT), sementara versi 2017 sebagai Surat Kecil untuk Tuhan saja), tapi dengan materi cerita yang sama sekali berbeda.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, June 26, 2017

The Jose Flash Review
Jailangkung



Genre horror rupanya selalu mendapatkan tempat di hati penonton Indonesia. Tahun ini gairahnya sempat dibangkitkan oleh kesuksesan Danur: I Can See Ghosts yang berhasil mengundang lebih dari 2.7 juta penonton ke bioskop. Tak mau kelewatan momen, Rizal Mantovani dan Jose Poernomo pun membawa kembali franchise yang kehadirannya pertama kali di tahun 2001 menjadi salah satu tonggak sejarah penting kebangkitan film nasional, Jelangkung (dilanjutkan sekuelnya, Tusuk Jelangkung – 2002 dan Jelangkung 3 – 2007). Cukup mengejutkan sebenarnya, ketika pertama kali mengumumkan tentang proyek bertajuk Jailangkung di bawah bendera Screenplay Films-Legacy Pictures yang dikenal selalu sukses mencetak film-film nasional box office. Saat itu ternyata diam-diam pengambilan gambar sudah dilakukan dan hampir tahap finishing dengan pasangan bintang muda yang sedang naik daun pasca Dear Nathan, Jefri Nichol dan Amanda Rawles di lini terdepannya. Padahal akhir 2016 lalu sempat tersiar kabar pembuatan film bertajuk Jelangkung: 13 Tahun Kemudian oleh rumah produksi baru, Tymora Films, dengan sutradara Billy Christian, yang konon berniat menyatukan kembali cast orisinalnya dan syuting diagendakan mulai Januari 2017. Sayang, hingga tulisan ini dibuat tidak ada follow up lagi hingga Rizal Mantovani dan Jose Poernomo mengumumkan proyek Jailangkung dengan mengubah ‘format penulisan judul’ (dari Jelangkung menjadi Jailangkung) dan juga mantra (tagline) menjadi ‘Datang Gendong, Pulang Bopong’, yang konon karena faktor rights dari versi aslinya. Dengan dukungan Screenplay Films-Legacy Pictures yang setidaknya dari segi teknis tidak main-main, Jailangkung memilih Hari Raya Lebaran untuk melanjutkan ‘warisan’ mitologi Jailangkung ke generasi yang lebih baru.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Sweet 20

Digdaya sinema Korea Selatan mau tak mau harus diakui sebagai salah satu yang terbesar di Asia. Tak hanya di pasar domestik tapi juga di seluruh Asia, bahkan tak sedikit yang mampu menembus pasar Amerika Serikat. ‘Invasi’ global ke negara-negara lain salah satunya dilakukan dengan ‘menjual’ right original content mereka sekaligus mendukung produksi versi remake-nya. Miss Granny (2014) menjadi proyek yang akhirnya menggurita. Di-remake di Cina, Jepang, Thailand, Vietnam, bahkan menyusul Hollywood dan Meksiko. Indonesia beruntung menjadi salah satu negara yang masuk ke dalam list CJ Entertainment selaku studio pemilik right-nya. Bekerja sama dengan StarVision Plus yang sangat berpengalaman memproduksi film-film box office lokal dengan kualitas yang rata-rata mumpuni, dipilihlah tajuk Sweet 20 yang dirasa paling pas mewakili. Naskah adaptasinya dipercayakan kepada Upi yang merangkap konsultan kreatif, sementara bangku sutradara dipegang oleh Ody C. Harahap yang sangat berpengalaman di genre drama-komedi keluarga, seperti Kapan Kawin? dan Me vs Mami. Aktris muda yang karirnya terus menanjak, Tatjana Saphira, didapuk di lini terdepan, didukung jajaran all-star lintas generasi, mulai generasi Slamet Rahardjo, Niniek L. Karim, dan Widyawati, generasi Lukman Sardi, Cut Mini, dan Tika Panggabean, sampai generasi Morgan Oey, Kevin Julio, dan Ardit Erwandha. Membidik libur Hari Raya Lebaran, Sweet 20 siap menghibur seluruh anggota keluarga, mulai generasi kakek-nenek hingga para cucu.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, June 25, 2017

The Jose Flash Review
Tubelight
[ट्यूब लाइट]

Tak hanya di Indonesia, Hari Raya Idul Fitri juga menjadi momen yang tepat untuk merilis film line-up utama di India. Dua tahun terakhir ini Salman Khan lah yang seolah menjadi jawara di Hari Raya, dengan Bajrangi Bhaijaan (2015) dan Sultan (2016). Tak mau melepaskan predikat jawara Hari Raya, tahun ini Salman sudah mempersiapkan hits terbarunya, Tubelight, yang diadaptasi dari film reliji Katolik asal Hollywood, Little Boy (2015). Popularitas Little Boy yang sangat kurang terdengar, bahkan di kalangan penonton film reliji Katolik sekalipun, menjadi keuntungan tersendiri bagi Tubelight. Kabir Khan kembali digandeng sebagai sutradara sekaligus penulis naskah (dibantu Parveez Sheikh dan Manurishi Chadha) setelah Bajrangi Bhaijaan. Di lini cast, didukung pula oleh Sohail Khan cukup lama absen berakting (Hello Brother, Fight Club: Members Only, dan Veer), Om Puri yang mana ini merupakan penampilan terakhirnya sebelum meninggal dunia pada awal tahun 2017 lalu, dan aktris Mandarin, Zhu Zhu, yang sebelumnya pernah kita lihat di What Women Want (versi Andy Lau), Cloud Atlas, dan The Man with the Iron Fist. Musik dari Pritam dan Amitabh Bhattacharya tentu menjadi daya tarik lain yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 23, 2017

The Jose Flash Review
Transformers: The Last Knight

Meski selalu dihujani caci maki dari para kritikus, Transformers tetap kokoh sebagai salah satu franchise terbesar dan paling menguntungkan di seluruh dunia sepanjang masa. Tak heran jika Paramount Pictures selaku pemegang rights-nya terus melaju dengan sineas yang selama ini melambungkan popularitasnya, Michael Bay. Berkali-kali mengaku tak mau lagi menangani installment lanjutan, nyatanya sampai installment kelima bersub-judul The Last Knight (TLK) ini masih berada di arahan tangan besinya. Mark Wahlberg, Stanley Tucci, John Turturro, dan bahkan Josh Duhammel kembali mengisi peran dari installment-installment sebelumnya. Ditambah kehadiran Sir Anthony Hopkins, the new Transformers’ Babe mengikuti jejak Megan Fox dan Rose-Whitely Huntington, Laura Haddock, bintang muda Amerika-Peru jebolan serial Nickelodeon, Isabela Moner, Liam Garrigan yang sekali lagi memerankan karakter King Arthur setelah di serial Once Upon a Time, serta finalis program kontes Sky One’s Project Catwalk yang barusan kita lihat di Fantastic Beasts and Where to Find Them dan Stratton, Gemma Chan. Masih dihujani caci maki kritikus, bahkan dicap sebagai installment terburuk dalam franchise Transformers, dan hasil box office domestik pekan pertamanya terendah, tapi hasil box office internasionalnya masih sangat memuaskan. So yes, the franchise shall go on, with even more fantastical visual.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, June 17, 2017

The Jose Flash Review
Planetarium

Jika kita selama ini sudah muak dengan film horror ber-treatment ala dokumenter pemanggilan arwah atau penampakan makhluk halus, pernah kah terbersit pertanyaan, sejak kapan ide memfilmkan peristiwa paranormal dimulai? Planetarium, sebuah film Perancis besutan sutradara wanita, Rebecca Zlotowski (Grand Central, Belle épine, You and the Night) mencoba untuk mengangkat kisah fiktif di balik fenomena yang masih terus berlangsung hingga kini. Meski berstatus film Perancis, Planetarium dibintangi Natalie Portman, Lily-Rose Depp (putri Johnny Depp dan  Vanessa Paradis), aktor watak sekaligus penulis naskah, Emmanuel Salinger, Pierre Salvadori, dan aktris Inggris, Amira Casar. Diputar pertama kali di Venice Film Festival, Planetarium menyambangi bioskop-bioskop non-XXI seluruh Indonesia. Tentu ini merupakan kesempatan yang sayang untuk dilewatkan bagi penggemar sinema Perancis, sinema Eropa klasik, maupun arthouse. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
47 Meters Down

Kehadiran The Shallows tahun 2016 lalu membuktikan bahwa sub-genre creature, terutama hiu, masih punya ‘taring’. Belum lagi ditambah film TV Sharknando yang bahkan sudah sampai installment kelima. Maka keputusan Byron Allen’s Entertainment Studios membeli hak tayang wide-release film bertajuk In the Deep di bioskop seluruh dunia dari Dimension Films (milik Weinstein Co.) yang awalnya hanya akan merilis untuk Home Video dan Video on Demand lewat Anchor Bay Entertainment saja, tergolong berani tapi tepat. Film indie produksi Inggris yang ‘hanya’ ber-budget US$ 5 juta ini justru sengaja diposisikan sebagai summer movie dengan judul 47 Meters Down (47MD), bersaing langsung dengan Wonder Woman, The Mummy, dan Cars 3. Siapa sangka film yang awalnya bahkan tak dilirik ini berhasil mengumpulkan US$ 11.2 juta untuk pasar domestik Amerika Serikat di minggu pertama penayangannya. Apa sebenarnya yang menarik dari 47MD sehingga membuat distributor berani membeli dan merilisnya di musim persaingan film-film Hollywood paling ketat? Disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Johannes Roberts, dibantu Ernest Riera (keduanya berkolaborasi untuk The Other Side of the Door), 47MD juga menandai kembalinya aktris-penyanyi, Mandy Moore di layar lebar setelah tahun-tahun sebelumnya ‘hanya’ menyambangi layar TV, bersama aktris serial Pretty Little Liars dan The Vampire Diaries, Claire Holt.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 16, 2017

The Jose Flash Review
In This Corner of the World
[この世界の片隅に]


Berbeda dengan kebanyakan animasi dari negara-negara lain, anime Jepang seringkali tak segan-segan mengangkat tema-tema berat, kelam, dan dewasa. Tak terkecuali menyangkut Perang Dunia II. Studio animasi sekelas Ghibli pernah mengangkatnya lewat Hotaru no haka atau judul internasionalnya, Grave of the Fireflies (1988). Pada tema dan pendekatan yang tak berbeda jauh, MAPPA mengadaptasi manga berjudul Kono Sekai no Katasumi ni atau judul internasionalnya, In This Corner of the World (ITCotW) ke anime layar lebar. Disutradarai oleh Sunao Katabuchi (Upon The Planet, Princess Arete, Mai Mai Miracle), dengan budget ¥ 250 juta (sekitar US$ 2.2 juta) berhasil mengumpulkan ¥ 2.5 milyar (sekitar US$ 22.5 juta) hingga Maret 2017 lalu. Belum lagi berbagai penghargaan film nasional maupun internasional yang berhasil diraihnya. Penggemar anime di Indonesia boleh lega karena tayang resmi di bioskop-bioskop non-XXI Indonesia oleh distributor Moxienotion.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, June 15, 2017

The Jose Flash Review
Raabta
[राब्ता]

Film yang berani memasukkan elemen reinkarnasi selama ini masih tergolong sangat jarang. Bisa jadi alasannya adalah reinkarnasi bukan merupakan sesuatu yang bisa dibuktikan secara ilmiah dan tak semua kepercayaan yang menganutnya. Namun bukan berarti tak ada film bertemakan reinkarnasi yang berhasil menjadi sesuatu yang mengesankan, apalagi di genre drama romance yang sejatinya unsur reinkarnasi justru bisa jadi sesuatu yang manis. Sebut saja yang paling populer dan klasik, Bram Stoker’s Dracula, Chances Are, Dead Again, Birth, dan bahkan sinema Hindi pun punya Om Shanti Om. Melengkapi tema unrequited love yang seolah sedang menjadi trend film Hindi beberapa tahun terakhir, Dinesh Vijan (produser Love Aaj Kaal, Cocktail, Finding Fanny, dan Badlapur), mencoba debut penyutradaraannya dengan menggabungkan kembali tema reinkarnasi ke dalam romance lewat Raabta yang artinya ‘connection’. Dari naskah yang disusun oleh Garima-Siddhart (keduanya pernah bekerja sama untuk naskah Goliyon Ki Rasleela Ram-Leela dan Brothers), Raabta menghadirkan Sushant Singh Rajput yang karirnya makin melejit setelah tampil di Kai Po Che!, PK, dan M.S. Dhoni: The Untold Story, dipasangkan dengan Kriti Sanon yang pernah kita lihat di Heropanti, Dohchay, dan Dilwale. Tak ketinggalan penampilan spesial dari Deepika Padukone yang membawakan title song-nya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, June 13, 2017

The Jose Flash Review
The Wall

Film panjang berkonsep satu karakter yang terjebak di satu tempat sepanjang film bukan lagi sesuatu baru meski kehadirannya bisa dikatakan masih sangat jarang. Yang paling memorable mungkin Phone Booth (2002), Saw (2004), Buried (2010), Devil (2010), dan baru-baru ini, Mine. Thriller dan horror menjadi genre yang pas untuk mengaplikasikan konsep ini, tapi tentu tidak menutup kemungkinan bisa dikombinasikan dengan genre lainnya. Mine membuktikan keberhasilan konsep ini untuk genre war. Maka The Wall arahan Doug Liman (Mr. & Mrs. Smith, The Bourne Identity) ini menawarkan konsep dan setting yang serupa dengan dukungan Aaron Taylor-Johnson (franchise Kick-Ass) dan atlet WWE yang sudah beberapa kali terjun di film laga, John Cena (The Marines). Dengan nama-nama yang dikenal berkualitas ditambah naskah yang termasuk dalam daftar Black List 2014 (daftar naskah-naskah yang paling disukai tapi belum diproduksi) karya Dwain Worrell (serial Marvel Iron Fist), proyek yang sejatinya tergolong indie ini (budgetnya ‘hanya’ US$ 3 juta!) terdengar begitu menarik dan menjanjikan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Zombie Fighters
[ក្រុមកម្ទេចខ្មោចឆៅ]

Sinema Thailand punya perpaduan genre yang sudah menjadi salah satu ciri khasnya, yaitu horror dan komedi. Perpaduan yang sebenarnya bertolak belakang ini jelas tak mudah dan beresiko terhadap resepsi penonton. Salah-salah bisa jatuh menjadi sajian konyol yang cenderung ke ‘murahan’. Hebatnya, sinema Thai berkali-kali membuktikan bisa menyeimbangkan horror dengan komedi sehingga kedua elemen ini bisa sama-sama berhasil dan saling melengkapi, serta biasanya ditambahkan pula elemen drama yang tak kalah dalam memggerakkan emosi. Persembahan terbaru, Zombie Fighters (ZF) yang disutradarai Poj Arnon (Bangkok Love Story dan trilogi Make Me Shudder) dengan kembali menggandeng idola-idola muda dari trilogi Make Me Shudder.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, June 10, 2017

The Jose Flash Review
The Mummy (2017)

Di Hollywood, prestise sebuah studio film (apalagi major) bisa jadi diukur dari ada berapa banyak dan seberapa besar franchise yang dikantongi. Jika Disney masih memimpin dengan mimiliki franchise Star Wars dan Marvel Cinematic Universe dan Warner Bros. punya DC Extended Universe dan Harry Potter, Universal Pictures yang juga termasuk major studio sejak lama terus menggali potensi franchise yang ada, selain Fifty Shades dan Fast and Furious yang sebenarnya sudah sangat menguntungkan. Sejak lama pula ia berusaha menghidupkan kembali franchise Dark Universe dengan ‘koleksi’ karakter-karakter monster klasiknya, seperti Mummy, Frankenstein, Dracula, The Invisible Man, dan Wolf Man yang pernah berjaya di era 30-50’an. Sempat mencoba memulai dengan Dracula Untold pada 2014 lalu. Hasilnya sebenarnya tak buruk (dengan budget sekitar US$ 70 juta, menghasilkan US$ 217 juta lebih di seluruh dunia. Hanya saja di pasar domestik cuma berhasil mengumpulkan US$ 56 juta lebih), tapi Alex Kurtzman (sutradara People Like Us dan penulis naskah berbagai film blockbuster, seperti Mission: Impossible III, Star Trek versi 2009, Transformers, serta The Amazing Spider-Man 2) dan pihak studio memutuskan untuk membatalkan Dracula Untold sebagai bagian dari Dark Universe, sementara installment terbarunya, The Mummy lah yang dianggap sebagai film pertama dari konsep pembangunan franchise tersebut.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 9, 2017

The Jose Flash Review
Mantan

Di perfilman nasional ada semacam ‘mitos’ bahwa film Indonesia yang rilis selama bulan puasa Ramadhan akan dijauhi penonton. Secara logika, mungkin karena di bulan Ramadhan orang-orang lebih disibukkan oleh kegiatan buka bersama dan teraweh. Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa masih ada kesempatan untuk menggaet penonton selama punya potensi yang menarik perhatian penonton. Ini terbukti dengan film-film summer blockbuster Hollywood (yang selama beberapa tahun terakhir selalu jatuh sekitar bulan Ramadhan juga) yang tetap berhasil mendulang penonton. Mencoba mematahkan ‘kutukan’ tersebut, Renée Pictures justru memanfaatkan momen Ramadhan untuk perilisan film terbarunya, Mantan, lewat tagline ‘silaturahmi bersama mantan’. Dengan menggandeng aktris-aktris populer, mulai comeback Luna Maya, Karina Nadila, ‘muse’ Renée yang popularitasnya kian melambung sejak memyandang gelar Putri Indonesia Pariwisata 2017, Ayudia Bing Slamet yang juga kian melambung sebagai YouTuber bertajuk #TemanTapiMenikah, Kimberly Ryder, serta debut akting dari penyanyi alumni Indonesian Idol, Citra Scholastika. Dari naskah yang disusun Gandhi Fernando (kembali merangkap sebagai aktor), Mantan mempercayakan pengarahannya kepada  sutradara wanita muda, Svetlana Dea yang mana juga merupakan debut layar lebarnya setelah web-series School of the Dead.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Mine

Apa yang akan Anda lakukan jika tak sengaja menginjak ranjau darat? Apakah Anda akan terus berdiam sampai pertolongan datang atau segera menjauh sehingga setidaknya kerusakan yang diakibatkan oleh ranjau bisa diminimalisir? Pertanyaan ‘what if’ itulah yang coba disodorkan oleh duo asal Italia, Fabio Guaglione dan Fabio Resinaro yang bekerja sama menyusun naskah sekaligus menyutradarai film layar lebar pertama mereka bertajuk Mine setelah E:D:E:N (2004), The Silver Rope (2006), dan Y/N: You Lie, You Die (2012). Memanfaatkan konsep satu lokasi setting dan minim karakter, Mine seolah seperti film indie berbudget murah, tapi tak boleh diremehkan begitu saja dengan dukungan cast dari Armie Hammer, Annabelle Wallis, dan Tom Cullen.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, June 5, 2017

The Jose Flash Review
Stratton

Karakter espionage fiktif dengan berbagai latar belakang yang berasal dari novel hampir semuanya sudah diangkat ke layar lebar. Sebut saja yang paling legendaris, James Bond, disusul Jack Ryan, Jason Bourne, dan Jack Reacher yang juga tak kalah suksesnya. Di generasi yang lebih baru, ada seri novel John Stratton yang ditulis oleh mantan komandan Special Boat Service (salah satu unit di Angkatan Laut Kerajaan Inggris), Duncan Falconer. Sejak dirilis pertama kali tahun 2003, kisah petualangan aksi John Stratton sudah dibukukan sebanyak delapan jilid (terakhir dirilis tahun 2012). Dibanding karakter-karakter espionage fiktif lainnya, popularitas John Stratton memang masih belum terdengar secara global. Kendati demikian, potensi franchise John Stratton dilirik oleh Henry Cavill (Clark Kent alias Superman teranyar) yang sempat berniat mengisi peran Stratton sekaligus memproduseri dengan bendera Promethean Productions, bersama Amber Entertainment, dan GFM Films. Sayang, Cavill memutuskan untuk keluar dari proyek karena perbedaan kreativitas. Dominic Cooper (Need for Speed, Warcraft) kemudian ditunjuk untuk menggantikan, sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Simon West, yang sudah sangat berpengalaman di berbagai film aksi high profile, seperti Con Air, The General’s Daughter, Lara Croft: Tomb Raider, The Mechanic, dan The Expendables 2.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, June 3, 2017

The Jose Flash Review
The Merciless
[불한당: 나쁜 놈들의 세상]


Film mafia Hong Kong, Infernal Affairs (2002) adalah sebuah tonggak sejarah, tak hanya bagi perfilman Hong Kong tapi juga dunia. Bahkan sutradara Hollywood sekaliber Martin Scorsese tertarik me-remake-nya, The Departed, dengan deretan A-list cast seperti Leonado DiCaprio, Matt Damon, Jack Nicholson, dan Mark Wahlberg, juga berjaya di berbagai ajang penghargaan film internasional, termasuk Academy Awards. Sementara sinema negara-negara lain tak ketinggalan menggunakannya untuk remake resmi maupun sekedar ‘terinspirasi’, seperti City of Damnation (2009) dari Korea Selatan, film berbahasa Telugu, Homam (2009), dan film TV dari Jepang, Double Face (2012). The Merciless, film Korea Selatan yang diproduksi CJ Entertainment dan disutradarai oleh Byun Sung-hyun (Whatcha Wearin’? dan The Beat Goes On) ini sebenarnya juga termasuk salah satu yang sedikit banyak terinspirasi oleh Infernal Affairs kendati tak secara terang-terangan mengakuinya dan melakukan modifikasi di sana-sini sehingga lebih bercita rasa khas Korea Selatan. Memasang ‘oppa’ Yim Si-wan (A Melody to Remember dan The Attorney) dan Sul Kyoung-gu (Peppermint Candy, Oasiseu, Cold Eyes, Haeundae, My Dictator) di lini terdepan, The Merciless yang sempat diputar di sesi Midnight Screening Cannes Film Festival ke-70 Mei 2017 lalu ini mencoba untuk menyedot perhatian dunia.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 2, 2017

The Jose Flash Review
The Lost City of Z


Mungkin kita yang hidup di era ini belum banyak yang mengenal sosok Percy Fawcett, seorang prajurit artileri merangkap geografer, penjelajah, arkeologis, sekaligus kartografer Inggris populer di bidangnya. Padahal sosoknya diakui menginspirasi banyak karakter fiktif di berbagai karya populer legendaris, seperti Professor Challenger dari novel Arthur Conan Doyle, The Lost World, Indiana Jones, Ridgewell dari Tintin L’Oreille Cassée, hingga Charles F. Muntz dari animasi Pixar, Up. Popularitas Fawcett semakin meluas secara umum setelah artikel karya penulis sekaligus kolumnis The New Yorker, David Grann, dimuat tahun 2005 dan dibukukan dengan tajuk The Lost City of Z: A Tale of Deadly Obsession in the Amazon tahun 2009. Sebelum bukunya resmi dirilis, rumah produksi Plan B milik Brad Pitt tertarik untuk mengangkatnya ke versi layar lebar dengan James Gray (The Yards, We Own the Night, Two Lovers, The Immigrant) yang ditunjuk sebagai penyusun naskah adaptasi dan sutradara. Tahap development bersama Paramount butuh waktu enam tahun hingga Gray menemukan pendekatan terbaik untuk mengangkat kisah biopic Percy Fawcett.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Havenhurst

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Wonder Woman

Upaya DC Comic untuk menyusul rival terbesarnya, Marvel, dalam memboyong universe superhero komiknya ke layar lebar memang agak tertinggal. Namun dengan grand design yang tak kalah megah dan meriah dari Zack Snyder. Sayangnya meski tetap menarik perhatian penonton umum, tak banyak yang menyukai konsep kelam-nya. Maka pencarian bentuk yang sesuai dengan selera pasar umum terus dilakukan dengan berbagai pendekatan. Salah satu upayanya adalah Wonder Woman (WW) yang sejatinya sudah sangat lama direncanakan. Bayangkan, komiknya pertama kali terbit tahun 1941 tapi versi layar lebar pertamanya baru pertama kali muncul tahun 2017 setelah selama ini hanya menyambangi layar kaca lewat serial live action yang dipopulerkan oleh Lynda Carter, serial animasi, dan film video. Kemunculannya di Batman v Superman: Dawn of Justice 2016 silam sempat memancing excitement, terutama karena sosoknya yang dianggap berhasil diwakili oleh Gal Gadot, aktris berdarah Israel yang populer lewat franchise Fast & Furious. Melengkapi konsep women empowerment yang juga sedang menjadi global issue panas, DC dan Warner Bros. tak mau kehilangan momen. Sutradara wanita yang sempat mencuri perhatian dunia lewat Monster (2003), Patty Jenkins, dipercaya untuk melesatkan karir penyutradaraannya lewat salah satu franchise berprestis tinggi ini. Pemeran-pemeran pendukungnya pun tak main-main. Mulai Chris Pine, Robin Wright, Connie Nielsen, Danny Huston, David Thewlis, Ewen Bremner, hingga Elena Anaya (masih ingat The Skin I Live In?). Tentu hasil WW yang konon punya tone yang berbeda dengan konsep dark dari Zack Snyder ini turut menjadi penentuan penting, akan bagaimana masa depan konsep DC Extended Universe berikutnya, terutama Justice League yang direncanakan tayang November tahun ini juga.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates