Friday, May 5, 2017

The Jose Flash Review
Unlocked


Espionage dan kick-ass chick selalu menjadi paduan yang menarik perhatian. Whether you’re a male or a female, aksi keren dari wanita cantik dan seksi dengan mudah menjadi eye-candy, bukan? Along with the male, kehadiran female agent pun sudah banyak yang memorable. Let’s say La Femme Nikita, Salt, Haywire, Colombiana, dan Hanna. Effort terbaru adalah Unlocked yang mengedepankan aktris Noomi Rapace (franchise The Girl with the Dragon Tattoo versi orisinil dan Prometheus) sebagai sosok kick-ass chick. Diproduksi Lorenzo di Bonaventura (mantan eksekutif Warner Bros. yang menemukan franchise The Matrix dan berjasa atas pembelian franchise Harry Potter, tapi juga berada di balik franchise Transformers ketika PH-nya berada di bawah bendera Paramount Pictures), Unlocked didasarkan dari naskah 2008 Blacklist karya Peter O’Brien (game Halo: Reach). Sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Michael Apted yang punya track record bagus di genre action, seperti The World is Not Enough, Enough, The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader, dan Chasing Mavericks. Selain Rapace, Unlocked didukung pula oleh Orlando Bloom, Toni Collette, Michael Douglas, dan John Malkovich. Nama-nama ini tentu membuat Unlocked layak dilirik kendati statusnya yang bukan termasuk proyek major.

Merasa bersalah atas pemboman di Paris yang gagal ia cegah, agen CIA, Alice Racine memilih untuk menyamar sebagai petugas sosial di sebuah kawasan London Timur. Tawaran dari mantan bos agensinya dulu, Eric Lasch untuk kembali aktif menjadi agen lapangan awalnya sempat ditolak. Namun setelah mempelajari bahwa yang akan ditanganinya adalah kasus terorisme radikal yang berencana menyebarkan teror senjata biologis, Alice mulai tertarik. Tugasnya menginterogasi seorang penyampai pesan dari pemuka agama Lateef El Hajjam yang diduga terkait berbagai aksi terorisme ke pihak pelaksana aksi teror yang masih misterius. Ketika sampai di lokasi, Alice mencium adanya keanehan yang berakhir dengan dirinya dikejar-kejar oleh banyak pihak; mulai atasannya sendiri, MI5, hingga satu pihak yang masih misterius. Tak disengaja, ia mendapatkan bantuan dari Jack Alcott, seorang pria yang merampok apartemen tempat ia bersembunyi dan mengaku mantan anggota militer. Namun di situasi seperti ini, memilih pihak mana yang bisa dipercaya bukanlah hal mudah.
Plot yang disuguhkan Unlocked sebenarnya cukup standard di genre espionage. Begitu juga dengan kelokan-kelokan intrik dan revealing twist yang tergolong formulaic. Kendati demikian, jalinan plot yang disusun tergolong rapih dan mengalir cukup lancar. Bikin penasaran meski saat akhirnya tergolong predictable ketika terungkap. Kecenderungan tipikal untuk memposisikan kelompok radikal jihadist sebagai teroris pun berhasil di-counter dengan sebuah revealing yang membuatnya acceptable. Penulisan karakter-karakter yang ada juga tergolong formulaic, bahkan beberapa tak punya kedalaman lebih selain yang tampak dari luar saja. Namun setidaknya karakter-karakter ini diposisikan pada porsi dan peran yang cukup dalam plot sehingga tak menimbulkan plot hole atau keanehan-keanehan tertentu.
Daya tarik utama Unlocked kemudian terletak pada bagaimana Apted mengarahkannya menjadi sajian aksi yang mengundang decak kagum dan mampu memompa adrenaline. For that purpose, Apted masih belum kehilangan energinya. Tak terlalu stylish ataupun inovatif, apalagi bombastis, tapi Unlocked masih sangat enjoyable sebagai film aksi espionage. Inilah syarat minimum yang membuatnya masih menjadi tontonan yang layak dinikmati di layar lebar.
Noomi Rapace terbukti punya daya tarik dan kharisma yang cukup untuk menjadi sosok kick-ass chick, Alice Racine. Tak lantas menjadi bad-ass, malah cenderung ‘agak lugu’, tapi setidaknya masih menunjukkan daya analisis yang cukup cerdas. Sebaliknya, Orlando Bloom pun masih meyakinkan sebagai Jack Alcott yang tampak lebih bad-ass. Kharisma good guy yang (masih) menempel kuat pada sosoknya masih berhasil memperdaya penonton. Toni Collette seolah sedikit mengulang perannya di xXx: Return of Xander Cage sebagai bos MI5, Emily Knowles. Agaknya bukan kebetulan karakternya diberi tata rambut yang mengingatkan saya akan sosok M di franchise James Bond. Michael Douglas sebagai Eric Lasch pun cukup mencuri perhatian kendati porsinya termasuk sedikit di awal tapi punya peran yang cukup penting di revealing. Sementara kehadiran John Malkovich sebagai Bob Hunter terasa agak mubazir, mengingat perannya tak masalah digantikan oleh aktor manapun yang punya tipikal serupa.
Sebagai sebuah film (relatively) kecil, teknis Unlocked memang tak terlalu istimewa, tapi setidaknya masih mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan secara cukup maksimal. Mulai sinematografi George Richmond yang masih berhasil membuat adegan aksi dan kejar-kejarannya tampak seru, meski tak sampai se-gripping franchise Jason Bourne, misalnya. Editing Andrew MacRitchie pun menjalankan plot dengan  cukup lancar dan momentum-momentum yang terasa pas di balik elemen-elemen formulaic-nya. Score music Stephen Barton yang terdengar low-mid tempo techno mengingatkan saya akan score di franchise Jason Bourne (terutama Extreme Ways dari Moby) cukup mengiringi adegan-adegannya menjadi lebih ‘hidup’.
Unlocked memang bukanlah proyek major dengan ambisi tinggi. Tak juga menjadi film female espionage yang istimewa. Namun setidaknya ia masih lebih dari sekedar layak sebagai sebuah sajian aksi espionage yang bikin penasaran kendati akhirnya memang terasa formulaic. Aksi Noomi Rapace yang ternyata cukup layak untuk menjadi karakter kick-ass chick masih menjadi primadona yang menarik untuk disaksikan di layar lebar dengan kualitas audio-visual yang mumpuni. Pengembangan menjadi franchise tersendiri? Mungkin agak sulit mengingat skala proyeknya yang memang tergolong kecil, but still, why the hell not?
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates