Tuesday, May 16, 2017

The Jose Flash Review
Unforgettable

Anda pernah atau justru sampai sekarang masih menggemari seri novel roman Harlequin? Atau Anda sempat menggemari film-film erotic thriller drama yang cukup booming di era 80-90’an hingga melahirkan beberapa nama sexbomb, seperti Shannon Tweed dan Naveen Andrews? Trend genre ini memang sudah lewat, tapi sesekali masih ada satu-dua yang mencoba untuk ‘mengobati kerinduan’ bagi para penikmatnya. Beberapa tahun terakhir ada Obsessed (2009), The Boy Next Door (2015), dan Careful What You Wish For (2015). Memang tak pernah dibuat sebagai film ambisius dengan budget melimpah. Cukup premise daur ulang yang basically tak jauh-jauh dari tema rumah tangga, revenge, dan bitch fight. Daya tariknya kemudian terletak pada pemilihan cast yang bikin penonton penasaran jika dimasukkan dalam formula tersebut. Tahun 2017 ini ada upaya terbaru dari Warner Bros. lewat Unforgettable dengan mempercayakan produser Denise Di Novi (Little Women, Practical Magic, Original Sin, A Walk to Remember, Catwoman, The Sisterhood of the Traveling Pants 2, Nights in Rodanthe, Life as We Know It, Crazy, Stupid Love, The Lucky One, If I Stay, Focus) yang mencoba debut penyutradaraan, dari naskah yang disusun Christina Hodson (Shut In) bersama David Johnson (Orphan, Wrath of the Titans, The Conjuring 2). Cast yang ‘dipasang’ untuk menjadi daya tarik adalah Katherine Heigl dan Rosario Dawson, beserta aktris veteran yang kita kenal lewat serial Charlie’s Angels, Cheryl Ladd.
Lily Connover yang selama ini tinggal di rumah sang ibu kandung, Tessa, harus pindah ke rumah sang ayah kandung, David, yang baru saja tinggal bersama tunangan barunya, Julia Banks. Meski sudah berusaha sebaik mungkin dalam mengasuh Lily, Tessa selalu merasa ada yang salah dengan cara mengasuh Julia. Hingga terkuaklah obsesi Tessa yang rupanya masih tak terima atas perceraian dengan David. Dengan berbagai cara, hingga paling ekstrim, yaitu melibatkan mantan kekasih Julia, Michael Vargas, yang pernah dipenjara karena melakukan penganiayaan terhadap Julia. Tentu kesemuanya bermuara pada ‘pertarungan’ one-on-one untuk memperebutkan David dan Lily.
Dari premise yang ditawarkan, Unforgettable jelas masih bermain-main di ranah erotic thriller drama seperti yang sudah-sudah. Bahkan jika Anda jeli, color tone dan lighting yang digunakan di sini pun sangat identik pada visual khas tema sejanis di era 90-an. Sayangnya, Unforgettable tak menawarkan satu pun adegan erotis (yang sebenarnya menjadi salah satu daya tarik genre sejenis). Itu pun masih mendapatkan ‘revisi’ dari LSF yang sebenarnya jika Anda mengecek detailnya di parental advisory di IMDb, tak ada yang perlu dipotong. 
Ada upaya untuk membuat penonton penasaran lewat struktur cerita, terutama di pembuka film. Sayangnya upaya ini pun tak sepenuhnya berhasil membuat saya penasaran karena itu pun sudah tergolong generik di genrenya. Plot yang digulirkan tak menawarkan sesuatu yang baru. Semua tergelar dengan sangat generik. Satu-satunya rasa penasaran saya terletak pada sejauh mana bitch-fight antara Katherine Heigl dan Rosario Dawson. Apakah masih akan menjadi tontonan yang seru? Well, ketika momen itu tiba, bitch-fight-nya memang tergolong mediocre. Tak ada yang ekstrim dan cukup predictable, tapi masih cukup seru untuk disimak. Daya tarik yang masih membuat saya betah duduk di seat saya adalah penampilan Katherine Heigl yang memang begitu cocok mengisi peran psychopathic bitch. Rosario Dawson sebagai Julia Banks tak tampil terlalu istimewa tapi cukup mengundang simpati penonton untuk berpihak (atau iba) kepada karakternya. Geoff Stults sebagai David Connover termasuk replaceable oleh aktor manapun. Tak ada momen yang memberikannya kesempatan untuk bersinar di balik kharisma-nya yang ternyta memang biasa-biasa saja. Begitu juga Simon Kassianides sebagai Michael Vargas yang terasa just another asshole tanpa perlu punya dampak apa-apa terhadap penonton. Cheryl Ladd sebagai ibu Tessa menjadi pencuri perhatian yang menghibur, terutama karena tipikal karakternya di genre sejenis yang memang cocok diperankan olehnya.
Dukungan teknisnya pun tak ada yang benar-benar istimewa selain sekedar ‘layak’ dalam menyampaikan cerita. Malahan bisa dibilang production value-nya sangat FTV atau soap opera (sebagaimana juga tema dan plot yang ditawarkan) Seperti sinematografi Caleb Deschanel yang masih cukup pas dengan pace dan tone film. Editing Frédéric Thoraval pun membuat plotnya berjalan cukup lancar dengan sedikit variasi struktur yang ternyata tak berpengaruh banyak. Terakhir, musik dari Toby Chu juga masih bermain-main generik di genrenya. Sekedar sedikit memberikan rasa dan warna pada emosi adegan, tapi tak sampai menjadi kekuatan tersendiri ataupun memorable.
Dengan penyusunan plot, penyutradaraan, dan berbagai aspek teknisnya, Unforgettable pada akhirnya tak menawarkan sesuatu yang baru, selain sekedar just another mediocre thriller-drama (tanpa unsur ‘erotic’ pula). Nyaris setingkat dengan FTV maupun soap opera, malah. Tentu bagi penggemar tipikal film seperti ini, ia masih layak tonton, setidaknya untuk sekedar membunuh waktu saat belum bisa tidur malam atau menghabiskan siang/sore santai, tanpa perlu menetapkan ekspektasi tertentu.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates