Monday, May 8, 2017

The Jose Flash Review
Siam Square
[สยามสแควร์ ]


Di mata internasional, Asia memang kaya akan urban legend mistis yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Salah satu negara produsen yang paling produktif untuk tema ini adalah Thailand. Tahun 2017 ini Sahamongkol Film, salah satu PH Thailand yang banyak melahirkan film-film populer di kancah internasional, termasuk The Legend of Suriyothai, Love of Siam, dan seri Ong-Bak, memproduksi sebuah horror fiktif yang membahas salah satu kawasan paling populer di Bangkok (disebut-sebut sebagai Shibuya-nya Bangkok), Siam Square (SS). Pairach Khumwan yang sebelumnya dikenal sebagai sinematografer untuk film 36 (2012), Mary is Happy, Marry is Happy (2013), dan Hand in the Glove  (2015), serta pernah menyutradarai salah satu segmen berjudul Samet di omnibus Love, Not Yet (2011), dipercaya untuk duduk di bangku penyutradaraan. SS juga didukung banyak bintang muda yang menyemarakkan film, seperti model dan bintang TV yang akan membintangi film thriller Bad Genius, Eisaya Hosuwan, Peem Thanabodee (serial Hormones dan Halfworlds), Nutthasit Kotimanuswanich (11-12-13 Rak Kan Ja Thai dan #Grace), Morakot Liu (Heart Attack), dan Ploy Sornarin (Single Lady).

Jublek yang bersahabat dengan May marah karena selama ini ia merasa hanya dimanfaatkan. Ketika keduanya tak sengaja berinteraksi dengan sosok hantu gadis berseragam sekolah di kelas bimbel, May menghilang secara misterius. Teman-temannya; Terk, Fern, Pond, dan Meen mencurigai Jublek berada di balik menghilangnya May. Pencarian terhadap May yang melibatkan kelompok YouTuber Ghost Your Dad; Moowahn, Mon, dan Newton, justru membuat mereka menemukan fakta seputar misteri hantu gadis berseragam yang menjadi awal mula mitos harus memasang gelang merah di sebuah bangku di dalam kelas bimbel tersebut jika ingin lulus ujian.
Seperti halnya urban legend mistis sejenis, SS sebenarnya punya modal konsep urban legend yang sangat menarik untuk dikembangkan. Misteri hilangnya May pun cukup mengundang rasa penasaran sejak film dibuka. Tak ketinggalan pula atmosfer horror dan jumpscare timing yang sebenarnya tergarap baik. Sayang, ia menyusun plotnya dengan back-and-forth dengan pemisah yang samar serta tanpa adanya koherensi antar adegan sehingga membingungkan. Alhasil konsep urban legend dan atmosfer horror yang tertata baik tak lagi berhasil karena konsentrasi penonton sudah keburu teralihkan untuk menganalisis susunan plot yang acak. Karena penyusunan plot back-and-forth yang digunakan terus-menerus hingga revealing, SS pun terasa sangat melelahkan untuk diikuti hingga mungkin penonton sudah tak lagi peduli dengan apa yang terjadi pada karakter yang jumlahnya juga terlalu banyak untuk diingat ‘who’s who’ oleh penonton.
Penampilan aktor-aktris muda yang mendukung tak buruk tapi juga tak punya keistimewaan tersendiri. Semuanya tampil cukup fair dengan beberapa yang berhasil menjadi perhatian penonton berkat porsi yang sedikit lebih banyak ketimbang yang lain dan fisik yang lebih menonjol, yaitu Eisaya Hosuwan seagai May, Morakot Liu sebagai Jublek, dan Peem Thanabodee sebagai Terk.
Sebagai suguhan horror, SS didukung oleh teknis yang cukup suportif. Seperti sinematografi Pithai Smithsuth yang cukup eksploratif dalam menghadirkan nuansa horror khas Asia dengan timing yang pas pula. Begitu juga editing yang sebenarnya cukup efektif dalam menata jumpscare dengan timing yang tepat, kendati punya kesulitan besar dalam menyusun adegan yang back-and-forth. Musical score tergolong formulaic di genrenya, tapi masih cukup efektif dalam mempertajam atmosfer kengerian dan ketegangan.
Dengan berbagai modal yang menjanjikan, sayangnya SS harus jatuh menjadi sebuah film horror yang kurang bisa dinikmati gara-gara susunan plot back-and-forth yang membingungkan. Tema bullying yang sebenarnya juga terasa cukup kuat gagal menjadi sesuatu yang kontemplatif gara-gara revealing yang standard, tanpa ada muatan emosi lebih. Namun jika Anda sekedar mencari tontonan horror generik, SS masih bisa dijadikan pilihan pengisi waktu luang.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates