Thursday, May 25, 2017

The Jose Flash Review
Pirates of the Caribbean:
Salazar's Revenge
[Dead Men Tell No Tales]

Berawal dari sebuah wahana di Disneyland, Pirates of the Caribbean (PotC) menjelma menjadi salah satu franchise paling menguntungkan bagi Disney. Begitu pula dengan image Johnny Depp, Orlando Bloom, dan Keira Knightley yang pada akhirnya begitu melekat dengan franchise PotC. Seri demi seri mulai The Curse of the Black Pearl (2003) hingga On Stranger Tides (2011) mencetak angka yang fantastis, bahkan Dead Man’s Chest dan On Stranger Tides tembus angka 1 milyar dolar di seluruh dunia, membuat Disney terus berupaya untuk menjaga kelangsungan franchise ini. Installment kelima (sekaligus keenam secara back to back seperti installment pertama dan kedua) pun bahkan segera direncanakan sesaat sebelum seri keempat dirilis. Rob Marshall yang menyutradarai seri keempat kembali dipercaya tapi mengundurkan diri demi Into the Woods dan The Thin Man. Pilihan kemudian jatuh kepada duo asal Norwegia, Joachim Rønning dan Espen Sandberg (Bandidas dan Kon-Tiki). Kendati demikian Disney belum memberikan lampu hijau hingga dirasa menemukan naskah yang tepat hasil karya Jeff Nathanson (Catch Me If You Can, The Terminal, Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull) pada 2014. Tak hanya sutradara, kru-kru baru pun bergabung, mulai DoP, editor, hingga komposer. Sementara di lini cast selain Johnny Depp dan Geoffrey Rush, didukung pula Javier Bardem (Skyfall), Brenton Thwaites (Maleficent, The Giver), Kaya Scodelario (franchise The Maze Runner), serta kembalinya Orlando Bloom dan Keira Knightley setelah sempat absen di On Stranger Tides. Rentang waktu selama 6 tahun menjadi pertaruhan apakah penonton akan merindukan karakter-karakter ikoniknya di Salazar’s Revenge (SR) atau judul asli, Dead Men Tell No Tales ini atau malah sudah kehilangan daya tarik.

Kisah dimulai dari Henry Turner, putra William Turner dan Elizabeth Swann yang berupaya mencari cara agar sang ayah terbebas dari kutukan menjadi kapten hantu Flying Dutchman. Konon hanya trisula Poseidon yang bisa meruntuhkan semua kutukan yang ada di seluruh lautan. Petualangan mempertemukannya dengan Carina Smyth, seorang gadis ahli astronomi yang dihukum mati karena tuduhan praktek sihir. Sebuah peristiwa membuat Henry, Carina, dan Jack Sparrow sepakat untuk sama-sama mencari keberadaan trisula Poseidon dengan agenda masing-masing. Upaya mereka semakin sulit karena ada hantu kutukan yang tak bisa menginjak daratan, Kapten Salazar, yang tak hanya mengincar trisula Poseidon untuk mematahkan kutukannya, tapi juga memburu Kapten Jack Sparrow karena dendam pribadi yang sudah terpendam lama.
Rentang waktu enam tahun termasuk lama untuk melanjutkan franchise. Bisa jadi telah terjadi pergantian generasi dan penggemar lama yang sudah semakin skeptis dengan kelangsungan franchise ini. Maka strategi konsep pun disusun. Mengikuti trend pengembangan franchise di Hollywood, PotC pun memilih konsep reuni untuk menarik perhatian dari fans lama sekaligus fans baru lewat karakter-karakter baru yang diperankan oleh aktor-aktris ‘kekinian’. Secara keseluruhan, SR menawarkan plot yang sederhana tapi cukup padat dari segi kronologis dan punya hubungan sebab-akibat yang tergolong masuk akal. Ada cukup banyak karakter dengan kepentingan (agenda) masing-masing yang semakin menyemarakkan cerita. Tentu saja konflik-konflik ini diiringi dengan adegan demi adegan aksi petualangan yang masih mampu terasa seru dan mengasyikkan untuk diikuti, bahkan beberapa adegan yang tergolong inovatif (favorit saya, adegan the swinging guillotine yang bikin deg-degan sekaligus tertawa), kendati mungkin ada penonton yang merasakan kelelahan di satu titik saking padatnya. Tak lupa pula tema father-and-son serta father-and-daughter yang semakin membuat SR makin padat dan ber-‘hati’.
Sayangnya, padatnya plot, konflik, dan kronologis, membuat harus ada yang dikorbankan. Kali ini adalah emotional dan connection investment antar karakter yang terasa sangat kurang. Alhasil penonton tak sampai berempati atas apa yang terjadi dengan para karakternya. Padahal jika mau meninjau dari elemen-elemen yang coba dimasukkan, ia punya potensi character maupun emotional investment yang cukup besar dan banyak. Malah, ’agenda’ Henry, Carina, dan Kapten Salazar justru membuat karakter Jack Sparrow kalah porsi dan seolah sekedar ada sebagai penyemarak cerita semata.
Johnny Depp mungkin terlihat agak kelelahan kembali mengisi peran Jack Sparrow. Namun terlihat pula upayanya untuk tetap ‘menjadi’ sosok Sparrow yang selama ini kita kenal. Lagian, Jack Sparrow bukanlah Jack Sparrow lagi jika bukan diperankan oleh Depp, bukan? Brenton Thwaites melanjutkan spirit yang nyaris setara dengan Orlando Bloom ketika mengisi peran William, meski aura teenage lead-nya seperti yang ditunjukkan di The Giver masih terasa di sini. Kaya Scodelario pun menunjukkan kharisma yang cukup mencuri perhatian, melebihi kharisma karakternya di The Maze Runner. Sayang, chemistry antara Thwaites dan Scodelario masih kelewat dingin. Javier Bardem terasa begitu cocok mengisi peran villain dengan aksen Spanyol yang kental, Kapten Salazar. Dibawakan dengan kharisma villainous yang cukup kuat pula. Geoffrey Rush masih melanjutkan peran Kapten Barbossa dengan kualitas yang kurang lebih masih sama, dengan sedikit peningkatan dari segi emosional (sesuai kebutuhan) yang berkesan. Kembalinya Orlando Bloom dan Keira Knightley tentu menjadi obat rindu tersendiri. Serta tak boleh dilupakan cameo dari Sir Paul McCartney.
Tak perlu meragukan kualitas teknis dari SR yang mana tinggal melanjutkan dari installment-installment sebelumnya yang sudah punya kekhasan tersendiri. Pergantian kru terbukti tak begitu menjadi kendala. Seperti sinematografi Paul Cameron yang masih mampu menghasilkan adegan-adegan aksi petualangan yang tergolong rumit tapi tiap detailnya tetap bisa diikuti dengan jelas oleh penonton. Momen-momen grandeur pun berhasil disuguhkan, apalagi di layar IMAX yang lebih full frame daripada versi reguler beraspek rasio 2.35:1. Editing Roger Barton dan Leigh Folsom Boyd makin mempertajam adegan-adegan aksi-petualangan-nya menjadi dinamis sesuai kebutuhan. Melelahkan (karena faktor bombardir adegan aksi tiada henti), tapi tak sampai jadi jatuh kelewat membosankan. Pengorbanan character investment pun masih tergolong bisa ditolerir demi kenyamanan mengikuti plotnya. Score dari Geoff Zanelli masih mampu meneruskan kekhasan yang telah dibangun oleh Hans Zimmer, meski in the end belum bisa se-memorable maupun se-distinctive original score-nya. Sound design menyuguhkan detail dan kedahsyatan yang wajib dinikmati di layar lebar dengan fasilitas audio mumpuni (IMAX atau Dolby Atmos), dengan sound mixing yang tertata baik dalam menghidupkan adegan-adegannya. Format 3D di IMAX pun menyuguhkan kualitas 3D dengan kedalaman dan beberapa gimmick pop-out (misalnya tangan menunjuk dan teropong yang keluar dari layar) yang cukup terasa.
Memanfaatkan formula-formula kelanjutan franchise yang sedang trend di Hollywood, seperti reuni dan family, SR sebenarnya punya potensi yang lebih lagi untuk membuat karakter-karakternya punya keterikatan dengan penonton. Sayangnya tak banyak dimanfaatkan demi menyuguhkan plot kronologis yang padat dengan adegan-adegan aksi petualangan yang seru dan non-stop. Bisa jadi melelahkan di satu titik tertentu, tapi secara keseluruhan SR masih tergolong pengembangan franchise yang layak. Jangan lupa untuk tetap tinggal di dalam teater hingga credit title selesai, karena ada after credit di paling ujung credit yang memberikan hint atas formula apa lagi yang akan dihadirkan di installment berikutnya. Completely return to its signatural formation? Bisa jadi. Itulah harapan dari kebanyakan fans-nya, bukan?
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates