Wednesday, May 10, 2017

The Jose Flash Review
King Arthur:
Legend of the Sword


King Arthur dan berbagai atributnya sudah menjadi legenda yang dikenal di seluruh penjuru dunia. Batas antara sejarah dan legenda pun semakin kabur dengan diperkenalkannya berbagai versi, terutama versi Geoffrey of Monmouth, Historia Regum Britanniae di abad ke-12 yang memperkenalkan karakter-karakter lain, seperti Uther Pendragon, penyihir Merlin, sang istri, Guinevere, pedang Excalibur. Selain itu ada pula versi penulis Perancis, Chrétien de Troyes yang memasukkan karakter Lancelot dan legenda Holy Grail serta Knights of the Round Table yang memulai genre baru yang diberi nama roman Arthurian. Dengan versi yang berbeda-beda, tak heran jika kemudian muncul berbagai versi dengan modifikasi dan tambal-sulam di sana-sini. Apalagi memang tak ada bukti sejarah otentik tentang keberadaan legenda King Arthur yang sebenarnya membuat siapa saja bebas menginterpretasi maupun memodifikasi kisahnya. Tak hanya untuk literatur, tapi juga drama panggung dan tentu saja, film. Di era 2000-an, ada King Arthur (2004) versi Antoine Fuqua yang mengedepankan sisi akurasi historis ketimbang fantasi, The Last Legion (2007) yang ‘mempertemukan’ King Arthur dengan legenda Kerajaan Romawi era Romulus Augustulus, mini seri Merlin (2008) produksi BBC One, dan Camelot (2011) produksi stasiun TV berbayar, Starz.

Tahun 2014 Warner Bros. tertarik untuk sekali lagi mengangkat legenda King Arthur dengan menggandeng sutradara yang sudah punya ciri khas visual tersendiri, Guy Ritchie (Lock, Stock, and Two Smoking Barrels, Snatch, dan duologi Sherlock Holmes). Mungkin WB menginginkan treatment a la Ritchie seperti yang pernah dilakukan untuk Sherlock Holmes untuk memulai franchise baru yang rencananya terdiri dari enam judul. Konsep pun disusun dengan melibatkan Joby Harold (Awake, upcoming Robin Hood dan The Flash), Lionel Wigram (Sherlock Holmes dan The Man from U.N.C.L.E.), dari cerita yang digagas David Dobkin (Jack the Giant Slayer, R.I.P.D., The Judge). Aktor Charlie Hunnam dipercaya mengisi peran Arthur, didukung Jude Law, Djimon Hounsou, Aidan Gillen, Annabelle Wallis, Astrid Bergès-Frisbey (salah satu mermaid di Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides), sampai Eric Bana. Awalnya dijadwalkan rilis summer 2016, tapi terus mengalami perubahan hingga ditetapkan 12 Mei 2017 dengan tajuk akhir King Arthur: Legend of the Sword (KALotS).
Konon jaman dulu terjadi perang antara kaum manusia dan penyihir, Teror penyihir yang kerap mengirim monster raksasa nan buas diakhiri dengan diserbunya markas penyihir Mordred oleh Uther Pendragon, raja Britons. Namun kemenangan umat manusia tak berlangsung lama. Saudara Uther, Vortigern tiba-tiba mengkudeta kekuasaan Uther, menghabisi semua anggota keluarganya, termasuk Uther dan istrinya, demi mendapatkan kekuatan magis dari penyihir laut. Satu-satunya yang berhasil selamat adalah putra Uther yang masih bayi. Terbawa arus sungai hingga Londinium, bayi itu ditemukan dan dibesarkan oleh seorang pelacur yang memberinya nama Arthur.
Arthur tumbuh menjadi petarung ber-skill tinggi dan ‘menguasai’ jalanan. Bentrokan dengan kaum Viking mempertemukannya kembali dengan Vortigern yang tak lain dan tak bukan adalah pamannya. Seorang penyihir wanita, The Mage, mengenali Arthur dan menyampaikan penemuannya kepada Bedivere yang merupakan jendral di masa pemerintahan Uther. Mereka berdua kemudian melatih Arthur untuk mampu mencabut pedang Excalibur yang konon hanya bisa dilakukan oleh keturunan Pendragon. Kemampuan Arthur ini menarik perhatian Vortigern dan membuatnya menginginkan kekuasaan yang lebih lagi agar tak jatuh ke tangan Arthur.
Dari premise-nya, apa yang coba disuguhkan KALotS adalah kisah ‘the origin’ yang selama ini masih jarang (atau malah belum pernah?) diangkat untuk legenda King Arthur. Itu pun sebenarnya merupakan mishmash atau padu-padan dari berbagai kisah legenda dunia, terutama Nabi Musa dan Ben-Hur, formula serupa juga digunakan untuk film epic Telugu, Baahubali. Dengan rencana total enam judul, maka apa yang disajikan di installment pertama ini adalah sebuah pondasi ‘the beginning’ yang cukup menarik. Apalagi menggunakan treatment visual dan storytelling khas Guy Ritchie, terutama untuk penggambaran detail adegan yang dinamis dan ‘menghemat durasi’ seperti yang pernah digunakannya untuk Sherlock Holmes. Tentu style ini memompakan energi yang begitu extravagant dalam menyampaikan kisahnya. Sayangnya, karena terlalu ‘sibuk’ untuk menghadirkan adegan (baca: visual) yang megah dan keren, banyak momen-momen penting, termasuk klimaks, yang emosinya terasa tereduksi. Alhasil, KALotS memang begitu memanjakan mata (dan juga telinga lewat sound design serta sound mixing yang tergarap tak kalah baiknya) tapi nyaris tanpa emotional bonding yang bisa dirasakan oleh penonton. In the end, tak heran juga jika kemudian tak menimbulkan kesan yang begitu mendalam dan bertahan lama dalam benak penonton.
Charlie Hunnam terasa begitu layak memerankan sosok Arthur yang digambarkan bak bajingan Inggris seperti di kebanyakan film-film Ritchie (let’s say Lock Stock dan Snatch), tanpa meninggalkan kharisma yang elegan di lain kesempatan. Mengimbangi Hunnam, Jude Law memerankan sosok Vortigern yang bengis di balik tampilan bersahajanya dengan menarik, meski tanpa didukung backstory yang cukup untuk mengundang simpati penonton. Astrid Bergès-Frisbey cukup mencuri perhatian lewat peran The Mage. Tak hanya berkat faktor fisik, tapi juga kharisma yang cukup kuat di balik kemisteriusannya. Aiden Gillen mengisi peran pendukung, Bill, yang tak kalah simpatik-nya, apalagi dengan porsi yang cukup banyak dan skill archery yang mengagumkan. Djimon Hounsou tampil fairly enough sebagai Bedivere. Annabelle Wallis agak underused sebagai Maggie. Terakhir, kehadiran Eric Bana sebagai Uther boleh saja tergolong sangat sedikit, tapi kharismanya tetap mampu mengalihkan perhatian penonton. Apalagi hadir di momen yang tergolong penting. Cameo dari David Beckham cukup noticeable meski tak terlalu memorable.
Sinematografi John Mathieson dan editing James Herbert jelas mampu mengakomodir style Ritchie secara maksimal. Tentu pengalaman berkolaborasi (Herbert sejak Revolver, sementara Mathieson sejak The Man from U.N.C.L.E.) membuat ketiganya bersinergi dengan sempurna dalam mewujudkan visi Ritchie. Desain produksi Gemma Jackson bersama tim art dan kostum cukup representatif di temanya, kendati tak sampai inventif. Score music dari Daniel Pemberton menjadi salah satu elemen paling menonjol dari KALotS. Selain mampu memompa energi dari style Ritchie menjadi jauh lebih terasa, juga terdengar unik dengan penggunaan instrumen tromba marina dan suara nafas. Tak boleh ketinggalan, theme song The Devil and the Huntsman dari Sam Lee yang begitu cocok merepresentasikan spirit film. Sound design cukup detail dengan sound mixing yang tertata seimbang, termasuk pemanfaatan surround yang memberi kedalaman lebih pada adegan-adegan. Format 3D KALotS termasuk salah satu efek 3D terbaik selama beberapa tahun terakhir, dengan gimmick pop-out yang termasuk banyak, seperti hempasan pasir, serta pedang dan kepala ular yang menjulur keluar layar. So much fun!
Dengan menyebutkan nama Guy Ritchie saja, sebenarnya fans bisa dengan mudah membayangkan bakal seperti apa kisah Arthur disampaikan dengan visual style serta storytelling a la-nya. Maka nikmati saja suguhan ‘the origin’ story yang ia racik dari berbagai legenda dunia ditambah British gangsta yang juga menjadi tipikal karya-karyanya. Familiar, tapi terlihat begitu keren, menghibur, tapi tak bisa dipungkiri, lack of emotional bonding dengan penonton. Semoga saja  bisa di-improve di installment-installment berikutnya. Itu pun jika rencana pengembangan franchise-nya tetap berjalan, mengingat hasil box office-nya di Amerika Serikat tergolong one of the biggest flop.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates