Wednesday, May 10, 2017

The Jose Flash Review
Critical Eleven

Adaptasi novel masih menjadi salah satu pilihan utama untuk produksi film layar lebar, tak terkecuali di Indonesia. Di tengah dominasi novel remaja yang memang masih merupakan pasar terbesar, sesekali ada pula novel (roman) dewasa yang berhasil menggaet penggemar tak kalah banyak. Salah satu yang terdepan adalah Critical Eleven (CE) karya Ika Natassa yang pertama kali rilis tahun 2015. Tak hanya menjadi best seller, CE yang mengangkat tema mature relationship, pernikahan, dan kehilangan juga menjadi fenomena tersendiri di ranah literatur Indonesia. Potensi besar ditambah target audience spesifik yang masih jarang ‘dijamah’, StarVision dan Legacy Pictures sama-sama tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar. Dengan kelebihan produksi masing-masing, pilihan keduanya untuk bekerja sama, dengan melibatkan nama-nama jaminan mutu, mulai penulisan naskah yang disusun oleh Ika sendiri bersama Jenny Jusuf (Filosofi Kopi), Monty Tiwa, dan Robert Ronny (kedua nama terakhir merangkap sutradara), pemilihan pasangan Reza Rahadian-Adinia Wirasti untuk ketiga kalinya (setelah Jakarta Maghrib dan Kapan Kawin?), serta cast lainnya yang tak kalah populer, CE versi layar lebar bak dikerjakan oleh the dream team. Namun kepuasan fanbase yang jumlahnya begitu banyak lah yang akhirnya menentukan keberhasilannya kelak, di balik kemustahilan untuk menuangkan semua part di novel ke dalam film.

Karena tuntutan pekerjaan, Anya kerap melakukan perjalanan lewat udara. Tak heran jika bandara menjadi salah satu tempat favoritnya. Pesawat pula yang mempertemukannya dengan Ale, pria yang tergambarkan sebagai sosok sempurna di matanya. However, keduanya seolah saling mengisi kerinduan masing-masing akan sosok ideal. Perjalanan hubungan hingga pernikahan pun seolah begitu mulus,  hangat, dan penuh gairah. LDR yang harus dijalani karena pekerjaan Ale dari penambangan minyak satu ke yang lain yang tak mungkin berjarak dekat, pun tak menjadi masalah bagi mereka berdua. Ujian sesungguhnya terjadi ketika sesuatu yang dipercaya bisa melengkapi kebahagiaan mereka terenggut. Cara masing-masing dalam menangani duka dan tak disengaja, saling menyalahkan, melukai keduanya makin dalam. Waktu saja tampaknya tak cukup untuk menyembuhkan kehangatan hubungan keduanya seperti sedia kala.

First of all, penggunaan alegori critical eleven (11 menit paling krusial dalam penerbangan yang menentukan keselamatan; tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing) untuk disandingkan dengan pernikahan jelas merupakan konsep yang menarik. Bagi beberapa penonton (terutama yang dekat dengan drama dan roman), apa yang disodorkan CE mungkin sebenarnya tergolong biasa dan sederhana. Namun tanpa disadari, justru yang kesannya biasa dan sederhana bisa jadi masalah serius ketika menghadapinya sendiri di kehidupan nyata. That’s where Ika started the plot. Tak mau berlama-lama membahas tema galau-galauan roman ala remaja, karakteristik Anya dan Ale dibuat lebih banyak persamaan (terutama strata sosial, pendidikan, dan lifestyle yang kurang lebih setara) daripada perbedaan. Tak perlu terlalu eksplisit pula menggambarkan keduanya sebagai sosok yang lebih mementingkan pekerjaan daripada berumah tangga terlihat dengan jeals. It’s like saying, “look, bahkan orang-orang yang tidak terlalu mementingkan pernikahan at some point juga menikah ketika bertemu orang yang dianggap ‘the one’.” Kemudian konflik sesungguhnya dimunculkan ketika ‘bunga-bunga pernikahan’ telah lewat dan harus menerima bahwa pasangan yang dulu dianggap paling sempurna pun ternyata tak sempurna. Startup yang mungkin bagi beberapa orang dianggap ‘khayal-khayal babu’ berubah menjadi pahitnya realitas. And you know what, ‘kaum seperti ini’ justru bisa jatuh dan terluka lebih dalam ketika mendapati apa yang dipilihnya dengan sangat hati-hati ternyata salah. Apa yang terjadi kemudian mungkin kesannya bertele-tele, tapi begitulah kenyataannya. Tak mudah membohongi perasaan yang terlanjur terluka kendati deep down masih punya rasa sayang dan peduli. Bagi kalangan yang merasa berpola pikir modern (apalagi yang feminis – sebagaimana seolah-olah memang menjadi target audience utamanya sesuai background karakter-karakter utama), mungkin akan dengan mudah mengucap keputusan ‘cerai aja’. Namun jika konklusi demikian, maka CE akan menjadi roman yang biasa saja, tanpa esensi kedewasaan yang mendasar. Di situlah letak kekuatan CE sebagai pemberi harapan dan pengingat, baik bagi pasangan di level apapun, maupun kaum yang lebih mementingkan karir daripada pernikahan jika akhirnya menemukan ‘the one’ kelak. Memang, tak bisa dipungkiri bahwa CE versi novel (dan juga tetap dipertahankan di film) punya turning point yang cliché, sempat membuat saya mengernyitkan dahi dan bergumam dalam hati, “Udah gitu aja turning point-nya? Biasa banget!”. Kemudian saya pun berpikir, mungkin saja ini merupakan pilihan untuk mendekatkan diri kepada pembaca umum yang familiar dan tetap menikmati ‘turning point’ seperti itu. Toh, poinnya sama; titik dimana secara manusiawi memancing perasaan terdalam, di balik ‘kerikil-kerikil tajam’ yang mungkin sempat merintangi.

Jika membaca versi novel, maka Anda tentu tahu bagaimana rasio sisi depresif-nya jauh lebih besar ketimbang sisi romansa. Apalagi alur yang back-and-forth untuk menjelaskan ‘kenapa begini, kenapa begitu’ dari konflik utama, bahkan sampai men-track back hubungan Ale dengan sang ayah yang mempengaruhi kepribadian Ale. Begitu banyak detail yang mustahil divisualisasikan dalam durasi yang tetap nyaman untuk diikuti. Untungnya, ‘the dream team’; Ika, Jenny, Monty, dan Robert, berhasil mengambil sari-sari terpenting yang membangun dan mempengaruhi konflik utama. Mulai hubungan romantis manis Ale-Anya yang porsinya lebih banyak dibandingkan di novel, sebagai character sekaligus emotional investment yang mendalam sehingga mampu menarik simpati (atau bahkan empati) terdalam dari penonton. Alur yang berubah dari back and forth jadi linear tentu membuatnya lebih nyaman untuk diikuti, tanpa mengurangi detail-detail background yang memang punya andil terhadap plot utama. Penambahan maupum pengurangan elemen-elemen dari novelnya dilakukan dengan begitu cermat sehingga membuat hasil akhirnya terasa solid, termasuk penambahan epilog yang kembali menghubungkan korelasi alegori judul dengan plot sebagai konklusinya. Porsi masing-masing karakter pendukung yang jumlahnya cukup banyak juga harus dikorbankan. Namun selama memang punya korelasi yang penting dalam mendukung konflik utama, ‘pengorbanan’ ini lantas tak menjadi persoalan yang berarti. Sadar akan kompensasi ini, maka untuk itulah dipilih nama-nama yang dikenal luas untuk mengisi peran-peran pendukung tersebut.

Sayang pengerjaan yang sudah begitu cermat tersebut ternyata masih menyisakan satu celah yang cukup mengganggu saya (terutama sebagai penonton yang sudah membaca versi novelnya). Ada satu kejadian yang di novel kronologis setup-nya disusun dengan baik, rapih, dan logis, tapi di film terkesan terburu-buru sehingga kekurangan detail yang koheren serta feel emosi yang dampaknya terasa kurang. Namun goal dari kejadian tersebut untungnya masih tersampaikan dengan baik, logis, dan emotionally achieved. Minor sih, bahkan mungkin tak dirasakan bagi penonton yang belum membaca versi novel, tapi cukup mengusik perhatian saya yang sudah terlanjur dibuat hanyut dalam rangkaian plotnya meski sudah berusaha untuk tidak membandingkan persamaan dan perbedaan dari versi novel.

Pemilihan cast (terutama untuk peran-peran utama) CE dilakukan dengan sangat cermat. To be honest, sulit membayangkan aktor atau aktris lain yang mengisi peran-peran di sini. Salah satu pondasi yang memperkuat kesolidan naskah dan kepekaan emosi dari penyutradaraan adalah performa yang luar biasa dari Reza Rahadian dan Adinia Wirasti sebagai Ale dan Anya. Chemistry yang begitu kuat dengan mudah meyakinkan penonton betapa serasinya hubungan mereka berdua, bahkan ketika mengarungi ‘roller-coaster’ pernikahan berhasil pula membawa serta penonton. In matter of fact, salah satu chemistry pasangan terkuat dan terbaik di film Indonesia sepanjang masa setelah rentang waktu beberapa dekade. Tak perlu pula meragukan kuatnya kharisma Slamet Rahardjo Djarot dan Widyawati Sophiaan sebagai orang tua Ale, sehingga mempersembahkan beberapa momen penggugah emosi paling mendalam sekaligus memorable.

Sementara di lini pemeran pendukung lainnya, mulai Revalina S. Temat sebagai Raisa, Refal Hady sebagai Harris, Astrid Tiar (yang terlihat makin cantik, matang, dan berkelas) sebagai Agnes, Hannah Al Rashid (yang semakin mirip Meriam Bellina!) sebagai Tarra, Hamish Daud Wyllie sebagai Donny, Anggika Bolsterli sebagai Keara, Mikha Tambayong sebagai Renata, hingga  komika yang terakhir kita lihat aksinya di Cek Toko Sebelah, Aci Resti sebagai Tini, masing-masing tampil cukup noticeable di balik porsi karakter yang memang kalah jauh dibandingkan Ale-Anya. Tentu pemilihan cast yang sudah populer maupun membuat penonton ingin melihat come back-nya setelah sekian lama, memegang peranan penting sebagai salah satu daya tarik film.

Sebagai proyek yang ambisius, teknis CE pun digarap dengan begitu maksimal dari talent-talent terbaik di divisi masing-masing, melengkapi ‘the dream team’. Sinematografi Yudi Datau tak hanya menyampaikan cerita dengan efektif dan camera work yang memaksimalkan emosi, tapi juga menghasilkan shot-shot sinematis meski dengan dukungan kamera yang tidak selalu merata (lihat saja bagaimana ia menghasilkan shot-shot di New York, terutama di lapangan futbol). Editing Ryan Purwoko mempersolid storytelling dan mempertajam emosi lewat penyusunan adegan yang terasa serba seimbang, tanpa terkesan tenggelam dalam salah satu elemen maupun emosi. Durasi yang mencapai 120 menit lebih pun terlewati tanpa terasa kelewat panjang atau lama. Tata artistik Vidia Sylvia dan penata kostum Vannie Astecat memberikan warna lebih pada produksi desain, sehingga tak hanya sesuai dengan latar belakang karakter, tapi juga cukup memberikan definisi tersendiri terhadap kepribadian karakter. Music score gubahan Andi Rianto semakin menghanyutkan tiap momen menjadi lebih dramatis, tapi tetap berkelas, tanpa kesan kelewat mendayu-dayu ataupun depresif. Tentu saja, theme song Sekali Lagi dari Isyana Sarasvati yang liriknya representatif, alunan yang selaras dengan mood film dan hummable, dengan mudah membuat penonton kembali teringat adegan-adegan beserta emosi yang ditimbulkan tiap kali mendengar ulang lagunya.

Berkat dukungan yang luar biasa cermat di hampir semua divisi, CE versi layar lebar menjadi sebuah adaptasi yang begitu solid. Tak hanya berhasil merangkum elemen-elemen sekaligus esensi terpenting dari cerita menjadi satu kesatuan yang bold dan solid, tapi juga dengan tiap emosi yang begitu mendalam. Heartbreaking sekaligus hangat. Menjadikannya sebuah perjalanan tentang hubungan, pernikahan dengan segala bumbunya; romansa, kehilangan, luka, guilt, dan tentu saja yang terpenting, rekonsiliasi dari hati terdalam. Sebuah pengingat penting, baik bagi mereka yang telah berpasangan pada jenjang apapun, maupun kaum ‘modern’ yang lebih memilih karir ketimbang pasangan hidup sebagai bekal ketika suatu hari menemeukan seseorang yang dianggap ‘the one’ dan menjalin hubungan serius kelak.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates