Wednesday, May 17, 2017

The Jose Flash Review
The Autopsy of Jane Doe


Horror mungkin adalah genre yang paling sering dibuat selain drama. Tak hanya yang digarap dengan budget ‘layak’, tapi juga film-film horror low budget dan indie yang ternyata jauh lebih banyak lagi jumlahnya. Tentu kualitas film-film horror low budget dan indie lebih banyak yang mengecewakan, tapi once in a while selalu ada saja hidden gem yang layak simak. Bahkan mungkin menjadi cult movie yang legendaris. The Autopsy of Jane Doe (TaoJD) bisa jadi salah satunya. Debut film berbahasa Inggris pertama dari sutradara Norwegia, André Øvredal (Trollhunter) ini memanfaatkan keterbatasan ruang untuk menjadi panggung horror yang efektivitasnya maksimal. Dari naskah racikan Ian Goldberg (penulis beberapa episode serial-serial populer seperti Once Upon A Time, Criminal Minds,  dan Terminator: The Sarah Connor Chronicles) dan Richard Naing (ia dan Gold pernah bekerja sama untuk naskah Dead of Summer), pemilihan cast-nya pun bukan aktor-aktris tak dikenal. Ada aktor veteran yang pernah memerankan sosok Hannibal Lecter sebelum Anthony Hopkins di Manhunter (1986) dan membintangi sejumlah proyek blockbuster, di antaranya di dua installment Jason Bourne dan X-Men 2, Brian Cox, Emile Hirsch yang kita kenal lewat komedi remaja, The Girl Next Door dan biopic Christopher McCandless, Into the Wild, Ophelia Lovibond (Carina di Guardians of the Galaxy), serta pendatang baru yang tak boleh diremehkan, Olwen Catherine Kelly, sebagai sosok Sang Jane Doe. Dengan pujian dari salah satu master of horror, Stephen King, yang menyebutnya sebagai visceral horror, menandingi Alien dan film-film awal Cronenberg, daya tarik TAoJD menjadi semakin berlipat-lipat. Terbukti juga dari sambutan penonton ketika diputar perdana di Toronto Internasional Film Festival, September 2016 lalu.

Tommy Tilden adalah seorang petugas otopsi di sebuah rumah jenazah kota kecil yang diasistensi oleh putranya sendiri, Austin. Suatu malam Austin membatalkan janji kencannya dengan sang kekasih, Emma, setelah kedatangan sesosok mayat gadis muda yang dibawa oleh opsir polisi. Mayat tanpa identitas (maka kemudian disebut sebagai Jane Doe) ini ditemukan di lokasi tanpa ada tanda-tanda pendobrakan rumah dengan ciri-ciri fisik antara sudah mati lama dan masih baru. Tommy dan Austin yang penasaran melakukan pemeriksaan lebih jauh. Upaya mereka selalu digagalkan oleh berbagai serangan teror misterius, termasuk badai dadakan yang membuat mereka tak bisa keluar dari rumah. Keadaan semakin mencekam seiring dengan selubung misteri yang sedikit demi sedikit terkuak meski hanya sejauh dugaan-dugaan saja.

Dari selubung terluar, TAoJD mungkin hanya sekedar horror claustrophobic sederhana, terutama karena setting yang hanya satu dan karakter yang totalnya bisa dihitung dengan jari. Namun ia punya daya tarik yang cukup banyak. Pertama, ia menggabungkan elemen science (medis) dan klenik yang bersinergi membangun rasa penasaran penonton. Tak perlu takut merasa awam di kedua elemen ini, karena ia menjelaskannya dengan cukup jelas bagi penonton terawam sekalipun. Justru penggunaannya membuat penonton semakin penasaran, sama seperti ketika mengikuti proses kerja para petugas forensik di serial CSI. Naskah membangun sekaligus membuka selubung misteri dengan efektif dan timing yang pas. Kemudian masih ada koneksi yang cukup atas karakter ayah-anak, Tommy dan Austin, yang lebih dari cukup sebagai emotional investment di klimaksnya. Pada akhirnya memang tak ada kepastian jawaban atas misteri yang disodorkan. Hanya sebatas penemuan dan analisis yang dicapai oleh karakter utama saja. Ternyata itu sudah lebih dari cukup untuk memuaskan penonton akan penjelasan, dengan masih menyisakan misteri untuk dianalisis oleh penonton. Tak lupa pula pembangunan atmosfer ketegangan serta kengerian yang tak kalah berhasilnya (malah menjadi salah satu pilar kesuksesan TAoJD sebagai film horror) berkat sense kuat Øvredal, sinematografi Roman Osin (Pride & Prejudice dan Mr. Magorium’s Wonder Emporium) yang mampu memanfaatkan ruang sempit menjadi sajian horror yang tidak monoton, justru menjadi keuntungan tersendiri, editing Peter Gvozdas (The Purge) dan Patrick Larsgaard (Trollhunter dan Kon-Tiki) yang tahu betul tiap momentumnya secara tepat, serta music scoring Danny Bensi dan Saunder Juriaans (Enemy dan The Gift) yang memperpekat suasana eerie sekaligus ketegangan. 

Brian Cox tampil dengan kharisma kebapakan dan kepintaran yang pas memerankan sosok Tommy. Chemistry ayah-anak yang dibangunnya bersama Emile Hirsch pun tergolong meyakinkan dan menjadi emotional emotion yang cukup pada momennya. Hirsch sendiri mungkin tampil sebagai tipikal sosok pemuda di film horror, tapi setidaknya ia masih membawakan keseimbangan antara karakter (agak) ‘joker’ dan keseriusan dengan layak. Ophelia Lovibond mungkin tak punya porsi yang cukup banyak dan penting, tapi kehadirannya di tengah jumlah karakter yang minim cukup memberikan daya tarik tersendiri. Terakhir, tentu tak boleh lupa memberikan kredit kepada Olwen Catherine Kelly yang menjadi sumber kengerian yang ada. Di balik ekspresi yang diam dan membujur kaku sepanjang film, ia berhasil menjadi sosok misterius yang mengerikan.

TAoJD mungkin memang tampak sebagai sebuah horror kecil yang serba sederhana. Tak pula ada inovasi-inovasi penting di genre horror. Namun racikan antara medical science dan klenik yang sama-sama bikin penasaran, dengan penataan serta timing yang tepat, pembangunan atmosfer eerie yang berhasil, serta emotional investment yang cukup, ia masih berhasil menjadi film horror yang memorable. Setidaknya Anda tak akan merasa sama lagi tiap kali mendengar lagu populer,  Open Up Your Heart (And Let the Sunshine In)

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates