Saturday, May 20, 2017

The Jose Flash Review
Alien: Covenant

Di antara film bergenre sci-fi horror, judul Alien jelas menjadi yang terdepan. Sejak kemunculan pertama kalinya di tahun 1979, meski bukan film pertama di genrenya, tapi berhasil mempopulerkan tema alien, bahkan menjelma menjadi salah satu franchise paling menguntungkan hingga saat ini. Kesuksesan dilanjutkan Aliens di tahun 1986 yang banyak dianggap lebih baik dari prekuelnya. Alien 3 (1992) dan Alien: Resurrection (1997) dianggap penurunan baik dari segi box office maupun kualitas, tapi tetap saja untung. Kemudian sempat ‘dipertemukan’ dengan franchise populer lainnya, Predator, lewat Alien vs Predator (2004) dan sekuelnya, Alien vs. Predator: Requiem (2007) yang semakin ‘melorot’. Ridley Scott yang merupakan salah satu kreator franchise Alien memutuskan untuk membuat seri-seri prekuel, dimulai dengan Prometheus (2012) yang awalnya sama sekali tak disebutkan sebagai prekuel Alien. Minat penonton, baik penggemar seri-seri aslinya maupun dari generasi baru, pun kembali meningkat. Maka rencana sekuelnya yang sempat direncanakan berjudul Alien: Paradise Lost, berjalan lebih lancar. Tahun 2017 ini, installment kedua dari prekuel franchise Alien ini resmi berjudul Alien: Covenant (AC) dengan masih melibatkan Michael Fassbender meski dengan karakter baru, Katherine Waterston (Tina di Fantastic Beasts and Where to Find Them), Billy Crudup, Danny McBride (Pineapple Express, Tropic Thunder, Due Date, Up in the Air, This is the End), Demian Bichir (Fidel Castro di Che dan Bob di The Hateful Eight), dan Jussie Smollett (yang kita kenal sebagai Jamal Lyon di serial Empire). 

Tahun 2104, pesawat koloni bermuatan dua ribu orang dan ribuan embrio bernama Covenant dalam perjalanannya menuju planet tujuan, Origae-6. Walter, android sintetis yang secara fisik dibuat mirip dengan pendahulunya, David, ditunjuk sebagai pengawas pesawat. ‘Tidur panjang’ para kolonis di dalam pod terganggu oleh ledakan yang mengganggu kinerja mesin pesawat. Beberapa kolonis tewas, termasuk sang kapten, Branson. Para kru pun dibangunkan untuk memperbaiki mesin-mesin yang rusak. Mendadak mereka menerima sinyal asing dari sebuah planet tak dikenal dan menyerupai alunan lagu Country Road Take Me Home. Meski Dany, kekasih mendiang Kapten Branson tidak setuju untuk mengeksplorasi planet yang tak dikenal dan memilih untuk tetap pada planet tujuan utama, Kapten Oram, kapten pengganti yang ditunjuk, bersikeras untuk berhenti di planet tersebut dan melakukan penelitian. Apalagi dari hasil riset singkat yang dilakukan pesawat Covenant, planet tersebut punya potensi yang jauh lebih tinggi untuk ditinggali daripada Origae-6. Dany curiga ada sesuatu yang aneh jika sebelumnya mereka bahkan melewatkan potensi sebesar planet tersebut. Penemuan pesawat Engineer yang mengemban misi Prometheus berpuluh-puluh tahun sebelumnya di planet tersebut barulah permulaan dari bencana besar yang membuka selubung misteri hilangnya pesawat Engineer.
Ketika Prometheus disebut-sebut sebagai prekuel franchise Alien, rasa penasaran saya terletak pada bagaimana mungkin tema pencarian rahasia penciptaan yang diusung oleh Prometheus menjadi cikal bakal lahirnya Alien? Maka AC ini tak hanya menjadi penyambung antara Prometheus sebagai prekuel dengan seri-seri Alien, tapi juga menjawab pertanyaan tersebut. Bisa jadi Scott terinspirasi dari trilogi prekuel Star Wars, maka AC ini adalah Revenge of the Sith dari franchise Alien. Segala elemen dari seri-seri asli Alien yang sempat absen di Prometheus pun dihadirkan kembali, termasuk adegan-adegan signatural sang alien dalam ‘menembus’ tubuh inangnya. Termasuk juga score dari Jed Kurzel yang menggabungkan original score Alien yang digubah oleh Jerry Goldsmith dengan score Prometheus oleh Marc Streitenfeld, secara mulus. Tetap mencekam dan grandeur, terutama berkat theme Entrance of the Gods into Valhalla yang punya peranan penting konsep besarnya.
Selain menjadi penghubung antara Prometheus dan Alien, AC agaknya tak punya ‘misi’ lain. Penggunaan karakter-karakter baru yang jumlahnya cukup banyak pun tak punya banyak fungsi selain sekedar menjadi ‘korban’ dari aksi-aksi brutal tanpa ampun yang pernah ditunjukkan di seri-seri asli Alien. Kalaupun ada yang diberi perkembangan cukup layak, hanyalah karakter Oram dan Dany, lewat tema ‘karma’ rasa kehilangan yang sebenarnya cukup menarik, tapi hanya sejauh elemen pendukung saja. Karakter-karakter lain yang dibuat berpasangan pun terasa mubazir karena tak memberikan sumbangsih emotional investment apa-apa. 
Sementara fokus utama tetap pada karakter Walter (dan ‘kembaran tuanya’, David) yang memang menjadi kunci jawaban dari misteri Alien. Sisanya, AC menyuguhkan adegan-adegan perburuan dan kejar-kejaran yang masih tetap mendebarkan. Begitu pula adegan-adegan sederhana yang di tangan dingin Scott masih berfungsi maksimal dalam menciptakan kekhawatiran dan suasana yang tidak mengenakkan. Kepiawaian Scott juga terasa pada cara ia membuka selubung misteri lewat step-step yang meski mungkin sebagian besar dari penonton sudah bisa dengan mudah menebak arahnya, tapi tetap mengundang rasa penasaran. Termasuk untuk trik setup menuju revealing yang ditampilkan dengan begitu jelas terbaca. Revealing yang momennya tergolong kelewat lama setelah setup, tapi secara keseluruhan plot masih terasa mengalir cukup lancar.
Highlight performance di AC jelas menjadi milik Michael Fassbender lewat double-role yang bertolak belakang tapi masing-masing punya kekuatan kharismatik tersendiri yang kurang lebih setara. Katherine Waterston punya peluang menjadi lead kick-ass chick yang setidaknya setara dengan Noomi Rapace di Prometheus (terlalu jauh jika berharap setara Sigourney Weaver). Sayang tak banyak porsi peran yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai tingkat yang sama. Kendati demikian, penampilannya masih jauh di atas karakter-karakter lainnya di sini. Pada porsi dan kualitas yang kurang lebih setara dengan Waterston, ada Billy Crudup sebagai Kapten Oram. Berada pada tingkat di bawahnya, Danny McBride sebagai Tennessee, Demian Bichir sebagai Lope, Carmen Ejogo sebagai Karine, Jussie Smollett sebagi Ricks, Calle Hernandez sebagai Upworth, Amy Seimetz sebagai Maggie Faris, dan Nathaniel Dean sebagai Sersan Hallett, berada pada porsi yang setara. Noticeable tapi peran dan koneksi antar karakternya masih sulit untuk saya ingat sepanjang film.
Seperti biasa, teknis AC tergarap serius, terutama dalam mendukung konsep besarnya yang tergolong ambisius. Mulai sinematografi Dariusz Wolski yang tahu betul bagaimana menciptakan kekhawatiran, membangun tensi sekaligus emosi, serta kemegahan desain-desain produksinya. Editing Pietro Scalia semakin mempertajam sense ketegangan dan mampu menyusun struktur film sehingga rasa penasaran penonton tertata dengan baik sejak awal hingga akhir, meski banyak part yang sebenarnya predictable. Keseruan dan kemegahan AC diperkuat oleh sound design yang begitu detail dan dengan sound mixing yang memanfaatkan fasilitas surround (apalagi Atmos) dengan cukup maksimal. Dengarkan detail suara rintik-rintik hujan dan badai yang terdengar seolah-olah membuat penonton ‘terjebak’ di tengah-tengahnya.
Didesain sebagai penghubung antara Prometheus dan seri-seri awal Alien, AC seperti memadukan kedua konsep dan nuansa ke dalam satu adonan. Tanpa ada character (dan juga emotional) investment yang benar-benar terasa selain sekedar ada, di balik jumlah karakter yang terlalu banyak, tapi tetap seru, menegangkan, mengerikan, serta menjawab pertanyaan yang mungkin timbul dari Prometheus. Punya potensi yang jauh lebih solid, tapi ia memilih untuk stick to its main goal. Selanjutnya, mengingat rasa penasaran saya akan hubungan antara Prometheus dan seri-seri awal Alien sudah cukup terjawab di sini, apa lagi yang akan disuguhkan di sekuel-sekuel selanjutnya oleh Scott agar tetap punya daya tarik. Seperti apa pula Alien versi Neill Blomkamp yang sempat disebut-sebut tapi dimentahkan oleh Scott? All we can do is just wait and see. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates