Guardians of the Galaxy Vol. 2

Star-Lord, Gamora, Rocket, Drax, and Baby Groot were on an adventure to the planet they've never seen before.
Read more.

Critical Eleven

Ika Natassa's best-seller novel about marriage's critical moment is ready to hit the screen!
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Read more.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Read more.

Alien Covenant

Another expedition ship to confronted with the Alien's colony .
Opens May 10.

Monday, May 22, 2017

The Jose Flash Review
Ziarah

Selain industri film nasional yang meski belum punya pondasi sistem yang kuat tapi setidaknya cukup ‘hidup’, Indonesia ternyata punya ‘industri’ film-film daerah yang tak kalah punya massa, setidaknya di region masing-masing. Ada film Makassar yang sedang berkembang cukup menggembirakan dengan hasil box office yang tergolong fantastis bahkan untuk ukuran peredaran nasional (meski sebagian besar pendapatannya berasal dari daerah sendiri), ada juga perfilman Yogyakarta yang memilih style ‘alternatif’ yang cenderung mengarah ke gaya art-house alternatif internasional. Dengan sering diikut-sertakannya ke festival-festival film internasional yang lebih bersifat arthouse, mungkin ada alasan mengapa form seperti itu yang mereka pilih. Toh jika punya pencapaian internasional, setidaknya bisa menjadi modal promosi yang cost-nya tak perlu terlalu tinggi dan lebih mudah meyakinkan jaringan bioskop untuk memutar di layar-layarnya. Media pun akan berbondong-bondong meliput tanpa dibayar. Beberapa tahun terakhir ‘industri’ (atau mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai ‘komunitas’) film Yogyakarta menjadi perhatian karena prestasinya. FFI sebagai ajang penghargaan film nasional tertinggi pun mengapresiasinya dengan menganugerahkan Siti karya Eddie Cahyono, sebagai Film Terbaik, Penulis Skenario Asli Terbaik, dan Penata music Terbaik di FFI 2015 silam.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 17, 2017

The Jose Flash Review
The Autopsy of Jane Doe


Horror mungkin adalah genre yang paling sering dibuat selain drama. Tak hanya yang digarap dengan budget ‘layak’, tapi juga film-film horror low budget dan indie yang ternyata jauh lebih banyak lagi jumlahnya. Tentu kualitas film-film horror low budget dan indie lebih banyak yang mengecewakan, tapi once in a while selalu ada saja hidden gem yang layak simak. Bahkan mungkin menjadi cult movie yang legendaris. The Autopsy of Jane Doe (TaoJD) bisa jadi salah satunya. Debut film berbahasa Inggris pertama dari sutradara Norwegia, André Øvredal (Trollhunter) ini memanfaatkan keterbatasan ruang untuk menjadi panggung horror yang efektivitasnya maksimal. Dari naskah racikan Ian Goldberg (penulis beberapa episode serial-serial populer seperti Once Upon A Time, Criminal Minds,  dan Terminator: The Sarah Connor Chronicles) dan Richard Naing (ia dan Gold pernah bekerja sama untuk naskah Dead of Summer), pemilihan cast-nya pun bukan aktor-aktris tak dikenal. Ada aktor veteran yang pernah memerankan sosok Hannibal Lecter sebelum Anthony Hopkins di Manhunter (1986) dan membintangi sejumlah proyek blockbuster, di antaranya di dua installment Jason Bourne dan X-Men 2, Brian Cox, Emile Hirsch yang kita kenal lewat komedi remaja, The Girl Next Door dan biopic Christopher McCandless, Into the Wild, Ophelia Lovibond (Carina di Guardians of the Galaxy), serta pendatang baru yang tak boleh diremehkan, Olwen Catherine Kelly, sebagai sosok Sang Jane Doe. Dengan pujian dari salah satu master of horror, Stephen King, yang menyebutnya sebagai visceral horror, menandingi Alien dan film-film awal Cronenberg, daya tarik TAoJD menjadi semakin berlipat-lipat. Terbukti juga dari sambutan penonton ketika diputar perdana di Toronto Internasional Film Festival, September 2016 lalu.

Tommy Tilden adalah seorang petugas otopsi di sebuah rumah jenazah kota kecil yang diasistensi oleh putranya sendiri, Austin. Suatu malam Austin membatalkan janji kencannya dengan sang kekasih, Emma, setelah kedatangan sesosok mayat gadis muda yang dibawa oleh opsir polisi. Mayat tanpa identitas (maka kemudian disebut sebagai Jane Doe) ini ditemukan di lokasi tanpa ada tanda-tanda pendobrakan rumah dengan ciri-ciri fisik antara sudah mati lama dan masih baru. Tommy dan Austin yang penasaran melakukan pemeriksaan lebih jauh. Upaya mereka selalu digagalkan oleh berbagai serangan teror misterius, termasuk badai dadakan yang membuat mereka tak bisa keluar dari rumah. Keadaan semakin mencekam seiring dengan selubung misteri yang sedikit demi sedikit terkuak meski hanya sejauh dugaan-dugaan saja.

Dari selubung terluar, TAoJD mungkin hanya sekedar horror claustrophobic sederhana, terutama karena setting yang hanya satu dan karakter yang totalnya bisa dihitung dengan jari. Namun ia punya daya tarik yang cukup banyak. Pertama, ia menggabungkan elemen science (medis) dan klenik yang bersinergi membangun rasa penasaran penonton. Tak perlu takut merasa awam di kedua elemen ini, karena ia menjelaskannya dengan cukup jelas bagi penonton terawam sekalipun. Justru penggunaannya membuat penonton semakin penasaran, sama seperti ketika mengikuti proses kerja para petugas forensik di serial CSI. Naskah membangun sekaligus membuka selubung misteri dengan efektif dan timing yang pas. Kemudian masih ada koneksi yang cukup atas karakter ayah-anak, Tommy dan Austin, yang lebih dari cukup sebagai emotional investment di klimaksnya. Pada akhirnya memang tak ada kepastian jawaban atas misteri yang disodorkan. Hanya sebatas penemuan dan analisis yang dicapai oleh karakter utama saja. Ternyata itu sudah lebih dari cukup untuk memuaskan penonton akan penjelasan, dengan masih menyisakan misteri untuk dianalisis oleh penonton. Tak lupa pula pembangunan atmosfer ketegangan serta kengerian yang tak kalah berhasilnya (malah menjadi salah satu pilar kesuksesan TAoJD sebagai film horror) berkat sense kuat Øvredal, sinematografi Roman Osin (Pride & Prejudice dan Mr. Magorium’s Wonder Emporium) yang mampu memanfaatkan ruang sempit menjadi sajian horror yang tidak monoton, justru menjadi keuntungan tersendiri, editing Peter Gvozdas (The Purge) dan Patrick Larsgaard (Trollhunter dan Kon-Tiki) yang tahu betul tiap momentumnya secara tepat, serta music scoring Danny Bensi dan Saunder Juriaans (Enemy dan The Gift) yang memperpekat suasana eerie sekaligus ketegangan. 

Brian Cox tampil dengan kharisma kebapakan dan kepintaran yang pas memerankan sosok Tommy. Chemistry ayah-anak yang dibangunnya bersama Emile Hirsch pun tergolong meyakinkan dan menjadi emotional emotion yang cukup pada momennya. Hirsch sendiri mungkin tampil sebagai tipikal sosok pemuda di film horror, tapi setidaknya ia masih membawakan keseimbangan antara karakter (agak) ‘joker’ dan keseriusan dengan layak. Ophelia Lovibond mungkin tak punya porsi yang cukup banyak dan penting, tapi kehadirannya di tengah jumlah karakter yang minim cukup memberikan daya tarik tersendiri. Terakhir, tentu tak boleh lupa memberikan kredit kepada Olwen Catherine Kelly yang menjadi sumber kengerian yang ada. Di balik ekspresi yang diam dan membujur kaku sepanjang film, ia berhasil menjadi sosok misterius yang mengerikan.

TAoJD mungkin memang tampak sebagai sebuah horror kecil yang serba sederhana. Tak pula ada inovasi-inovasi penting di genre horror. Namun racikan antara medical science dan klenik yang sama-sama bikin penasaran, dengan penataan serta timing yang tepat, pembangunan atmosfer eerie yang berhasil, serta emotional investment yang cukup, ia masih berhasil menjadi film horror yang memorable. Setidaknya Anda tak akan merasa sama lagi tiap kali mendengar lagu populer,  Open Up Your Heart (And Let the Sunshine In)

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 10, 2017

The Jose Flash Review
King Arthur:
Legend of the Sword


King Arthur dan berbagai atributnya sudah menjadi legenda yang dikenal di seluruh penjuru dunia. Batas antara sejarah dan legenda pun semakin kabur dengan diperkenalkannya berbagai versi, terutama versi Geoffrey of Monmouth, Historia Regum Britanniae di abad ke-12 yang memperkenalkan karakter-karakter lain, seperti Uther Pendragon, penyihir Merlin, sang istri, Guinevere, pedang Excalibur. Selain itu ada pula versi penulis Perancis, Chrétien de Troyes yang memasukkan karakter Lancelot dan legenda Holy Grail serta Knights of the Round Table yang memulai genre baru yang diberi nama roman Arthurian. Dengan versi yang berbeda-beda, tak heran jika kemudian muncul berbagai versi dengan modifikasi dan tambal-sulam di sana-sini. Apalagi memang tak ada bukti sejarah otentik tentang keberadaan legenda King Arthur yang sebenarnya membuat siapa saja bebas menginterpretasi maupun memodifikasi kisahnya. Tak hanya untuk literatur, tapi juga drama panggung dan tentu saja, film. Di era 2000-an, ada King Arthur (2004) versi Antoine Fuqua yang mengedepankan sisi akurasi historis ketimbang fantasi, The Last Legion (2007) yang ‘mempertemukan’ King Arthur dengan legenda Kerajaan Romawi era Romulus Augustulus, mini seri Merlin (2008) produksi BBC One, dan Camelot (2011) produksi stasiun TV berbayar, Starz.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Critical Eleven

Adaptasi novel masih menjadi salah satu pilihan utama untuk produksi film layar lebar, tak terkecuali di Indonesia. Di tengah dominasi novel remaja yang memang masih merupakan pasar terbesar, sesekali ada pula novel (roman) dewasa yang berhasil menggaet penggemar tak kalah banyak. Salah satu yang terdepan adalah Critical Eleven (CE) karya Ika Natassa yang pertama kali rilis tahun 2015. Tak hanya menjadi best seller, CE yang mengangkat tema mature relationship, pernikahan, dan kehilangan juga menjadi fenomena tersendiri di ranah literatur Indonesia. Potensi besar ditambah target audience spesifik yang masih jarang ‘dijamah’, StarVision dan Legacy Pictures sama-sama tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar. Dengan kelebihan produksi masing-masing, pilihan keduanya untuk bekerja sama, dengan melibatkan nama-nama jaminan mutu, mulai penulisan naskah yang disusun oleh Ika sendiri bersama Jenny Jusuf (Filosofi Kopi), Monty Tiwa, dan Robert Ronny (kedua nama terakhir merangkap sutradara), pemilihan pasangan Reza Rahadian-Adinia Wirasti untuk ketiga kalinya (setelah Jakarta Maghrib dan Kapan Kawin?), serta cast lainnya yang tak kalah populer, CE versi layar lebar bak dikerjakan oleh the dream team. Namun kepuasan fanbase yang jumlahnya begitu banyak lah yang akhirnya menentukan keberhasilannya kelak, di balik kemustahilan untuk menuangkan semua part di novel ke dalam film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, May 8, 2017

The Jose Flash Review
Siam Square
[สยามสแควร์ ]


Di mata internasional, Asia memang kaya akan urban legend mistis yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Salah satu negara produsen yang paling produktif untuk tema ini adalah Thailand. Tahun 2017 ini Sahamongkol Film, salah satu PH Thailand yang banyak melahirkan film-film populer di kancah internasional, termasuk The Legend of Suriyothai, Love of Siam, dan seri Ong-Bak, memproduksi sebuah horror fiktif yang membahas salah satu kawasan paling populer di Bangkok (disebut-sebut sebagai Shibuya-nya Bangkok), Siam Square (SS). Pairach Khumwan yang sebelumnya dikenal sebagai sinematografer untuk film 36 (2012), Mary is Happy, Marry is Happy (2013), dan Hand in the Glove  (2015), serta pernah menyutradarai salah satu segmen berjudul Samet di omnibus Love, Not Yet (2011), dipercaya untuk duduk di bangku penyutradaraan. SS juga didukung banyak bintang muda yang menyemarakkan film, seperti model dan bintang TV yang akan membintangi film thriller Bad Genius, Eisaya Hosuwan, Peem Thanabodee (serial Hormones dan Halfworlds), Nutthasit Kotimanuswanich (11-12-13 Rak Kan Ja Thai dan #Grace), Morakot Liu (Heart Attack), dan Ploy Sornarin (Single Lady).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, May 6, 2017

The Jose Flash Review
Free Fire

Reservoir Dogs (RD) dari Quentin Tarantino yang rilis tahun 1992 memberikan angin segar di genre crime dan tema mafia yang sebelumnya dibuat bak biopic seperti yang yang dilakukan The Godfather, Scarface, dan The Untouchables. Fokus cerita dipersempit menjadi satu kejadian fucked-up dengan bumbu komedi di sela-sela kesadisan, menjadikan tema crime lebih menghibur. Ketika Tarantino kemudian mencoba berbagai pendekatan lain yang variatif di film-film selanjutnya, Guy Ritchie dari Inggris muncul dengan berbagai elemen-elemen dasar dari RD, ditambah storytelling dan visual style khas yang ia ciptakan sendiri lewat Lock, Stock and Two Smoking Barrels (LSTSB - 1998), disusul Snatch (2000), Revolver (2005), dan RocknRolla (2008). Bahkan ketika dipercaya menangani proyek-proyek yang lebih major, seperti Sherlock Holmes dan The Man from U.N.C.L.E., style-style khasnya masih dipertahankan meski banyak juga yang berkompromi dengan selera mainstream. Sesekali style-style khas Ritchie ini coba di-copy dan dimodif di sana-sini, seperti pada Smokin’ Aces (2006) dan Shoot ‘Em Up (2007). Hasilnya sama sekali tak buruk, justru berkali-kali terbukti berhasil ‘mengangkat’ film aksi menjadi lebih bergaya dengan energi oktan tinggi.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, May 5, 2017

The Jose Flash Review
Unlocked


Espionage dan kick-ass chick selalu menjadi paduan yang menarik perhatian. Whether you’re a male or a female, aksi keren dari wanita cantik dan seksi dengan mudah menjadi eye-candy, bukan? Along with the male, kehadiran female agent pun sudah banyak yang memorable. Let’s say La Femme Nikita, Salt, Haywire, Colombiana, dan Hanna. Effort terbaru adalah Unlocked yang mengedepankan aktris Noomi Rapace (franchise The Girl with the Dragon Tattoo versi orisinil dan Prometheus) sebagai sosok kick-ass chick. Diproduksi Lorenzo di Bonaventura (mantan eksekutif Warner Bros. yang menemukan franchise The Matrix dan berjasa atas pembelian franchise Harry Potter, tapi juga berada di balik franchise Transformers ketika PH-nya berada di bawah bendera Paramount Pictures), Unlocked didasarkan dari naskah 2008 Blacklist karya Peter O’Brien (game Halo: Reach). Sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Michael Apted yang punya track record bagus di genre action, seperti The World is Not Enough, Enough, The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader, dan Chasing Mavericks. Selain Rapace, Unlocked didukung pula oleh Orlando Bloom, Toni Collette, Michael Douglas, dan John Malkovich. Nama-nama ini tentu membuat Unlocked layak dilirik kendati statusnya yang bukan termasuk proyek major.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 3, 2017

The Jose Flash Review
The Circle

‘Horror’ masa depan yang disebabkan oleh teknologi sudah sejak lama menjadi topik dalam film. Bahkan mungkin sejak ‘bapak’ dari segala film sci-fi, Metropolis (1927). Setelah era internet, ‘horor’ teknologi menjadi semakin spesifik. Secara umum, ‘momok’ utamanya kurang lebih sama, yaitu ruang privasi yang makin terkikis. Kini dengan maraknya media sosial dengan layanan yang makin beragam dan menjangkau berbagai sendi kehidupan, apa yang digambarkan, let’s say, di Antitrust (2001) atau Transcendence (2014) semakin mendekati kenyataan. Ironisnya, ‘momok’ yang menghantui ketika film tersebut pertama kali muncul sudah menjadi tak lagi mengerikan ketika sudah menjadi kenyataan. Kini ketika trend teknologi bergeser ke era Snapchat, diikuti InstaStory, apa yang digambarkan di novel The Circle karya Dave Eggers yang dirilis pertama kali tahun 2013, seharusnya menjadi ‘momok’ yang relevan. James Ponsoldt (The Spectacular Now) tertarik untuk mengadaptasinya ke layar lebar. Diproduseri Anthony Bregman lewat Likely Story dan Tom Hanks lewat Playtone, The Circle mendapatkan pembiayaan penuh dari Image Nation Abu Dhabi. Selain Tom Hanks yang juga turut mengisi peran, aktris muda yang dikenal lewat franchise Harry Potter dan baru-baru ini, Beauty and the Beast, Emma Watson, aktor kulit hitam yang populer lewat Star Wars: The Force Awakens, John Boyega, Patton Oswalt, serta mendiang Bill Paxton yang mana merupakan penampilan terakhirnya di film sebelum meninggal dunia 25 Februari 2017 silam. Dengan budget yang ‘hanya’ US$ 18 juta padahal harus meng-create desain produksi futuristik, jelas The Circle bukanlah proyek raksasa yang ambisius. Namun bukan berarti tidak bisa jadi menarik.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates