Thor: Ragnarok

Thor found Hulk to save Asgard from apocalypse caused by his eldest sister.
Read more.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

After glorious trip worldwide, the latest feminist heroine from Mouly Surya comes home.
Opens November 16.

Justice League

The DC superheroes are finally united, bringing justice for all.
Opens November 15.

Paddington 2

The British's most popular bear is back for some more family adventure.
Opens November 10.

Jigsaw

John Kramer a.k.a. Jigsaw is apparently still far away from death.
Read more.

Monday, May 29, 2017

The Jose Flash Review
Half Girlfriend
[हाफ गर्लफ्रेंड]

Jika diperhatikan, premise dasar film-film romance Hindi adalah a boy meets a girl, baru kemudian dikembangkan dengan berbagai topik, termasuk sosio-kultural yang mewarnai perjalanannya. Generik, memang, tapi somehow ia selalu punya cara untuk membuat perjalanannya menjadi menarik untuk disimak dan yang terpenting, mampu menggaet emosi penonton. Namun masih sangat jarang film Hindi yang diangkat dari novel roman. Toh, novel Hindi sendiri juga masih sangat jarang terdengar secara global. Maka apa yang dilakukan Mohit Suri yang dikenal sebagai sutradara Aashiqui 2, Raaz – The Mystery Continues, dan Ek Villain yang sukses secara komersial, ini cukup menarik. Diangkat dari novel coming of age berjudul sama karya Chetan Bhagat (penulis novel Five Point Someone yang diadaptasi menjadi film 3 Idiots, 2 States, dan The 3 Mistakes of My Life yang diangkat menjadi film Kai Po Che!) yang dirilis pertama kali tahun 2014 dan hak adaptasi filmnya sudah terjual bahkan sebelum dipublikasikan, Half Girlfriend (HG) menawarkan kehadiran pasangan Arjun Kapoor (Gunday dan Ki & Ka) dan Shraddha Kapoor (Aashiqui 2, Ek Villain, ABCD 2, dan Baaghi) sebagai daya tarik utamanya. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Resident Evil: Vendetta
[バイオハザード ヴェンデッタ]

Selain adaptasi live action Hollywood dengan pangsa pasar globa yang lebih luas, Resident Evil (RE - di Jepang dikenal sebagai Biohazard) yang berasal dari video game juga punya franchise layar lebar berformat animasi 3D yang diproduksi oleh produsen game-nya sendiri, Capcom Studios. Berbeda dengan versi live-action Hollywood yang dibintangi Milla Jovovich, RE versi animasi 3D berada pada universe yang sama dan bahkan punya pertalian cerita dengan seri game-nya. Pertama kali muncul lewat Resident Evil: Degeneration (2008), dilanjutkan Resident Evil: Damnation (2012), installment ketiganya tayang di tahun 2017 ini dengan tajuk Resident Evil: Vendetta (REV) dan mengambil setting di antara game Resident Evil 6 dan Resident Evil 7: Biohazard. Naskahnya ditulis oleh Makoto Fukami (Psycho-Pass) sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Takanori Tsujimoto yang pernah berpengalaman menangani The Next Generation: Patlabor dan Ultraman X. Bagi fans versi game, film layar lebar versi animasi 3D ini jelas menjadi fan-service yang lebih ditunggu-tunggu ketimbang versi live action Hollywood-nya. Beruntung CBI Pictures mendistribusikan REV di bioskop-bioskop non-XXI seluruh Indonesia, bersamaan dengan rilis di bioskop-bioskop negara aslinya, Jepang, yaitu pada 27 Mei 2017.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, May 25, 2017

The Jose Flash Review
Pirates of the Caribbean:
Salazar's Revenge
[Dead Men Tell No Tales]

Berawal dari sebuah wahana di Disneyland, Pirates of the Caribbean (PotC) menjelma menjadi salah satu franchise paling menguntungkan bagi Disney. Begitu pula dengan image Johnny Depp, Orlando Bloom, dan Keira Knightley yang pada akhirnya begitu melekat dengan franchise PotC. Seri demi seri mulai The Curse of the Black Pearl (2003) hingga On Stranger Tides (2011) mencetak angka yang fantastis, bahkan Dead Man’s Chest dan On Stranger Tides tembus angka 1 milyar dolar di seluruh dunia, membuat Disney terus berupaya untuk menjaga kelangsungan franchise ini. Installment kelima (sekaligus keenam secara back to back seperti installment pertama dan kedua) pun bahkan segera direncanakan sesaat sebelum seri keempat dirilis. Rob Marshall yang menyutradarai seri keempat kembali dipercaya tapi mengundurkan diri demi Into the Woods dan The Thin Man. Pilihan kemudian jatuh kepada duo asal Norwegia, Joachim Rønning dan Espen Sandberg (Bandidas dan Kon-Tiki). Kendati demikian Disney belum memberikan lampu hijau hingga dirasa menemukan naskah yang tepat hasil karya Jeff Nathanson (Catch Me If You Can, The Terminal, Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull) pada 2014. Tak hanya sutradara, kru-kru baru pun bergabung, mulai DoP, editor, hingga komposer. Sementara di lini cast selain Johnny Depp dan Geoffrey Rush, didukung pula Javier Bardem (Skyfall), Brenton Thwaites (Maleficent, The Giver), Kaya Scodelario (franchise The Maze Runner), serta kembalinya Orlando Bloom dan Keira Knightley setelah sempat absen di On Stranger Tides. Rentang waktu selama 6 tahun menjadi pertaruhan apakah penonton akan merindukan karakter-karakter ikoniknya di Salazar’s Revenge (SR) atau judul asli, Dead Men Tell No Tales ini atau malah sudah kehilangan daya tarik.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, May 22, 2017

The Jose Flash Review
Ziarah

Selain industri film nasional yang meski belum punya pondasi sistem yang kuat tapi setidaknya cukup ‘hidup’, Indonesia ternyata punya ‘industri’ film-film daerah yang tak kalah punya massa, setidaknya di region masing-masing. Ada film Makassar yang sedang berkembang cukup menggembirakan dengan hasil box office yang tergolong fantastis bahkan untuk ukuran peredaran nasional (meski sebagian besar pendapatannya berasal dari daerah sendiri), ada juga perfilman Yogyakarta yang memilih style ‘alternatif’ yang cenderung mengarah ke gaya art-house alternatif internasional. Dengan sering diikut-sertakannya ke festival-festival film internasional yang lebih bersifat arthouse, mungkin ada alasan mengapa form seperti itu yang mereka pilih. Toh jika punya pencapaian internasional, setidaknya bisa menjadi modal promosi yang cost-nya tak perlu terlalu tinggi dan lebih mudah meyakinkan jaringan bioskop untuk memutar di layar-layarnya. Media pun akan berbondong-bondong meliput tanpa dibayar. Beberapa tahun terakhir ‘industri’ (atau mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai ‘komunitas’) film Yogyakarta menjadi perhatian karena prestasinya. FFI sebagai ajang penghargaan film nasional tertinggi pun mengapresiasinya dengan menganugerahkan Siti karya Eddie Cahyono, sebagai Film Terbaik, Penulis Skenario Asli Terbaik, dan Penata music Terbaik di FFI 2015 silam.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, May 21, 2017

The Jose Flash Review
Before I Fall

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, May 20, 2017

The Jose Flash Review
Alien: Covenant

Di antara film bergenre sci-fi horror, judul Alien jelas menjadi yang terdepan. Sejak kemunculan pertama kalinya di tahun 1979, meski bukan film pertama di genrenya, tapi berhasil mempopulerkan tema alien, bahkan menjelma menjadi salah satu franchise paling menguntungkan hingga saat ini. Kesuksesan dilanjutkan Aliens di tahun 1986 yang banyak dianggap lebih baik dari prekuelnya. Alien 3 (1992) dan Alien: Resurrection (1997) dianggap penurunan baik dari segi box office maupun kualitas, tapi tetap saja untung. Kemudian sempat ‘dipertemukan’ dengan franchise populer lainnya, Predator, lewat Alien vs Predator (2004) dan sekuelnya, Alien vs. Predator: Requiem (2007) yang semakin ‘melorot’. Ridley Scott yang merupakan salah satu kreator franchise Alien memutuskan untuk membuat seri-seri prekuel, dimulai dengan Prometheus (2012) yang awalnya sama sekali tak disebutkan sebagai prekuel Alien. Minat penonton, baik penggemar seri-seri aslinya maupun dari generasi baru, pun kembali meningkat. Maka rencana sekuelnya yang sempat direncanakan berjudul Alien: Paradise Lost, berjalan lebih lancar. Tahun 2017 ini, installment kedua dari prekuel franchise Alien ini resmi berjudul Alien: Covenant (AC) dengan masih melibatkan Michael Fassbender meski dengan karakter baru, Katherine Waterston (Tina di Fantastic Beasts and Where to Find Them), Billy Crudup, Danny McBride (Pineapple Express, Tropic Thunder, Due Date, Up in the Air, This is the End), Demian Bichir (Fidel Castro di Che dan Bob di The Hateful Eight), dan Jussie Smollett (yang kita kenal sebagai Jamal Lyon di serial Empire). 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 17, 2017

The Jose Flash Review
The Autopsy of Jane Doe


Horror mungkin adalah genre yang paling sering dibuat selain drama. Tak hanya yang digarap dengan budget ‘layak’, tapi juga film-film horror low budget dan indie yang ternyata jauh lebih banyak lagi jumlahnya. Tentu kualitas film-film horror low budget dan indie lebih banyak yang mengecewakan, tapi once in a while selalu ada saja hidden gem yang layak simak. Bahkan mungkin menjadi cult movie yang legendaris. The Autopsy of Jane Doe (TaoJD) bisa jadi salah satunya. Debut film berbahasa Inggris pertama dari sutradara Norwegia, André Øvredal (Trollhunter) ini memanfaatkan keterbatasan ruang untuk menjadi panggung horror yang efektivitasnya maksimal. Dari naskah racikan Ian Goldberg (penulis beberapa episode serial-serial populer seperti Once Upon A Time, Criminal Minds,  dan Terminator: The Sarah Connor Chronicles) dan Richard Naing (ia dan Gold pernah bekerja sama untuk naskah Dead of Summer), pemilihan cast-nya pun bukan aktor-aktris tak dikenal. Ada aktor veteran yang pernah memerankan sosok Hannibal Lecter sebelum Anthony Hopkins di Manhunter (1986) dan membintangi sejumlah proyek blockbuster, di antaranya di dua installment Jason Bourne dan X-Men 2, Brian Cox, Emile Hirsch yang kita kenal lewat komedi remaja, The Girl Next Door dan biopic Christopher McCandless, Into the Wild, Ophelia Lovibond (Carina di Guardians of the Galaxy), serta pendatang baru yang tak boleh diremehkan, Olwen Catherine Kelly, sebagai sosok Sang Jane Doe. Dengan pujian dari salah satu master of horror, Stephen King, yang menyebutnya sebagai visceral horror, menandingi Alien dan film-film awal Cronenberg, daya tarik TAoJD menjadi semakin berlipat-lipat. Terbukti juga dari sambutan penonton ketika diputar perdana di Toronto Internasional Film Festival, September 2016 lalu.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, May 16, 2017

The Jose Flash Review
Unforgettable

Anda pernah atau justru sampai sekarang masih menggemari seri novel roman Harlequin? Atau Anda sempat menggemari film-film erotic thriller drama yang cukup booming di era 80-90’an hingga melahirkan beberapa nama sexbomb, seperti Shannon Tweed dan Naveen Andrews? Trend genre ini memang sudah lewat, tapi sesekali masih ada satu-dua yang mencoba untuk ‘mengobati kerinduan’ bagi para penikmatnya. Beberapa tahun terakhir ada Obsessed (2009), The Boy Next Door (2015), dan Careful What You Wish For (2015). Memang tak pernah dibuat sebagai film ambisius dengan budget melimpah. Cukup premise daur ulang yang basically tak jauh-jauh dari tema rumah tangga, revenge, dan bitch fight. Daya tariknya kemudian terletak pada pemilihan cast yang bikin penonton penasaran jika dimasukkan dalam formula tersebut. Tahun 2017 ini ada upaya terbaru dari Warner Bros. lewat Unforgettable dengan mempercayakan produser Denise Di Novi (Little Women, Practical Magic, Original Sin, A Walk to Remember, Catwoman, The Sisterhood of the Traveling Pants 2, Nights in Rodanthe, Life as We Know It, Crazy, Stupid Love, The Lucky One, If I Stay, Focus) yang mencoba debut penyutradaraan, dari naskah yang disusun Christina Hodson (Shut In) bersama David Johnson (Orphan, Wrath of the Titans, The Conjuring 2). Cast yang ‘dipasang’ untuk menjadi daya tarik adalah Katherine Heigl dan Rosario Dawson, beserta aktris veteran yang kita kenal lewat serial Charlie’s Angels, Cheryl Ladd.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 10, 2017

The Jose Flash Review
King Arthur:
Legend of the Sword


King Arthur dan berbagai atributnya sudah menjadi legenda yang dikenal di seluruh penjuru dunia. Batas antara sejarah dan legenda pun semakin kabur dengan diperkenalkannya berbagai versi, terutama versi Geoffrey of Monmouth, Historia Regum Britanniae di abad ke-12 yang memperkenalkan karakter-karakter lain, seperti Uther Pendragon, penyihir Merlin, sang istri, Guinevere, pedang Excalibur. Selain itu ada pula versi penulis Perancis, Chrétien de Troyes yang memasukkan karakter Lancelot dan legenda Holy Grail serta Knights of the Round Table yang memulai genre baru yang diberi nama roman Arthurian. Dengan versi yang berbeda-beda, tak heran jika kemudian muncul berbagai versi dengan modifikasi dan tambal-sulam di sana-sini. Apalagi memang tak ada bukti sejarah otentik tentang keberadaan legenda King Arthur yang sebenarnya membuat siapa saja bebas menginterpretasi maupun memodifikasi kisahnya. Tak hanya untuk literatur, tapi juga drama panggung dan tentu saja, film. Di era 2000-an, ada King Arthur (2004) versi Antoine Fuqua yang mengedepankan sisi akurasi historis ketimbang fantasi, The Last Legion (2007) yang ‘mempertemukan’ King Arthur dengan legenda Kerajaan Romawi era Romulus Augustulus, mini seri Merlin (2008) produksi BBC One, dan Camelot (2011) produksi stasiun TV berbayar, Starz.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Critical Eleven

Adaptasi novel masih menjadi salah satu pilihan utama untuk produksi film layar lebar, tak terkecuali di Indonesia. Di tengah dominasi novel remaja yang memang masih merupakan pasar terbesar, sesekali ada pula novel (roman) dewasa yang berhasil menggaet penggemar tak kalah banyak. Salah satu yang terdepan adalah Critical Eleven (CE) karya Ika Natassa yang pertama kali rilis tahun 2015. Tak hanya menjadi best seller, CE yang mengangkat tema mature relationship, pernikahan, dan kehilangan juga menjadi fenomena tersendiri di ranah literatur Indonesia. Potensi besar ditambah target audience spesifik yang masih jarang ‘dijamah’, StarVision dan Legacy Pictures sama-sama tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar. Dengan kelebihan produksi masing-masing, pilihan keduanya untuk bekerja sama, dengan melibatkan nama-nama jaminan mutu, mulai penulisan naskah yang disusun oleh Ika sendiri bersama Jenny Jusuf (Filosofi Kopi), Monty Tiwa, dan Robert Ronny (kedua nama terakhir merangkap sutradara), pemilihan pasangan Reza Rahadian-Adinia Wirasti untuk ketiga kalinya (setelah Jakarta Maghrib dan Kapan Kawin?), serta cast lainnya yang tak kalah populer, CE versi layar lebar bak dikerjakan oleh the dream team. Namun kepuasan fanbase yang jumlahnya begitu banyak lah yang akhirnya menentukan keberhasilannya kelak, di balik kemustahilan untuk menuangkan semua part di novel ke dalam film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, May 8, 2017

The Jose Flash Review
Siam Square
[สยามสแควร์ ]


Di mata internasional, Asia memang kaya akan urban legend mistis yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Salah satu negara produsen yang paling produktif untuk tema ini adalah Thailand. Tahun 2017 ini Sahamongkol Film, salah satu PH Thailand yang banyak melahirkan film-film populer di kancah internasional, termasuk The Legend of Suriyothai, Love of Siam, dan seri Ong-Bak, memproduksi sebuah horror fiktif yang membahas salah satu kawasan paling populer di Bangkok (disebut-sebut sebagai Shibuya-nya Bangkok), Siam Square (SS). Pairach Khumwan yang sebelumnya dikenal sebagai sinematografer untuk film 36 (2012), Mary is Happy, Marry is Happy (2013), dan Hand in the Glove  (2015), serta pernah menyutradarai salah satu segmen berjudul Samet di omnibus Love, Not Yet (2011), dipercaya untuk duduk di bangku penyutradaraan. SS juga didukung banyak bintang muda yang menyemarakkan film, seperti model dan bintang TV yang akan membintangi film thriller Bad Genius, Eisaya Hosuwan, Peem Thanabodee (serial Hormones dan Halfworlds), Nutthasit Kotimanuswanich (11-12-13 Rak Kan Ja Thai dan #Grace), Morakot Liu (Heart Attack), dan Ploy Sornarin (Single Lady).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, May 6, 2017

The Jose Flash Review
Free Fire

Reservoir Dogs (RD) dari Quentin Tarantino yang rilis tahun 1992 memberikan angin segar di genre crime dan tema mafia yang sebelumnya dibuat bak biopic seperti yang yang dilakukan The Godfather, Scarface, dan The Untouchables. Fokus cerita dipersempit menjadi satu kejadian fucked-up dengan bumbu komedi di sela-sela kesadisan, menjadikan tema crime lebih menghibur. Ketika Tarantino kemudian mencoba berbagai pendekatan lain yang variatif di film-film selanjutnya, Guy Ritchie dari Inggris muncul dengan berbagai elemen-elemen dasar dari RD, ditambah storytelling dan visual style khas yang ia ciptakan sendiri lewat Lock, Stock and Two Smoking Barrels (LSTSB - 1998), disusul Snatch (2000), Revolver (2005), dan RocknRolla (2008). Bahkan ketika dipercaya menangani proyek-proyek yang lebih major, seperti Sherlock Holmes dan The Man from U.N.C.L.E., style-style khasnya masih dipertahankan meski banyak juga yang berkompromi dengan selera mainstream. Sesekali style-style khas Ritchie ini coba di-copy dan dimodif di sana-sini, seperti pada Smokin’ Aces (2006) dan Shoot ‘Em Up (2007). Hasilnya sama sekali tak buruk, justru berkali-kali terbukti berhasil ‘mengangkat’ film aksi menjadi lebih bergaya dengan energi oktan tinggi.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, May 5, 2017

The Jose Flash Review
Unlocked


Espionage dan kick-ass chick selalu menjadi paduan yang menarik perhatian. Whether you’re a male or a female, aksi keren dari wanita cantik dan seksi dengan mudah menjadi eye-candy, bukan? Along with the male, kehadiran female agent pun sudah banyak yang memorable. Let’s say La Femme Nikita, Salt, Haywire, Colombiana, dan Hanna. Effort terbaru adalah Unlocked yang mengedepankan aktris Noomi Rapace (franchise The Girl with the Dragon Tattoo versi orisinil dan Prometheus) sebagai sosok kick-ass chick. Diproduksi Lorenzo di Bonaventura (mantan eksekutif Warner Bros. yang menemukan franchise The Matrix dan berjasa atas pembelian franchise Harry Potter, tapi juga berada di balik franchise Transformers ketika PH-nya berada di bawah bendera Paramount Pictures), Unlocked didasarkan dari naskah 2008 Blacklist karya Peter O’Brien (game Halo: Reach). Sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Michael Apted yang punya track record bagus di genre action, seperti The World is Not Enough, Enough, The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader, dan Chasing Mavericks. Selain Rapace, Unlocked didukung pula oleh Orlando Bloom, Toni Collette, Michael Douglas, dan John Malkovich. Nama-nama ini tentu membuat Unlocked layak dilirik kendati statusnya yang bukan termasuk proyek major.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 3, 2017

The Jose Flash Review
The Circle

‘Horror’ masa depan yang disebabkan oleh teknologi sudah sejak lama menjadi topik dalam film. Bahkan mungkin sejak ‘bapak’ dari segala film sci-fi, Metropolis (1927). Setelah era internet, ‘horor’ teknologi menjadi semakin spesifik. Secara umum, ‘momok’ utamanya kurang lebih sama, yaitu ruang privasi yang makin terkikis. Kini dengan maraknya media sosial dengan layanan yang makin beragam dan menjangkau berbagai sendi kehidupan, apa yang digambarkan, let’s say, di Antitrust (2001) atau Transcendence (2014) semakin mendekati kenyataan. Ironisnya, ‘momok’ yang menghantui ketika film tersebut pertama kali muncul sudah menjadi tak lagi mengerikan ketika sudah menjadi kenyataan. Kini ketika trend teknologi bergeser ke era Snapchat, diikuti InstaStory, apa yang digambarkan di novel The Circle karya Dave Eggers yang dirilis pertama kali tahun 2013, seharusnya menjadi ‘momok’ yang relevan. James Ponsoldt (The Spectacular Now) tertarik untuk mengadaptasinya ke layar lebar. Diproduseri Anthony Bregman lewat Likely Story dan Tom Hanks lewat Playtone, The Circle mendapatkan pembiayaan penuh dari Image Nation Abu Dhabi. Selain Tom Hanks yang juga turut mengisi peran, aktris muda yang dikenal lewat franchise Harry Potter dan baru-baru ini, Beauty and the Beast, Emma Watson, aktor kulit hitam yang populer lewat Star Wars: The Force Awakens, John Boyega, Patton Oswalt, serta mendiang Bill Paxton yang mana merupakan penampilan terakhirnya di film sebelum meninggal dunia 25 Februari 2017 silam. Dengan budget yang ‘hanya’ US$ 18 juta padahal harus meng-create desain produksi futuristik, jelas The Circle bukanlah proyek raksasa yang ambisius. Namun bukan berarti tidak bisa jadi menarik.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates