Saturday, April 29, 2017

The Jose Flash Review
Surau dan Silek

Dibandingkan untuk audience remaja dan dewasa, film anak Indonesia agaknya masih tergolong sangat jarang. Apalagi yang digarap dengan baik. Bagi penonton awam mungkin masih ada Petualangan Sherina dan seri Laskar Pelangi yang paling diingat. Sementara untuk kalangan yang lebih terbatas, ada Cita-Cita Setinggi Tanah yang cukup memorable hingga saat ini. Mungkin keterbatasan itu pula yang menggugah Arief Malinmudo membuat film anak-anak sebagai karya untuk meraih gelar S2 di program Pascasarjana Institut Seni Indonesia, Surakarta. Berkat film anak bertajuk Surau & Silek (SS), ia menjadi lulusan cum laude. Selain pemain-pemain cilik pendatang baru, SS juga didukung oleh aktris senior, Dewi Irawan, seniman teater Sumatra Barat, Yusril Katir, aktor dan presenter, Gilang Dirga (Rumah Kentang, 308), serta Dato’ A Tamimi Arman yang merupakan mantan Menteri Kebudayaan, Seni, dan Warisan Malaysia, yang saat ini menjadi salah satu penasihat pemerintahan Malaysia sekaligus Ketua YIRMI (Yayasan Ikatan Rakyat Indonesia Malaysia). Meski merupakan karya tugas akhir dan tergolong film daerah (yaitu dari Minangkabau), SS jelas punya daya tarik yang tak main-main. Setidaknya jika menargetkan penonton asal Minangkabau (yang notabene banyak sekali tersebar di seluruh penjuru negeri) saja, SS punya potensi untuk meraih kesuksesan secara komersial. Selain tentu saja, sebagai upayanya melestarikan budaya serta kearifan lokal.

Adil yang begitu tekun mendalami ilmu bela diri silat sedang gundah. Setelah dikalahkan oleh rivalnya, Hardi, ‘pukulan’ berikutnya datang dari sang pelatih, Rustam, yang mendadak memilih meninggalkan kampungnya untuk merantau di kota. Harapan untuk memenangkan pertandingan berikutnya bersama sahabatnya, Dayat dan Kurip, seolah semakin pupus. Pencarian akan guru silat baru pun ternyata tak membuahkan hasil. Salah satu teman mereka, Rani, kebetulan dikenalkan dengan sahabat kakeknya yang seorang dosen sekaligus penulis buku yang baru kembali dari kota untuk menetap di kampung halaman, Johar. Awalnya Johar menolak karena ia sudah lama meninggalkan dunia silat dan juga skeptis terhadap motivasi Adil serta kawan-kawannya dalam belajar silat yang hanya untuk gaya-gayaan. Namun berkat dorongan dari sang istri, Erna, Johar setuju untuk melatih Adil dan kawan-kawan ke jalan yang benar, yaitu keseimbangan antara menjalankan perintah agama serta menjadikannya amalan dalam berlatih silat. Seiring dengan latihan mereka sebelum pertandingan selanjutnya, Johar kembali dihadapkan pada masa lalunya yang membuat ia meninggalkan silat.

Entah disengaja atau kebetulan semata, jadwal rilis SS bebarengan dengan Seteru yang sebenarnya punya benang merah yang mirip. Bedanya, jika Seteru lewat futsal, SS mengangkat bela diri silat. Pendekatan plotnya pun sama-sama formulaic di tema masing-masing. SS meng-combine tema pencarian guru baru, rivalry di sasana silat, pilihan antara dua minat yang berbeda, hingga para guru yang ternyata punya konflik pribadi di masa lalu. Sangat familiar bukan? Menariknya, SS hanya memanfaatkan template-template formulaic tersebut untuk menyampaikan tema besarnya yang merupakan filosofi budaya lokal, yaitu tentang Surau (masjid kecil) yang dalam udaya Minangkabau juga digunakan sebagai tempat belajar silek (silat) selain beribadah. Ada keseimbangan dan pertautan yang tak terlepaskan dalam menjalankan keduanya ditampilkan sebagai pondasi cerita. Tak ketinggalan filosofi agama Islam tentang tiga amalan pahala yang tak pernah putus; amal jariyah, doa anak soleh, dan ilmu yang bermanfaat, yang digunakan sebagai setup motivasi karakter Adil dan pasangan Johar-Erna untuk saling melengkapi. Tentu elemen-elemen filosofi (baca: kearifan) lokal ini menjadi nilai luhur yang terasa begitu kuat terkandung dalam plot, selain tentu saja menjadi daya tarik tersendiri. Tak lupa pula menyelipkan humor-humor polos yang membuatnya tetap menghibur sebagai tontonan semua umur. Meski sebenarnya ada potensi pengembangan plot yang jauh lebih solid maupun humor yang lebih inovatif ketimbang sekedar daur ulang, secara keseluruhan plot SS masih digerakkan secara ringan dan menghibur.

Namun dalam menyampaikan sub-plot yang cukup banyak SS ternyata masih belum sepenuhnya seimbang. Ini terasa sekali ketika konflik (yang seharusnya menjadi sekedar) setup, yaitu pencarian guru silat baru yang butuh waktu sekitar satu jam dari durasi. Dampaknya, (yang seharusnya menjadi) plot utama tentang perjuangan dari babak ke babak pertandingan untuk menjadi pemenang harus terselesaikan dalam sisa durasi sekitar 30 menit. Belum lagi harus ‘berbagi’ porsi dengan sub-plot tentang konflik perpecahan karena pilihan minat yang lain serta masa lalu Johar. Secara tertulis kesemuanya memang terkesan begitu stuffed-up. Untungnya, Arief membawa flow plotnya secara santai dan mengalir sehingga setidaknya secara keseluruhan masih enak untuk dinikmati.

Highlight utama dari penampilan akting di SS jelas tertuju pada ketiga pemeran karakter utama, yaitu Muhammad Razi sebagai Adil, Bima Jousant sebagai Dayat, dan Bintang Khairafi sebagai Kurip. Pun juga dengan Randu Arini sebagai Arini. Kendati tergolong pendatang baru, ketiganya memberikan performa yang fairly good. Luwes, bahkan cukup layak dalam memberikan kedalaman karakter, tanpa meninggalkan sisi kepolosan. Yusril Katil yang memang punya background teater menonjol berkat kharismanya yang kuat sebagai Johar. Chemistry yang dibangunnya bersama Dewi Irawan sebagai Erna pun terasa begitu hangat nan bersahaja. 

Secara teknis pun SS masih tergolong layak. Sinematografi Afdal Arsyah tak hanya menyumbangkan camera work yang efektif dalam bercerita maupun membentuk mood, tapi juga shot-shot cantik nan sinematis. Editing Haris F. Syah pun masih berhasil membuat laju SS mengalir lancar dan santai sebagaimana mood yang didesain sejak awal di balik keseimbangan antar sub-plot yang seharusnya bisa lebih baik lagi, kendati juga ada beberapa perpindahan angle yang momentumnya masih kurang pas. Scoring dari McAnderson dan Anderta membangun mood santai namun uplifting dan bersahaja menjadi lebih pekat dan kuat. Sedikit mengingatkan saya akan scoring yang McAnderson gubah untuk Filosofi Kopi, tapi tak mengapa. Anggap saja itu ke-khas-an karyanya. Ornamen-ornamen musik etnik dari Elziar Koto memberikan warna tersendiri dalam komposisi score music. Sementara lagu tema Mimpi Besar dari Seventeen di telinga saya terdengar terlalu dewasa untuk tema filmnya (coba bandingkan dengan soundtrack dari film anak-anak lain, let’s say, Laskar Pelangi dari Nidji), tapi untuk tujuan memberikan spirit sportifitasnya, boleh lah. 

SS mungkin masih bisa jadi produk yang jauh lebih baik lagi, terutama dalam hal keseimbangan merangkai plot bersama sub-sub-plot lainnya menjadi kesatuan yang solid. Namun sebagai sebuah karya debut maupun film daerah, SS jelas karya yang lebih dari sekedar layak untuk diapresiasi. Apalagi dengan filosofi-filosofi kearifan lokal yang dijadikan pondasi cerita ternyata mampu terasa kuat dan tergolong universal. Jelas SS merupakan pilihan tepat untuk dijadikan tontonan bersama keluarga, termasuk dan terutama anak-anak.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates