Wednesday, April 26, 2017

The Jose Flash Review
Stip & Pensil

Sukses lewat Ngenest dan Cek Toko Sebelah membuat Ernest Prakasa semakin keranjingan berkecimpung di layar lebar. Proyek berikutnya adalah sebuah komedi satir remaja yang diproduksi oleh MD Pictures dan naskahnya ditulis oleh Joko Anwar. Speaking of satire comedy, tentu reputasi Joko tak perlu diragukan lagi. Arisan! menjadi salah satu buktinya. Namun untuk ‘menyesuaikan’ dengan selera humor remaja kekinian, sejalan dengan setting cerita, Ernest sendiri, dibantu Beno Raja Gukguk dan Arie Kriting ikut men-develop naskah Joko tersebut, terutama untuk guyonan-guyonannya. Bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Ardy Octaviand yang cukup berpengalaman di genrenya, seperti Coklat Stroberi dan 3 Dara. Barisan cast-nya pun menarik. Mulai Ernest sendiri (iya, dia ‘kembali’ ke bangku sekolah di sini!), Tatjana Saphira, Indah Permatasari, dan komika yang akhirnya mendapat giliran berakting di layar lebar, Ardit Erwandha. Mengusung judul Stip & Pensil (S&P) yang begitu dekat dengan dunia pendidikan, ia mencoba menyentil banyak pihak.

Toni, Aghi, Bubu, dan Saras dikenal sebagai geng anak orang kaya yang punya banyak musuh di sekolah. Terutama karena sikap mereka yang sering sok paling keren dan paling jago. Ketika mendapat tugas menyusun essay tentang masalah sosial, suatu kejadian menginspirasi mereka untuk membuat sekolah darurat di sebuah kompleks perkampungan liar. Tentu pendekatan a la ‘borjuis’ mereka terbentur oleh tipikal sikap kaum miskin yang tinggal secara liar. Persaingan dengan geng Edwin dan liputan YouTuber, Richard, yang berusaha mencari-cari adanya niat buruk di balik sikap dermawan mereka, semakin memperkeruh keadaan. Seiring dengan waktu, Toni dan kawan-kawan pun menemukan tujuan utama mereka melakukan semua sampai sejauh itu.
Satu hal paling kentara yang patut dihargai dari S&P adalah mengangkat tema yang berbeda dari kebanyakan film berlatar kehidupan remaja. Di saat film remaja (apalagi di film Indonesia) lekat dengan image romansa, S&P berani mengangkat topik kepedulian sosial. Seperti biasa, Joko menyelipkan ‘olok-olok’ terhadap ‘borok-borok’ yang ada di masyarakat kita. Tak hanya terhadap tipikal masyarakat bawah yang mendominasi porsi, tapi juga kalangan atas yang direpresentasikan lewat Toni, Aghi, Bubu, dan Saras. Begitu banyak yang disentil, bahkan terselip juga ‘kampanye’ dukungan terselubung terhadap Ahok (entah jadwal rilis yang bertepatan dengan putaran kedua pilgub DKI Jakarta merupakan kesengajaan atau kebetulan saja). Harus saya akui, ada kesan kelewat bawel, blak-blakan, tapi di saat yang sama, juga berhasil menggelitik saraf tawa. Kesemuanya dirangkai menjadi satu kesatuan plot yang terjalin cukup rapih dan koheren, dengan kesimpulan yang ber-'hati' pula.
Sayangnya, entah faktor naskah (yang masih agak kurang solid), directing Ardy, atau editing Aline Jusria, membuat ada beberapa bagian yang seolah ‘terpisah’ dan berdiri sendiri dari jalinan plot utama. Padahal sebenarnya punya pertautan yang erat dengan plot utama. Tak bisa dihindari pula preach yang disampaikan secara verbal di sana-sini (bagi saya tak masalah sebenarnya, apalagi kebanyakan penonton kita masih belum bisa secara maksimal menarik kesimpulan lewat rangkaian adegan). Pace yang kelewat cepat pun membuat momen-momen yang berpotensi berkesan menjadi terasa ‘kurang’ meninggalkan after-taste yang bertahan lama. Pace enerjik dan cepat sebenarnya cocok untuk style komedi seperti yang diusung oleh S&P, tapi in this case, terasa terlalu cepat.
Keraguan akan Ernest yang mengisi peran jauh di bawah usia sesungguhnya ternyata terjawab dengan cukup meyakinkan. Seperti biasa, kharisma akting Ernest cukup kuat. Pun juga berhasil merajut chemistry yang luwes dengan Ardit, Tatjana, dan Indah. Sebagai pendatang baru berlatar belakang komika, Ardit Erwandha termasuk yang berhasil tampil memikat. Meski porsinya lebih sebagai ‘korban’ ketimbang ‘pelaku’, peran Aghi tetap meninggalkan kesan tersendiri. Tatjana Saphira semakin bersinar dalam menghidupkan peran Bubu, gadis cantik yang agak telmi (telat mikir). Jika kebanyakan peran serupa lebih memberikan kesan menjengkelkan, aksi Tatjana justru sebaliknya. Tetap memukau lewat parasnya sekaligus mengundang tawa. Indah Permatasari juga semakin noticeable di layar lewat peran Bubu. Aditya Alkatiri sebagai Richard dan Rangga Azof sebagai Edwin could be the next big thing in their segment of audience. Dukungan dari Pandji Pragiwaksono sebagai Pak Adam, Arie Kriting sebagai Pak Toro, Gita Bhebhita sebagai Mak Rambe, dan tentu saja, Iqbal Sinchan sebagai Ucok, memberikan ‘kemeriahan’ lebih. Terakhir, tak boleh dilupakan penampilan Yati Surachman yang mengisi peran tipikalnya dengan sedikit twist yang gokil dan Nazyra C. Noer yang mungkin akan membuat Anda yang paham humor internal-nya tertawa terbahak-bahak.
Sinematografi Ipung Rachmat Syaiful sekedar cukup dalam menyampaikan cerita dengan comedic timing yang tepat. Musik dari Aghi Narottama pun mendukung nuansa ceria dan witty. Sayang tata suara seringkali terasa bermasalah, terutama dalam hal sync antara gerak bibir dan suara serta beberapa dubbing yang terasa sekali tak dilakukan oleh sang aktor sendiri (untungnya bukan untuk peran-peran utama dan sebenarnya tergolong minor).
S&P memang masih punya kendala di sana-sini, tapi sekedar sebagai komedi satire yang menggelitik sekaligus cerdas, masih berhasil. Setidaknya ada sesuatu yang cukup segar di genre remaja film Indonesia. Bahkan mungkin masih layak menjadi salah satu gem film Indonesia di tahun 2017 ini so far. 
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates