Saturday, April 29, 2017

The Jose Flash Review
Seteru

Di peta perfilman Indonesia, nama Hanung Bramantyo seolah sudah menjadi semacam jaminan mutu. Tak hanya menangani proyek-proyek komersial yang ambisius dari PH-PH besar dan karya-karya idealis yang kerap diselipi kegundahan-kegundahan personal, Hanung bersama Dapur Film-nya tak  menolak tawaran proyek-proyek daerah maupun instansi tertentu. Di tangan Hanung (dan tim Dapur Film-nya), proyek-proyek yang kerap dianggap sebagai ‘pesanan’ tersebut terbukti menjadi karya yang tetap tergarap serius, baik dari segi penyusunan naskah, konsep, sampai teknis eksekusi. Pengejar Angin (2011 - Hanung sebagai produser sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Hestu Saputra) dan Gending Sriwijaya (2013) menjadi salah satu buktinya. Di tahun 2017 dimana hanya berselang seminggu dari perilisan film biopic ambisius-nya, Kartini, Hanung juga merilis Seteru, sebuah drama aksi remaja yang bertujuan mengkampanyekan program Bela Negara dari Kementrian Pertahanan. Dibantu oleh Senoaji Julius (asisten sutradara Hanung di Kartini yang pernah menangani Turis Romantis) sebagai co-director, Seteru didukung pula oleh aktor senior, Mathias Muchus, Alfie Alfandy (Hijrah Cinta), serta aktor-aktris muda pendatang baru yang potensial, seperti Bio One (Sule Ay Need You), Yusuf Mahardika, atlet renang peraih medali emas di SEA Games 2013 dan medali perunggu di SEA Games 2015, Triady Fauzi Sidiq, serta atlet timnas voli di SEA Games 2013, Yolla Yuliana.

Geng dari SMA Kesatuan Bangsa yang didominasi siswa keturunan kelas menengah ke atas dan SMA Budi Pekerti yang didominasi siswa pribumi kelas menengah ke bawah dikenal sering tawuran sejak lama. Kedua kepala sekolah akhirnya memutuskan untuk mewajibkan kedua geng ini dibina di Batalyon Infantri 403 Wirasada Pratista. Awalnya masih sering bentrok tapi setelah pelatihan demi pelatihan, keenam pelajar ini ditantang oleh Letnan Satu Makbul yang dikenal keras terhadap anak-anak buahnya  untuk menjadi satu tim futsal. Jika berhasil mencetak satu gol saja, mereka boleh keluar dari program. Keberhasilan mereka membuat Letnan Kolonel Rahmat beride untuk mengikutkan ke kompetisi nasional. Kerjasama tim dan persahabatan pun mulai terjalin. Namun konflik antara kedua kubu belum berakhir karena anggota geng masing-masing sudah menunggu untuk saling balas dendam. Martin Tan dan Ridwan pun berada pada persimpangan antara memilih teman dari geng lama atau tim baru mereka.
Sebagai sebuah film yang memang bertujuan untuk mengkampanyekan program Bela Negara, Seteru memang masih menyampaikannya secara eksplisit dan preachy. Namun jangan buru-buru skeptis dulu. Nyatanya Seteru punya konsep dan naskah yang tergarap baik dari Bagus Bramanti. Dimulai dari pemilihan fenomena tawuran pelajar yang masih faktual dan bisa menjadi setup yang masuk akal. Kemudian pemilihan formula penyatuan dua kubu yang awalnya saling bermusuhan kemudian menjadi satu tim hingga justru bersahabat dekat terasa paling tepat, meski harus diakui tergolong formulaic di tema sejenis. Prosesnya tertata natural dan dikembangkan dengan pace yang pas. Pun juga pembagian porsi karakter yang tergolong seimbang. Dari enam karakter yang ada memang hanya dua yang diberi kedalaman serta porsi lebih dan dengan perkembangan karakter yang tertata baik. Namun sisanya pun ternyata cukup noticeable dan mudah diingat. Ini bukan pekerjaan mudah, tapi berhasil dilakukan di sini. Tentu saja faktor diversity menjadi salah satu faktornya, sekaligus menjadi pembawa misi kebhinekaan.
Namun tak bisa dipungkiri Seteru masih memiliki beberapa elemen yang terasa kelewat disengaja. Ini terasa sekali ketika Arini menemukan sebuah fakta tentang sang kakak yang menjadi titik balik karakter. Bisa dipahami ini adalah upaya untuk menyelesaikan konflik karakter Arini yang sebenarnya tergolong ‘hanya’ sub-plot. Pertandingan-pertandingan futsal yang digelar pun masih mengikuti pattern struktur di genre sport pada umumnya. Pun juga beberapa aksi pertandingan masih terasa sengaja stagged.
Meski tergolong pendatang baru, keenam aktor pengisi karakter utama ternyata tampil layak. Mungkin memang belum tergolong brilian karena faktor karakter-karakter yang tipikal. Namun kesemuanya tampil natural, luwes, dan convincing. Apalagi Bio One sebagai Martin Tan dan Yusuf Mahardika sebagai Ridwan yang menjadi highlight utama. Keduanya sudah mampu menyampaikan kedalaman karakter lebih sehingga cukup mengundang simpati. Alfie Alfandy pun cukup berkharisma sebagai Lettu Makbul meski mungkin tak se-memorable karakter-karakter utama. Tak ketinggalan, tentu saja Mathias Muchus yang tampil sebagai Letkol Rahmat dengan kekuatan kharisma seperti biasa kendati sebenarnya punya porsi yang tak terlalu banyak.
Teknis Seteru pun tergarap lebih dari layak. Mulai dari sinematografi Satira Kumianto yang bercerita dengan efektif dan camera work yang cukup dramatis hingga editing Wawan I Wibowo yang menjalankan plot dengan pace tepat sehingga nyaman diikuti dan terasa tersusun rapih. Music score Krisna Purna cukup mendukung ketegangan, keseruan, kehangatan, serta kemenangan meski sebenarnya terdengar terlalu familiar. 

Ya, tak bisa dipungkiri Seteru memang masih menjadi film kampanye yang terlalu eksplisit dalam menyampaikan pesannya dan mungkin juga beberapa merasa preachy. Namun ia tak melupakan kaedah-kaedah storytelling yang meski formulaic tapi tertata dan dikembangkan dengan baik. Setidaknya spirit yang diusung Seteru membuat penonton yang bahkan masih awam (atau sudah terlanjur punya persepsi negatif duluan) tentang program Bela Negara, menjadi lebih tertarik dan memahami bagaimana seluk-beluknya. 
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates