Friday, April 7, 2017

The Jose Flash Review
Night Bus


Thriller bukanlah genre yang populer di film Indonesia meski ‘saudara dekat’-nya, horror, justru menjadi salah satu genre yang paling favorit. Mungkin ada baiknya film-film thriller perlu ‘menjual diri’ dengan label horror dan menambahkan formula-formula horror dasar sebagai strategi memperkenalkan thriller ke penonton Indonesia secara perlahan. Namun ke-‘belum populer’-an thriller tidak menyusutkan niat sineas-sineas kita untuk menyuguhkan thriller yang berbobot. Joko Anwar beberapa kali mempresentasikan thriller berkelas internasional, misalnya lewat Kala: Dead Time, Pintu Terlarang, dan Modus Anomali. Ada juga Midnight Show dan bahkan Rumah Dara yang sebenarnya basically thriller.

Tahun ini secara istimewa kita disuguhi thriller dengan tema yang lebih langka lagi, yaitu konflik politik. Di luar Indonesia, yang paling notable ada The Year of Living Dangerously (1982 - dibintangi Mel Gibson dan kebetulan bersetting di Indonesia meski syuting dilakukan di Filipina) dan terbaru, No Escape (2015 – dibintangi Owen Wilson). Digagas oleh Darius Sinathrya dan Teuku Rifnu Wikana, meski Night Bus (NB) menggunakan nama wilayah fiktif, Sampar, sebenarnya cukup jelas merujuk ke wilayah mana jika dianalisis dari latar belakang budaya dan kemiripan kejadiannya. Dengan naskah yang disusun oleh Rahabi Mandra (Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar, Hijab, 2014: Siapa di Atas Presiden?, dan Trinity: The Nekad Traveler) dan Teuku Rifnu Wikana sendiri, serta sutradara Emil Heradi (Kita vs Korupsi dan Sagarmatha), NB menghadirkan deretan nama-nama populer seperti Yayu Unru, Torro Margens, Alex Abbad, Tyo Pakusadewo, Donny Alamsyah, Tino Saroengallo, sampai Lukman Sardi, sekaligus nama-nama baru.
Sebuah bus nekad untuk menangkut penumpang menuju Sampar, daerah yang sedang menjadi momok sejak kejadian kontak senjata beberapa minggu sebelumnya. Sang sopir, Amang, merasa perlu kembali bekerja untuk menafkahi keluarga. Bagudung, sang kondektur, selalu setia menemani Amang karena merasa balas budi karena menyelamatkan hidupnya dulu. Di antara penumpang, ada Yuda Ardiman, seorang reporter, Annisa, seorang mahasiswi kedokteran, seorang nenek tua bernama Nur bersama cucunya, Laila yang berniat untuk ziarah di Sampar, pasangan muda yang sedang mencari peruntungan bekerja di Sampar, Rifat dan Mala, Idrus yang berasal dari LSM, Luthfy, seorang bapak tua buta, dan Umar yang selalu merasa semuanya bisa dibeli dengan uang. Di tengah perjalanan, satu per satu halangan menghadang. Mulai dari munculnya sosok misterius bernama Mahdi yang berlumuran darah, pihak militer, pihak pemberontak, hingga penyusup oportunis yang menjadi buruan kedua pihak yang bertikai. Perjalanan menjadi begitu mencekam bagi para penumpang yang tak berdosa tapi harus terjebak di tengah pertikaian.
NB membangun plotnya dengan struktur yang rapih sehingga nyaman dan cukup jelas untuk diikuti. Mulai perkenalan karakter-karakter yang didesain dengan karakteristik yang jelas dan serba seimbang, sehingga menghasilkan character investment yang cukup dan merata untuk semua karakter yang ada. Pun juga dengan pemilihan yang beralasan atas karakter mana yang survive dan mana yang dimatikan (bukan berarti predictable ya. Maksudnya jika mau dianalisis lebih mendalam, ada alasan dan tujuan yang jelas atas nasib para karakternya). Urutan konflik sebenarnya juga disusun dengan grafik ketegangan yang meningkat, tapi mungkin karena faktor ‘break’ antar-konflik yang agak terlalu lama membuat setiap konflik yang terjadi berada pada level grafik yang kurang lebih setara. Alhasil thrill yang dirasakan penonton bisa jadi seolah pengulangan dari konflik ke konflik, padahal sebenarnya berada pada susunan yang tepat dari segi struktur plot. Namun bagaimanapun juga, secara keseluruhan Emil masih berhasil mengarahkan momen-momen thriller-nya menjadi terasa benar-benar mencekam, bahkan mungkin malah stressful bagi beberapa penonton. Tak ketinggalan sisi-sisi emosional yang berhasil dibangkitkan oleh para aktor-aktrisnya. Konklusi tentang konsekuensi konflik yang harus ditanggung oleh pihak-pihak tak berdosa, bahkan dari kerabat pihak yang berkonflik, menjadi sebuah kontemplasi yang netral, tanpa membela salah satu pihak, lewat sebuah adegan yang begitu menyentuh emosional.
Sayangnya NB masih punya sejumlah kekurangan, terutama di teknis yang membuatnya kerap agak ‘mengganggu’ penonton. Yang paling jelas terasa adalah pencahayaan yang terlalu gelap sehingga (justru) di beberapa momen klimaks sulit diikuti detail adegan aksinya, yang tentu saja mengurangi thriller yang ingin disuguhkan. Kurangnya cahaya juga membuat gambar menjadi terlihat pecah-pecah pasca color grading. Perhatikan spot-spot yang mendapatkan cahaya kelap-kelip warna-warni yang malah terlihat seperti penggabungan gambar yang tidak rapi.
Kehadiran karakter-karakter figuran yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah film (yang paling jelas terlihat adalah seorang pria gemuk dan dua orang wanita yang duduk di bangku depan) padahal di babak perkenalan karakter tidak ada sama sekali, juga tanpa adegan kapan mereka masuk ke dalam bus. Lagipula di tengah-tengah suasana konflik, agak mustahil ada warga sipil yang tiba-tiba menumpang di tengah jalan begitu saja.
Detail lain yang masih sangat kurang adalah color grading yang sangat terasa tidak merata atau tidak konsisten, bahkan di adegan yang sama dengan angle atau shot berbeda. Untuk penggunaan matte stock yang digabungkan dengan gambar bergerak, menurut saya masih bisa dimaklumi dan terlihat cukup baik meski tak sampai 100% mulus.
Salah satu kekuatan terbesar NB adalah penampilan yang luar biasa dari keseluruhan aktor-aktris yang mendukung, baik yang tergolong papan atas maupun pendatang baru. Teuku Rifnu Wikana kali ini bisa menyeimbangkan dengan porsi yang pas untuk karakter komedik dan serius pada sosok Bagudung. Begitu juga sosok Amang yang seperti biasa, dihidupkan oleh Yayu Unru dengan sangat mengesankan. Edward Akbar sebagai Yuda, Hana Prinantina sebagai Annisa, Rahael Ketsia sebagai Mala, dan Arya Saloka Perwira sebagai Rifat, masing-masing punya momen emosional yang termanfaatkan dengan sangat baik. Agus Nur Amal sebagai Luthfy menjadi pencuri perhatian yang begitu kuat. Sementara Torro Margens, Alex Abbad, Tyo Pakusadewo, Donny Alamsyah, Ahmad Ramadhan Alrasyid, Arswendi Nasution, Egi Fedly, Ade Firman Hakim, dan Tino Saroengallo pun memberikan performa yang sama-sama memorable. Tak lupa Laksmi Notokusumo sebagai Nur dan cucunya, Laila yang diperankan oleh cukup luwes oleh Keinaya Messi Gusti.
Sinematografi Anggi Frisca sangat efektif menghadirkan momen-momen thriller dan emosionalnya. Editing Kelvin Nugroho dan Senton Sahid pun mendukung momen-momen thrillernya dengan timing yang serba pas dan laju plot yang berjalan cukup lancar di balik konflik yang berjejer cukup banyak dengan timing jeda antar konflik yang juga terjaga konsisten sebagai satu keutuhan film. Score music Yovial Tri Purnomo Virgi menghadirkan orchestra yang megah, menggiring nuansa mencekam, menggugah emosi, lengkap dengan ornamen-ornamen etnik yang membuatnya begitu ‘Indonesia’. Sound mixing terdengar cukup seimbang dan konsisten, termasuk dalam hal pembagian kanal surround.
Lebih dari sekedar soal ide cerita dan effort, dengan pengerjaan terkait naskah dan penyutradaraan yang tergarap dengan sangat baik nan rapih, NB jelas suguhan thriller yang teramat sangat jarang ditemui di perfilman Indonesia. Memang masih ada beberapa masalah, terutama di teknis, yang masih agak ‘mengusik’ perhatian, tapi above all, NB sangat layak mendapatkan atensi sekaligus apresiasi lebih. 
Lihat data film ini di IMDb dan filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates