Tuesday, April 18, 2017

The Jose Flash Review
The Neighbor

John bekerja untuk bos mafia besar di Cutter, kota kecil di Mississippi. Tugasnya hanya mengganti plat nomor mobil para kurir yang mengantar narkoba. Berniat meninggalkan dunia hitam selama-lamanya, ia dan sang istri, Rosie, memutuskan untuk berhenti setelah uang mereka terkumpul cukup. Sehari sebelum pekerjaan terakhir, mereka berdua kedatangan tetangga yang misterius, Troy. Perkenalan yang canggung tersebut membuat Rosie semakin curiga tentang sosok Troy. Hingga hari H rencana kabur dilancarkan, John menemukan Rosie hilang dari rumahnya. Maka John nekad masuk ke rumah Troy. Tak hanya Rosie, ia juga menemukan rahasia lain dari Troy. Permainan hide-and-seek yang mendebarkan pun dimulai.

Secara premise, apa yang ditawarkan oleh The Neighbor memang tergolong sangat standard dan formulaic. Bahkan mungkin ‘rahasia’ dari sosok misterius bisa dengan mudah ditebak dari awal. Namun sebenarnya tak jadi masalah selama masih mampu menjadi sajian thriller yang mencekam, mendebarkan, maupun mengerikan. Apalagi nama Marcus Dunstan sebagai penulis naskah sekaligus sutradara sudah punya reputasi yang cukup di genrenya (The Collector dan The Collection), dibantu Patrick Melton yang sudah menjalin kerjasama dengannya sejak Saw IV-VI.
Meski sempat mengalami pace yang lambat di awal, terutama dalam memperkenalkan karakter-karakternya dan konflik yang dihadapi, The Neighbor berhasil menjadi sajian thriller hide-and-seek yang mendebarkan, dengan beberapa jump scare yang tergolong berhasil, bangunan suasana creepy yang… yah boleh lah, dan sedikit gore yang meski masih tergolong ‘mild’ (baca: tak ditampilkan terlalu vulgar), tapi cukup untuk membuat saya beberapa kali memalingkan pandangan. Adegan ‘kucing-kucingan’-nya bisa lebih maksimal memanfaatkan ‘labirin’ yang dibangun, tapi hasil akhirnya sudah tergolong ‘just okay’.
Dengan elemen-elemen thriller yang sebenarnya tergarap baik, The Neighbor pada akhirnya tak terasa cukup mengesankan. Mungkin faktor character investment yang serba terlalu single-layered, tak ada kedalaman lebih, yang membuat penonton sulit bersimpati akan nasib mereka, selain sekedar simpati atas dasar kemanusiaan umum semata. Karakter-karakter yang single-layered ini pula yang membuat banyak visual style dan shot, terutama di klimaks hingga konklusi, terasa sekedar style-over-substance. Belum lagi visual style a la film 8 mm yang memang menjadi sedikit bagian dari plot tapi penggunaannya over-used. Mengesankan sekedar ‘gaya-gaya’-an untuk memper-creepy suasana yang ternyata belum sepenuhnya berhasil.
Look deeper, sebenarnya premise yang sangat standard tersebut punya konsep yang menarik tentang ‘we all has our dirty secret’, yang membuat posisi John dan Rosie sebagai protagonis tak sepenuhnya punya hak untuk men-judge Troy sebagai antagonis. Konsep ini pula yang membuat John dan Rosie tak punya pilihan untuk menghubungi pihak berwajib. Kemudian masih ada konsep ‘one dirty country’ yang seolah membuat seisi kota Cutter sama-sama kotornya dan tak bisa dipercaya. Tentu ini menjadi modal yang baik untuk membangun kengerian dan ketegangan menjadi lebih lagi. Sayangnya, kedua konsep ini pada akhirnya menjadi kurang noticeable gara-gara kemasan terluarnya yang tidak memberikan ruang untuk menjadi stand-out. In other word, The Neighbor masih belum bisa menerjemahkan konsep-konsep menarik tersebut menjadi sebuah visualisasi yang solid.
Penampilan aktor-aktris yang terlibat cukup layak di balik karakter-karakter yang terkesan hanya single-layered. Setidaknya masing-masing masih menjalankan beban peran masing-masing dengan baik sesuai porsi masing-masing. Josh Stewart sebagai John dengan dilematis good guy di balik pekerjaan ‘kotor’-nya. Alex Essoe sebagai Rosie pun punya momen yang cukup membangkitkan emosi penonton. Bill Engvall menampilkan kharismatik villain yang cukup kuat, misterius, dan sedikit mengerikan. Ronnie Gene Blevins sebagai Harley dan Luke Edwards sebagai Cooper di lini villain berikutnya tampil cukup fair dan noticeable. Terakhir, tak boleh melupakan Skipp Sudduth sebagai Neil dan Jaqueline Fleming sebagai Opsir Burs yang lumayan mencuri perhatian di balik porsi perannya yang tak terlalu banyak.
Overall, The Neighbor tak punya kendala berarti di teknis, kendati juga tak ada yang benar-benar istimewa. Sinematografi Eric Leach terasa sekedar cukup efektif dalam menyampaikan storytelling, tanpa ada inovasi atau eksplorasi yang mungkin bisa membuat banyak momen menjadi lebih mendebarkan, seperti yang dilakukan Don’t Breathe, misalnya. Editing Andrew Wesman pun untuk urusan timing thriller dan jump-scare masih berhasil. Hanya saja banyak sekali transisi cut to black yang sebenarnya tak perlu dan bisa menjadi transisi langsung antar adegan yang lebih mempertahankan tensi. Musik dari Charlie Clouser menyumbangkan ‘bunyi-bunyian’ untuk menghadirkan nuansa creepy. Hasilnya memang cukup creepy, tapi ketika digabungkan dengan visual, masih terasa mentah sebagai satu kesatuan. Sound mixing agak sedikit minus di kejernihan beberapa dialog, tapi sound effect beserta efek surround-nya terdengar lebih layak.
Sebagai sebuah sajian thriller (dan sedikit bumbu ke arah horror), The Neighbor masih boleh dikatakan berhasil. Setidaknya sekedar sebagai instant entertainment bagi penggemar thriller/horror. Namun dengan potensi-potensi yang masih banyak yang bisa dimaksimalkan lagi, termasuk konsep-konsep menarik yang dieksekusi dengan lebih solid, maupun character investment yang lebih mendalam, tak heran jika Anda akan mudah melupakannya dalam waktu singkat. Still recommended enough, but just set your expectation right. The Neighbor tayang di bioskop-bioskop non-XXI Indonesia mulai Rabu, 19 April 2017 di bawah bendera distribusi Feat Pictures. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates