Sunday, April 9, 2017

The Jose Flash Review
Miss Sloane

Politik dan court drama bukanlah genre yang populer. Selain temanya yang cenderung berat dan/atau butuh pengetahuan spesifik untuk memahaminya, image membosankan membuat kedua tema ini cenderung dijauhi penonton. Padahal banyak court drama dan film politik yang sebenarnya telah diramu sedemikian rupa sehingga dengan mudah dipahami oleh penonton terawam sekalipun. Miss Sloane (MS) yang naskahnya masuk top five Hollywood’s 2015 Black List dan ditulis oleh satu orang saja, yaitu Jonathan Perera. Menariknya, Perera belum pernah menulis naskah film apapun sebelumnya. Naskah MS mulai ditulisnya saat masih berusia 30 tahun dan tinggal di Asia. Siapa sangka naskah debutan ini menarik minat banyak produser. Bahkan seorang Steven Spielberg mengaku fan berat naskah tersebut dan sempat berniat menyutradarainya. Karena faktor jadwal yang sudah terlampau padat, John Madden (Shakespeare in Love, The Debt, The Best Exotic Marigold Hotel) akhirnya terpilih untuk duduk di bangku sutradara. Nama Jessica Chastain menjadi satu-satunya kandidat aktris pengisi karakter utama menurut visi Madden. Apalagi ini merupakan kerjasama kedua antara Madden dan Chastain setelah The Debt. Didukung Mark Strong, Gugu Mbatha-Raw, dan John Lithgow, MS lantas menjadi media dan critics darling. Sempat ada isu propaganda terkait topik kepemilikan senjata api yang diangkat menjadi subjek. Bagaimanapun, kontroversi bisa menjadi media promosi yang ampuh. Setidaknya menjadi bahan pembicaraan dan/atau menumbuhkan rasa penasaran. Untuk film yang tergolong segmented, ini jelas punya keuntungan tersendiri.

Elizabeth Sloane dikenal sebagai seorang pelobi politik dengan reputasi yang tak terkalahkan untuk firma Cole Kravitz & Waterman. Ia memegang teguh kunci yang ia percayai untuk memenangkan sesuatu. Tantangan muncul ketika firmanya di-hire oleh pengusaha pabrik senjata api, Bob Sanford untuk menentang pengesahan undang-undang kepemilikan senjata api. Sloane yang merasa tidak setuju dengan ide ini lantas menerima pinangan firma pesaing yang dipimpin oleh Rodolfo Schmidt, Peterson Wyatt, yang justru mendukung pengesahan undang-undang tersebut. Strategi pun dilancarkan untuk mengalahkan Cole Kravitz & Waterman dan beberapa anggota tim di firma yang tidak lagi ‘mengikuti’ sloane. Bahkan Sloane tak segan-segan memanfaatkan salah satu anggota timnya yang punya masa lalu terkait senjata api, Esme, sebagai pion. Sementara Cole Kravitz & Waterman tak kalah licik. Rahasia Sloane ketika menangani kasus untuk mereka dulu dimanfaatkan untuk mengalahkan Peterson Wyatt sekaligus menjatuhkan reputasi Sloane.
Ada alasan mengapa nama Miss Sloane dijadikan judul. Alih-alih berfokus pada pertarungan dua firma di kasus pengesahan undang-undang kepemilikan senjata api, MS memilih untuk menitik-beratkan pada karakter Elizabeth Sloane sebagai daya tarik utamanya. For that purpose, naskah memberikan detail yang luar biasa untuk membuat penonton tak sekedar love or/and hate terhadap karakternya, tapi juga memahaminya lebih dalam. Sebuah character investment yang berhasil mengundang simpati penonton, terlepas dari neraca baik-buruknya karakter Elizabeth Sloane lebih berat ke arah mana. Tiap detail kasus yang dijalankan sebagai laju plot dimanfaatkan untuk lebih jauh mengenal karakter Sloane sekaligus memahami konteks keseluruhan kasus. Bagi penonton yang familiar dengan tema court-drama dan politik, mungkin ‘kejutan-kejutan’ atas licik dan kotornya dunia politik sudah menjadi sesuatu yang biasa, tak ada yang istimewa. Bahkan mungkin kebanyakan bisa dengan mudah ditebak. Sebaliknya bisa juga menjadi ‘kejutan-kejutan’ menarik bagi penonton yang belum punya banyak referensi tema sejenis. Naskah Perera dan pengarahan dari Madden membuat laju dan pace plot-nya mengalir dengan porsi yang serba pas dan jika Anda tertarik, sebenarnya sangat mudah dipahami dan sama sekali tak membosankan.
Lantas ketika mencapai titik konklusi, penonton diberi kebebasan untuk menganalisis kesimpulan atas karakter Elizabeth Sloane sekaligus pilihan untuk bersimpati terhadap karakternya ataupun sebaliknya. Detail yang lebih dari cukup untuk membantu Anda memutuskan. Tak ada kecenderungan film untuk membela atau memojokkan sosok Sloane, terutama ada justifikasi yang sesuai dan layak untuk diapresiasi di balik segala sepak terjangnya yang tak jarang negatif.
Dipercaya mengisi peran utama yang begitu penting dan kuat, Jessica Chastain menjalankan amanat tersebut dengan penampilan yang luar biasa. Bisa jadi malah salah satu performa akting terbaik yang pernah dilakoninya, baik faktor porsi peran maupun kualitas akting. Segala detail dan kompleksitas karakternya ditunjukkan dengan begitu jelas. Tak hanya secara verbal, tapi juga gesture dan ekspresi wajah. Di lini pendukung, sebagian besar aktor-aktris tampil tak kalah menonjol. Misalnya Gugu Mbatha-Raw yang membuat karakter Esme punya daya tarik yang kuat, Mark Strong yang kharisma aktingnya makin menguat sebagai Rodolfo Schmidt, Sam Waterston sebagai George Dupont, dan John Lithgow sebagai Ron M. Sperling dengan villainous charisma-nya.
Dalam menyampaikan ‘misi-misi’-nya, MS tak banyak memanfaatkan teknis yang unik. Mulai sinematografi Sebastian Blenkov yang sekedar mampu menyampaikan storytelling-nya dengan efektif sampai editing Alexander Berner yang membuat alur campurannya tak membingungkan, justru terus membangun rasa penasaran penonton. Score dari Max Richter pun tak mau mendramatisir adegan-adegan secara berlebihan. Sekedar mengiringi tensi yang sudah terbangun lewat kekuatan akting para aktor, keefektifan sinematografi, dan ketepatan timing editing menjadi sedikit punya ‘rasa’ lebih.
MS adalah salah satu contoh bagaimana cerita yang dibangun lewat character investment lewat laju plot (yang notabene kelewat serius dan membosankan) bisa menjadi begitu efektif, dijelaskan dengan simple, dan tetap punya daya tarik yang mengikat penonton. Memang treatment penyampaiannya tergolong sangat biasa, tak ada kejutan-kejutan berarti (di genre dan tema-nya), dan minim dramatisasi, tapi overall masih cukup thoughtful. Mau tak mau meninggalkan perasaan ingin menganalisis karakter Elizabeth Sloane dari berbagai aspeknya. Tentu saja penggemar Jessica Chastain pantang untuk melewatkan salah satu performa terbaiknya so far, dan malah mungkin, ever.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates