Thursday, April 20, 2017

The Jose Flash Review
Lavender


Jane, seorang fotografer wanita, seorang istri dan ibu satu putri, mulai mengalami halusinasi yang mungkin merupakan kepingan-kepingan petunjuk atas apa yang dilaluinya ketika masih kecil, setelah mengalami kecelakaan mobil tunggal.

Basically, hanya itu premise sekaligus sinopsis dari Lavender, film drama thriller yang disutradarai oleh Ed Gass-Donnelly, sutradara Kanada yang mulai dikenal lewat film This Beautiful City (2007) dan The Last Exorcism Part II (2013) dan penyusunan naskahnya turut dikerjakan oleh Colin Frizzell. Tergolong generik di genre thriller mystery, memang. Namun sebenarnya tak jadi masalah selama naskah punya balutan misteri yang menarik untuk diungkap lewat perkembangan plot yang bikin penasaran. Sayang, Lavender bukan salah satunya. Sebagian besar durasinya diisi oleh halusinasi-halusinasi surreal yang dialami Jane secara berulang (tapi dengan sedikit variasi) yang tak membuat plot berjalan kemana-mana, apalagi penyingkapan misteri layer demi layer seperti yang diharapkan rasa penasaran penonton. Pengungkapan misteri yang ternyata biasa-biasa saja, masih ditambah aftermath misi penyelamatan pun tak menambah gairah apa-apa kepada penonton yang sudah terlanjur jengah dengan segala halusinasi bertubi-tubi yang tak punya batas jelas antara halusinasi dan realita.
Jika mau dianggap sebagai sedikit ‘penyelamat’, nama aktor-aktris yang cukup populer di lini terdepannya bisa jadi salah satunya. Terutama Abbie Cornish (Limitless, Sucker Punch, Seven Psycopaths, RoboCop (2014)) yang porsinya paling mendominasi. Di tengah pengembangan karakter yang tidak jelas, aktingnya masih meyakinkan kepada penonton bahwa karakternya punya kedalaman lebih. Terlepas sebenarnya memang ada atau tidak. Sebaliknya, Dermot Mulroney sebagai Patrick terkesan mubazir dengan porsi peran yang ternyata tak terlalu banyak (apalagi berkesan) kendati punya andil cukup penting dalam cerita. Begitu juga dengan Diego Klattenhoff sebagai Alan yang kehadirannya terasa tenggelam kendati sebenarnya punya porsi cukup.
Di porsi yang lebih sedikit, Justin Long masih beruntung memerankan karakter Liam yang berakhir positif. Setidaknya dengan kehadirannya sebagai aktor yang cukup populer, bisa sedikit membuat karakternya noticeable. Terakhir, aktris cilik Lola Flanery sebagai Alice menjadi pencuri perhatian tersendiri sepanjang film, terlebih karena performa yang tergolong baik untuk ukuran usianya.
Sinematografi Brendan Steacy masih suportif terhadap visualisasi-visualisasi surreal-nya desain produksi Oleg M. Savytski dengan camera work yang dramatis pula. Meski jika dibandingkan dengan film-film sejenis, tak juga menjadi istimewa. Editing Dev Singh membuat pace Lavender sekedar sesuai dengan nuansa serta feel yang ingin dibangun. Soal hasil akhirnya ternyata melelahkan, itu karena perkembangan plot yang memang bergerak kelewat lambat. Terakhir, musik dari Sarah Neufeld dan Colin Stetson pun sekedar mengiringi nuansa-nuansa eerie dan suspense, tanpa punya keunikan maupun daya memorable tersendiri, termasuk alunan lagu daerah Inggris yang dijadikan judul, Lavender’s Blue, yang tak memberikan impact tertentu setelah film berakhir.
Kendati tergolong generik, plot Lavender sebenarnya masih punya potensi menjadi sajian misteri yang menarik jika dikembangkan dengan layak dan skill storytelling yang lebih tajam. Sayangnya Ed Gass-Donnelly masih belum mencapai level tersebut di Lavender. Masih cukup jauh, malah.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates