Sunday, April 23, 2017

The Jose Flash Review
The Last Word

Kisah persahabatan lintas generasi yang justru membuat masing-masing menemukan diri sendiri termasuk sering diangkat. Mulai era Harold & Maude (1971) hingga yang terakhir yang meninggalkan kesan cukup mendalam, The Intern (2015). Belum lagi dengan embel-embel romance seperti An Education (2009) dan karya klasik Bertolucci, Last Tango in Paris (1972). Sutradara Mark Pellington (Arlington Road, The Mothman Prophecy) pun tahun 2017 ini mencoba memasangkan aktris senior, Shirley MacLaine (The Apartment, Terms of Endearment) dengan Amanda Seyfried (Mamma Mia, Les Miserables), dari naskah yang disusun oleh Stuart Ross Fink. The Last Word (TLW) mungkin memang sebuah film kecil tapi menjadi sajian persahabatan dan self-discovery yang menarik.

Melihat sebuah artikel orbituari (berita kematian) di koran ketika sedang depresi membuat Harriet tertarik. Sebagai pengidap control-freak, ia ingin tahu persis apa yang ditulis di orbituari ketika telah meninggalkan dunia kelak. Maka ia menyewa seorang penulis berita orbituari di sebuah media yang menjalin hubungan erat dengan agensi advertisingnya dulu, Anne. Ia pun mulai melakukan observasi tentang kehidupan Harriet selama ini, mulai keluarga, teman-teman, hingga kolega. Sayangnya tak satupun mampu memberikan gambaran positif terhadap sosok Harriet. Tidak puas dengan hasil observasi dan tulisan Anne, Harriet memutuskan untuk mulai melakukan hal-hal baik untuk diisi di orbituarinya. Dimulailah persahabatan dengan seorang gadis cilik menjelang remaja yang gemar menggunakan kata-kata kasar, Brenda. Bertiga mereka saling menemukan dan memperbaiki diri.

Plot yang ditawarkan TLW mungkin tergolong template di temanya. Namun yang menjadi menarik kemudian adalah interaksi antar karakter yang didesain menarik, terutama karakter Harriet yang sinis, nyinyir, tapi menggelitik dan ada benarnya juga. Dibenturkan dengan konflik cliché dari Anne, tipikal anak muda yang takut mewujudkan impian dan memilih berada pada zona nyaman, menjadi dasar relasi yang dikembangkan secara menggelitik, natural, reflektif, tapi in the end, begitu hangat. Pergerakan plot tergolong santai, membuat beberapa penonton yang tak sabaran dan kurang menikmati dialog-driven movie merasa bosan. Namun jika Anda tergolong menikmati tipe yang demikian, TLW begitu enjoyable dalam santainya.

Karakter Harriet yang begitu menarik tentu tak lepas dari penampilan Shirley MacLaine yang begitu menonjol. Sinis, menyebalkan, tapi tetap mampu mengundang senyum atau bahkan tawa, dan mengundang simpati tersendiri. Malahan bisa dibilang Shirley lah nyawa utama dan terbesar dari TLW. Amanda Seyfried masih memainkan karakter tipikal yang kerap ia perankan, tapi mampu mengimbangi sinisme Shirley dan bahkan menjalin chemistry yang hangat, baik dengan Shirley maupun dengan bintang cilik, Ann Jewel Lee Dixon. Tak ketinggalan penampilan Thomas Sadoski, Anne Heche, Tom Everett Scott, dan Phillip Baker Hall yang noticeable di balik peran singkat masing-masing.

Daya tarik lain datang dari pemilihan soundtrack yang berkelas, seiring dengan karakter Harriet yang digambarkan punya selera musik bagus. Mulai Waterloo Sunset dari The Kinks sampai Woman dari Rosie Lowe. Sinematografi Eric Koretz memberikan shot-shot standard yang sekedar cukup efektif dalam bercerita. Begitu juga editing Julia Wong yang membuat jalinan plotnya mengalir lancar di balik pace yang santai. Momen-momen emosional cukup ‘mengundang’ meski tak sampai kelewat dramatis. Score music Nathan Matthew David makin mengalirkan flow film dan memberikan sedikit rasa lebih pada balutan dramanya.

TLW mungkin memang hanyalah film kecil, sederhana, ringan, dan templatic, tapi ternyata masih mampu menjadi sajian yang menarik untuk disimak. Jalinan plot yang reflektif, misalnya soal kesempatan untuk memperbaiki hidup yang ternyata selalu ada, menemukan makna hidup, hingga keberanian untuk mewujudkan impian. Pesan-pesannya memang masih ada yang disampaikan secara verbal, tapi lebih merupakan penegasan atau highlight dari pesan yang sudah terkandung dalam jalinan plot. Dengan dialog-dialog witty yang cerdas sekaligus menggelitik, TLW bak sebuah hidden gem. Cocok sebagai reminder yang hangat sekaligus feel-good atau sekedar pilihan tonton di kala bersantai. Ringan, sederhana, tapi berisi.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates