Friday, April 21, 2017

The Jose Flash Review
Kartini

Di antara pahlawan-pahlawan nasional terutama yang wanita, nama R. A. Kartini hingga kini masih berada pada jajaran lini terdepan. Bahkan punya hari nasional khusus yang diperingati tiap tahun. Namun untuk popularitas sebesar itu, sosok Kartini bagi kebanyakan orang Indonesia mungkin hanya dikenal sebagai pahlawan pejuang emansipasi wanita yang punya buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Tak banyak yang tahu seperti apa perjuangan yang ia lakukan sebenarnya. Pun juga tak banyak yang tertarik mengangkat kisah hidupnya dalam medium audio-visual. Mungkin ada kebingungan seperti apa bentuk penyampaiannya atau bagaimana memilih range waktu yang tepat untuk merangkum perjuangannya. Mungkin juga faktor tak ada bentuk ‘perang’ yang bisa ditampilkan secara kongkret, yang bisa menambah nilai sisi hiburan dan menghindarkan dari drama yang kelewat serius atau depresif sesuai kondisi eranya. Tahun lalu MNC Pictures sempat mencoba mengangkatnya lewat karakter fiktif sebagai penggerak cerita dengan Surat Cinta untuk Kartini. Sayang, mungkin momentum rilis yang kurang tepat, promosi yang kurang, dan hasil akhir yang banyak dinilai kritikus kurang memuaskan, membuatnya kurang banyak menyita perhatian.
Di saat yang hampir bersamaan, Legacy Pictures (Kapan Kawin?, Ada Apa dengan Cinta 2?) juga mengembangkan sebuah biopic tentang sosok R. A. Kartini dengan menggandeng Hanung Bramantyo sebagai sutradara dan jajaran aktor papan atas Indonesia untuk mendukung cast-nya. Mulai Dian Sastrowardoyo, Acha Septriasa, Ayushita Nugraha, Christine Hakim, Deddy Sutomo, Denny Sumargo, Dwi Sasono, Nova Eliza, Adinia Wirasti, Djenar Maesa Ayu, sampai Reza Rahadian. Dukungan cast & crew yang bak dream team membuat Kartini versi Legacy Pictures lebih menarik perhatian dan menjanjikan.
Melihat ketidak-adilan yang dilakukan terhadap sang ibu kandung, Ngasirah, Kartini tumbuh menjadi sosok yang memberontak dan kerap mempertanyakan adat yang berlaku di keluarga ningratnya. Maklum, sang ibu kandung harus rela diperlakukan bak pembantu semenjak sang suami, RM Sosroningrat, menikah lagi dengan Moeryam demi menjadi bupati Jepara dan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya; Sosrokartono, Kartini, Kardinah, dan Roekmini. Ketika berada dalam pingitan setelah menstruasi, Kartini mendapatkan inspirasi dari sang kakak sebelum berangkat ke Negeri Belanda, Sosrokartono, untuk mengenal dunia lebih luas lewat buku-buku berbahasa Belanda yang menjadi koleksinya selama ini. Kartini, bersama Kardinah dan Roekmini pun terinspirasi untuk menulis yang menarik minat koresponden dan penerbit Belanda hingga ada yang mengundangnya ke Negeri Belanda. Meski mendapat dukungan dari sang ayah, geliat Kartini, Kardinah, dan Roekmini yang dianggap menentang adat membuat Moeryam, sang kakak, Slamet, dan beberapa penghuni keraton khawatir serta berupaya menghentikan mereka dengan berbagai cara.
Hanung Bramantyo memang cukup dikenal sebagai ‘spesialis biopic’, hasil dari cukup banyak proyek biopic yang dipercayakan kepadanya, seperti Soekarno, Sang Pencerah, dan {rudy habibie}. Namun jika diperhatikan, Hanung memang terlihat berupaya memilih satu fokus untuk merepresentasikan sang sosok, tapi masih punya rentang waktu yang cukup panjang sehingga terasa kesan ‘kepanjangan’ dan mau tak mau fokus ceritanya meluber ke mana-mana. Namun di Kartini, tampaknya Hanung semakin terasah untuk memilih fokus cerita yang lebih terarah, diterjemahkan secara solid, tapi dengan kemasan yang sederhana serta tergolong ringan sehingga accessible bagi penonton terawam sekalipun.
Ia memilih rentang waktu yang efektif untuk memulai kisahnya. Setelah sedikit perkenalan kondisi keluarga Kartini yang paling berpengaruh dalam perkembangan karakternya, kita dibawa pada masa di mana Kartini mulai masa pingitan yang menjadi titik cikal bakal ‘pemberontakan’-nya. Pengembangan cerita digulir dengan sangat lancar hingga titik-titik klimaks pemicu konklusi yang memuaskan. Meski tanpa adegan ‘perang’ fisik, Kartini terbukti tetap mampu mengikat perhatian penonton lewat adegan kucing-kucingan yang cukup menegangkan, momen-momen emosional yang menyentuh, visualisasi imaginary yang menggugah, hingga flashback-flashback thought-provoking, yang membuat tak ada karakter yang benar-benar antagonis dan ada alasan rasional di balik pilihan-pilihan sikap karakter, terutama RM Sosroningrat, Moeryam, dan Ngasirah. In my opinion, flashback-flashback ini menjadi bagian penting untuk memahami kondisi sosial dan adat saat itu secara menyeluruh. Itulah yang menurut saya merupakan inti teresensial dari Kartini sebagai sebuah biopic. Itu pulalah yang membuat saya menganggap Kartini berhasil sebagai sebuah biopic. Memberikan pemahaman yang jelas, sederana, tapi menyeluruh kepada penonton, sekaligus punya sisi-sisi hiburan yang membuatnya enak diikuti, tak terasa sekedar seperti sebuah textbook yang divisualkan. Apalagi di tangan Hanung, Kartini digulirkan dengan pace yang lembut (bukan lambat, tapi sesuai dengan kebutuhan cerita, enak diikuti dengan momen-momen emosional yang dapat dirasakan secara maksimal), mengalir, dan terasa begitu bersahaja.
Performa aktor-aktris menjadi pilar kekuatan yang tak kalah suportif. Dian Sastrowardoyo mampu membuat penonton mengabaikan parasnya yang awalnya dianggap terlalu cantik dan terlalu ‘dewasa’ untuk menjelma menjadi sosok Kartini, berkat interpretasi karakter yang manusiawi, membumi, natural, tapi punya layer kedalaman lebih yang diperlihatkan dengan sangat jelas. Belum lagi ditambah momen-momen emosional yang mampu dibawakan Dian dengan menyentuh tanpa dramatisasi berlebihan. Deddy Sutomo tak hanya menampilkan kharisma dan wibawa yang luar biasa ke dalam karakter RM Sosroningrat, tapi juga punya layer kedalaman yang juga terlihat dengan jelas. Yang membuat karakternya lebih manusiawi dan punya emosi lebih, tanpa meninggalkan wibawa yang tetap kuat. Acha Septriasa sebagai Roekmini dan Ayushita Nugraha sebagai Kardinah cukup noticeable dan menarik di balik porsi peran yang tak terlalu banyak. Sebaliknya, dengan porsi yang juga tergolong sedikit, Djenar Maesa Ayu sebagai Moeryam, Christine Hakim sebagai Ngasirah, dan bahkan Reza Rahadian sebagai Sosrokartono punya momen (dan tentu saja performa dari masing-masing aktor/aktris) yang mencuri perhatian lebih. Denny Sumargo sebagai Slamet mungkin jika disandingkan dengan aktor/aktris lain yang tampil di sini tak terlalu istimewa. Namun dibandingkan peran-peran yang ia bawakan selama ini, peran Slamet adalah pencapaian tertingginya. Terakhir, Dwi Sasono mungkin sudah berusaha seserius mungkin tapi image komikal seperti yang ditampilkannya di Raksasa dari Jogja dan Shy Shy Cat masih sedikit tersisa.
Teknis Kartini terlihat tak main-main. Kesemuanya digarap dengan maksimal dan detail yang luar biasa. Mulai camera work yang bergerak mulus sesuai pace cerita dan shot-shot yang sinematis sekaligus efektif dalam bercerita, editng yang turut mendukung pace dengan tetap memberikan emosi-emosi yang pas sesuai kebutuhan, sampai desain produksi serta kostum yang begitu mendetail. Tak lupa pula scoring yang memperkuat emosi sekaligus menggugah di beberapa bagian tanpa dramatisasi berlebih, dengan membubuhkan ornamen-ornamen tradisional yang menambah kesan bersahaja. Theme song Memang Kenapa Jika Aku Perempuan yang dibawakan oleh Melly Goeslow dan Gita Gutawa menutup film dengan sahaja yang tetap terjaga, mengiringi penonton berkontemplasi.
Secara keseluruhan Kartini bisa jadi salah satu atau malah memang pencapaian tertinggi Hanung Bramantyo. Dari segi pemilihan rentang waktu yang sangat merepresentasi idealisme sosok Kartini, kepiawaian menyusunnya menjadi satu paket yang solid, mengalir lancar, lembut, sekaligus menyentuh, sampai pengemasan yang sederhana dan ringan sehingga menjadi accessible untuk range penonton yang sangat luas. Bahkan mungkin mudah dipahami oleh penonton asing yang awam terhadap kondisi sosial Indonesia masa itu maupun sosok Kartini sekalipun. Pun juga Inovasi visualisasi imaginary yang mungkin bukan yang pertama tapi menginterpretasikan esensinya dengan sangat jelas sekaligus menarik. Tak berlebihan jika saya menobatkan Kartini sebagai film Indonesia terpenting tahun 2017 ini so far. Bahkan di antara biopic-biopic yang pernah diangkat film Indonesia, ia berada di lini terdepan.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates