Friday, April 14, 2017

The Jose Flash Review
The Guys

Selepas tak ada lagi materi dari novelnya yang diangkat ke layar lebar, Raditya Dika menjadi bebas untuk mengeksplor ide-ide di luar ranah yang membesarkan namanya. Setelah bermain-main dengan komedi absurd nonsensical di Hangout, ia menawarkan racikan berbagai elemen ‘hati’ ke dalam satu adonan untuk proyek keduanya bersama Soraya Intercine Film setelah Single yang menyentuh angka 1.3 juta penonton lebih. Konon kesuksesan ini membuat Soraya berani mengontrak Dika untuk beberapa film sekaligus. Namun dengan pengumuman akan vakum sementara setelah The Guys dan eksplorasi yang dilakukannya dari film ke film selama ini, come back Dika nantinya jadi sesuatu yang layak untuk ditunggu-tunggu. Meanwhile, kita nikmati dulu suguhan teranyarnya, The Guys yang didukung Pevita Pearce, Marthino Lio, Indra Jegel, Tarsan, sampai Widyawati Sophiaan. Tak ketinggalan Pongsiree Bunluewong atau Pukaii, mantan atlet berkuda yang mendapatkan peran melalui audisi, dan bintang tamu aktris Thailand terkenal, Beifern Pimchanok yang di sini dikenal lewat Crazy Little Thing Called Love. Pemilihan aktor-aktris ini tentu sudah menjadi daya tarik tersendiri, selain tentu saja eksplorasi seperti apa yang ditawarkan Dika kali ini.

Alfi gundah dengan keadaan hidupnya saat ini. Tak puas menjadi karyawan di sebuah agensi periklanan, tak ada wanita yang tertarik untuk menjadi kekasihnya, dan punya ibu yang seorang janda mandiri. Satu-satunya penghibur laranya adalah keberadaan teman-teman satu kontrakannya; Rene, Aryo, dan karyawan ekspat dari Thailand, Sukun. Nasibnya sedikit berubah ketika keadaan mendekatkannya dengan seorang karyawati cantik bernama Amira. Ketika semakin dekat, ia baru mendapati bahwa ayah Amira tak lain dan tak bukan adalah sang bos, Jeremy. Setelah saling memperkenalkan dengan orang tua masing-masing, tak disangka Jeremy dan ibu Alfi, Bu Yana justru saling jatuh cinta. Alfi kembali dihadapkan pada dilema, kebahagiaan dirinya sendiri atau sang ibu yang sudah lama hidup sendiri.
Secara keseluruhan, The Guys sebenarnya menawarkan sebuah paket lengkap. Dibuka dengan self-discovery, disambung dengan romance, ‘meet the parents’, dilema antara kebahagiaan diri atau orang tua, dan terakhir, persahabatan. Sayangnya, ada tidak keseimbangan yang membuat pertalian antara kesemua elemen plotnya masih jauh dari solid sebagai sebuah kesatuan. Bukan soal porsi, tapi soal bagaimana merangkaikan kesemuanya. Yang paling terasa justru elemen persahabatan yang kesannya ingin didesain sebagai highlight utama, termasuk di judul ‘The Guys’. Misalnya saja, jika desainnya demikian, seharusnya persahabatan menjadi titik mula cerita, bukan self-discovery seperti yang disuguhkan di hasil akhir. In the end, masing-masing elemen tetap terasa seperti jalan sendiri-sendiri, tidak saling terangkai menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi.
Kabar baiknya, masing-masing elemen yang dirangkai punya momen yang berhasil memikat emosi dan simpati penonton. Pun juga humor-humor khas Dika, terutama komedi situasional yang digagas serta dikonstruksi dari setup hingga gong yang makin rapih dan dengan timing yang semakin efektif pula. Meski tak dibombardir dan punya rentang antar humor yang agak jauh, nyaris keseluruhan humornya berhasil membuat saya sekedar senyum-senyum sampai tertawa terbahak-bahak secara spontan. Of course, it’s a good thing in term of comedy.
Pemilihan cast terasa punya tujuan masing-masing dan berhasil menjadi kekuatan di masing-masing elemen yang ingin ditampilkan. Kendati Dika masih tampil seperti tipikal peran-perannya selama ini, kali ini karakter Alfi yang ia bawakan terasa lebih simpatik. Marthino Lio sebagai Rene yang merupakan debut aktingnya di layar lebar ternyata sudah sangat layak. Tak terasa ada kecanggungan dan cukup natural. Indra Jegel yang seharusnya dipasang menjadi karakter komedik mungkin tak selucu yang dibayangkan, tapi tingkahnya masih berhasil sesekali memancing tawa. Pukaii justru merebut perhatian lebih besar sebagai karakter komedik. Highlight persahabatan terasa hangat dan kuat berkat chemistry di antara keempatnya yang terbangun baik. Pevita Pearce masih tampil seperti tipikal peran yang ia bawakan. Sementara juaranya tentu saja Tarsan yang effortlessly makin lucu. Apalagi chemistry yang dibangunnya dengan Widyawati Sophiaan termasuk convincing, tak terasa terlalu dilebih-lebihkan ataupun dipaksakan. Speaking of Widyawati, cukup salut juga ternyata ia bisa tampil lucu. Bahkan melakoni salah satu momen yang menurut saya paling lucu sepanjang film.
Teknis The Guys mungkin terkesan serba sederhana, tapi kesemuanya punya efektivitas yang lebih dari cukup dalam bercerita. Misalnya sinematografi Enggar Budiono terutama dalam menyampaikan komedi situasi yang cukup kompleks. Perhatikan saja humor tingkah yang menjadi latar dari dialog foreground. Dika dan Enggar mampu menyampaikannya tanpa memecah fokus penonton. Editing Sastha Sunu pun tahu betul bagaimana menjalankan plot a la Dika yang santai tapi tertata rapih dan pada timing serta porsi yang serba pas. Artistik Rico Marpaung sekali lagi berhasil menerjemahkan style Dika dengan sederhana tapi cantik, modern, dan tetap convincing. Mulai rumah kontrakan The Guys, kantor, sampai tiap detail rumah Pak Jeremy. Andhika Triyadi seperti biasa, mengeksplorasi score music sesuai tema dan nuansa yang dihadirkan Dika dan punya andil emosional yang cukup dalam berbagai momen. Meski theme score terdengar sedikit banyak terinspirasi dari melodi Shape of You dari Ed Sheeran. Terakhir, Bila Bersamamu, theme song yang dibawakan oleh Nidji terdengar manis dan ear-catchy untuk nuansa film.
Tak salah jika ada yang menobatkan The Guys sebagai pencapaian terbaik dari seorang Dika. Memang di aspek tertentu, Dika mengalami perkembangan yang cukup besar, terutama jelas sekali di penggarapan komedi maupun drama. Namun minus yang cukup besar, yang seharusnya menyatukan kesemua elemen menjadi kesatuan yang solid, membuat saya urung untuk menobatkannya sebagai ‘The Best’. Mungkin bukan sepenuhnya tanggung jawab Dika. Bisa jadi ada perbedaan kepentingan di antara Dika, Sunil, dan Donny Dhirgantoro (5 cm.) yang membuatnya tidak mencapai satu titik yang solid. Namun bagaimanapun The Guys punya kompleksitas di banyak departemen dibandingkan karya-karya Dika sebelumnya. Dengan pencapaian hasil akhir yang memang seharusnya bisa jauh lebih baik lagi, tapi setidaknya masih punya momen-momen penting yang berhasil. And I think it’s enough.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates