Wednesday, April 5, 2017

The Jose Flash Review
The Boss Baby


Tahun lalu Warner Bros Animation sempat mempersembahkan Storks, sebuah film animasi yaag tak hanya memanfaatkan mitos burung bangau sebagai pengantar para bayi dari asalnya ke orang tua dengan bangunan konsep fantasi yang luar biasa, tapi juga punya value yang solid baik untuk anak-anak maupun penonton dewasa. Tahun ini DreamWorks Animations (DWA) menyuguhkan tema yang sekilas mirip (setidaknya dari segi tema asal-usul bayi) tapi ternyata secara keseluruhan berbeda sebagai karya ke-34-nya. Diangkat dari cergam anak berjudul The Boss Baby (TBB) karya Marla Frazee, DWA mengembangkan ide tersebut jauh lebih luas, mendalam, sekaligus highly-imaginative, juga dengan humor-humor khas mereka, tentu saja. Naskahnya disusun oleh Michael McCullers yang banyak berpengalaman di naskah-naskah Saturday Night Live, installment kedua dan ketiga Austin Powers, Baby Mama, Mr. Peabody & Sherman, dan melanjutkan kerjasama dengan DWA selanjutnya untuk Shrek 5. Sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Tom McGrath yang sudah bekerja dengan DWA untuk trilogi Madagascar dan Megamind. Dengan voice talent dari nama-nama senior, seperti Alec Baldwin, Steve Buscemi, Jimmy Kimmel, Lisa Kudrow, dan Tobey Maguire, TBB setidaknya akan menarik perhatian penonton yang cocok dengan style DWA.

Selama tujuh tahun Timothy Templeton merasa nyaman menjadi anak tunggal dari pasangan Ted dan Janice. ‘Zona nyaman’ tersebut terancam ketika tiba-tiba ada sesosok bayi yang tiba di depan rumah mereka dengan kostum businessman. Ted dan Janice menyambut kehadiran bayi tersebut, bahkan memperlakukannya bak anak sendiri. Tim mulai merasa cemburu atas perhatian orang tua yang jadi berkurang kepadanya. Namun ketika memergoki si bayi bisa berbicara bak orang dewasa dan bahkan seolah mengadakan konferensi dengan bayi-bayi lain, Tim berniat membongkar identitas asli si bayi di depan orang tuanya. Perseteruan pun pecah, tapi begitu mengetahui siapa sosok si bayi sebenarnya serta tujuannya turun ke bumi, Tim berbalik membantu misi si bayi. Tentu saja dengan tujuan yang bertolak belakang. Tim berharap setelah misi si bayi selesai, ia bisa kembali merasakan menjadi anak tunggal tanpa perhatian atau kasih sayang yang berkurang sedikit pun. Along the way, kerjasama mereka justru memperkuat bonding antara keduanya. Namun menyelesaikan misi si bayi tentu tak semudah yang dibayangkan.
Dari kemasan terluarnya, saya sempat menganggap trailer-nya punya elemen-elemen yang aneh dan agak inappropriate. Namun ternyata dugaan saya salah. TBB menyuguhkan sebuah kisah perseteruan yang di satu sisi punya kedewasaan, tapi di sisi lain terasa begitu innocent. Guyonan-guyonan yang dilontarkan lebih banyak memanfaatkan referensi-referensi pop culture yang mungkin akan lebih bisa dipahami penonton dewasa (terutama menyangkut lagu Blackbird dari The Beatles yang ternyata menjadi salah satu elemen penting dalam cerita), tapi juga tak meninggalkan humor-humor slapstick yang lebih universal untuk memancing urat tawa tanpa terkesan terlalu murahan. Ada pula elemen-elemen visual fantasi yang sangat anak-anak yang mungkin akan membuat penonton dewasa sempat berpikir, “apaan sih?”. Namun elemen-elemen visual fantasi tersebut justru menjadi penggugah memori akan innocent fun masa kecil, yang mungkin memang lebih dekat dengan penonton cilik dari segi rentang waktu.
Sama seperti kebanyakan produksi DWA, TBB juga punya caranya sendiri untuk men-treat penonton cilik sekaligus dewasa. Tak hanya lewat gelaran guyoann, tapi bahkan value yang berbeda untuk kedua kubu usia ini. Penonton anak-anak akan menemukan kedekatan dengan tema brotherhood lewat kemasan petualangan seru sekaligus menyentuh, sementara penonton dewasa mungkin akan tersendir dengan isu global tentang kecenderungan manusia untuk lebih memilih memelihara binatang peliharaan ketibang punya anak. Juga diingatkan akan pentingnya menghormati perbedaan prioritas (in this case, working or family), apalagi dengan punchline yang menohok, “You can’t miss something you’ve never had”. Lantas kemudian kedua ‘kubu usia’ ini dipertemukan di konklusi yang sederhana tapi cukup mendalam, relate bagi semua (termasuk mungkin juga bagi Anda yang sampai sekarang menjadi anak tunggal dan pernah merasakan kerinduan memiliki saudara. Lain cerita jika Anda selama ini justru menikmati comfort zone sebagai anak tunggal) serta dihadirkan dengan heart-factor yang berhasil menyentuh penonton.
Kebiasaan menggunakan aktor-aktris populer sebagai voice talent membuat film-film animasi DWA punya daya tarik tersendiri. Tak terkecuali untuk TBB. Alec Baldwin dengan suara, gesture bicara terutama dalam menyampaikan sarkasme, tentu terasa begitu klop dengan karakter si bayi. Tak heran jika karakternya terjaga menjadi pusat perhatian sepanjang film. Miles Christopher Bakshi mungkin terdengar just-a-typical-boy dalam menghidupkan karakter Tim cilik, tapi berhasil ‘menggerakkan’ penonton di momen-momen paling emosionalnya. Jimmy Kimmel dan Lisa Kudrow sebagai Ted dan Janice, orang tua Tim, memang tak punya porsi yang cukup bahkan untuk memberi warna tersendiri ke dalam film sesuai personalisasi asli masing-masing. Namun suara khas mereka tentu masih noticeable. Steve Buscemi sounds like just another villain character dalam menyuarakan Francis Francis. It’s not bad at all karena memang sesuai dengan kebutuhan dan tujuannya. Hanya saja juga tak memberikan kesan lebih untuk jangka waktu yang lebih lama. Terakhir, tak boleh dilupakan suara Tobey Maguire sebagai Tim dewasa yang sekaligus mengisi narasi cerita yang teduh dan ‘menghangatkan’. Sungguh sebuah pilihan yang sangat baik untuk menyampaikan narasi yang punya emosi tersendiri.
Musik menjadi elemen yang cukup punya pengaruh terhadap keseluruhan film. Selain musical score Steve Mazzaro dan Hans Zimmer yang seperti biasa memperkuat tiap emosi momennya dengan rasa a la blockbuster, masih ada nomor-nomor abadi yang dimasukkan untuk memberi warna lebih (selain men-treat penonton dewasa, tentu saja). Mulai Cheek to Cheek dari Fred Astaire, (Everytime I Turn Around) Back in Love Again dari L.T.D., C.C. Rider dan Viva Las Vegas dari Elvis Presley, Ladies Night dari Kool & The Gang, dan What the World Needs Now is Love dari Burt Bacharach yang versi kali ini dibawakan oleh Missi Hale, serta tentu saja Blackbird dari The Beatles yang menjadi salah satu ‘nyawa’ dari plot.
Secara keseluruhan, TBB tampak punya semua yang dibutuhkan untuk menjadi animasi yang menghibur sekaligus memuat cukup banyak value, baik bagi penonton anak-anak maupun dewasa. Namun mungkin juga karena upaya untuk men-treat kedua ‘kubu usia’ secara seimbang, ada kalanya TBB terasa ‘kendor’ dalam bertutur. Namun jika dibandingkan dengan keberhasilannya ‘merangkul’ kedua kubu usia ini, maka kekurangan-kekurangannya masih bisa diabaikan. Selain memang bukan pekerjaan yang mudah, setidaknya secara keseluruhan TBB masih bisa dianggap berhasil mencapai tujuan-tujuan yang sudah disasar sejak awal. Storks, in other hand, masih terasa lebih solid. Namun saya harus mengakui keduanya punya charm masing-masing yang berbeda. In the end, baik penonton dewasa maupun anak-anak bisa dibuat ‘akur’ bukan? Then it works as a family movie.

PS: Jangan buru-buru keluar dari teater, ada after credit scene yang menarik dan cukup menghibur.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates