Saturday, April 29, 2017

The Jose Flash Review
Baahubali 2: The Conclusion

Masyarakat awam internasional, tak terkecuali Indonesia, mungkin hanya mengenal industri film India sebagai Bollywood. Padahal selain Bollywood yang berpusat di India Utara, masih ada industri film lainnya di bagian Selatan India yang juga berpengaruh, yaitu Telugu (disebut Tollywood), Tamil (Kollywood), Malayalam (Mollywood), Kannada (Sandalwood), dan Tulu (Coastalwood). Masing-masing punya ciri khas dan bahasa daerah sendiri. Meski Bollywood masih menguasai pasar, tak sedikit produksi Tollywood yang berhasil menembus pasar nasional, bahkan internasional. Sering pula film Tollywood yang di-remake oleh Bollywood. Fasilitas produksi film di Tollywood pun sudah memegang rekor Guinness World Record sebagai yang terbesar di dunia dan pusatnya, Hyperabad, punya layar IMAX 3D yang menjadi salah satu terbesar di dunia. Seringkali penonton awam cenderung menyamaratakan produksi film India dengan sebutan Bollywood. Misalnya saja cuplikan adegan-adegan film yang non-sensical sebagai bahan becandaan (meme) yang sebenarnya banyak berasal dari Tollywood, bukan Bollywood. Benar, salah satu ciri khas produksi Tollywood adalah adegan-adegan (biasanya aksi) yang non-sensical. Seringkali menggelikan memang, tapi harus diakui, inovatif dan kerap menginspirasi adegan-adegan fantastikal lainnya di berbagai industri film.

Ambisi Tollywood semakin terlihat ketika memproduksi sebuah epic bertajuk Baahubali: The Beginning (BTB - 2015) karya sutradara S. S. Rajamouli yang memakan dana 180 crore, dengan 90% film (konon mencapai 2.500 shot) melnggunakan polesan visual effect yang dikerjakan oleh 600 artis VFX dari 18 studio asal Hyperabad, Malaysia, dan Korea Selatan. Hasilnya memang tampak luar biasa, apalagi berhasil meraih box office sebesar 650 crore di seluruh dunia. Memecahkan rekor pendapatan internasional untuk film India, termasuk Amerika Serikat, pasar yang notabene paling sulit ditembus.
Tahun 2017, dengan cast dan crew yang kurang lebih sama, S. S. Rajamouli melanjutkan proyek akbar ini dengan Baahabuli: The Conclusion (BTC) dengan budget lebih lagi, yaitu 250 crore dan diproyeksikan akan mendulang sukses yang lebih besar pula. Terbukti, rekor kembali pecah. Sebanyak 415 crore terkumpul dari seluruh penjuru India hanya dalam tiga hari, Bahkan di Amerika Serikat sendiri, BTC menjadi film India berpendapatan tertinggi sepanjang  masa dengan angka US$ 12.6 sampai tulisan ini diturunkan, melebihi Dangal. Praktis, di tangga box office Amerika Serikat, BTC menduduki posisi ketiga, mengalahkan The Circle. Beruntung, kita di Indonesia punya kesempatan menonton dan merasakan hype-nya berkat distributor MVP.
Melanjutkan kisah dari BTB, BTC dibuka dengan narasi Kattappa, budak kerajaan Mahismati yang sudah mengabdi selama sekian generasi dan menjabat sebagai komandan prajurit, tentang sosok Amarendra Bahubali setelah diangkat oleh Ibu Suri Sivagami menjadi Raja, sementara Bhallala Deva, sepupunya yang juga sempat menjadi kandidat calon Raja, menjadi Komandan Pasukan tertinggi. Ibu Suri kemudian mulai mencarikan permaisuri untuk Amarendra, padahal ia sendiri jatuh cinta pada Devasena, putri kerajaan kecil bernama Kuntala. Mendengar kabar Amarendra yang menyamar menjadi rakyat jelata di Kuntala demi mendekati Devasena, muncul niatan Bhallala Deva untuk ‘merebut’ Devasena agar dinikahkan oleh Ibu Suri. Kesalah pahaman menciptakan ketegangan antara kedua kerajaan hingga nyaris meletus peperangan. Sayangnya rencana jahat Bhallala Deva berjalan lebih  mulus. Amarendra dan Devasena dicopot dari jabatannya dan diusir dari kerajaan, sementara Bhallala Deva naik takhta menjadi Raja. Kattappa yang bersimpati pada Amarendra tapi tak bisa meninggalkan tugasnya sebagai abdi keluarga kerajaan berada pada pilihan untuk menghabisi Amarendra. Pada setting berbeda, Mahendra Baahubali, putra Amarendra, tengah mengerahkan pasukan untuk membalas dendam terhadap Bhallala Deva dan merebut kembali takhta mendiang sang ayah.
Pertanyaan yang paling sering saya dengar tentang film sekuel adalah, “kalau belum nonton film sebelumnya masih bisa nyambung nggak?”. Menjawab pertanyaan tersebut, sebelumnya saya ingin memuji struktur penceritaan Baahubali secara keseluruhan yang bisa dikatakan unik. Jika dianalogikan urutan angka secara kronologis, BTB dimulai dari 3 dan dilanjutkan 1, sementara BTC dibuka dengan 2 dan 4. 1 dan 2 memang melanjutkan secara langsung dari narasi flashback yang disampaikan oleh karakter Kattappa. Namun jika Anda belum menonton BTB, awal BTC bak perkenalan sosok Baahubali Senior alias Amarendra sebagai ‘cikal bakal’ dari kisah keseluruhan. Sedikit cuplikan 3 dari BTB yang menjadi bridge ke 4. Sekilas tapi cukup menjelaskan. Jika ingin tahu detail kejadiannya, bisa menyimak BTB setelah selesai menonton BTC. Strutktur unik ini yang membuat hikayat Baahubali bisa mulai ditonton dari seri yang mana saja. Bagi yang menonton dengan urutan BTB kemudian baru BTC, eksalasi ‘wow’ factornya memang lebih terasa karena BTC punya kadar yang berlipat-lipat dari BTB. Mulai tampilan vfx yang makin banyak, detail, dan megah (lihat saja tampilan hewan-hewan raksasa seperti gajah yang 100% CGI!), hingga adegan-adegan aksi yang makin inovatif, gila-gilaan, ‘non-sensical’ tapi ditampilkan dengan begitu meyakinkan sehingga terkesan masih masuk akal dan tentu saja, menakjubkan (lihat saja adegan ‘ketapel manusia’ itu!). Sementara jika Anda menyaksikan BTC dulu baru BTB, mungkin eksalasi-nya tak sedahsyat dengan urutan pertama, tapi akan menemukan detail-detail penjelasan yang menarik setelah mendapatkan semua esensi-esensi cerita dari BTC. So, it’s your choice what order you’re going to experience it.
Ditilik dari segi plot, BTC jelas terasa lebih ‘padat’ ketimbang BTB, mengingat lebih banyak kejadian yang harus disampaikan sebagai jawaban dari apa yang sudah disuguhkan di BTB. Mulai bagaimana kisah di balik cikal bakal tragedi di Kerajaan Mahismati yang cukup panjang, dan bagaimana Mahendra menuntaskan apa yang sudah diwariskan dari mendiang sang ayah. Sementatara secara garis besar, BTB hanya memuat perkembangan sosok Mahendra dan perang akbar a la The Return of the King dari seri The Lord of the Rings, bagaimana Amarendra bisa diangkat menjadi Raja di Mahismati. Alhasil dengan cukup banyak kejadian yang harus disampaikan, ditambah skill storytelling Rajamouli yang serba mulus, suguhan-suguhan visual spectacle yang begitu memanjakan mata, dan adegan-adegan akbar inovatif yang mencengangkan serta sangat memorable, durasi yang mencapai 171 menit pun seolah terlewati tanpa terasa. Dramatisasi berlebihan a la sinetron India di banyak kesempatan pun tak lagi terasa menjadi elemen yang mengganggu ataupun menggelikan.
Mengisi peran sentral, Amarendra Baahubali dan Mahendra Baahubali, Prabhas jelas punya kharisma yang sangat kuat. Sosok Amarendra maupun Mahendra menjelma menjadi pahlawan mengagumkan seolah tanpa tanding mendominasi durasi. Anushka Shetty sebagai Devasena mengimbangi dengan pesona kecantikan fisik dan action-skill yang tak kalah mengagumkan. Chemistry yang mereka bangun bersama pun terkesan manis dan simpatik. Rana Daggubati sebagai karakter antagonis, Bhallala Deva, punya porsi yang sedikit lebih beasr daripada di BTB, tapi kharismanya masih tidak sekuat Prabhas. Kendati demikian, ia tergolong lebih dari cukup meyakinkan untuk menjadi lawan yang seimbang bagi Amarendra maupun Mahendra. Ramya Krishnan sebagai Ibu Suri Sivagami mencuri perhatian berkat kharisma keibuan yang powerful, dan tak lupa Sathyaraj sebagai Kattappa yang porsinya makin banyak dan membuat karakternya semakin simpatik.
Tak hanya tampilan VFX yang luar biasa (kecuali untuk potongan patung emas raksasa yang mengambang sepanjang sungai di epilog yang terlihat paling ‘kasar’), sinematografi K. K. Senthil Kumar tahu betul bagaimana menampilkan potensi-potensi serta dukungan mumpuni-nya terlihat sangat megah. Tak jarang one-person POV shot digunakan untuk menambah keseruan bagi penonton seolah ikut terlibat di dalam adegan. Editing Kotagiri Venkateswara Rao pun layak mendapatkan pujian dalam membuat laju plot berjalan mulus di balik strukturnya yang back-and-forth dengan pemenggalan episode yang penuh perhitungan sehingga nyaman diikuti oleh penonton yang belum menonton seri pertamanya. Tentu momentum-momentum adegan aksi seru dan sadisnya yang terasa serba tepat.
Dibandingkan BTB, BTC tak punya nomor musikal khusus dengan performance seperti sebelumnya. Namun nomor-nomor musikal pengiring dan score dari M. M. Keeravani jelas mempertegas kemegahan hikayat Baahubali. Dukungan sound mixing yang terdengar begitu jernih tapi renyah dengan deep-bass yang mantap, memperdahsyat efek dari adegan-adegan yang disuguhkan. Tentu fasilitas surround yang termanfaatkan maksimal turut menghidupkan film.
BTC adalah sebuah fenomena, baik di perfilman India, maupun film internasional. Maka sangat sayang rasanya jika sampai melewatkan menjadi salah satu saksinya. Toh, BTC memang layak mendapatkan segala hype dan kesuksesannya. Plot fiktif yang menarik (kendati sebenarnya merupakan perpaduan dari berbagai kisah mitologi dunia), storytelling yang enak dan asyik diikuti, visual spektakel yang memanjakan mata, hingga adegan-adegan aksi inovatif yang mencengangkan. Tak perlu khawatir jika merasa belum menonton BTB, karena Anda masih akan dengan mudah mengikuti dan memahami plotnya. Bukan tidak mungkin setelah menonton BTC, Anda menjadi penasaran dengan BTB. Well, in that order or otherwise, hikayat epik Baahabuli tetap mudah diikuti dan sama-sama terasa luar biasa. 
P.S.: BTC di-shot dalam dua pilihan versi bahasa, yaitu Telugu dan Tamil. Keduanya di-shot sendiri-sendiri secara simultan. Sementara versi bahasa Hindi merupakan dubbing-an. Namun jangan khawatir. Dubbing-nya tergarap rapi dan bagus. Bagi penonton yang kurang (tidak) familiar dengan bahasa Hindi tak akan merasakan keanehan yang mencolok.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates