Sunday, April 16, 2017

The Jose Flash Review
Aftermath

Meski sudah terlanjur lekat dengan image action hero, Arnold Schwarzenegger sesekali mengambil peran yang lebih serius di genre luar action. Setelah tahun 2015 lalu ‘tampil serius’ di drama zombie bertajuk Maggie, tahun ini ia kembali mencoba peran drama di film yang terinspirasi dari kejadian nyata tabrakan antara pesawat Bashkirian Airlines Flight 2937 dan pesawat kargo DHL Flight 611 di langit Überlingen, Jerman tahun 2002 silam. Diproduseri oleh Darren Aronofski, naskah film bertajuk Aftermath ini disusun oleh Javier Gullón yang dikenal lewat adaptasi Enemy (disutradarai Denis Villeneuve – 2013), sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Elliott Lester (Blitz yang dibintangi Jason Statham – 2011). Selain Schwarzenegger, Aftermath didukung pula oleh Maggie Grace (trilogi Taken), Scoot McNairy (Batman v Superman: Dawn of Justice, 12 Years a Slave, dan Argo), dan Kevin Zegers (masih ingat Josh Framm di Air Bud?).

Roman sedang bersiap-siap untuk pensiun dan mendedikasikan waktunya untuk sang istri dan sang putri yang sedang mengandung, ketika mendengar kabar bahwa pesawat yang ditumpangi oleh istri dan putrinya mengalami kecelakaan. Tak ada satupun penumpang yang selamat. Pihak penerbangan menawarkan ganti rugi yang nilainya cukup besar, tapi Roman hanya ingin ada satu orang yang merasa bertanggung jawab dan menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepadanya. Setahun kemudian Roman menemukan petugas yang dianggap bertanggung jawab atas kecelakaan pesawat tersebut, Jake Bonaos yang kini sudah mengganti identitas demi menyelamatkan diri serta keluarganya dari orang-orang yang menghakiminya. Padahal sebenarnya kecelakaan ini murni kecelakaan, bukan semata-mata faktor kesalahan Jake saja. Pertemuan antara keduanya pun menjadi momen yang sangat menentukan.
Sebelum penasaran menyaksikannya di layar lebar, jangan terkecoh oleh gambar pesawat hancur di poster. Aftermath sama sekali tak menampilkan adegan kejadian kecelakaan pesawat sama sekali. Sesuai judulnya, ia memusatkan fokus setelah kecelakaan terjadi. Mulai penemuan mayat yang cukup heartbreaking, kehidupan Roman maupun Jake pasca kejadian yang sama-sama tak kalah heartbreaking serta sympathetic-nya. Pun adegan kecelakaan disimbolkan lewat tampilan radar yang ternyata sudah cukup mendebarkan dan ‘horor’. Nuansa film yang serba depresif sebenarnya tak sampai kelam hingga menjemukan. Ada elemen-elemen yang cukup simbolik menggambarkan aspek emosi para karakter, terutama Roman dan Jake. Tak ada yang salah pula dengan penyampaian penjelasan teknis kecelakaan pesawat yang cukup jelas meski tak sedetail Flight ataupun Sully.
Permasalahan sebenarnya berada pada penulisan yang membuat saya mengernyitkan dahi atas pilihan sikap yang dilakukan salah satu karakter sebagai klimaksnya. Ya, memang klimaks tersebut juga menjadi bagian dari kejadian nyata yang menginspirasi film. Namun Aftermath tak memberikan alasan yang cukup untuk membuat penonton bersimpati kepadanya. Padahal penampilan Schwarzenegger sudah cukup memberikan kedalaman emosi lebih. Sayangnya tak dimanfaatkan untuk memasukkan elemen-elemen karakter yang membuat pilihan sikapnya di klimaks menjadi reasonable. Padahal sejak awal penonton sudah cukup tersentuh dan bersimpati dengan keinginan sederhana ‘yang bertanggung jawab secara langsung meminta maaf kepadanya’. Character investment yang cukup seimbang antara Roman dan Jake, yang membuat sosok Jake tak 100% salah dan antagonis, harus runtuh berantakan di titik klimaks. Alhasil tak ada satupun dari keduanya yang berhasil menjadi bahan simpati penonton. Pun juga tak ada momen-momen yang benar dramatis antara keduanya yang sebenarnya sangat potensial.
Selain Schwarzenegger yang ternyata memberikan kedalamam lebih ke karakter Roman, penampilan Scoot McNairy sebagai Jake pun punya keseimbangan yang baik antara titik antara merasa bersalah dan pembelaan diri. Selain dari keduanya, tampil cukup sesuai porsi masing-masing, seperti Maggie Grace sebagai Christina.
Mengangkat tema kecelakaan pesawat dan dampak pasca secara psikologis, Aftermath sebenarnya punya konsep yang menarik. Sayangnya tak diterjemahkan menjadi satu rangkaian yang solid, terutama soal alasan pilihan aksi di klimaks yang mempengaruhi simpati penonton terhadap karakter-karakter, dan minimnya dramatisasi momen-momen yang potensial. Alhasil, ia tak menawarkan konklusi yang menarik setelah detail demi detail yang sebenarnya cukup thoughtful. Sayang sekali. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates