It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Sunday, April 30, 2017

The Jose Flash Review
Be Afraid

Film horror dengan pendekatan family drama akhir-akhir ini agaknya menjadi trend. Most notably franchise Insidious dan The Conjuring. Satu lagi film horror supranatural yang mencoba menggunakan pendekatan family drama dirilis di bioskop-bioskop non-XXI Indonesia. Disutradarai oleh Drew Gabreski yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sinematografer, dari naskah yang disusun Gerald Nott, Be Afraid (BA) mencoba menarik perhatian lewat misteri di balik fenomena sleep paralyzed atau di budaya kita dikenal sebagai ‘ketindihan’.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, April 29, 2017

The Jose Flash Review
Seteru

Di peta perfilman Indonesia, nama Hanung Bramantyo seolah sudah menjadi semacam jaminan mutu. Tak hanya menangani proyek-proyek komersial yang ambisius dari PH-PH besar dan karya-karya idealis yang kerap diselipi kegundahan-kegundahan personal, Hanung bersama Dapur Film-nya tak  menolak tawaran proyek-proyek daerah maupun instansi tertentu. Di tangan Hanung (dan tim Dapur Film-nya), proyek-proyek yang kerap dianggap sebagai ‘pesanan’ tersebut terbukti menjadi karya yang tetap tergarap serius, baik dari segi penyusunan naskah, konsep, sampai teknis eksekusi. Pengejar Angin (2011 - Hanung sebagai produser sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Hestu Saputra) dan Gending Sriwijaya (2013) menjadi salah satu buktinya. Di tahun 2017 dimana hanya berselang seminggu dari perilisan film biopic ambisius-nya, Kartini, Hanung juga merilis Seteru, sebuah drama aksi remaja yang bertujuan mengkampanyekan program Bela Negara dari Kementrian Pertahanan. Dibantu oleh Senoaji Julius (asisten sutradara Hanung di Kartini yang pernah menangani Turis Romantis) sebagai co-director, Seteru didukung pula oleh aktor senior, Mathias Muchus, Alfie Alfandy (Hijrah Cinta), serta aktor-aktris muda pendatang baru yang potensial, seperti Bio One (Sule Ay Need You), Yusuf Mahardika, atlet renang peraih medali emas di SEA Games 2013 dan medali perunggu di SEA Games 2015, Triady Fauzi Sidiq, serta atlet timnas voli di SEA Games 2013, Yolla Yuliana.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Surau dan Silek

Dibandingkan untuk audience remaja dan dewasa, film anak Indonesia agaknya masih tergolong sangat jarang. Apalagi yang digarap dengan baik. Bagi penonton awam mungkin masih ada Petualangan Sherina dan seri Laskar Pelangi yang paling diingat. Sementara untuk kalangan yang lebih terbatas, ada Cita-Cita Setinggi Tanah yang cukup memorable hingga saat ini. Mungkin keterbatasan itu pula yang menggugah Arief Malinmudo membuat film anak-anak sebagai karya untuk meraih gelar S2 di program Pascasarjana Institut Seni Indonesia, Surakarta. Berkat film anak bertajuk Surau & Silek (SS), ia menjadi lulusan cum laude. Selain pemain-pemain cilik pendatang baru, SS juga didukung oleh aktris senior, Dewi Irawan, seniman teater Sumatra Barat, Yusril Katir, aktor dan presenter, Gilang Dirga (Rumah Kentang, 308), serta Dato’ A Tamimi Arman yang merupakan mantan Menteri Kebudayaan, Seni, dan Warisan Malaysia, yang saat ini menjadi salah satu penasihat pemerintahan Malaysia sekaligus Ketua YIRMI (Yayasan Ikatan Rakyat Indonesia Malaysia). Meski merupakan karya tugas akhir dan tergolong film daerah (yaitu dari Minangkabau), SS jelas punya daya tarik yang tak main-main. Setidaknya jika menargetkan penonton asal Minangkabau (yang notabene banyak sekali tersebar di seluruh penjuru negeri) saja, SS punya potensi untuk meraih kesuksesan secara komersial. Selain tentu saja, sebagai upayanya melestarikan budaya serta kearifan lokal.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Baahubali 2: The Conclusion

Masyarakat awam internasional, tak terkecuali Indonesia, mungkin hanya mengenal industri film India sebagai Bollywood. Padahal selain Bollywood yang berpusat di India Utara, masih ada industri film lainnya di bagian Selatan India yang juga berpengaruh, yaitu Telugu (disebut Tollywood), Tamil (Kollywood), Malayalam (Mollywood), Kannada (Sandalwood), dan Tulu (Coastalwood). Masing-masing punya ciri khas dan bahasa daerah sendiri. Meski Bollywood masih menguasai pasar, tak sedikit produksi Tollywood yang berhasil menembus pasar nasional, bahkan internasional. Sering pula film Tollywood yang di-remake oleh Bollywood. Fasilitas produksi film di Tollywood pun sudah memegang rekor Guinness World Record sebagai yang terbesar di dunia dan pusatnya, Hyperabad, punya layar IMAX 3D yang menjadi salah satu terbesar di dunia. Seringkali penonton awam cenderung menyamaratakan produksi film India dengan sebutan Bollywood. Misalnya saja cuplikan adegan-adegan film yang non-sensical sebagai bahan becandaan (meme) yang sebenarnya banyak berasal dari Tollywood, bukan Bollywood. Benar, salah satu ciri khas produksi Tollywood adalah adegan-adegan (biasanya aksi) yang non-sensical. Seringkali menggelikan memang, tapi harus diakui, inovatif dan kerap menginspirasi adegan-adegan fantastikal lainnya di berbagai industri film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 27, 2017

The Jose Flash Review
Guardians of the Galaxy Vol. 2


Meski baru punya satu installment di Marvel Cinematic Universe (MCU) dan belum sepopuler superhero-superhero The Avengers, Guardians of the Galaxy (GotG) ternyata mampu menarik perhatian banyak pihak. Tak hanya fans komiknya, tapi juga mengundang fans-fans baru berkat keunikan formulanya. Petualangan luar angkasa bak gabungan Star Trek dan Star Wars dengan bumbu musik-musik populer era 70-80’an yang membuat adegan-adegan aksinya terasa lebih groovy. Kelanjutan franchise-nya sebagai bagian dari MCU sudah bisa dengan mudah dipastikan. Spekulasi selanjutnya adalah bagaimana kisah GotG bersimpangan dengan timeline The Avengers. Maka sekuelnya, Guardians of the Galaxy Vol. 2 (GotGV2) yang masih didukung oleh hampir semua cast dan crew dari film pertamanya ditambah aktor-aktris, membuatnya makin ditunggu-tunggu. Tak ketinggalan tracklist soundtrack di installment ini yang sudah menjadi salah satu perhatian utama penonton.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, April 26, 2017

The Jose Flash Review
Stip & Pensil

Sukses lewat Ngenest dan Cek Toko Sebelah membuat Ernest Prakasa semakin keranjingan berkecimpung di layar lebar. Proyek berikutnya adalah sebuah komedi satir remaja yang diproduksi oleh MD Pictures dan naskahnya ditulis oleh Joko Anwar. Speaking of satire comedy, tentu reputasi Joko tak perlu diragukan lagi. Arisan! menjadi salah satu buktinya. Namun untuk ‘menyesuaikan’ dengan selera humor remaja kekinian, sejalan dengan setting cerita, Ernest sendiri, dibantu Beno Raja Gukguk dan Arie Kriting ikut men-develop naskah Joko tersebut, terutama untuk guyonan-guyonannya. Bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Ardy Octaviand yang cukup berpengalaman di genrenya, seperti Coklat Stroberi dan 3 Dara. Barisan cast-nya pun menarik. Mulai Ernest sendiri (iya, dia ‘kembali’ ke bangku sekolah di sini!), Tatjana Saphira, Indah Permatasari, dan komika yang akhirnya mendapat giliran berakting di layar lebar, Ardit Erwandha. Mengusung judul Stip & Pensil (S&P) yang begitu dekat dengan dunia pendidikan, ia mencoba menyentil banyak pihak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 23, 2017

The Jose Flash Review
The Last Word

Kisah persahabatan lintas generasi yang justru membuat masing-masing menemukan diri sendiri termasuk sering diangkat. Mulai era Harold & Maude (1971) hingga yang terakhir yang meninggalkan kesan cukup mendalam, The Intern (2015). Belum lagi dengan embel-embel romance seperti An Education (2009) dan karya klasik Bertolucci, Last Tango in Paris (1972). Sutradara Mark Pellington (Arlington Road, The Mothman Prophecy) pun tahun 2017 ini mencoba memasangkan aktris senior, Shirley MacLaine (The Apartment, Terms of Endearment) dengan Amanda Seyfried (Mamma Mia, Les Miserables), dari naskah yang disusun oleh Stuart Ross Fink. The Last Word (TLW) mungkin memang sebuah film kecil tapi menjadi sajian persahabatan dan self-discovery yang menarik.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, April 21, 2017

The Jose Flash Review
Kartini

Di antara pahlawan-pahlawan nasional terutama yang wanita, nama R. A. Kartini hingga kini masih berada pada jajaran lini terdepan. Bahkan punya hari nasional khusus yang diperingati tiap tahun. Namun untuk popularitas sebesar itu, sosok Kartini bagi kebanyakan orang Indonesia mungkin hanya dikenal sebagai pahlawan pejuang emansipasi wanita yang punya buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Tak banyak yang tahu seperti apa perjuangan yang ia lakukan sebenarnya. Pun juga tak banyak yang tertarik mengangkat kisah hidupnya dalam medium audio-visual. Mungkin ada kebingungan seperti apa bentuk penyampaiannya atau bagaimana memilih range waktu yang tepat untuk merangkum perjuangannya. Mungkin juga faktor tak ada bentuk ‘perang’ yang bisa ditampilkan secara kongkret, yang bisa menambah nilai sisi hiburan dan menghindarkan dari drama yang kelewat serius atau depresif sesuai kondisi eranya. Tahun lalu MNC Pictures sempat mencoba mengangkatnya lewat karakter fiktif sebagai penggerak cerita dengan Surat Cinta untuk Kartini. Sayang, mungkin momentum rilis yang kurang tepat, promosi yang kurang, dan hasil akhir yang banyak dinilai kritikus kurang memuaskan, membuatnya kurang banyak menyita perhatian.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 20, 2017

The Jose Flash Review
Lavender


Jane, seorang fotografer wanita, seorang istri dan ibu satu putri, mulai mengalami halusinasi yang mungkin merupakan kepingan-kepingan petunjuk atas apa yang dilaluinya ketika masih kecil, setelah mengalami kecelakaan mobil tunggal.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, April 18, 2017

The Jose Flash Review
The Neighbor

John bekerja untuk bos mafia besar di Cutter, kota kecil di Mississippi. Tugasnya hanya mengganti plat nomor mobil para kurir yang mengantar narkoba. Berniat meninggalkan dunia hitam selama-lamanya, ia dan sang istri, Rosie, memutuskan untuk berhenti setelah uang mereka terkumpul cukup. Sehari sebelum pekerjaan terakhir, mereka berdua kedatangan tetangga yang misterius, Troy. Perkenalan yang canggung tersebut membuat Rosie semakin curiga tentang sosok Troy. Hingga hari H rencana kabur dilancarkan, John menemukan Rosie hilang dari rumahnya. Maka John nekad masuk ke rumah Troy. Tak hanya Rosie, ia juga menemukan rahasia lain dari Troy. Permainan hide-and-seek yang mendebarkan pun dimulai.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 16, 2017

The Jose Flash Review
Aftermath

Meski sudah terlanjur lekat dengan image action hero, Arnold Schwarzenegger sesekali mengambil peran yang lebih serius di genre luar action. Setelah tahun 2015 lalu ‘tampil serius’ di drama zombie bertajuk Maggie, tahun ini ia kembali mencoba peran drama di film yang terinspirasi dari kejadian nyata tabrakan antara pesawat Bashkirian Airlines Flight 2937 dan pesawat kargo DHL Flight 611 di langit Überlingen, Jerman tahun 2002 silam. Diproduseri oleh Darren Aronofski, naskah film bertajuk Aftermath ini disusun oleh Javier Gullón yang dikenal lewat adaptasi Enemy (disutradarai Denis Villeneuve – 2013), sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Elliott Lester (Blitz yang dibintangi Jason Statham – 2011). Selain Schwarzenegger, Aftermath didukung pula oleh Maggie Grace (trilogi Taken), Scoot McNairy (Batman v Superman: Dawn of Justice, 12 Years a Slave, dan Argo), dan Kevin Zegers (masih ingat Josh Framm di Air Bud?).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, April 14, 2017

The Jose Flash Review
The Guys

Selepas tak ada lagi materi dari novelnya yang diangkat ke layar lebar, Raditya Dika menjadi bebas untuk mengeksplor ide-ide di luar ranah yang membesarkan namanya. Setelah bermain-main dengan komedi absurd nonsensical di Hangout, ia menawarkan racikan berbagai elemen ‘hati’ ke dalam satu adonan untuk proyek keduanya bersama Soraya Intercine Film setelah Single yang menyentuh angka 1.3 juta penonton lebih. Konon kesuksesan ini membuat Soraya berani mengontrak Dika untuk beberapa film sekaligus. Namun dengan pengumuman akan vakum sementara setelah The Guys dan eksplorasi yang dilakukannya dari film ke film selama ini, come back Dika nantinya jadi sesuatu yang layak untuk ditunggu-tunggu. Meanwhile, kita nikmati dulu suguhan teranyarnya, The Guys yang didukung Pevita Pearce, Marthino Lio, Indra Jegel, Tarsan, sampai Widyawati Sophiaan. Tak ketinggalan Pongsiree Bunluewong atau Pukaii, mantan atlet berkuda yang mendapatkan peran melalui audisi, dan bintang tamu aktris Thailand terkenal, Beifern Pimchanok yang di sini dikenal lewat Crazy Little Thing Called Love. Pemilihan aktor-aktris ini tentu sudah menjadi daya tarik tersendiri, selain tentu saja eksplorasi seperti apa yang ditawarkan Dika kali ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 13, 2017

The Jose Flash Review
Fast & Furious 8
[The Fate of the Furious]

Tak perlu diragukan lagi, franchise Fast and Furious (FF) sudah menjelma menjadi brand jaminan mutu berkat penggalian pengembangan cerita yang meski sudah semakin melebar ke mana-mana tapi punya relevansi dengan titik awal serta tentu saja inovasi-inovasi sekuens spektakel yang justru menjadi alasan utama penonton selalu rela berbondong-bondong ketika installment terbarunya rilis. Sudah sampai installment ke-delapan tapi masih belum menunjukkan tanda-tanda kehabisan energi. Justru dengan tambahan karakter di tiap installment membuat seri-seri FF makin meriah. Naskahnya masih dikerjakan oleh Chris Morgan (penulis naskah franchise FF sejak The Fast and the Furious: Tokyo Drift - 2006), sementara bangku penyutradaraan kali ini dipercayakan kepada F. Gary Gray (A Man Apart, The Italian Job, Be Cool, dan Straight Outta Compton) yang menjadi sutradara kulit hitam kedua di franchise FF (yang pertama John Singleton di 2 Fast 2 Furious). Aktor-aktris lini terdepan kembali hadir, ditambah kembalinya karakter-karakter yang sempat absen, dan tentu saja karakter-karakter baru yang makin menambah kemeriahan installment yang diberi tajuk The Fate of the Furious di negara asalnya (Fast and Furious 8 – FF8 - di beberapa negara lain).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 9, 2017

The Jose Flash Review
Miss Sloane

Politik dan court drama bukanlah genre yang populer. Selain temanya yang cenderung berat dan/atau butuh pengetahuan spesifik untuk memahaminya, image membosankan membuat kedua tema ini cenderung dijauhi penonton. Padahal banyak court drama dan film politik yang sebenarnya telah diramu sedemikian rupa sehingga dengan mudah dipahami oleh penonton terawam sekalipun. Miss Sloane (MS) yang naskahnya masuk top five Hollywood’s 2015 Black List dan ditulis oleh satu orang saja, yaitu Jonathan Perera. Menariknya, Perera belum pernah menulis naskah film apapun sebelumnya. Naskah MS mulai ditulisnya saat masih berusia 30 tahun dan tinggal di Asia. Siapa sangka naskah debutan ini menarik minat banyak produser. Bahkan seorang Steven Spielberg mengaku fan berat naskah tersebut dan sempat berniat menyutradarainya. Karena faktor jadwal yang sudah terlampau padat, John Madden (Shakespeare in Love, The Debt, The Best Exotic Marigold Hotel) akhirnya terpilih untuk duduk di bangku sutradara. Nama Jessica Chastain menjadi satu-satunya kandidat aktris pengisi karakter utama menurut visi Madden. Apalagi ini merupakan kerjasama kedua antara Madden dan Chastain setelah The Debt. Didukung Mark Strong, Gugu Mbatha-Raw, dan John Lithgow, MS lantas menjadi media dan critics darling. Sempat ada isu propaganda terkait topik kepemilikan senjata api yang diangkat menjadi subjek. Bagaimanapun, kontroversi bisa menjadi media promosi yang ampuh. Setidaknya menjadi bahan pembicaraan dan/atau menumbuhkan rasa penasaran. Untuk film yang tergolong segmented, ini jelas punya keuntungan tersendiri.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, April 8, 2017

The Jose Flash Review
Get Out


Tema ‘black’ atau kulit hitam beberapa tahun belakangan ini memang menjadi trend di Hollywood. Tentu saja seiring dengan isu anti-racism yang sampai sekarang masih menjadi topik hangat di Amerika Serikat. Jika biasanya tema ini dituangkan dalam genre drama biografi, drama sosial, atau drama romantis (interracial), maka apa yang dilakukan oleh Jordan Peele (dikenal lewat acara sketsa komedi TV, Key and Peele) sebagai debut penyutradaraannya di layar lebar, Get Out (GO) ini tergolong unik. Ia memasukkan isu ‘black’ dan anti-racism dari sudut pandang yang berbeda dan lewat genre mystery thriller a la Hitchcock. Tak heran jika kemudian produser horror yang paling jeli memproduksi horror/thriller murah tapi berpotensi laris, Jason Blum, lewat Blumhouse tertarik untuk memproduksinya. Siapa sangka pula jika GO ternyata menjadi kejutan di box office Amerika Serikat, dengan mengumpulkan hingga US$ 134 juta (di Amerika Serikat saja dan masih terus bertambah). Padahal budgetnya ‘hanya’ US$ 5 juta! Dengan nama-nama aktor/aktris yang belum dikenal, ini adalah prestasi yang jarang terjadi. Masih ditambah resepsi kritikus yang rata-rata positif. Semakin besarlah penonton di belahan dunia lain akan seberapa unik dan dahsyat mystery thriller yang ditawarkan Peele ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, April 7, 2017

The Jose Flash Review
Night Bus


Thriller bukanlah genre yang populer di film Indonesia meski ‘saudara dekat’-nya, horror, justru menjadi salah satu genre yang paling favorit. Mungkin ada baiknya film-film thriller perlu ‘menjual diri’ dengan label horror dan menambahkan formula-formula horror dasar sebagai strategi memperkenalkan thriller ke penonton Indonesia secara perlahan. Namun ke-‘belum populer’-an thriller tidak menyusutkan niat sineas-sineas kita untuk menyuguhkan thriller yang berbobot. Joko Anwar beberapa kali mempresentasikan thriller berkelas internasional, misalnya lewat Kala: Dead Time, Pintu Terlarang, dan Modus Anomali. Ada juga Midnight Show dan bahkan Rumah Dara yang sebenarnya basically thriller.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Labuan Hati


Film adalah medium yang paling tepat untuk mempromosikan pariwisata. Dengan dukungan audio-visual yang bisa menangkap atmosferik sebuah lokasi pariwisata dan mempresentasikannya secara menggiurkan (bahkan tak jarang melebihi kondisi lokasi aslinya), film jelas punya kelebihan terunggul sebagai medium promosi. Tak salah jika kemudian banyak dinas pariwisata dari berbagai daerah memilih untuk meng-hire sineas-sineas kita untuk memanfaatkan keindahan alam dan budaya yang kita miliki, sekedar untuk latar cerita maupun subjek utama dari film. Belum lama ini kita disuguhkan Trinity: The Nekad Traveler yang jelas-jelas bertema wisata dan membawa kita ke Lampung dan beberapa lokasi wisata lainnya, kini giliran Lola Amaria yang mengajak kita berjalan-jalan ke Pulau Komodo dan Labuan Bajo bersama Nadine Chandrawinata yang image-nya sangat traveler, Kelly Tandiono, supermodel yang kian sering berakting, Ully Triani yang pernah mencuri perhatian di Stay with Me, dan Ramon Y. Tungka, lewat film bertajuk Labuan Hati (LH). Sementara naskahnya ditulis oleh Titien Wattimena yang daftar filmografinya sudah puluhan, termasuk Minggu Pagi di Victoria Park dimana ia pernah bekerja sama dengan Lola.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 6, 2017

The Jose Flash Review
Attraction
[Притяжение]

Diam-diam sinema Rusia ternyata terus berupaya untuk unjuk gigi di pasar internasional, tak terkecuali Indonesia. Setelah berturut-turut menyuguhkan Flight Crew, Earthquake, dan The Guardians, Moxienotion kembali mengimpor film Rusia yang kali ini bertemakan sci-fi. Attraction (Prityazhenie) dibesut sutradara sekaligus aktor yang pernah mendapatkan penghargaan Generation Award di MTV Movie Award Rusia 2008, Fedor Bondarchuk, sementara naskahnya disusun oleh duo Oleg Malovichko dan Andrey Zolotarev yang pernah bekerja sama sebelumnya di film drama fantasi keluarga, Prizrak (2015). Aktris muda Irina Starshenbaum digandeng untuk mengisi peran utama, kembali berpasangan dengan aktor Alexander Petrov setelah di film pendek Podarok Very (2016). Dengan trailer yang menjanjikan tampilan visual dan special effect mencengangkan, Attraction terlihat begitu menarik untuk disaksikan di layar lebar.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
R.A.I.D.: Special Unit
[R.A.I.D.: Dingue]

Di tengah image ‘film Eropa itu artsy, berat, cenderung ke boring’, sinema Perancis sebenarnya punya cukup banyak film-film yang nge-pop dan bisa dipahami pun dinikmati oleh range penonton yang lebih universal, terutama di genre komedi. Sayangnya sinema Perancis tak punya banyak slot di ruang putar Indonesia (bahkan Festival Sinema Perancis yang digagas pusat kebudayaan Perancis Indonesia selama belasan tahun harus absen di tahun 2016 lalu). Maka ketika ada film Perancis yang diputar untuk umum di bioskop kita dan punya jarak jadwal tayang yang tak begitu jauh dengan di negara aslinya, tentu menjadi kesempatan langka yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Apalagi nama Dany Boon, seorang aktor yang juga merambah penulis naskah dan akhir-akhir ini, sutradara, termasuk diperhitungkan di negara asalnya. Kembali menggandeng aktris Alice Pol setelah Supercondriaque (2014), Boon kali ini menawarkan sebuah komedi dengan sentilan emansipasi wanita berlatar pelatihan tim pengamanan khusus bak S.W.A.T. bernama R.A.I.D. (saya sempat berpikir ini merupakan parodi dari The Raid kita, tapi ternyata bukan). R.A.I.D. Dingue atau versi internasionalnya, R.A.I.D. Special Unit (RSU) menurut Boon bereferensi pada film-film aksi klasik dari Jean-Paul Belmondo dan film-film aksi Amerika seperti franchise Die Hard yang dibintangi Bruce Willis. Dengan sentuhan komedi khas Boon, setidaknya RSU menjanjikan sebuah tontonan ringan yang menghibur sekaligus seru.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, April 5, 2017

The Jose Flash Review
The Boss Baby


Tahun lalu Warner Bros Animation sempat mempersembahkan Storks, sebuah film animasi yaag tak hanya memanfaatkan mitos burung bangau sebagai pengantar para bayi dari asalnya ke orang tua dengan bangunan konsep fantasi yang luar biasa, tapi juga punya value yang solid baik untuk anak-anak maupun penonton dewasa. Tahun ini DreamWorks Animations (DWA) menyuguhkan tema yang sekilas mirip (setidaknya dari segi tema asal-usul bayi) tapi ternyata secara keseluruhan berbeda sebagai karya ke-34-nya. Diangkat dari cergam anak berjudul The Boss Baby (TBB) karya Marla Frazee, DWA mengembangkan ide tersebut jauh lebih luas, mendalam, sekaligus highly-imaginative, juga dengan humor-humor khas mereka, tentu saja. Naskahnya disusun oleh Michael McCullers yang banyak berpengalaman di naskah-naskah Saturday Night Live, installment kedua dan ketiga Austin Powers, Baby Mama, Mr. Peabody & Sherman, dan melanjutkan kerjasama dengan DWA selanjutnya untuk Shrek 5. Sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Tom McGrath yang sudah bekerja dengan DWA untuk trilogi Madagascar dan Megamind. Dengan voice talent dari nama-nama senior, seperti Alec Baldwin, Steve Buscemi, Jimmy Kimmel, Lisa Kudrow, dan Tobey Maguire, TBB setidaknya akan menarik perhatian penonton yang cocok dengan style DWA.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, April 4, 2017

The Jose Flash Review
Shut In

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates