Wednesday, March 29, 2017

The Jose Flash Review
Smurfs: The Lost Village


Universe dan karakter-karakter selegendaris The Smurfs (judul aslinya Les Schtroumpfs) karya kartunis Peyo yang sudah ada sejak tahun 1958 terlalu berharga untuk tidak terus dilestarikan lintas generasi. Kendati versi hibrida antara live-action dan animasi yang diproduksi Sony Pictures Animation tahun 2011 dan sekuelnya di tahun 2013 mendapatkan review beragam (cenderung negatif), hasil box office menunjukkan betapa masih banyak penonton yang mendambakan atau ingin meneruskan warisan Smurfs ke generasi selanjutnya. Bukan karena penurunan penghasilan box office The Smurfs 2, sejak sebelum installment kedua dirilis pun sudah direncanakan bahwa installment ketiga akan berupa fully-animated dan reboot dari dua installment sebelumnya. Ia pun mengembalikan desain universe dan karakter-karakter seperti komik aslinya. Mungkin ada juga pengaruh kesuksesan Peanuts Movie yang mempertahankan gaya-gaya visual asli kendati berupa animasi 3D, baik secara komersial maupun resepsi kritikus. Dari naskah yang disusun Pamela Ribon (Moana) dan Stacey Harman, penyutradaraan Smurfs: The Lost Village (STLV) dipercayakan kepada Kelly Asbury yang sudah berpengalaman menangani animasi Spirit: Stallion of the Cimarron, Shrek 2, dan Gnomeo & Juliet. Pemilihan voice cast-nya pun tak kalah menarik. Mulai Demi Lovato, Joe Manganiello, Michelle Rodriguez, Meghan Trainor, Jeff Dunham, hingga Julia Roberts, dan chef terkenal, Gordon Ramsey.

Desa Smurf hidup dalam damai dan kebahagiaan dengan tiap warga yang punya bakat spesialisasi sendiri, mulai yang pandai seperti Brainy sampai yang kekar seperti Hefty Smurf. Namun di tengah-tengah smurf yang punya bakat spesifik, Smurfette yang merupakan ‘buatan’ dari penyihir jahat Gargamel, merasa tidak punya bakat apa-apa. Apalagi ia adalah satu-satunya yang berjenis kelamin perempuan di desa. Suatu hari ketika berjalan-jalan sendirian merenungi diri sendiri, Smurfette, Clumsy, Brainy, dan Hefty melihat sosok yang mirip para smurf lewat. Penasaran, ia mengikutinya sampai ke hutan terlarang. Malang, mereka justru tertangkap Gargamel yang semakin serakah ketika melihat peta petunjuk keberadaan sosok mirip smurf. Smurfette dan kawan-kawan berniat untuk mencari tahu siapa sebenarnya sosok smurf misterius ini dan memperingatkannya akan kedatangan Gargamel dengan rencana jahatnya untuk mengambil sari-sari smurf agar menjadi penyihir terkuat di dunia.
Garis besar cerita tentang kejar-kejaran abadi para smurfs dan Gargamel maupun esensi ‘sampingan’ tentang pencarian jati diri yang sudah pernah diangkat installment-installment The Smurfs sebelumnya masih menjadi fokus utama di STLV. Namun tanpa keterlibatan karakter-karakter manusia, universe dan cerita STLV terasa lebih terarah tanpa distraksi. Penuturan konflik Smurfette sebagai porsi utama pun disusun ulang dengan konstruksi yang tertata baik, rapih, dan di beberapa momen cukup menyentuh. Relasi antara Smurfette dan karakter-karakter smurf lainnya juga turut menjadi lebih terasa ketimbang ketika ‘bercampur’ dengan live action manusia. Imbasnya, karakter-karakter smurf yang jadi lebih noticeable juga bertambah. Sisi emosional yang dibangun lewat karater Smurfette berhasil pula 'menyentuh' penonton pada moment-nya. Tak ketinggalan value ‘baru’ tentang mencoba hal-hal baru di luar ‘bakat’ kita yang diselipkan secara mulus ke dalam plot. Ini semua menjadikan universe serta petualangan smurf menjadi lebih ber-‘fantasi’. Tak kalah seru, kendati mungkin lebih bisa dinikmati oleh penonton anak-anak, let’s say di bawah usia 12 tahun. 
Ada beberapa kesempatan dimana directing Asbury masih terasa punya awkward moment di tengah adegan-adegan yang tersaji dinamis. Untungnya masih bisa ditolerir, tak sampai menciderai laju plot maupun mood film secara keseluruhan. Kedinamisan adegan petualangan yang tersaji pun masih dalam kadar nyaman untuk diikuti, tak se-chaotic Hotel Transylvania, misalnya. Format 3D memberikan kekayaan visual lebih, terutama lewat depth-of-field dan beberapa trick-eye pop-out yang cukup memanjakan.
Voice talent populer yang digandeng pun sama sekali tak mengecewakan. Mulai Demi Lovato yang begitu luwes membawakan karakter Smurfette dengan karakteristik yang jelas, Jack McBrayer sebagai Clumsy, Danny Pudi sebagai Brainy, Joe Manganiello sebagai Hefty, sampai Mandy Patinkin sebagai Papa Smurf. Rainn Wilson pun memberikan spesifikasi karakter villain yang jelas dan memorable ke dalam sosok Gargamel. Namun yang paling menarik perhatian tentu saja Michelle Rodriguez sebagai Smurfstorm dan Julia Roberts sebagai Smurfwillow.
STLV memang tak dibuat sebagai installment terpenting atau teresensial dari franchise The Smurfs. Ia sekedar mencoba menceritakan kembali konflik dasar dari franchise dengan style yang lebih mirip komiknya, termasuk pemilhan aspect ratio yang 1.85:1 (menyerupai panel komik), bukan standard layar lebar 2.35:1. Tanpa ‘keterlibatan’ karakter manusia, konsep universe dan karakter-karakter-nya terasa lebih terarah, lebih ‘fantasi’, petualangannya tetap seru dengan value-value yang relevan sekaligus merasuk mulus lewat plot, kendati humor-humornya mungkin lebih bisa membuat penonton cilik tertawa ketimbang penonton dewasa. A worthy effort to pass on its legacy.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates