Saturday, March 11, 2017

The Jose Flash Review
Silence

Sejak lama saya percaya bahwa agama apa saja awalnya disebarkan bukan dengan pengkotak-kotakan atau pelabelan seperti saat ini. Pengalaman pribadi akan tumbuh menjadi iman yang jauh lebih kuat ketimbang sekedar 'mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya'. Gereja Katolik Roma yang punya sejarah panjang berkali-kali mengalami pergolakan, mulai ajaran yang dijalankan secara puritan hingga fleksibel mengikuti perkembangan jaman seperti saat ini. Salah satu episode yang menjadi 'pelajaran' penting dalam penyebaran agama tertuang dalam novel fiksi historis berjudul Silence (沈黙 / Chinmoku) karya Shūzaku Endō yang pertama kali dipublikasikan tahun 1966. Sempat diangkat ke layar lebar dengan judul sama di tahun 1971 oleh sutradara Masahiro Shinoda. Meski mendapatkan apresiasi kritik internasional, versi Shinoda ini tidak disukai oleh Endō karena perubahan ending yang dianggap mempengaruhi esensi keseluruhan.
Martin Scorsese yang pernah menggarap film reliji kontroversi, The Last Temptation of the Christ, sudah sejak tahun 1990 mengincar untuk mengangkatnya ke layar lebar. Butuh waktu sekitar 25 tahun untuk terus mengembangkan naskah dan penundaan berkali-kali hingga memutuskan akan benar-benar diproduksi mulai pertengahan 2015. Andrew Garfield, Adam Driver, dan Liam Neeson digandeng untuk mengisi peran-peran terpenting. Berpotensi bisa kembali mendulang banyak penghargaan di Oscar 2017, sayang ia 'hanya' masuk nominasi di kategori Best Cinematography. Namun bukan berarti Silence versi Scorsese tak patut untuk disimak lebih dalam.
Pastor Sebastião Rodrigues dan Francisco Garupe yang berasal dari Portugis ditugaskan untuk mencari mentor mereka, Pastor Cristóväo Ferreira, yang dikabarkan telah meninggalkan Gereja Katolik ketika menjalankan tugas misioner di Jepang. Kabarnya Pastor Ferreira mengalami penyiksaan luar biasa oleh pemerintah setempat karena menyebarman agama Katolik yang dianggap meresahkan dan membahayakan masyarakat. Begitu mendarat di Jepang mereka segera menjadi buruan aparat setempat. Beruntung ada beberapa umat Katolik setempat yang membantu menyembunyikan mereka dengan imbalan mengadakan misa ekaristi bersama mereka. Salah satu tokoh warga setempat adalah Kichijiro, umat Katolik setempat yang dibenci umat lainnya karena sering menyangkal imannya dan mengkhianati umat lain demi menyelamatkan diri dari siksaan pemerintah. Iman ketiganya berkali-kali mendapatkan cobaan hingga harus menentukan pilihan sulit ketika akhirnya menemukan fakta mengejutkan tentang Pastor Ferreira.
Memfilmkan Silence sebenarnya bukan pekerjaan mudah. Dengan perkembangan plot yang cukup banyak, lebih banyak dialog-driven, momen-momen senyap seperti judulnya, serta tentu saja konklusi yang tepat sasaran. Namun tentu dengan craftmanship Scorsese yang luar biasa, Silence menjadi adaptasi yang mampu merepresentasi tiap esensi dari novelnya dengan keseimbangan yang luar biasa. Lembut tapi powerful. Tak hanya laju plot yang berjalan lancar kendati harus melewati 'masa-masa sunyi' dan terkesan lambat di balik durasinya yang mencapai 161 menit, tapi juga keseimbangan yang kontemplatif bagi kedua pihak: dari sisi pastor-pastor misioner dan juga sisi pemerintah setempat. Pihak pemerintah setempat tak semata-mata diposisikan sebagai villain, begitu juga para pastor yang tidak selalu dibuat 'putih'. Ada momen-momen kontemplatif yang kompromis hingga Gereja Katolik mengalami perkembangan sudut pandang keimanan yang lebih luwes dan mendalam ketimbang sekedar ritual ataupun simbol-simbol. Konklusi yang menutup film pun terasa kontemplatif, adil, dan mungkin bagi beberapa orang, mengalami redefinisi iman yang selama ini dipegang teguh. Tidak, bukan berarti bagi penonton non-Katolik akan seketika ter-convert, tapi mengaplikasikan plot cerita dengan pengalaman iman masing-masing, apapun agamanya.
Andrew Garfield tampaknya ingin ‘naik kelas’ dari peran-peran remaja dan blockbuster macam di franchise The Amazing Spider-Man ke peran-peran yang lebih serius. Setelah Hacksaw Ridge yang mencatatkan namanya dalam nominasi Best Performance by an Actor in a Leading Role di ajang Academy Awards 2017, penampilan yang tak kalah maksimalnya ditunjukkan lewat peran Pastor Rodrigues. Segala pergulatan batin dan transformasi karakter yang cukup kompleks mampu ditampilkan dengan mengagumkan, hingga mampu secara lembut mengajak penonton turut berkontemplatif bersama-sama dengan karakternya. Porsi Adam Driver sebagai Pastor Garupe memang tak banyak, tapi masih cukup noticeable. Justru penampilan Liam Neeson sebagai Pastor Ferreira yang secara porsi lebih sedikit lagi mampu mencuri perhatian penonton, terutama berkat peletakan karakter pada turnover plot yang penting dan seperti biasa, dibawakan dengan gemilang oleh Neeson. Yôsuke Kubozuka sebagai Kichijiro juga tak kalah mencuri perhatian berkat perkembangan karakter yang cukup banyak, mengundang simpati penonton lewat tampilan manusiawi yang bisa dengan mudah dipahami, serta penampilan Kubozuka yang seusai porsi dan kebutuhan peran. Terakhir, Tadanobu Asano sebagai sang penerjemah dan Issei Ogata sebagai Inoue Masashige patut pula mendapatkan kredit tersendiri. Tak lupa penampilan cameo dari Scorsese sendiri yang menjadi trivia menarik.
Kekuatan Silence versi Scorsese memang terletak pada tampilan visualnya dalam menyampaikan cerita. Tak salah jika sinematografi Rodrigo Prieto diganjar nominasi Oscar. Mungkin memang tak banyak variasi camera work macam-macam, tapi kesemuanya termanfaatkan secara maksimal dan efektif dalam menyampaikan plot. Editing Thelma Schoonmaker pun mampu merangkai plot menjadi berjalan lancar dengan pace yang tepat sebagai sarana kontemplasi. Desain produksi serta desain kostum dari Dante Ferretti beserta tim art berhasil menghidupkan latarnya tak hanya sesuai era, tapi juga mendukung nuansa sekaligus tone keseluruhan film. Score music dari Kathryn Kluge dan Kim Allen Kluge mungkin memang terdengar begitu minim, tapi ditempatkan pada momen-momen yang tepat sekaligus efektif dalam menghantarkan emosi kepada penonton. Sound design cukup detail dan seimbang di tengah dominasi kesunyian.

Dari deretan filmografi Scorsese, Silence menjadi salah satu lini terbaik. Sebagai sebuah adaptasi novel dari Shūzaku Endō pun, Silence versinya mampu menyampaikan esensi-esensi terpentingnya yang mengajak penonton untuk merefleksikan definisi keimanan masing-masing sesuai perkembangan jaman secara efektif di balik durasinya yang termasuk panjang. Sunyi seperti judulnya, tapi bukan berarti membosankan. Coba rasakan, pahami, dan refleksikan tiap momennya, Silence menjadi begitu relevan dengan agama apapun, termasuk pada era ini. Bagi saya pribadi, ia menjadi salah satu pengalaman iman lewat sinema yang paling menggugah. Excellent piece of work once more, Scorsese!
Lihat data film ini di IMDb.

The 89th Academy Awards Nominees for:

  • Best Achievement in Cinematography - Rodrigo Prieto
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates