Thursday, March 23, 2017

The Jose Flash Review
Saban's Power Rangers


Mereka yang pernah melewati era 90-an mustahil tidak mengenal Power Rangers. Ya, lima (kemudian berkembang menjadi enam) remaja superhero ini menjadi salah satu icon 90-an terbesar di negara manapun. Sejarah perkembangan TV show yang diadaptasi dari acara TV Jepang Kyōryū Sentai Zyuranger ini tergolong panjang hingga saat ini dengan berbagai variasi. Sempat diangkat ke layar lebar dengan judul Mighty Morphin Power Rangers: The Movie (1995) di bawah bendera Fox, baru di tahun 2014 lalu Saban Capital Group selaku creator tertarik untuk me-reboot franchise lawas ini kembali untuk generasi kini di bawah bendera Lionsgate yang memang tengah mencari peluang franchise baru. Naskahnya dipercayakan kepada John Gatins (Coach Carter, Real Steel, Flight, Need for Speed, dan terakhir, Kong: Skull Island), sementara bangku penyutradaraan diserahkan kepada Dean Israelite yang kita kenal lewat Project Almanac.

Meski bintang-bintang muda yang ditunjuk mengisi peran-peran utama tergolong pendatang baru tapi setidaknya punya kiprah yang cukup, misalnya Dacre Montgomery yang kita lihat di serial Stranger Things, Naomi Scott dari The 33, RJ Cyler dari Me and Earl and the Dying Girl, Becky G yang lebih kita kenal sebagai penyanyi, dan aktor Cina, Ludi Lin, yang tampil di Monster Hunt. Pemeran-pemeran pendukungnya pun tak kalah menjanjikan. Mulai Elizabeth Banks, Bill Hader, hingga Bryan Cranston. Materi promo awal sempat terkesan gelap, tapi semakin lama semakin menunjukkan sisi fun, selayaknya versi serial TV-nya dulu, membuat penggemar lawas semakin penasaran untuk bernostalgia di versi bartajuk Saban’s Power Rangers (SPR) ini.
Lima siswa SMA Angel Grove yang sedang menjalani detensi (hukuman); Jason, Billy, Kimberly, Trini, dan Zack menemukan koin-koin Power di sebuah tambang emas yang terbengkalai. Ketika dikejar-kejar polisi dan berakhir dengan sebuah kecelakaan mobil, barulah disadari bahwa koin-koin tersebut membawa kekuatan tertentu bagi mereka berlima. Benar saja, mereka berlima terpilih menjadi Power Rangers oleh Zordon dan asisten setianya, Alpha 5. Power Rangers adalah pasukan yang sudah ada sejak jaman prasejarah untuk melindungi bumi dari kekuatan jahat yang berniat menguasai. Urgensi kelimanya belajar menjadi Power Rangers menjadi lebih besar setelah menyadari Rita Repulsa, salah satu mantan Power Rangers di masa lalu, mengincar Zeo Crystal untuk menguasai dunia. Menjadi Power Rangers ternyata bukan tugas mudah, bahkan sekedar untuk ‘berubah’. Dari lima remaja yang belum saling mengenal hingga harus menjadi tim yang solid, Power Rangers harus berusaha lebih keras lagi.
Sebagai sebuah reboot untuk generasi yang sama sekali berbeda sekaligus sajian nostalgia, SPR punya beban tugas yang tak mudah. Terutama-tama karena pergeseran selera yang mungkin menganggap Power Rangers versi 90-an sudah terlampau campy dan tidak lagi keren bagi remaja (atau sekalipun bagi anak-anak) jaman sekarang. Maka ia mencoba untuk mempertemukan kedua elemen yang berbeda menjadi satu adonan baru. Konsep ‘pemersatu’ a la The Breakfast Club adalah ide yang sangat baik untuk memepertemukan karakter-karakter yang sama sekali berbeda dengan efektivitas waktu dan proses. Konsep besar tentang sejarah Power Rangers yang di-estafet-kan dari generasi ke generasi a la Charlie’s Angels (bahkan Rita Repulsa dibuat sebagai mantan ranger yang membelot, mengingatkan saya akan premise Charlie’s Angels: Full Throttle) pun menjadi penyambung sekaligus alasan yang masuk akal untuk bisa terus mengembangkan franchise Power Rangers hingga bergenerasi-generasi berikutnya. Pemilihan karakteristik para anggota Power Rangers pun cukup beragam sesuai perkembangan jaman, termasuk autistik dan sexuality-confusion (yang untungnya ditampilkan dengan cukup halus dan natural sehingga masih tergolong aman untuk penonton pra-remaja), tapi masih mempertahankan nama-nama karakter asli dari versi serial yang sudah terlanjur membumi bagi jutaan penggemarnya. Masih ada update desain produksi dan karakter yang juga mengikuti perkembangan jaman (terutama yang paling menjadi favorit saya, visualisasi sosok Zordon) yang tak kalah mumpuni dengan masih meninggalkan ‘jejak-jejak’ versi 90-an. Kesemuanya terasa seperti sebuah fusion lintas generasi yang patut diapresiasi dan at some point, masih cukup berhasil menjalankan fungsinya.
Upaya pembangunan dari awal yang cukup detail ini bukan tanpa konsekuensi. Porsi proses sebelum menjadi Power Rangers yang nyaris 70% dari durasi harus diakui kelewat banyak. Sebagai pondasi franchise yang baru, bagus dan kuat, tapi sebagai kesatuan film bisa mempengaruhi mood sepanjang film. Jangan heran jika ada penonton yang berceletuk, “kapan berubahnya ini?”. Namun ketika ‘saatnya beraksi’, SPR mengerahkan segala ekspektasi penonton akan film aksi superhero yang sebenarnya tergolong mediocre tapi cukup seru, lengkap dengan robot raksasa dan Megazord, serta tentu saja theme song Go Go Power Rangers yang legendaris. Tak ketinggalan pula cameo dua karakter dari versi serial dan mid-credit scene yang memberikan hint akan ‘what’s next’ yang pastinya membuat penonton dari generasi serial bersorak-sorai.
Aktor-aktris pemeran karakter sentral sebenarnya sangat all-American-boy-and-girl yang kurang noticeable tanpa atribut warna penanda masing-masing. Untungnya kelimanya tampil cukup memikat dalam menghidupkan peran masing-masing, mulai Dacre Montgomery, Naomi Scott, RJ Cyler, Becky G, sampai Ludi Lin. Sehingga dengan konsistensi, bukan tak mungkin kelimanya akan punya penampilan dan kekhasan yang semakin matang di installment-installment berikutnya. Bryan Cranston memasukkan kharisma yang sesuai untuk karakter Zordon, sementara Elizabeth Banks memberikan keseimbangan antara kharisma villainous, keanggunan, serta sensualitas yang menarik. Begitu juga Bill Hader yang mengisi suara Alpha 5 dengan konsistensi terjaga dari versi serialnya.
Teknis SPR memang tak ada yang benar-benar istimewa, tapi kesemuanya lebih dari cukup sesuai kebutuhannya. Misalnya sinematografi Matthew J. Lloyd yang cukup efektif dalam bercerita termasuk untuk adegan-adegan aksinya. Camera work terutama untuk adegan kecelakaan mobil memberikan kesan yang dahsyat. Editing Martin Bernfeld dan Dody Dorn pun masih menjaga pace secara pas di balik porsi ‘proses pra-‘ yang lebih dominan. Music score dari Brian Tyler mampu meneruskan warisan original score versi serial dengan sentuhan ornamen serta elemen yang lebih kekinian. Lebih dari cukup untuk memperkuat adegan-adegan sehingga terkesan lebih ‘megah’. Pemilihan soundtrack populer seperti Handclap dari Fitz and The Tantrums, Power dari Kanye West, dan Give It All dari With You featuring Santigold & Vince Staples yang mengambil sampling dari salah satu ‘lagu wajib’ dari franchise Power Rangers, The Power, semakin menambah keasyikan film sesuai dengan era kini.
Sebagai installment pertama dari franchise yang direncanakan (semoga hasil box office-nya memuaskan sehingga rencana pengembangan franchise ini tetap jalan), SPR mungkin masih belum menemukan formula serta porsi yang pas. Apalagi ada beban pembangunan konsep yang cukup detail dari awal lagi yang ternyata ditampilkan dengan baik meski berpengaruh pada mood keseluruhan film. Directing Israelite terutama untuk action part masih perlu dipertajam lagi untuk menghasilkan adegan-adegan aksi yang lebih remarkable atau setidaknya, lebih intense. Namun for nostalgia sake, SPR masih sangat layak. Semoga saja mendapatkan treatment pengembangan yang lebih solid di installment-installment berikutnya. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates