Saturday, February 25, 2017

The Jose Flash Review
Rangoon [रंगून]


Kisah-kisah historik bisa di-‘warnai’ dengan berbagai treatment. Salah satu yang paling sering digunakan adalah memasukkan kisah romance fiktif ke dalam latar kejadian historik. Hollywood sudah sangat sering menggunakannya. Let’s say Titanic, Pearl Harbor, sampai Australia. Selain alasan cinta adalah salah satu peristiwa humanis paling umum terjadi dan paling dekat dengan kehidupan sehari-hari semua orang, juga menjangkau range penonton dengan jenis kelamin dan strata sosial yang lebih luas. Awal tahun 2017 ini Bollywood mencoba menggunakan formula ini untuk menyampaikan peristiwa bersejarah tentang gerakan Ahimsa Mahatma Gandhi di era Perang Dunia II untuk membebaskan diri dari kolonialisme Inggris. Digabungkan pula oleh karakter yang terinspirasi dari sosok Mary Ann Evans atau yang sering dikenal sebagai Fearless Nadia, stunt-woman asli Bollywood pertama. Disutradarai oleh Vishal Bhardwaj (Omkara), sementara naskahnya disusun bersama Matthew Robbins (Mimic, Crimson Peak) dan Sabrina Dhawan (Monsoon Wedding, Ishqiya). Sejatinya proyek ini akan digarap Vishal tepat setelah Omkara tapi terus tertunda tanpa alasan jelas hingga akhirnya produksi baru terlaksana akhir 2015. Aktris yang tergolong selektif peran, Kangana Ranaut, digandeng untuk mengisi peran utama, bersama Saif Ali Khan dan Shahid Kapoor. Digadang-gadang menjadi film yang digarap epic, Rangoon dirilis bertepatan dengan akhir pekan Maha Shivaratri.

Saat Perang Dunia II masih berkecamuk, India sedang berjuang untuk merebut kemerdekaan dari kolonialisme Inggris. Pasukan INA (Indian National Army) terpecah dan beberapa memutuskan bersekutu dengan tentara Imperial Jepang yang tengah menguasai wilayah Indo-China. Sebuah insiden di perbatasan Indo-Burma, seorang tentara bernama Nawab Malik dan kelompok justru ditangkap oleh tentara Jepang. Momen itu pula yang mempertemukan Nawab dengan Julia, aktris film India yang sering ditanggap untuk menghibur tentara. Nawab ditugaskan menjaga Julia dan ketika sama-sama kabur dari kereta tawanan Jepang, benih-benih cinta mulai tumbuh di antara keduanya. Sayangnya Julia sudah bertunangan dengan Rustom Billomoria, aktor film India yang karirnya mandek setelah kehilangan salah satu tangannya dan kini tengah dekat dengan komandan Inggris Mayor Jendral David Harding. Cinta terlarang antara Nawab dan Julia kian diuji ketika latar belakang masing-masing yang saling berbenturan mencapai puncaknya. Nyawa kedua kubu pun sama-sama terancam.
Dari permukaan terluar, Rangoon punya tampilan yang mengagumkan. Selain plot romance yang sebenarnya cliché tapi ditata dengan menarik, ia punya production design dari Subrata Chakraborthy dan Amit Ray yang grandeur dan serba cantik. Desain kostum Dolly Ahluwalia pun digarap tak kalah serius. Didukung pula sinematografi Pankaj Kumar yang memberikan camera work dinamis yang memaksimalkan adegan-adegan perang, aksi, romantis, sampai stage performance.
Performa akting cast-nya pun tak main-main. Terutama sekali Kangana Ranaut yang memberikan kharisma keseksian sekaligus kick-ass woman-power yang seimbang dan sama-sama kuat pada karakter Julia. Keberaniannya tampil polos (dengan estetika, jauh dari vulgar, tentu saja) juga menambah daya tarik penampilannya di sini. Shahid Kapoor mungkin tak punya perkembangan karakter yang mencolok, tapi tetap punya kharisma serta daya tarik yang cukup kuat sebagai protagonis, Nawab Malik. Saif Ali Khan juga menunjukkan kharisma yang sama kuat dengan (atau malah mungkin sedikit lebih besar daripada) Shahid lewat karakter Rustom Billimoria. Sementara aktor-aktris pendukung lainnya, seperti Richard McCabe sebagai Mayor Jendral Harding, Alex Avery sebagai Mayor Williams, Saharsh Shukla sebagai Zulfi, dan Lin Laishram sebagai Mema, pun memberikan performa yang sangat baik sesuai porsi peran masing-masing.
Sayangnya, problematika terbesar Rangoon terletak pada porsi antara romansa (yang mau tak mau terasa a la Moulin Rouge-nya Baz Luhrmann) dan latar historisnya yang tak berjalan dengan cukup seimbang. Problem yang rentan di formula gabungan sejenis sebenarnya. Jika kasus yang lebih sering terjadi adalah porsi romance yang kelewat menutupi plot historisnya, Rangoon justru sebaliknya. Terutama di klimaks (ya, di momen-momen terpentingnya), unsur romance yang sudah terbangun dengan cukup baik sejak awal disudahi dengan treatment yang kurang emosional untuk dirasakan penonton. Konklusinya pun lebih menitik-beratkan pada kejadian historis, seolah-olah mengabaikan sama sekali plot romansa yang seharusnya menjadi porsi utama dan terbesar sepanjang film. Sebagai after taste-nya, nuansa romantis dari Rangoon terasa lenyap sama sekali, sementara tema patriotik-nya juga belum mampu ‘menggugah’ penonton dengan treatment yang demikian.
Beruntung Rangoon masih punya nomor-nomor musikal yang sangat menghibur, ear-catchy, dan cukup mampu membekas dalam ingatan untuk jangka waktu yang cukup lama. Berkat musik-musik yang di-compose oleh Vishal sendiri, didukung lirik yang ditulis oleh Gulzar, soundtrack Rangoon cukup berwarna. Mulai irama-irama romantis khas Bollywood seperti di Alvida dan Yeh Ishq Hai, hingga Broadway-ish dengan sentuhan Bollywood seperti di Ek Dooni Do, Bloody Hell dan Mere Miyan Gaye England. Ditambah performa panggung Ranaut yang memanjakan mata, nomor-nomor musikal di Rangoon menjadi salah satu yang paling ear-catchy dan memorable tahun ini.
Cukup disayangkan memang, berbagai kualitas tinggi yang ada pada Rangoon belum mampu memberikan after-taste yang benar-benar kuat pada penonton. Terutama sekali romance sebagai suguhan terdepannya. Well, setidaknya cast performances, production designs, dan musical numbers-nya masih bisa jadi alasan yang kuat untuk menikmatinya di layar lebar dengan dukungan layar dan tata suara yang mumpuni. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates