Saturday, March 25, 2017

The Jose Flash Review
Phillauri
[फिल्लौरी]

Aktris cantik Bollywood, Anushka Sharma, sudah membuktikan diri mampu menjadi produser film lewat NH10 (2015) lalu. Kini ia kembali memproduseri sebuah film layar lebar yang juga ia bintangi sendiri, Phillauri. Menggandeng Suraj Sharma yang kita kenal sebagai Pi Patel di Life of Pi (2012) dan Diljit Dosanjh (Udta Punjab), Phillauri menjadi debut penyutradaraan dari Anshai Lal yang sebelumnya menjadi asisten sutradara kedua di Dostana (2008). Naskahnya disusun oleh Anvita Dutt yang kita lihat karyanya di Shaandaar, Baar Baar Dekho, dan dialog di Queen. Dengan dukungan nama-nama ini, Phillauri berpotensi menjadi sajian yang menarik, apalagi premise-nya yang seolah menyindir tradisi lama masyarakat India.

Kanan, seorang pemuda yang sempat mengadu nasib di Kanada memutuskan untuk pulang ke India untuk menikahi kekasihnya, Anu, setelah menjalin hubungan sejak sekian lama. Sayangnya menurut pendeta, waktu kelahiran Kanan bisa membawa kesialan jika langsung menikahi Anu. Untuk menetralisirnya, Kanan harus menikah dengan sebatang pohon. Paska upacara pernikahan untuk menolak bala tersebut, Kanan mulai diganggu oleh sosok hantu wanita bernama Shashi. Ternyata Shashi mendiami pohon yang dinikahi Kanan. Dengan kata lain Kanan telah resmi menikahi Shashi dan mereka tak bisa saling melepaskan diri sampai Kanan menemui ajal. Kanan yang awalnya sempat ragu-ragu ntuk menikahi Anu semakin bertambah kalut dengan keadaan ini. Ia pun mencari penyebab kematian Shashi dan cara untuk membebaskannya kembali ke alamnya.
Phillauri sebenarnya punya premise fantasi yang cukup unik dengan parallel story-nya; masa lalu Shashi dan masa kini antara Kanan dan Anu. Namun parallel story punya tingkat kesulitannya sendiri, terutama dalam menjaga keseimbangan antara kedua plot dan bagaimana membuat plot-plot yang dihadirkan menjadi saling relevan. Sayangnya kurang lebih sama seperti Mirzya yang juga punya pola penceritaan serupa, Phillauri masih belum mampu menjalankan dua fungsi tersebut. Keduanya terasa saling tumpang tindih dan pada akhirnya membuat plot masa kini tentang Kanan dan Anu menjadi kurang tergarap. Ini pula yang membuat relevansi antara flashback kisah Shashi terhadap hubungan Kanan dan Anu terasa kurang kuat jika tak mau disebut ‘dipaksakan’. Sebaliknya, laju flashback kisah Shashi sendiri ternyata juga terkesan tersendat-sendat gara-gara harus kembali ke penceritaan masa kini. Padahal jika mau dibuat berdiri sendiri-sendiri, flashback kisah Shashi pun menarik. Untung saja ia punya momen penutup yang tergarap dengan sangat baik sehingga setidaknya masih memuaskan penonton, baik secara visual maupun emosi.
Selain itu, performa aktor-aktris-nya juga masih cukup catchy dan membuat plotnya menjadi menarik untuk diikuti. Sebagai lead, Suraj Sharma mungkin tak seperti kebanyakan lead male Bollywood yang berwajah tampan dan bertubuh tegap. Namun dengan karakteristik yang lebih ke arah comedic, ia masih mampu menarik perhatian penonton sepanjang film. Sementara Anushka Sharma yang memang punya fisik rupawan dan kharisma akting yang sudah kuat, dengan mudah mencuri perhatian penonton, baik sebagai hantu Shashi di masa kini maupun Shashi ketika hidup sebagai manusia di masa lalu. Chemistry yang dibangunnya bersama Suraj maupun Diljit Dosanjh pun terbangun dengan baik.
Sinematografi Vishal Sinha menyuguhkan camera work yang menarik untuk momen-momen dramatis dan fantasi-nya. Editing Rameshwar S. Bhagat mungkin masih bisa membuat porsi kedua plot yang berjalan paralel menjadi jauh lebih seimbang dan punya koneksi yang baik, tapi setidaknya masih membuat alurnya cukup runtut untuk diikuti. Desain produksi Meenal Agarwal menyuguhkan artistik setting sesuai kebutuhan, baik untuk setting masa kini maupun masa lampau, termasuk desain kostum Veera Kapur yang tak kalah detailnya. Sayangnya unsur musikal Phillauri terasa sangat kurang. Tak hanya dari segi porsi tapi juga daya tancap dalam benak yang kurang kuat, kendati punya lirik-lirik yang puitis dan indah.
Sebagai roman dengan bumbu fantasi, dan satir sosial, Phillauri sebenarnya punya potensi menjadi sajian yang menarik untuk disimak sekaligus punya makna yang mendalam. Sayang treatment story-telling-nya masih belum mampu menanganinya secara maksimal. Kendati demikian, Phillauri masih layak untuk disimak, tentu tanpa ekspektasi yang muluk-muluk.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates