Friday, March 31, 2017

The Jose Flash Review
Perfect Dream


Di antara kota-kota besar di Indonesia, orang Surabaya termasuk punya karakteristik yang unik. Punya taste lifestyle yang tinggi tapi tetap mempertahankan elemen-elemen kedaerahan yang khas, terutama aksen dan bahasa Suroboyoan yang seperti perpaduan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dengan sedikit variasi. Uniknya lagi, orang Surabaya pada umumnya lebih inferior ketimbang di daerah lain. Misalnya orang Surabaya akan mentertawai dan menganggap kampungan dialog yang Suroboyoan banget, padahal kehidupan sehari-hari sendirinya pun menggunakan bahasa dan aksen yang sama. Itu juga mungkin yang menyebabkan Surabaya bukan pasar yang potensial untuk film Indonesia. Coba tanya PH, produser, atau publisis film Indonesia manapun. Penonton Surabaya termasuk yang terendah. Jika pasarnya saja lemah, bagaimana mungkin bisa punya ‘industri’ sendiri? Alhasil hanya ada gerakan-gerakan indie yang tergolong kecil jika dibandingkan di kota-kota besar lain.

Kendati demikian tetap saja ada upaya-upaya untuk ‘mencoba’ peruntungan di industri film Indonesia. Adalah Amelia Salim dan Uci Flowdea, dua sosialita populer yang berinisiatif untuk memproduksi film berskala nasional di bawah bendera Java East Production. Tak mau asal, mereka menggandeng Hestu Saputra (Cinta tapi Beda, Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar, Air Mata Surga, dan Ayat-Ayat Adinda) bersama bendera EMPATSISI Films-nya dengan dukungan aktor-aktris papan atas seperti Ferry Salim, Wulan Guritno, Baim Wong, Olga Lydia, Hengky Solaiman, Yayu Unru, sampai aktor yang lebih kita kenal sebagai pelawak, H. Qomar. Sementara naskahnya disusun oleh Syamsul Hadi (Pencarian Terakhir, HeartBreak.com, Rock N Love, Dreams, dan Demi Cinta). Film bertajuk Perfect Dream (PD) ini tentu saja mengambil setting Surabaya, lengkap dengan berbagai atribut-atribut khasnya.
Dibyo adalah seorang pria yang punya ambisi dan jeli melihat peluang yang bisa mewujudkan ambisi-ambisinya. Termasuk menikahi Lisa, putri pengusaha besar bernama Marcel Himawan. Di tangannya, bisnis keluarga melewati wilayah lawan bisnisnya, Hartono yang dikenal sebagai mafia kelas kakap. Sementara itu pertemuannya dengan Rina, seorang fotografer muda, membuatnya seolah menemukan kenyamanan yang selama ini ia cari-cari. Keutuhan keluarganya; Lisa, putra sulungnya, Bagus, dan putri bungsu, Anna, pun terancam hingga seteru antara Dibyo dan Hartono mencapai puncaknya.
Pada dasarnya, PD menyuguhkan life chronicle yang sedikit banyak mengingatkan saya akan film-film Hollywood bertemakan mafia, seperti yang terakhir, Live by Night. Tema dan genre yang masih tergolong jarang terjamah di film Indonesia. Teknisnya pun tergarap dengan sangat baik, mulai sinematografi Tommy Jepang yang efektif dalam bercerita sekaligus camera work yang smooth dan cukup sinematis, editing Sentot Sahid yang banyak memasukkan match-editing apik, score music elegan ala film-film mafia klasik dari Krisna Purna, serta desain produksi Alfi Syahri dan desain kostum Iwan Latif yang serba cantik nan elegan.
Sayangnya plot PD terasa begitu overstuffed oleh kejadian-kejadian yang sejatinya jika dianalisis lagi punya hubungan sebab-akibat yang cukup relevan, tapi di layar seperti sekedar pemaparan kejadian-demi kejadian tanpa korelasi yang terasa padu. Misalnya saja masuknya karakter Rina ke dalam kehidupan Dibyo tanpa proses pembangunan chemistry yang cukup convincing sebagai upaya character investment. Hal yang serupa terjadi pula pada karakter Bagus dengan Rachel maupun masuknya karakter Annisa yang menurut saya tidak terlalu punya fungsi dalam plot. Konsep-konsep kecil yang dimasukkan, misalnya konsep Peter Pan ke dalam karakter Dibyo, yang seharusnya menarik menjadi terasa seperti ornamen semata tanpa pertalian yang lebih padu terhadap karakter yang ada. Sudut pandang yang seharusnya didominasi oleh Dibyo harus terdistraksi pula ketika sudut pandang cerita berpindah ke Lisa. Pada akhirnya ketidak-fokusan ini berimbas pada ikatan emosi penonton terhadap karakter-karakternya, terutama Dibyo sebagai tokoh utama, yang gagal terjalin. Padahal untuk film berjenis life chronicle seperti ini, ikatan emosi antara karakter utama dengan penonton adalah kunci. Semua kejadian yang dipaparkan (harusnya) bermuara pada tujuan ini. In short, banyak sekali potensi tapi tak terjemahkan secara maksimal ke dalam visualisasinya.  Sayang sekali.
Saya tidak akan mempermasalahkan konsisten aksen dan pemilihan kata bahasa Suroboyoan yang ada karena masih terlihat upaya untuk menjaganya. Tak ada yang salah pula dengan performa-performa Ferry Salim, Wulan Guritno, Olga Lydia, Baim Wong, Hengky Solaiman, Rara Nawangsih, Poppy Sovia, dan Tissa Biani yang masih membawakan karakter tipikal masing-masing. H. Qomar memberikan kejutan yang cukup mencuri perhatian. Dari image comedian yang kita kenal selama ini menjadi karakter mafia yang murni bengis, tak sedikit pun menyisakan aura kelucuan, dengan gesture khas bos-bos konglomerat Surabaya yang cukup detail.
Hestu memang masih terasa terbata-bata dan kurang maksimal dalam menyampaikan grand design-nya, tak terkecuali di klimaks dimana ia berusaha meng-interwave kesemua sub-plot-sub-plot-nya, tapi sebagai sebuah upaya menghidupkan perfilman Surabaya, apa yang disuguhkan PD sebenarnya cukup layak. Apalagi dengan dukungan teknis yang tergarap baik. Semoga saja Java East Production belum kapok untuk terus memproduksi film layar lebar dengan basis Surabaya. Perjalanan memang masih panjang. Begitu pula proses mengubah pola pikir ataupun membaca selera pasar penonton Surabaya. Namun bukan berarti mustahil, bukan? 
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates