Monday, March 6, 2017

The Jose Flash Review
Museum
[ミュージアム]

Tokyo Metropolitan Police sedang digemparkan oleh kasus pembunuhan berantai sadis yang meninggalkan petunjuk surat berisi ‘hukuman’ yang diterima oleh para korban. Detektif Hisashi Sawamura dan partnernya yang masih muda dan baru, Junichi Nishino yang menyelidiki kasus ini menemukan pola pada korban yang mengarah kepada kasus pembunuhan seorang gadis cilik beberapa tahun yang lalu. Dari pola tersebut, Detektif Hisashi baru sadar bahwa sang istri, Haruka, bisa jadi korban berikutnya. Semakin dipicu oleh waktu, Detektif Hisashi nekad menangkap sang pelaku dengan caranya sendiri.

Museum (ミュージアム / Myûjiamu) yang diangkat dari manga berjudul sama karya  Ryôsuke Tomoe tahun 2013 ini sejatinya tak beda jauh dari formula bangunan plot thriller investigasi pembunuhan berantai pada umumnya. Bahkan setup cerita dimana orang yang dekat dengan penyelidik berpotensi menjadi korban berikutnya. Menurut saya, Museum bak Se7en yang digabungkan dengan elemen-elemen dari Saw. Tak hanya sekedar thriller investigasi dengan kreativitas kesadisan yang bikin penasaran dan menggerakkan plot menjadi menarik untuk diikuti perkembangannya, maupun keterlibatan emosi antar karakter yang membuat plot semakin dilematis, tapi juga nilai-nilai yang ingin dituju dari aksi pembunuhan yang dilakukan si pelaku. Mengingatkan akan Saw bukan?
45 menit pertama perkembangan plot Museum ditata dengan begitu padat dan intens. Bahkan bisa kasus sebenarnya bisa terkuak pada 45 menit pertama tersebut. Namun ternyata ia mencoba terlalu keras (dan membuatnya memakan durasi terlalu lama) untuk memasukkan aspek emosional pribadi karakter Hisashi Sawamura ke dalam kasus pembunuhan yang ditanganinya. Di sini kesa bertele-tele pun menjadi begitu terasa. Padahal rasa penasaran penonton tersisa hanya pada pertanyaan: ‘apa motifnya?’. Pada akhirnya pertanyaan tersebut memang terjawab dengan rasional, logis, dan  sebenarnya punya nilai-nilai positif. Namun tentu saja bisa disampaikan dengan intensitas dan kepadatan yang setara dengan 45 menit pertama sehingga pace perkembangan cerita bisa lebih konsisten sepanjang durasinya yang mencapai 132 menit.
Penampilan cast Museum tak ada yang benar-benar istimewa dengan kedalaman lebih. Bukan salah para aktor-aktrisnya, karena karakter-karakter yang ada memang sekedar apa yang terlihat pada permukaan terluar. Shun Ogiri sebagai Detektif Hisashi Sawamura yang mendapatkan porsi terbesar cukup mampu mengundang simpati penonton kendati agaknya masih belum mampu bertahan dalam ingatan untuk jangka waktu lama. Satoshi Tsumabuki yang mengisi peran pelaku menjadi rival yang seimbang dengan Hisashi. Setidaknya kebengisan dan pain yang ia rasakan sebagai motivasi aksinya ditunjukkan dengan cukup jelas dan convincing. Shūhei Nomura sebagai Junichi Nishino dan Machiko Ono sebagai Haruka memberikan performa yang fair sesuai dengan porsi peran masing-masing.
Teknis Museum cukup mendukung nuansa noir thriller yang diusung. Mulai sinematografi Hideo Yamamoto dengan camera work yang kerap bikin penasaran dengan timing yang serba tepat, editing yang mampu meng-create intensitas sedemikian rupa di paruh pertama, kendati mulai perlahan di paruh kedua yang sejatinya bukan kesalahan editing, tapi perkembangan plot yang memang sudah terlalu bertele-tele. Setidaknya editing masih menjaga pace cerita pada paruh kedua menjadi tetap enjoyable sesuai turnover perkembangan plot, tak terkesan terlalu terburu-buru. Desain produksi Toshihiro Isomi pun eye-catchy dengan nuansa noir tanpa meninggalkan corak budaya tradisional dan modernitas a la Jepang. Scoring Taro Iwashiro mendukung intensitas adegan dan memberi warna tersendiri ke dalam bangunan nuansa noir-nya. Sedikit komplain pada sound mixing, terutama pada kanal center dimana terletak sebagian besar dialog utama yang terdengar kurang crisp dan clear.  Sementara pembagian kanal surround dimanfaatkan dengan cukup baik meski tak sampai terdengar dahsyat membombardir seisi ruangan auditorium.
Bagi penggemar genre thriller investigasi pembunuhan berantai yang kini makin jarang ada, Museum bisa jadi pemuas dahaga, a rare gem. Memang kebanyakan formulaic, tapi setidaknya masih mampu menggerakkan plotnya dengan intensitas yang tertata baik, pun juga bikin penasaran. Paruh kedua memang jadi jauh lebih bertele-tele, tapi jika Anda cukup sabar untuk mengikutinya, ia masih menyimpan konklusi yang menarik dan bisa jadi bahan kontemplatif tersendiri.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates