Friday, March 31, 2017

The Jose Flash Review
The Moment
[รักของเรา]


Selain GTH (yang kemudian ‘bertransformasi’ menjadi GDH), nama production house Talent 1 juga cukup dikenal, terutama untuk genre horror seperti Last Summer (2013) dan The Couple (2014). Menyambut Valentine 2017 lalu, Talent 1 mencoba memproduksi genre yang sama sekali berbeda dari ‘spesialisasi’ mereka, yaitu romance. Film bertajuk The Moment (รักของเรา/Ruk Kong Rao) ini menawarkan sebuah interwoven dari tiga cerita dengan latar belakang negara berbeda-beda tapi punya benang merah yang sama, bahkan karakter-karakternya terkoneksi secara langsung. Menghadirkan aktor-aktor yang cukup dikenal, seperti Pachara Chirathivat (SuckSeed dan The Billionaire), Jarinporn Joonkiat (Countdown), Toni Rakkaen (How to Win at Checkers (Every Time), Love H2O), Supassra Thanachat (The Swimmers), hingga aktor berdarah Korea Selatan, Teo Yoo (Equals).

Baru tiba di London untuk melanjutkan studi, Praew dipertemukan kembali dengan mantan pacarnya, Jim. Selain membantu beradaptasi dan mencarikan pekerjaan, perlakuan Jim yang melebihi kewajaran membuat Praew khawatir ada upaya untuk CLBK. Maklum, Praew kini tengah menjalin hubungan serius dengan seorang pria yang sedang bekerja di Seoul, Karn. Praew jadi ragu karena ada kemungkinan dirinya masih menaruh hati dan harapan pada Jim.
Ton nekad menyusul pacarnya, Na, sampai ke New York karena beberapa minggu terakhir ia kehilangan kontak. Petunjuk keberadaan Na yang bisa ditelusuri hanya lewat postingan Facebook. Menurut Jeab, seorang gadis yang mengaku teman dekat Na, ia mulai berkencan dengan pacarnya sendiri. Merasa punya tujuan pencarian yang sama, Ton dan Jeab menelusuri kota untuk mencari keberadaan pasangan masing-masing. Seiring dengan waktu, muncul sebuah momen yang justru membuat keduanya saling jatuh hati.
Karn memutuskan bekerja di sebuah agensi advertising di Seoul. Sering mendapatkan bully dari teman setimnya, tiba-tiba muncul Mr. Kim yang mengaku mengagumi ide-idenya dan memutuskan untuk bekerja sama dalam mengembangkan ide iklan untuk produk soju. Seiring dengan waktu dan riset yang mereka lakukan bersama, tak sadar timbul chemistry yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Dari ketiga cerita yang berjalan paralel tapi dirangkai secara interwoven (bukan terbagi dalam segmen-segmen tersendiri), benang merah yang ingin disampaikan bisa terbaca dengan jelas. Ketiganya punya ‘momen’ yang meski terkesan sederhana tapi punya kekuatan yang cukup untuk mengubah apa yang telah terjalin lama (atau mengembalikan sesuatu yang sempat hilang). Ketiganya dibangun dan di-'jahit' lewat adegan-adegan serta dialog yang mengalir dengan mulus, cukup lancar, lembut, pun juga berhasil membangun chemistry yang lebih dari cukup untuk tampil convincing.
Kesulitan dari merangkai cerita interwoven biasanya adalah bagaimana membagi porsi yang seimbang antara ketiganya, bahkan jika salah satu atau justru beberapa segmen punya kekuatan yang tak sepenuhnya setara. Awalnya The Moment terasa punya segmen yang lebih mendominasi ketimbang yang lain dan ada pula segmen yang terkesan punya perkembangan paling sedikit. Namun berkat editing yang tergolong rapih, punya sense momentum dan penjagaan pace yang tepat, ketiga segmen pada akhirnya terasa punya keseimbangan yang kurang lebih merata. Ketiganya diakhiri dengan konklusi yang terkesan mengambang, tapi sebenarnya cukup terbaca jika Anda berniat untuk menganalisa pilihan sikap dari tiap karakter. In this case memang tak perlu ending yang benar-benar jelas untuk mendikte penonton, tapi ada momen pertimbangan yang cukup jelas mengarahkan konklusi. Ini yang membuat saya berkesimpulan The Moment bukan sekedar drama interwoven ringan yang sederhana semata. Ada pilihan konklusi yang cukup penting dan menarik untuk direfleksikan di kehidupan nyata.
Keenam aktor-aktris pengisi karakter-karakter utama pun diberi porsi yang kurang lebih sama besar untuk menarik perhatian penonton. Untungnya tampil lebih dari cukup untuk mencapai tujuan tersebut. Pachara Chirathivat sebagai Ton mungkin masih tidak beranjak jauh dari perannya di The Billionaire maupun SuckSeed, tapi ada sedikit kedewasaan peran yang ditunjukkan. Chemistry yang dibangunnya bersama Supassra Thanachat pun terasa menjadi yang paling manis. Jarinporn Joonkiat sebagai Praew dan Toni Rakkaen sebagai Jim mungkin tak punya keistimewaan tertentu (itupun karena penulisan karakter yang memang tak punya kedalaman lebih), tapi chemistry-nya masih bisa dirasakan penonton. Kan Kantathavorn sebagai Karn cukup kharismatik dan mampu membawakan karakter dengan dilematis lebih dibandingkan yang lain. Begitu pula Teo Yoo sebagai Mr. Kim yang mampu menjaga keseimbangan dalam karakternya yang memang agak ambigu.
Secara keseluruhan, kemasan The Moment yang terkesan sederhana dan mengalir apa adanya memang membuatnya terasa tak punya banyak keistimewaan, selain sekedar just another decent romance. Namun saya menyukai ide benang merah yang seringkali dianggap remeh tapi ternyata punya ‘kekuatan’ lebih. The Moment menjadi semacam pengingat akan hal tersebut. Pemilihan konklusi dan resolusi yang tak terang-terangan juga membuatnya menjadi lebih kontemplatif bagi penonton yang merasa related. Apalagi kejadian-kejadian yang disuguhkan di sini tergolong sangat ‘sehari-hari’. It is not special, but still a sweet and contemplative romance to enjoy. Even better together with spouse.  
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates