Friday, March 3, 2017

The Jose Flash Review
London Love Story 2


Ekspansi Screenplay dari FTV ke layar lebar sejak 2015 lalu patut mendapatkan apresiasi dan layak dianalisis. Bagaimana tidak, kesemua film yang mereka produksi selalu sukses mengundang di atas 500.000 penonton berbondong-bondong. Satu, aktor-aktris andalan mereka terbukti punya fanbase yang kuat dan besar di seluruh penjuru Indonesia. Dua, mereka tahu betul bagaimana selera pasarnya dan bagaimana menjual tepat pada sasarannya. Persetan dengan apa pendapat kritik dan kalangan yang memang bukan target audience, dari produksi ke produksi berikutnya terbukti mengalami perkembangan dan peningkatan di banyak aspek, terutama teknis yang makin sinematis. Produktivitas mereka yang tahun 2016 lalu saja mampu memproduksi tiga judul film (dan kesemuanya sukses secara box office sekaligus berhasil menciptakan istilah-istilah gaul menjadi viral) juga patut diacungi jempol. Tak heran jika di tahun 2017 ini mereka semakin gencar memproduksi film. Baru Januari lalu menelurkan Promise yang sampai saat ini sudah mencatat angka 655.805 penonton, di awal Maret ini mereka sudah meluncurkan sekuel dari salah satu film box office mereka tahun lalu, London Love Story (LLS – mencatat angka 1.124.876 penonton). Bertajuk London Love Story 2 (LLS2), winning team masih tetap dipertahankan; sutradara Asep Kusdinar, penulis naskah Tisa TS, serta primadona mereka; Michelle Ziudith, Dimas Anggara, dan kini diramaikan pula oleh primadona mereka lainnya, Rizky Nazar.

Hubungan antara Dave dan Caramel berjalan semakin serius. Dave memutuskan untuk mengajak Caramel liburan ke Swiss sebagai hadiah ulang tahun. Kebetulan Sam, sahabat Dave yang seorang DJ terkenal sedang tinggal di Swiss dan bersedia untuk mengurus segala kebutuhan selama liburan, termasuk mengajak mereka dinner di restoran terbaik di Zurich. Siapa sangka ternyata pendiri restoran tersebut adalah Gilang, orang Indonesia dan punya masa lalu bersama Caramel. Dave mencoba untuk tak menghiraukan fakta ini, sementara Caramel terus menghindari Gilang yang seolah tak henti-henti memberikan sinyal yang berlebihan dan mencolok kepadanya. Hingga Caramel dan Gilang memutuskan untuk menyelesaikan semua urusan yang pernah ada di antara mereka berdua.
Meneruskan apa yang sudah dibangun dari LLS, kisah asmara Dave dan Caramel tampaknya dikembangkan ke arah yang lebih dewasa meski masih tak beranjak dari dialog-dialog cheesy yang menjadi ciri khasnya. Bagi saya, ini sama sekali tak menjadi masalah yang berarti, apalagi menganggapnya sebagai sajian untuk remaja yang memang cocok untuk pangsa pasarnya. Dibandingkan installment pertama, LLS2 terasa sudah banyak mengurangi line-line yang terlampau lebay, manja, menggelikan, dan ‘menggemaskan’. Pilihan dan perilaku karakter-karakternya pun mengalami pendewasaan serta less-menyebalkan. Paruh pertama film menjadi sangat menghibur terutama berkat penampilan comedic-character dari Sam yang kembali diperankan oleh Ramzi. Ekspresi wajah, gesture, pilihan sikap, sampai celetukan-celetukannya menjadi pencuri perhatian utama yang mewarnai LLS2 menjadi ceria dan sangat menghibur.
Kemudian ketika memasuki paruh kedua dimana things got more serious, LLS2 sedikit mengalami turnover menjadi melankoli. Untungnya naskah Tisa dan pengarahan Asep membuatnya tak sampai tenggelam dalam suasana melankoli yang kelewat mendayu-dayu ataupun depresif. Tak pula menggelikan atau ‘menggemaskan’ seperti momen-momen serupa di installment pertama. Memang tak sampai jadi drama serius, tapi setidaknya penonton dewasa yang menganggap film-film Screenplay Films konyol dan bodoh pun akan dibuat terdiam untuk sekedar bersimpati pada suasana hati karakter, khususnya Caramel. Konklusinya mungkin terkesan terlalu mengambil jalan pintas, tapi lagi-lagi alasan ‘selera target audience-nya’ menjadi pilihan yang tak boleh diabaikan begitu saja. Setidaknya dengan pilihan konklusi demikian, every character wins, termasuk penonton yang tentunya akan lebih berpihak pada apa yang telah dibangun film selama ini, dan menjadikan sosok Gilang lebih positif di mata penonton ketimbang sekedar apa yang ditampilkan di paruh pertamanya.
Sebagai primadona terdepan Screenplay, Michelle Ziudith, Dimas Anggara, dan Rizky Nazar masih tampil konsisten seperti image masing-masing selama ini di mata penggemarnya. They will still be lovable characters by their fans. Ramzi pun mengisi peran Sam sesuai dengan kesehariannya. Namun porsi lebih yang diberikan kepada karakternya kali ini menjadi keputusan yang baik sehingga menjadikan LLS2 sajian yang menghibur. Sementara Salshabilla Elovii yang ikut meramaikan sebagai Samira dan Mawar Eva De Jongh sebagai Elena masih belum mampu benar-benar mencuri perhatian penonton lewat performance-nya, selain tentu saja faktor porsi karakternya yang memang sangat sedikit. Justru di porsi yang sama-sama tak terlalu banyak, penampilan Ina Marika sebagai adik Caramel yang tuna wicara lebih mencuri perhatian saya.
LLS2 memang tak se-glamour dan se-eye candy Promise untuk urusan desain produksi dan tata kostum. Namun ia masih didukung sinematografi Teuku Rama Khatulistiwa yang sudah menjadi ‘langganan’ Screenplay Films sejak LLS pertama. Tetap maksimal dan sinematis dalam merekam latar pegunungan es, interior-interior sempit, dengan pergerakan kamera yang semakin mulus mengikuti feel dramatisnya. Editing Wawan I Wibowo juga masih bekerja sebagaimana mestinya, cukup pas dalam timing dan pembangunan nuansa. Musik Joseph S Djafar terdengar makin sinematis dengan gelaran orkestra yang juga terasa lebih ‘blockbuster’. Pemilihan lagu Cinta dalam Hati dari Rossa  mungkin terdengar biasa, dalam arti masih sangat Rossa. Namun favorit saya justru Body Speak yang mengiringi credit. Selain terdengar berbeda dari Rossa biasanya, juga mengundang mood fun dan cool sebagai after taste.
Dari film ke film, terasa sekali peningkatan berbagai aspek dari produksi Screenplay Films. Baik secara teknis maupun content. Pada titik ini saya menjadi terpikir, mungkin saja produksi-produksi layar lebar mereka selama ini merupakan bagian dari sebuah konsep besar dengan tujuan menggiring penonton (target audience-nya) yang mungkin pada awalnya punya kepribadian se-menjengkelkan karakter-karakter di film-film produksi mereka sebelumnya untuk ikut berkembang secara pola pikir dan pilihan sikap. Jika dugaan saya ini benar, maka respect saya kepada Screenplay Films semakin besar. Mengabaikan pendapat kritikus dan penonton yang memang bukan dari target audience-nya, mereka punya cara tersendiri untuk memanjakan target audience sesungguhnya (in other hands, monetizing semaksimal mungkin selagi demand-nya tinggi) sekaligus secara perlahan dan halus mendewasakan. Semoga saja dugaan ini benar, karena saya melihat perkembangan yang selalu terjadi dari produksi ke produksi. Tak terkecuali di LLS2 yang bagi saya merupakan produksi Screenplay Films paling menghibur dan paling ‘tidak menjengkelkan’ so far, kendati yang paling eye-candy tetaplah Promise. So if you’re interested to understand the progresses they’ve made, tak ada salahnya mencoba menyaksikan LLS2. Toh setidaknya anggap saja sebagai hiburan ringan semata. Bagi yang memang sudah menjadi fan film-film Screenplay Films sejak awal, tentu saja haram untuk melewatkan. Oh yes, I’d recommend you to experience it on theatre screen. Terutama sekali faktor musical scoring orkestra yang pastinya akan terdengar lebih maksimal di layar bioskop. Jangan buru-buru keluar dari teater saat credit jika penasaran teaser lanjutan kisah cinta Dave dan Caramel di tahun 2018 nanti.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates