Thursday, March 2, 2017

The Jose Flash Review
Logan

Di antara mutan-mutan di universe X-Men, Wolverine tampaknya menjadi karakter yang paling menarik untuk digali lebih dalam. Apalagi sejak awal sosoknya sudah dihidupkan dengan begitu kuat oleh Hugh Jackman. Tak heran jika Marvel dan 20th Century Fox kemudian membuatkan film stand-alone, tak hanya satu tapi dua sekaligus: X-Men Origins: Wolverine (2009) dan The Wolverine (2013). Keduanya mengambil setting sekaligus treatment style yang sama sekali berbeda, sejalan dengan rentang hidup karakter Wolverine sendiri yang memang panjang. Kendati banyak kritik yang tidak menyukai kedua versi ini, saya pribadi cukup menikmati dan bahkan banyak adegan-adegan yang memorable dalam ingatan saya sampai saat ini. Saya yakin I'm not the only one. That means that both were not bad attempts at all.

Sayangnya tak ada yang abadi di dunia ini. Begitu juga Hugh Jackman yang semakin tua dan bahkan sempat mengidap kanker kulit memutuskan untuk pensiun memerankan sosok Wolverine setelah 10 film. Maka diputuskanlah untuk membuat film penutup untuknya. Beruntung di versi komik memang sempat ada kisah bertajuk Old Man Logan karya Mark Millar yang bisa dijadikan referensi. James Mangold yang menggarap The Wolverine melanjutkan perannya sebagai sutradara sekaligus penulis naskah bersama Scott Frank dan Michael Green. Berbeda sama sekali dengan kedua film stand-alone pertama maupun universe X-Men secara keseluruhan, Mangold mencoba menghadirkan elemen-elemen yang lebih humanis pada sosok Logan alias Wolverine, dengan menggabungkan western macam Unforgiven dan Shane, post-power struggle macam The Wrestler, road movie, dan bahkan father-and-daughter parenting. Ditambah kesuksesan Deadpool yang lebih meyakinkan studio akhirnya menyetujui kisah Wolverine dibuat untuk rating R. Film terakhir ini menunjukkan the real Wolverine with the adamantium claws yang siap mencabik-cabik tubuh manusia dan tak sungkan-sungkan untuk bersumpah serapah. 

Tahun 2029 film dibuka dengan sosok Logan yang sudah terlihat renta dan bekerja sebagai supir limousine sewaan di sekitar perbatasan Amerika-Meksiko. Bersama Caliban, mutan yang masih tersisa, ia merawat Profesor Charles Xavier yang perlu obat tertentu untuk mengendalikan kejang-kejang saat naluri mutan-nya kumat. Tujuan hidupnya hanya satu: mengumpulkan uang dan membeli kapal pesiar untuk ditinggali dengan tenang. Tiba-tiba saja kehidupan tenangnya terusik ketika muncul Pierce yang mengaku dari institusi medis dan mencari-cari dirinya beserta Profesor X. Di saat yang sama seorang perawat bernama Gabriela mendatanginya untuk diantarkan ke perbatasan Amerika-Kanada yang dipercaya menjadi shelter yang baik untuk seorang gadis cilik bernama Laura. Logan makin kalang kabut ketika Gabriela ditemukan tewas. Bersama Profesor X, ia mengantar Laura ke tujuan sekaligus menghindar dari kejaran geng Pierce. Siapa sangka sebenarnya mereka mengincar Laura. Along the way Logan menemukan fakta identitas Laura yang sebenarnya.

Berkat X-Men Days of Future Past dan X-Men Apocalypse  yang telah mereset segala kejadian di installment-installment sebelumnya, termasuk di X-Men Origins: Wolverine dan The Wolverine, apa yang disajikan di sini punya lebih banyak kebebasan dan masih relevan. Dari premise-nya Logan menggabungkan cerita dari novel grafis Old Man Logan, Mutant Massacre, dan X-23. Bagusnya, ketiga sumber materi ini berhasil digabung menjadi satu kesatuan cerita dengan hubungan sebab-akibat yang logis. Pun juga elemen post-power syndrome, western, road movie, father-and-daughter relationship yang terangkai dengan serba seimbang tanpa ada yang terasa tumpang tindih maupun terkesan terlalu stuffed-up. 

Things got more serious, tapi tidak terlampau jatuh ke jurang gelap, melankoli, maupun depresif. Karakter-karakter, terutama Logan sendiri dan Profesor X diberi kedalaman yang lebih manusiawi. Semuanya tanpa mengurangi porsi maupun tensi adegan-adegan aksi yang levelnya justru jadi jauh meningkat. Apalagi tingkat kebrutalan yang seolah tanpa tedeng aling-aling, no boundaries, and no mercy. Semua potensi violence yang sebelumnya terkesan kepalang tanggung ataupun ditahan-tahan akhirnya dilepaskan sebebas mungkin di sini. Jadi jangan kaget melihat Logan dengan santainya menebas atau menembus batok kepala. Jangan kaget juga mendengarkan Logan dan bahkan Profesor X bersumpah serapah. 

For the last time, Hugh Jackman terlihat all-out seiring dengan porsi, kedalaman karakter, dan range emosi yang lebih besar daripada installment-installment sebelumnya. Dilematis antara attitude Logan selama ini dengan perkembangan-perkembangan akibat konflik diseimbangkan dan dengan turn-over yang mulus. Kualitas performa sekaligus range yang setara diberikan pula oleh Patrick Stewart yang juga mengaku ini merupakan penampilan terakhirnya sebagai Profesor X. Sebagai pendatang baru, si cilik Dafne Keen tampil tak kalah mencuri perhatian sebagai Laura. Kemisteriusan, ke-cool-an, dan kenaifan ditampilkan dengan keseimbangan yang solid. Sementara Stephen Merchant sebagai Caliban, Boyd Holbrook sebagai Pierce, dan Elizabeth Rodriguez sebagai Gabriela tampil cukup noticeable sesuai porsi masing-masing.

Tak perlu meragukan kualitas sinematografi John Mathieson yang pernah menangani sinematografi X-Men: First Class. Keseluruhan momen aksi maupun dramatis tampak tertata dengan maksimal, dengan camera-work yang bersinergi sempurna dengan pace dan feel film. Editing Michael McCusker dan Dirk Westervelt mempertegas pace dan feel dengan tepat. Musical score Marco Beltrami memberikan warna aksi a la blockbuster sekaligus old-school Western menjadi paduan yang serasi. Sound design terdengar begitu kaya detail yang semakin maksimal berkat mixing Dolby Atmos dengan persebaran kanal yang presisi dan deep bass yang dahsyat. Dengarkan detail deru debu, rintik-rintik hujan, hantaman, hingga tusukan yang begitu memanjakan telinga.

Logan memang jelas punya konsep treatment yang jauh berbeda dengan dua installment stand-alone dan keseluruhan installment utama X-Men. Tak semata-mata tingkat kesadisan yang meningkat drastis tanpa tedeng aling-aling, tapi juga kedalaman karakter tanpa terjerembab dalam nuansa yang terlalu gelap, melankoli, maupun depresif. Keseimbangan antara keseriusan dan fun-action terjaga dengan sangat baik. Memberikan taste yang sama sekali berbeda for one last time, sangat berdosa jika Anda mengaku penggemar franchise X-Men tapi melewatkan Logan. Tak salah pula jika ada penggemar franchise X-Men sejak dari buku komik ataupun yang sudah terlanjur cocok dengan style versi film sejak awal, lantas membenci versi ini. Selain turnover style yang drastis sehingga bisa dianggap mengganggu konsistensi bangunan keseluruhan versi (setidaknya jika mau mengubah style, sekalian dijadikan sebagai reboot), perlakuan pamungkas karakter Logan yang diberikan di sini dianggap tidak adil setelah sekian kali nearly-death-experience di installment-installment sebelumnya. Ada benarnya juga. But as for me, Logan adalah sebuah farewell yang manusiawi dan all-out. Masalahnya kemudian adalah I wonder how creative they're gonna expand the franchise in the future without their most iconic characters. Days of Future Past sudah membuktikan kekreatifan mereka sebelumnya. So ini akan menjadi sangat menarik untuk terus disimak. Hail Marvel, hail X-Men!

Lihat data film ini di IMDb.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates