Wednesday, March 8, 2017

The Jose Flash Review
Kong: Skull Island


Dalam sejarah perfilman Hollywood, King Kong bisa jadi salah satu sosok monster raksasa tertua. Pertama kali muncul tahun 1933, kemudian di-remake tahun 1976, dan terakhir versi Peter Jackson di tahun 2005. Dari sekian banyak seri dan spin-off, ada satu yang paling menarik; versi versus dengan monster raksasa asal Jepang, Godzilla di King Kong vs Godzilla pada tahun 1962 yang diproduksi oleh Jepang-Amerika Serikat. Versi itulah yang menginspirasi Legendary Pictures untuk kembali mempersatukan keduanya dalam sebuah franchise universe; MonsterVerse. Dimulai dari remake (atau reboot) Godzilla tahun 2014 lalu, installment keduanya siap tayang 2017 ini; Kong: Skull Island (KSI). Rencananya, installment berikut akan tayang tahun 2019 sebagai sekuel dari Godzilla, Godzilla: King of the Monsters dan tahun 2020 lewat Godzilla vs Kong. Dengan penghasilan Godzilla (2014) yang mencapai US$ 529.1 juta di seluruh dunia, Warner Bros. tak ragu untuk menginvestasikan hingga US$ 190 juta untuk KSI (di atas Godzilla yang berbudget US$ 160 juta). Dari naskah yang disusun Dan Gilroy (The Bourne Legacy, Nightcrawler), Max Borenstein (Godzilla 2014), dan Derek Connolly (Jurassic World, Monster Trucks), bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Jordan Vogt-Roberts yang mana ini baru kali keduanya menangani film layar lebar setelah The Kings of Summer. Lini bintangnya meliputi Tom Hiddleston, Samuel L. Jackson, Brie Larson, John C. Reilly, John Goodman, Toby Kebbell, hingga bintang muda Cina yang baru saja kita lihat aksinya di The Great Wall, Jing Tian.

Bersetting tahun 1973, Will Randa dari organisasi Monarch mengajukan pembiayaan dari pemerintah untuk melakukan ekspedisi ke sebuah pulau di Samudra Pasifik yang bahkan belum tertera di peta, Skull Island. Awalnya ditolak karena dianggap tak berguna dan hanya berdasarkan dongeng semata, pemerintah menyetujui bantuan ekspedisi dengan iming-iming takut didahului pihak lain, terutama Rusia. Turut serta dalam ekspedisi, James Conrad, bekas tentara Inggris yang pernah bertugas di Perang Vietnam, yang dianggap berpengalaman dalam menghadapi medan hutan, Preston Packard, Letkol tentara Amerika Serikat yang bertugas membawa tim masuk ke wilayah dengan helikopter, Mason Weaver, foto jurnalis anti-perang wanita, San Lin, ahli biologis muda, Houston Brooks, seorang geologis muda yang menjadi kepercayaan Randa, beserta beberapa pasukan anak buah Packard. Tak ada yang curiga sebelumnya bahwa Randa mengetahui ada rahasia besar di Skull Island dan punya agenda pribadi di pulau tersebut. Salah satunya adalah sosok primata raksasa berjuluk Kong yang didewakan oleh suku setempat, dan monster mirip Komodo yang tak kalah ganasnya yang berjuluk Skull Crawlers.
At first, let me ask you one thing: apa yang paling Anda harap-harapkan dari film bertemakan monster raksasa? Jika jawabannya adalah sebuah pengalaman near-death yang mendebarkan, maka KSI adalah pilihan tontonan yang akan sangat memuaskan Anda. Vogt-Roberts menunjukkan kepiawaiannya dalam menggarap adegan-adegan petualangan dan serangan yang begitu mendebarkan dan dengan timing jump-scare yang sangat efektif. Berkali-kali Anda akan dibuat spontan berteriak. Tentu ini juga tak lepas dari peran sinematografi Larry Fong (300, Watchmen, Sucker Punch, Super 8, Now You See Me, dan Batman v Superman: Dawn of Justice) yang tak hanya sukses membuat ukuran gigantik para monster tampak spektakuler dan ‘mengancam’, tapi juga membuat adegan-adegan serangan yang bercerita secara jelas, efektif, sekaligus memicu adrenaline. Begitu pula editing Richard Pearson (The Bourne Supremacy, Quantum of Solace, Iron Man 2, Maleficent, Dracula Untold, dan The Accountant) yang begitu stylish memasukkan teknik cut-to-cut serta match cut sesuai dengan energi dan pace yang didesain.
Ada cukup banyak referensi terutama era ’70-an yang dimasukkan KSI untuk membangun atmosfer dan energi keseluruhan film. Dengan mudah Anda akan menemukan nuansa serupa Apocalypse Now dan Platoon, misalnya. Mulai dari tone warna, editing style, hingga pemilihan soundtrack yang berwarna 70’s rock n’ roll seperti The Stooges, The Chambers Brothers, The Hollies, Black Sabbath, Creedence Clearwater Revival, hingga David Bowie, serta tak ketinggalan score music dari Henry Jackman yang memadukan musikal-musikal orkestra megah a la blockbuster modern dengan warna-warna suspense war era ’70-an. Kesemuanya menyatu dan membentuk sebuah tontonan monster yang mendebarkan, buas, bahkan jauh lebih buas daripada film Jurassic Park manapun. Batas rating PG-13 benar-benar dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menghadirkan kebrutalan dan kesadisannya.
Namun dengan pace yang paling pas untuk genre action-adventure thriller seperti ini, tentu ada yang harus di-‘korbankan’. Kali ini adalah character investment yang terasa sangat-sangat kurang, kendati ada semacam satir dan sindiran terhadap kepribadian tentara lewat karakter-karakter. Pun juga unsur rasisme dan seksisme yang memang sesuai dengan setting waktu tapi diseimbangkan pula dengan interracial romance yang saat ini menjadi isu hangat di Hollywood. Bahkan jika karakter-karakter utama tak diperankan oleh nama-nama populer, mungkin penonton akan susah mengenali karakteristik masing-masing. Ini pun membuat saya agak samar-samar ingat apakah karakter tertentu dimatikan dalam film setelah berakhir. Mungkin itulah konsep KSI sejak awal. Ia ingin men-treat penonton semaksimal mungkin. Bisa saja sejak awal porsi karakter-karakternya didesain secukupnya. Selain untuk menjaga pace utama, juga merasa tak perlu buang-buang durasi untuk menginvestasikan karakter-karakter yang dirasa kurang penting, selain sekedar menunjukkan kebuasan monster-monster yang menjadi perhatian (lebih) utama. Sedangkan untuk karakter-karakter utama masih ada waktu untuk mengembangkannya lebih lagi di installment-installment berikutnya (apalagi terlihat jelas pada adegan post-credit).

Bagaimanapun dengan kedalaman karakter yang serba secukupnya, aktor-aktris pengisi peran-peran utama sebenarnya masih tampil cukup menarik perhatian. Misalnya Tom Hiddleston yang tampak jauh lebih macho sebagai James Conrad ketimbang peran-peran sebelumnya. Tentu juga faktor body-tone yang lebih mendukung. Brie Larson diberi porsi peran yang cukup penting sebagai salah satu dari dua karakter wanita, Mason Weaver. Masih terasa upayanya untuk memberi kekuatan karakteristik tersendiri pada karakter Mason. Samuel L. Jackson sebagai Preston Packard menampilkan performa yang tak jauh berbeda dari peran-peran sebelumnya.  John C. Reilly sebagai Hank Marlow dan John Goodman sebagai Bill Randa tampil menonjol berkat eksentrisme yang sebenarnya kerap dibawakan oleh keduanya. Ditambah adegan penutup yang memberikan karakter Marlow kesan lebih mendalam. Begitu hangat dan menyenangkan sebagai sebuah penutup. Sementara Jing Tian sebagai San, Toby Kebbell sebagai Jack Chapman, Jason Mitchell sebagai Mills, Corey Hawkins sebagai Houston Brooks, John Ortiz sebagai Victor Nieves, Shea Whigham sebagai Cole, dan Thomas Mann sebagai Slivko mungkin diberi porsi peran yang terbatas tapi masih cukup noticeable.
Dengan visual dan experience sebagai kekuatan utamanya, maka KSI wajib dinikmati di layar IMAX 3D untuk mendapatkan pengalaman maksimal. Format 3D-nya sendiri punya kualitas yang cukup fair. Di beberapa momen depth-of-field begitu terasa, apalagi untuk extreme close-up wajah Kong. Tak ada gimmick pop-out yang menonjol, tapi ada cukup banyak visual trick (tapi tak sampai ‘menembus’ layar) yang bisa membuat Anda jump off your seat. Sound mixing tertata dengan begitu jernih, crisp, dan dengan deep-bass yang terdengar dahsyat.
Sekedar catatan, versi IMAX KSI punya countdown bumper custom khusus (seperti halnya Suicide Squad beberapa waktu lalu) dan ada after credit yang memberikan sedikit hint akan apa yang akan disajikan di installment berikutnya.
So set your expectation right. Saya pribadi yang awalnya tak berekspektasi apa-apa selain sekedar hiburan petualangan mendebarkan, setidaknya setara Godzilla versi 2014, merasa mendapatkan way beyond expectation. Memang harus ada yang dikorbankan, tapi bagi saya sama sekali tak menciderai keseluruhan film. Mungkin hanya kritikus yang gemar mencari-cari kekurangan yang akan melihatnya sebagai ‘cacat’. Anda pun tetap akan memahami alurnya meski belum menyaksikan Godzilla versi 2014. Ini adalah versi berdiri sendiri sebelum akhirnya dilebur dalam satu judul kelak. Toh saya yakin MonsterVerse Legendary ini tak akan punya universe yang terlampau rumit nantinya. Go experience it in the best format near you! It will be one of the best cinematic experience in recent years.
Lihat data film ini di IMDb.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates