Friday, March 3, 2017

The Jose Flash Review
Interchange

Untuk urusan kualitas film layar lebar, Indonesia boleh sedikit lebih berbangga karena masih berada di atas rata-rata sinema Malaysia yang lebih banyak dibanjiri film-film drama, komedi, dan horror yang dibuat dengan standard FTV (or even worse). Ini bisa jadi merupakan imbas dari peraturan pemerintah Malaysia yang menentukan kuota layar lebih banyak dan hari tayang minimum untuk film-film lokal mereka, sehingga ada kesan sekedar kejar kuantiti ketimbang kualitas. Namun sesekali tetap ada film yang layak diperhitungkan. Tak hanya dikerjakan dengan teknis sinematik yang layak, tapi juga eksplorasi tema yang tergolong berani untuk industri film yang statusnya masih ‘berkembang’. Setelah horror reliji Munafik yang masuk Indonesia tahun lalu, satu lagi sinema Malaysia yang menyambangi layar lebar kita. Interchange, sebuah thriller investigatif bergaya noir dengan bumbu fantasi yang merupakan joint-venture antara Malaysia (Seeing Eye Films, Sonneratia Capital, APPARAT, MDEC) dan Indonesia (Cinesurya – Fiksi dan What They Don’t Talk About When They Talk About Love).

Di Indonesia Interchange menjadi menarik karena keterlibatan dua aktor terbaiknya, Nicholas Saputra dan Prisia Nasution yang ikut mengisi jajaran cast. Apalagi pemberitaan Prisia Nasution yang menemukan jodohnya dengan cast asal Malaysia, Iedil Putra pasca produksi. Disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Dain Said (Bunohan: Return to Murder yang memenangkan penghargaan Golden Hanoman Award di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2012), Interchange mendapatkan kehormatan untuk world-premiere di beberapa ajang internasional bergengsi, seperti Singapore Film Festival, Toronto Film Festival, dan Locarno International Film Festival. Publisitas-publisitas tersebut tentu membuatnya semakin menarik untuk disimak.
Detektif Azman sedang dibikin pusing oleh pembunuhan berantai yang tak hanya brutal tapi juga dengan teknik yang beautifully mustahil dilakukan oleh manusia biasa. Ia lantas meminta bantuan pada koleganya, Adam, seorang fotografer forensik freelance yang kerap bekerja sama dengannya. Petunjuk mereka hanyalah pecahan kaca yang diduga adalah plat fotografi jaman dulu dan helaian bulu burung langka asal Kalimantan Tengah. Di saat yang sama Adam akhirnya berhasil berkenalan dengan Iva, tetangga gedung apartemen seberang yang selama ini menjadi objek observasi (a la Rear Window) dari ruang apartemennya. Awalnya Iva tampak punya informasi penting seputar plat kaca fotografi yang ditemukan di TKP. Namun ternyata Iva punya kaitan yang lebih dalam dengan kasus pembunuhan berantai aneh tersebut.
Di atas kertas, daya tarik utama Interchange jelas terletak pada premise investigasi bergaya noir yang semakin langka di era modern ini. Begitu pula konsep desain unik dan menarik yang memberi warna tersendiri pada film. Memasukkan mitos tentang kamera yang bisa mengambil sebagian jiwa dari objek yang difoto dan mitos tradisional dari suku pedalaman Kalimantan Timur, Said tampak tahu betul bagaimana meracik kesemuanya dengan porsi yang serba pas, saling berhubungan, meski sebenarnya punya formula dasar crime investigation yang biasa saja.
Sayang, Said terasa punya kesulitan dalam menyampaikan grand design Interchange menjadi sajian thriller investigatif yang konsisten mengundang rasa penasaran penonton maupun menjelaskan detail revealing-nya. Mungkin juga sebenarnya kekuatan terbesarnya hanya terletak pada ‘revealing’ moment, bukan pada perjalanan investigasi, sehingga membuat perjalanan investigasi terasa berjalan lambat dengan perkembangan yang tak terlalu signifikan. Baru ketika saatnya semua terkuak, ia kewalahan untuk menjelaskan keterkaitan berbagai elemen-elemen grand design yang disiapkan. Perlu waktu beberapa saat bagi penonton untuk mencerna, menganalisa ke-saling terkait-an antar elemen, dan menyadari betapa sesungguhnya ada konsep desain yang begitu unik dan menarik di balik Interchange.
Penampilan cast secara umum termasuk baik, apalagi untuk sebuah noir yang butuh sisi kemisteriusan lebih untuk semua pihak karakter. Kendati secara fisik dan kharisma Iedil Putra sebagai Adam tak terlalu mendukung untuk mengisi porsi lead, effortnya untuk menghidupkan karakter dengan kemisteriusan dan kedalaman tersembunyi patut mendapatkan apresiasi. Begitu juga Shaheizy Sam yang berupaya memberikan sosok detektif eksentrik ke dalam karakter Detektif Azman kendati pada akhirnya menjadi tak lebih dari sekedar gimmick, tanpa punya korelasi yang penting pada keseluruhan plot. Nicholas Saputra yang memang sejak dulu tampak misterius dengan mudah menghidupkan sosok fantasi Belian. Penampilan singkat Chew Kin-wah sebagai pemilik layanan cuci cetak foto memang tak punya porsi yang cukup penting dalam plot, tapi popularitasnya setelah My Stupid Boss dan Cek Toko Sebelah jelas menjadikannya noticeable, selain tentu saja performa yang memang sangat baik. Sementara pencuri perhatian terbesar adalah Nadiya Nisaa yang aura misterius, keanggunan, eksotis, sekaligus sensual-nya terpancar kuat dari sosok karakter Sain.
Sebagai film noir dengan daya tarik utama terletak pada grand design, Interchange jelas punya desain produksi yang begitu unggul, mulai tata artistik, desain kostum, visual effect, practical effect make-up (terutama untuk tampilan mayat-mayat yang bak seni patung atau instalasi yang indah dan sosok Belian yang bak perpaduan Constantine, Birdman, dan beberapa karakter fantasi lain), sampai musik dari Luka Kuncevic (Men Who Save the World). Kesemuanya bersinergi menjadi satu kesatuan kemasan noir yang pekat dan kuat. Sinematografi Jordan Wei Meng Chiam pun berhasil menangkap keindahan-keindahan tersebut secara maksimal. Editing Samir Arabzadeh dan Herman Panca masih mampu secara fairly menjaga nuansa noir dan misterius dengan pace yang nyaman diikuti di balik perkembangan plot yang tak terlalu banyak.
Sebagai sebuah sajian yang unik dan visually stunning, Interchange masih menarik untuk dialami di layar lebar. Memang perlu waktu dan kesabaran lebih untuk menganalisis dan mencerna revealing-nya. Namun begitu berhasil, Anda akan menemukan keindahan dan keunikan yang mungkin akan bertahan lama dalam ingatan. Upaya yang patut diapresiasi baik dalam ranah sinema Malaysia maupun Indonesia yang sama-sama jarang punya tema dan style seperti ini. 
Lihat data film ini di IMDb.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates