Tuesday, March 7, 2017

The Jose Flash Review
Galih & Ratna


Cinta adalah universal. Merujuk pada ungkapan tersebut, maka tiap negara dan budaya memiliki sosok pasangan asmara yang mewakili dan melegenda. Jika Inggris punya Romeo dan Juliet yang diadaptasi ke berbagai variasi nama di berbagai negara, Cina punya Sampek-Engtay, maka Indonesia punya Galih dan Ratna, di samping Ramadhan & Ramona, dan era 2000-an, Cinta dan Rangga. Namun sosok Galih dan Ratna yang diperankan oleh Rano Karno dan Yessy Gusman di film Gita Cinta dari SMA (1979) sudah melekat begitu kuat hingga kini. Maka tinggal menunggu momen yang tepat untuk melanjutkan warisan ke generasi selanjutnya, seperti yang sudah dilakukan Putrama Tuta di Catatan Harian Si Boy untuk franchise klasik Catatan Si Boy. Adalah Lucky Kuswandi, sutradara muda yang kita kenal lewat Madame X (2010) dan Selamat Pagi, Malam (2014) yang beruntung ditunjuk untuk menggarap Galih dan Ratna versi generasi milenial bertajuk Galih & Ratna (G&R). Tak hanya duduk sebagai sutradara, Lucky juga menyusun naskahnya bersama Fathan Todjon. Sheryl Sheinafia yang kita kenal sebagai presenter acara musik di salah satu stasiun TV nasional dan sempat menunjukkan kemampuan aktingnya di Koala Kumal bersama Raditya Dhika, ditunjuk untuk mewakili sosok Ratna, sementara Refal Hady yang dikenal lewat serial TV dipercaya menghidupkan karakter Galih. Tak hanya film, G&R juga mencoba mempopulerkan kembali lagu tema yang sempat begitu populer dengan mempercayakannya kepada trio GAC.

Ratna baru saja dipindahkan oleh sang ayah yang super sibuk dari Jakarta ke Bogor. Ia dititipkan kepada sang tante, Tantri. Di sekolah yang baru Ratna menarik perhatian Galih, seorang siswa biasa-biasa saja yang berupaya keras memperoleh beasiswa karena di rumah hanya sang ibu yang menafkahi dengan membuka usaha katering. Sementara masih ada sang adik yang masih kecil dan perlu biaya sekolah. Harapan mereka sebenarnya ada pada toko kaset lama milik mendiang sang ayah yang dulunya sempat menjadi rujukan sekota Bogor untuk mencari kaset musik. Sang ibu berniat menjual toko tersebut, tapi Galih tidak setuju karena faktor kenangan dengan sang ayah. Melihat kondisi tersebut Ratna berinisiatif untuk kembali membangkitkan toko kaset legendaris tersebut. Salah satu caranya adalah mempopulerkan kembali pembuatan mixtape sebagai cara untuk menyatakan perasaan. Sementara itu, bakat bermusik Ratna pun mulai disadarinya karena bantuan Galih. Upaya sukses dan hubungan manis keduanya ternyata tak berlangsung lama karena sang ibu tetap pada pendiriannya. Belum lagi sang ayah menginginkan Ratna kuliah di luar negeri selulus SMA. Cita-cita dan asmara menjadi pilihan yang sulit bagi Galih maupun Ratna.
Dari sinopsisnya, G&R sebenarnya lebih tepat disebut sebagai sebuah estafet generasi sosok ikonik Galih dan Ratna seperti halnya Catatan Harian Si Boy (CHSB) ketimbang murni remake. Bedanya, jika menggunakan nama-nama karakter yang berbeda, maka G&R masih mempertahankan setidaknya dua nama karakter ikoniknya. Selebihnya, G&R adalah kisah yang jauh berbeda. Tak hanya mengikuti jaman lewat berbagai elemen-elemen kekiniannya, konflik yang dihadirkan pun juga disesuaikan. Jika dulu ‘perjodohan’ menjadi kasus klasik kandasnya kisah cinta remaja, maka G&R memilih pilihan hubungan asmara dan cita-cita sebagai alasan untuk ‘memisahkan’ keduanya. Tema yang saat ini menjadi trend, tak hanya di Indonesia, tapi juga Hollywood (terakhir kali lewat La La Land) dan bahkan Bollywood.
Chemistry yang berkembang natural dan terlihat convincing antara Sheryl  dan Refal menjadi daya tarik utama yang kekuatannya cukup besar untuk membuat penonton betah dengan kebersamaan keduanya. Sementara daya tarik yang tak kalah besar terletak pada dimasukkannya elemen medium kaset pita yang pernah menjadi ikon era 80-90’an. Tak mudah ‘meracuni’ generasi yang serba praktis dan mudah seperti sekarang untuk tertarik melirik teknologi yang lebih terbelakang. G&R termasuk yang berhasil membuat teknologi kaset pita terasa keren, apalagi untuk menyampaikan perasaan kepada seseorang dengan membuat mixtape. Lebih dari itu, ia pun berhasil menyampaikan filosofi puitis di balik kaset pita yang relevan dengan plot utama, baik dalam hal kelemahan kaset pita yang tak bisa meng-skip lagu maupun filosofi di balik dipatahkannya kotak pengaman di atas kaset supaya isi rekaman tak terhapus. Filosofi-filosofi yang bahkan tak terpikirkan oleh saya yang sempat tumbuh di era kejayaan kaset pita.
Elemen persahabatan yang menjadi salah satu syarat penting untuk film remaja masih ditampilkan dengan porsi yang cukup. Memang tak sampai digali terlalu dalam, yang membuat kita tak merasakan seru-seruan bareng sahabat, misalnya antara Ratna, Mimi (Rain Chudori), dan Erlin (Stella Lee). Atau antara Galih, Anto (Agra Piliang), dan genk basketnya. Seolah ada jarak antara mereka. Untungnya masing-masing punya porsi dan keunikan penampilan sehingga cukup noticeable dan membekas dalam memori penonton.
Lucky sendiri memasukkan pendekatan-pendekatan a la arthouse yang notabene lambat dan sunyi di beberapa kesempatan. Untungnya ini tak ia terapkan secara terus-menerus. Masih ada keseimbangan dan energi yang menggerakkan plotnya sehingga masih enjoyable untuk diikuti oleh penonton muda sebagai target audience utamanya.
Dukungan performa dari Marissa Anita sebagai Tantri, tante Ratna, Ayu Dyah Pasha sebagai Mirna, ibu Galih, Hengky Tornado sebagai Oka, ayah Ratna, Sari Koeswoyo sebagai Kepala Sekolah, Joko Anwar sebagai Pak Dedy, sampai Indra Birowo sebagai sopir angkot pun semakin menyemarakkan film lewat performa masing-masing yang memorable.
Camera work dari Amalia TS memberikan nafas romantisme dan energi muda dengan porsi yang serba pas. Lembut ketika mengalun romantis, sedikit dinamis (tapi tak sampai kelewat enerjik yang akan membuat turnover terlalu signifikan) ketika ‘seru-seruan’. Editing Arifin Cuunk pun menyusun adegan dengan timing yang serba pas, senada dengan sinematografi Amalia. Artistik Dita Gambiro, termasuk tata kostum dari Aksara Sophiaan dan Darwita K Karin terlihat cukup signatural untuk tiap karakter tapi masih dalam konteks natural. Musik dari Ivan Gojaya mengiringi momen-momen manis dan dilematisnya dengan lembut meski tak sampai menjadi alunan yang akan terus bertahan dalam ingatan. Pemilihan GAC (Gamaliel-Audrey-Cantika) untuk membawakan lagu ikonik, Galih & Ratna beserta lagu-lagu baru maupun lawas yang diaransemen ulang semakin memberi warna yang beragam ke dalam film, mulai Agustin Oendari, White Showes & the Couples Company, Rendy Pandugo. Sheryl sendiri, bahkan sampai Koil. Salah satu kompilasi soundtrack film Indonesia yang layak dikoleksi tahun ini.
Me-remake atau menyerahkan tongkat estafet antar generasi sebenarnya keputusan yang riskan. Ada banyak pihak lintas generasi yang harus dipuaskan. G&R saya rasa salah satu dari yang berhasil memuaskan kedua pihak. Penonton muda akan dengan mudah menerima konsepnya yang serba kekinian, ringan tapi tak cheesy, dan menyuguhkan gimmick trend yang berhasil terlihat keren. Dengan strategi promosi yang tepat, bukan tidak mungkin menggunakan mixtape untuk menyatakan perasaan akan kembali menjadi trend. Sementara bagi penonton dewasa (termasuk generasi Rano Karno-Yessy Gusman – yang sayangnya terkesan ‘numpang lewat’ semata, tak diberi porsi yang lebih berkaitan dengan plot utama selain sekedar gestur estafet generasi di awal film) akan mengenang kembali manisnya masa-masa percintaan di SMA sekaligus trend-trend mendengarkan musik lewat medium kaset pita.
Lihat data film ini di IMDb dan filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates