Thursday, March 23, 2017

The Jose Flash Review
The Devil's Candy

Jesse Hellman, seorang ayah bergaya metal, berprofesi menjadi pelukis untuk menafkahi keluarganya; sang istri, Astrid, dan putri semata wayangnya yang juga ikut-ikutan bergaya metal, Zooey. Demi membayar kepindahan mereka ke rumah yang baru, ia rela melukis objek untuk bank yang sama sekali tidak sesuai kepribadiannya. Di rumah yang baru Jesse seperti kerasukan yang menggerakkannya untuk melukis objek mengerikan. Zooey pun kedatangan pria misterius yang memberikannya gitar elektrik legendaris. Siapa sangka pria misterius ini ternyata menggiring Zooey dalam bahaya.

Premise demikian memang tergolong sangat familiar dan bahkan formulaic di genre horror. Apalagi konsep cerita tentang sekte Satanic yang sudah terbaca dengan mudah sejak menit pertama. The Devil’s Candy (TDC) pun seolah semakin mengejahwantahkan anggapan bahwa musik metal adalah musik pemujaan Setan. Pengembangan plot-nya pun tak ada yang istimewa. Lantas bukan berarti ia tak punya daya tarik sama sekali.
Sean Byrne (The Loved Ones) selaku penulis naskah sekaligus sutradara rupanya sudah mendesain TDC sebagai sebuah horror dengan kemasan yang unik. Memanfaatkan riff gitar sebagai elemen utama scoring gubahan Mads Heldtberg, Michael Michael Yezerski, dan band Sun O))), mengiringi adegan-adegan ganjil menjadi semakin eerie, disturbing (in a good way), bahkan mungkin hampir menghipnotis. Editing dari Andy Canny yang kerap seirama dengan riff gitar dan lagu-lagu pengiring semakin mempertegas konsep. Menjadikan TDC sebuah pengalaman horror yang unik dan mengerikan dengan caranya sendiri.
Masih ingat Ethan Embry yang memerankan remaja culun Preston Meyers di Can’t Hardly Wait (1998) dan T.B. Player di That Thing You Do! (1996)? Saya cukup kaget dengan penampilan metal gahar tapi tetap punya kelembutan seorang ayah pada sosok Jesse Hellman. Pun chemistry father-daughter yang dibangunnya bersama Kiara Glasco terjalin dengan cukup convincing dan hangat. Sementara Kiara sendiri cukup mencuri perhatian penonton sebagai Zooey. Kemudian ada Pruitt Taylor Vince yang membuat sosok pria misterius, Ray Smilie, terasa begitu mengancam sekaligus mengerikan.
Sebagai sebuah horror indie, TDC menawarkan pengalaman horror yang unik yang mungkin masih sangat jarang ada, bahkan bagi penonton yang tidak menyukai musik metal sekalipun. Alih-alih berisik, riff gitar beraliran metal yang mengiringi hampir sepanjang film justru menjadi nyawa tersendiri yang menghantarkan suasana eerie-nya. Sayang rasanya jika dilewatkan begitu saja, apalagi jika Anda termasuk penggemar genre horror.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates