Friday, March 24, 2017

The Jose Flash Review
Dear Nathan


Mimpi untuk menjadi penulis (khususnya novel) sebenarnya semakin mudah diwujudkan akhir-akhir ini, apalagi dengan platform bernama Wattpad. Banyak sekali karya tulis yang telah berhasil membuktikan dibaca oleh jutaan pengguna (meski sebenarnya merupakan hasil akumulasi dari tiap kali dibuka ketika ada update cerita) dan membuat penerbit tertarik untuk membukukannya. Salah satu yang paling sukses adalah Dear Nathan (DN), karya Erisca Febriani. Tak hanya diterbitkan dalam bentuk buku, Rapi Films pun tertarik untuk mengadaptasinya ke layar lebar. Apalagi mengingat pangsa pasar remaja yang memang paling mendominasi penonton bioskop tanah air. Bagus Bramanti (Mencari Hilal, Love and Faith, Talak 3, dan upcoming, Kartini) ditunjuk untuk mengadaptasi naskahnya bersama Gea Rexy, sedangkan bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Indra Gunawan (Hijrah Cinta). Selain materi cerita yang sudah punya fanbase sendiri, daya tarik yang tak kalah besarnya adalah dipasangkannya bintang muda yang masih tergolong pendatang baru,  Jefri Nichol (baru saja kita lihat debutnya di Pertaruhan) dan Amanda Rawles (baru saja di Promise). Meski punya kans yang besar untuk sukses secara komersial, DN masih punya beban ekspektasi yang cukup besar dari penonton yang menantikan film drama percintaan remaja yang digarap baik di generasi sekarang, setelah Ada Cinta di SMA dan Galih dan Ratna yang telah menetapkan standard cukup tinggi di genrenya.

Di hari pertama masuk, Salma yang baru pindah sekolah datang terlambat. Untung ada Nathan, siswa yang dikenal badung ini menunjukkan jalan rahasia untuk masuk ke dalam sekolah. Salma tertarik dengan Nathan yang menyimpan sisi misterius meski beberapa teman cewek memperingatkannya bahwa Nathan bukan cowok baik-baik. Nathan sendiri terus-terusan melakukan pendekatan yang cukup frontal. Perlahan Salma dan Nathan semakin dekat dan saling mengenal kehidupan pribadi masing-masing. Salma yang awalnya tak memahami kepribadian Nathan menemukan rahasia keluarga yang membentuk sosok Nathan seperti saat ini.
Sama seperti kebanyakan drama roman remaja, DN sebenarnya dibuka dengan setup yang sangat formulaic. Pun juga dengan proses perkembangan hubungan antara Nathan dan Salma. Namun setidaknya kesemua perkembangan disusun dengan mulus (termasuk untuk turnover moment), pace yang serba pas (menyenangkan, manis, dan tetap punya momen-momen dramatis yang pas). Tak hanya roman, plot DN pun punya pondasi yang cukup konsisten dan solid soal latar belakang keluarga Nathan, yang punya pertalian kuat terhadap plot utama, dan menjadi bagian dari konklusi yang relevan sekaligus solid; menyandingkan hubungan antara Nathan dan ayahnya dengan Nathan dan Salma. Ada nilai tentang memahami dan  (atau) menyayangi orang lain (dalam konteks ini, pasangan), yang artinya DN menyuguhkan roman yang lebih dewasa, bukan sekedar bumbu-bumbu gombal pickup lines yang dilontarkan oleh Nathan di paruh awal film. Tak ketinggalan pula bagaimana plot membuat penonton penasaran (bahkan mungkin sempat sampai dibuat bingung) dengan ‘rahasia’ dan mengungkapnya secara dramatis tapi tetap terasa mulus, tidak terasa terlalu mengada-ada.
Satu kekurangan minor dari DN adalah konsistensi pengucapan nama Daniel, bahkan oleh satu karakter yang sama. Ada kalanya dipanggil Daniel, tapi di lain kesempatan diucapkan sebagai Danil. Sangat minor sekali, nyaris tanpa punya pengaruh terhadap keseluruhan film, tapi cukup mengusik benak saya.
Meski tergolong pendatang baru dan memikul beban peran paling berat, Jefri Nichol dan Amanda Rawles telah berhasil membuktikan diri punya what it takes to be the lead characters. Tak hanya tampil luwes dan membawakan peran masing-masing dengan detail karakteristik yang jelas, keduanya juga punya kharisma yang sangat kuat untuk melekat pada ingatan penonton. Di lini pemeran pendukung, Surya Saputra sebagai ayah Nathan jelas terasa paling menonjol. Selain porsi peran yang cukup besar terhadap keseluruhan plot, chemistry love-hate antara father-son yang dibangunnya bersama Jefri terjalin kuat dan punya momen-momen yang memorable. Karina Suwandi dan Ayu Dyah Pasha tampil cukup noticeable. Sementara di lini bintang-bintang muda, ada Rayn Wijaya, Diandra Agatha, dan Beby Tsabina yang juga cukup menarik perhatian.
Teknis DN tergolong sangat sederhana tapi serba terasa lebih dari cukup dalam menjalankan fungsinya. Mulai sinematografi Ivan Anwal Pane yang bercerita dengan jelas dan camera work yang efektif dalam menyampaikan detail-detail adegan. Editing Ryan Purwoko menjaga pace-nya flow dengan baik, both in fun and dramatic moment, sekaligus menjaga penyusunan plot dengan pengungkapan ‘rahasia’ dengan timing tepat dan terjahit mulus. Musik dari Andhika Triyadi lagi-lagi berhasil menjadikan momen-momen terpenting DN terasa lebih bernyawa dan berwarna. Tak ketinggalan soundtrack dari HiVi, terutama Dari Mata ke Hati dan Pelangi yang membuat tone manis dan menyenangkan dari DN semakin terasa.
Beyond my expectation, DN tak hanya menjadi just another teenage romance yang manis dan menghibur. Ia punya setup serius yang relevan dengan plot utamanya dan disusun dengan cukup solid. Konklusinya pun terasa dewasa tanpa meninggalkan kesederhanaan romansa remaja. Bagi penonton remaja, ia menjadi sajian manis sekaligus ‘bernutrisi’ lebih. Sementara bagi penonton dewasa, ia menjadi nostalgia manisnya percintaan saat remaja sekaligus bahan refleksi atau pengingat yang bisa saja masih relevan di usia dewasa.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates