Tuesday, March 21, 2017

The Jose Flash Review
Dark Summer


Daniel yang masih berusia 17 tahun harus menjadi tahanan rumah dengan gelang sensor di pergelangan kaki yang akan berbunyi jika ia melewati garis batas rumahnya. Ia juga tak boleh menerima tamu masuk dan menggunakan internet karena nomer IP-nya sudah ditandai. Sendirian di rumah membuat ia mencari cara untuk melewatkan waktu, termasuk menyelundupkan kedua sahabatnya, Kevin dan Abby untuk masuk ke dalam rumah dan meminjami laptop untuk sekedar berkomunikasi dengan sang ibu. Iseng-iseng ia men-stalk gadis pujaannya, Mona Wilson. Malang ia stalk di saat yang tidak tepat. Mona melakukan aksi bunuh diri di depan kamera Skype. Semenjak itu Daniel mulai mendapatkan berbagai teror yang mengarah ke sosok Mona. Cara-cara supranatural hasil browsing di internet dicoba untuk menghentikannya, tapi Daniel menemukan fakta lain di balik teror-teror tersebut.

Dari sinopsis di atas, dengan mudah mengingatkan kita akan Disturbia (2007), sebuah drama thriller yang dibintangi Shia LaBeouf. Bahkan judul tersebut sempat dirujuk oleh Abby dan Daniel di dalam film. Kemudian Mike Le selaku penulis naskah dan Paul Solet selaku sutradara mengembangkannya menjadi setup sebuah horror supranatural yang sebenarnya juga tergolong formulaic. Jujur, malahan jumpscare-jumpscare (yang untungnya beberapa masih berhasil) yang disusun di antara setup dan klimaks tak memuat perkembangan plot yang berarti. Selain jumpscare yang berhasil, daya tarik lain yang patut diacungi jempol adalah pembangunan atmosfer creepy dan eerie terutama lewat elemen sound design yang di-mixing dengan efektif pula, ditambah permainan pembagian kanal surround. Lagu-lagu dari Elysian Fields yang lirik-liriknya cukup suportif terhadap plot pun semakin menambah pekat nuansa eerie. Maka pengembangan plot yang minim dan pace yang tergolong kelewat lambat masih bisa cukup ditebus olehnya. Apalagi twist-revealing yang cukup tak terduga dan setelah dianalisis ulang punya relevansi yang cukup baik.
Keir Gilchrist (Daniel), Stella Maeve (Abby), dan Maestro Harrell (Kevin) mungkin nama-nama yang masih asing di telinga kita, pun juga dengan tampilan yang all-American-boy (and girl). Tak terlalu istimewa tapi tampil dengan porsi yang pas sesuai kebutuhan peran masing-masing.
Sebagai sajian horror indie, Dark Summer masih tergolong efektif dalam mengemban tugas utamanya; menghibur lewat jumpscare, bangunan nuansa eerie, dan twist-revealing. Kendati secara keseluruhan masih tergolong formulaic dan biasa saja, kelebihan-kelebihan tersebut masih membuatnya layak untuk disimak sebagai pengisi waktu luang, terutama bagi penggemar horror. Even better di layar bioskop yang mumpuni untuk mengalami eerie atmosphere-nya secara maksimal.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates