Monday, March 20, 2017

The Jose Flash Review
Beauty and the Beast (2017)


Kesuksesan demi kesuksesan komersial membuat Disney semakin semangat untuk meremake film-film animasi klasiknya ke dalam format live action. Setelah Alice in Wonderland, Maleficent, Cinderella, The Jungle Book, dan Pete’s Dragon, kini giliran salah satu film animasi Disney yang bahkan menjadi satu-satunya film animasi Disney yang masuk nominasi Best Picture, Beauty and the Beast (BatB). Selain versi Disney, dongeng klasik asal Perancis ini sebenarnya sudah punya beberapa versi live action. Paling terakhir, versi Perancis sendiri yang diproduksi tahun 2014 lalu dengan bintang Vincent Cassel dan Lea Seydoux.  Namun brand ‘Disney’ dan sentuhan musikal dari versi animasinya yang sudah menjadi karya klasik tersendiri tentu tetap akan membuat penonton dari seluruh dunia, tak perduli golongan usia dan strata sosialnya, penasaran. Naskah adaptasinya disusun oleh tim yang cukup berpengalaman di masing-masing elemen, Evan Spiliotopoulous di genre fantasi (The Jungle Book 2, The Lion King 1 ½, Tarzan 2, Cinderella III, The Little Mermaid: Ariel’s Beginning, Tinker Bell and the Lost Treasure, Hercules (2014), dan The Huntsmen: Winter’s War) dan Stephen Chbosky di genre musikal (Rent dan The Perks of Being a Wallflower). Sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Bill Condon yang dikenal lewat musikal Dreamgirls, The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1 & 2, dan penulis naskah Chicago.

Tim utama yang sudah sangat menjanjikan masih ditambah kehadiran aktris mantan Hermione Granger di franchise Harry Potter, Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Kevin Kline, Josh Gad, serta didukung nama-nama populer seperti Ewan McGregor, Emma Thompson, Sir Ian McKellen, Stanley Tucci, dan Gugu Mbatha-Raw. Sempat memilih jalan kontroversi dengan menggaungkan isu film Disney pertama dengan karakter gay (mungkin maksudnya mengikuti trend yang diusung oleh Moonlight), brand Disney dan BatB terlalu kuat untuk menuai kesuksesan global.
Alkisah seorang pangeran dikutuk menjadi makhluk monster buruk rupa karena mengusir seorang penyihir yang sedang menyamar menjadi wanita miskin. Tak hanya Sang Pangeran tapi juga karyawan-karyawan penghuni seisi istimewa yang dikutuk menjadi peralatan rumah tangga. Hanya ada satu cara untuk mematahkan kutukan tersebut; harus ada seorang gadis yang membuat sang pangeran jatuh cinta dan berbalas sebelum keping mahkota mawar ajaib terakhir rontok. Dengan kutukan tambahan istana pangeran yang dilupakan oleh rakyat sekitar, membuatnya mustahil untuk dipatahkan. Hingga suatu ketika seorang pria tua tak sengaja memasuki istana dan memetik salah satu bunga mawar di pekarangannya. Murka, Sang Pangeran buruk rupa memenjarakan si pria tua.
Siapa sangka ternyata si pria tua, Maurice, punya seorang putri gadis cantik kutu buku tapi dianggap aneh oleh warga sekitar. Gadis bernama Belle ini lantas mencari keberadaan sang ayah hingga istana Sang Pangeran. Berniat menggantikan sang ayah untuk dikurung dalam penjara istana, Belle justru prihatin dengan kondisi Sang Pangeran setelah mendengarkan cerita masa lalunya dari Lumière, Cogsworth, Mrs. Potts, Chip, Madame Garderobe, Maestro Cadenza, dan perabotan rumah ‘hidup’ lainnya. Perlahan Sang Pangeran melunak, apalagi Belle yang hobi membaca seolah klik dengan koleksi perpustakaan Sang Pangeran. Belle pun melihat sesuatu yang lebih mendalam dari tampilan fisik buruk rupa dari Sang Pangeran. Namun sebelum kutukan sempat terpatahkan, konflik memuncak ketika Maurice meminta bantuan pada Gaston, pemuda mantan prajurit yang rela melakukan apa saja demi menarik hati Belle, dan seluruh warga desa untuk menyerang istana dan membebaskan Belle.
Secara garis besar memang tak ada perubahan yang berarti dari versi animasinya. Namun ada cukup banyak elemen yang dimasukkan untuk memperkaya serta mempertajam esensi utama yang sudah ada sekaligus menyesuaikan dengan kondisi sosial maupun pola pikir masyarakat modern, mulai tentang kondisi masyarakat yang suka ikut-ikutan dalam men-judge, woman empowerment yang jauh lebih detail, misalnya penggambaran Belle yang seolah meng-invent mesin cuci dan bagaimana ia menanggapi rayuan Gaston, hingga tema ‘there’s more than meets the eye’. Kesemuanya dikemas dalam sajian musikal yang jauh lebih banyak ketimbang versi animasinya. Mungkin sedikit terlalu banyak (yang mengakibatkan durasi ikut bertambah hingga total 129 menit) dan daya magisnya tak sekuat atau sebesar versi animasi, tapi it has its own magic. Bagi saya pribadi, ada dua nomor musikal yang paling berkesan. Be Our Guest yang jadi visual grandeur memanjakan mata dan Days in the Sun yang berhasil mengaduk-aduk emosi saya.
Speaking of gay character yang digembar-gemborkan, LeFou, to be honest cukup mengejutkan saya karena terasa cukup kentara, baik melalui gesture maupun lirik lagu (terutama Gaston yang menurut saya memuat metafora menjurus ke arah ‘tersebut’), kendati tak sampai terang-terangan juga. Tak perlu diributkan lebih lanjut karena menurut saya penggambarannya cukup halus, tak sampai eksplisit, dan masih tergolong aman untuk konsumsi seluruh anggota keluarga dari berbagai golongan usia.
Emma Watson adalah pilihan yang paling sempurna untuk merepresentasi sosok Belle; cerdas, berani, independen, tapi tetap lembut. Chemistry yang dibangun dengan Dan Stevens pun sangat meyakinkan dan melalui proses yang convincing. Stevens sendiri tak mengecewakan sebagai Beast, terutama berkat turnover character dan character’s depth yang ditampilkan dengan mulus namun kentara jelas. Luke Evans pun menghidupkan sosok Gaston dengan begitu luwes tanpa terkesan dibuat-buat. Sementara Kevin Kline sebagai Maurice, Josh Gad sebagai LeFou, serta Ewan McGregor, Emma Thompson, Sir Ian McKellen, Stanley Tucci, Gugu Mbatha-Raw, Nathan Mack, dan Audra McDonald, memberikan warna yang benar-benar hidup dalam arti sesungguhnya sebagai perkakas-perkakas ‘hidup’.
Urusan teknis, Disney tentu mengerahkan segala sumber daya terbaik untuk menghidupkannya. Mulai sinematografi Tobias A. Schliessler yang seolah tahu betul bagaimana membuat tiap frame tampak begitu mengagumkan, cantik, megah, efektif dalam bercerita, sekaligus berdaya magis. Editing Virginia Katz pun cukup mampu membuat tiap transisi menjadi kesatuan yang padu dan berkesinambungan sekaligus menetapkan pace yang pas untuk momen-momen spektakuler dan emosionalnya. Desain produksi Sarah Greenwood beserta tim artistiknya memperkuat kemagisan dengan tampilan set dan kostum yang identik dengan versi animasi tapi tetap punya ciri khas-nya sendiri. Scoring Alan Menken pun demikian. Begitu kuat dan megah untuk mengiringi setiap momennya. Lagu-lagu baru pun masih pada nuansa yang sejalan dengan lagu-lagu asli dan cukup memorable untuk jangka waktu yang lama. Jika Anda merasa kurang ‘klik’ dengan theme song yang dibawakan John Legend dan Ariana Grande, Celine Dion kembali dengan membawakan nomor baru berjudul How Does a Moment Last Forever, serta Josh Groban yang menyumbangkan suara untuk Evermore, mengiringi kredit title.
Format IMAX 3D adalah pilihan terbaik untuk menikmati BatB. Selain aspect ratio khusus (1.90:1) yang lebih full ketimbang format layar reguler (2.35:1), versi 3D juga menawarkan kelebihan-kelebihan, seperti depth of field yang layak, serta beberapa adegan yang seolah sengaja dibuat demi memamerkan pop-out gimmick yang maksimal. Sound mixing IMAX pun terdengar maksimal. Jernih, crispy, megah, sekaligus dahsyat, terpompa dengan pembagian kanal surround yang kentara.
BatB versi live action tentu sajian Disney yang pantang dilewatkan begitu saja bersama seluruh anggota keluarga. Bagi yang pernah menyaksikan versi animasinya, BatB versi live action membangkitkan kembali memori sekaligus daya magis. Sementara bagi penonton baru, BatB versi live action ini akan memukau Anda dengan plotnya yang punya relevansi kuat seiring kondisi jaman saat ini sekaligus daya magis lewat visual dan nomor-nomor musikalnya. A-must-see for everyone.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates