Monday, March 20, 2017

The Jose Flash Review
Badrinath Ki Dulhania
[बद्रीनाथ की दुल्हनिया]


Jika memperhatikan tema sinema Hindi beberapa tahun terakhir, Anda akan kerap menemukan tema feminisme atau women empowerment. Selain tingginya kasus pelecehan terhadap wanita yang sempat menjadi isu internasional yang hangat, masyarakat India tampaknya masih banyak yang menganut budaya tradisional yang cenderung memposisikan wanita di bawah kaum pria. Sutradara/penulis naskah Shashank Khaitan yang tahun 2014 lalu sukes menghantarkan film komedi romantis, Humpty Sharma Ki Dulhania (HSKD), menjadi box office besar dan semakin melambungkan pasangan Varun Dhawan dan Alia Bhatt setelah breathrough performance di Student of the Year, turut mengikuti jejak trend ini. Produser Karan Johar memberikan lampu hijau kepada Khaitan untuk mengembangkan HSKD menjadi sebuah franchise. Badrinath Ki Dulhania (BKD – yang dalam bahasa Inggris punya arti harafiah ‘The Bride of Badrinath’) bukanlah sebuah sekuel langsung dari HSKD meski masih mengusung Dhawan-Bhatt sebagai pasangan utama. Lebih merupakan kesatuan franchise dengan persamaan tema tapi cerita yang sama sekali berbeda, seperti halnya Kahaani dan Jolly LLB.

Badrinath Bansal dibesarkan di lingkungan keluarga yang masih memegang teguh persepsi masyarakat tradisional India di Jhansi. Anak laki-laki diibaratkan aktiva tetap yang kehadirannya dinanti-nantikan keluarga India manapun, sebaliknya anak perempuan dianggap sebagai ‘pasiva tetap’ yang dihindari. Ketika mencapai usia yang dianggap tepat untuk menikah, keluaraga pihak perempuan justru yang harus melamar pihak pria dengan mas kawin. Badrinath bersikeras tak ingin dinikahkan dengan pilihan orang tua seperti halnya yang terjadi pada sang kakak, Alok yang tampak tak bahagia. Pilihan hatinya jatuh kepada sosok wanita rebel yang tampaknya punya pemikiran yang sejalan dengannya, Vaidehi Trivedi. Sayang, selain masih trauma dengan hubungan sebelumnya, Vaidehi memutuskan untuk tidak menikah sebelum kakaknya perempuannya. Segala cara dilakukan Badrinath demi bisa menikahi Vaidehi, termasuk memanfaatkan kebiasaan masyarakat Jhansi pada umumnya yang juga dianut kedua orangtuanya. Namun setelah semua hampir berhasil dan berakhir bahagia, Vaidehi mengambil keputusan besar yang mengejutkan semua pihak.
Dibuka dengan metafora dan berbagai sindiran-sindiran masyarakat India pada umumnya yang ‘keras’ namun masih penuh hormat dan menggelitik, kisah asmara standard Bollywood a la ‘a boy meet a girl’ mulai bergulir manis kemudian. Tentu kekuatan utamanya terletak pada penampilan Varun sebagai Badrinath dan Alia sebagai Vaidehi beserta dengan chemistry luar biasa keduanya. Karakter-karakter yang memang ditulis dengan teramat baik, terutama perbedaan besar antara Badrinath dan Vaidehi kendati sekilas terkesan sama-sama rebel. Meski menentang adat kebiasaan masyarakat, Badrinath masih memanfaatkannya untuk mendapatkan Vaidehi, sementara Vaidehi sendiri digambarkan punya tekad yang lebih kuat dan lebih konsisten. Proses pertemuan Badrinath dan Vaidehi hingga bertemu di satu titik seiring dengan perkembangan masing-masing karakter disusun dengan mulus, natural, dan logis. Tema women empowerment yang mencoba mendobrak pola pikir tradisional masyarakat pun dilakukan dengan teramat halus. Seolah mengajak penonton untuk benar-benar merasakan dan merefleksikan tentang subjek yang diangkat. Hingga klimaks yang memberikan konklusi dengan rekonsiliasi memuaskan semua pihak, termasuk kaum tradisional yang sejak awal menjadi ‘bulan-bulanan’ sindiran film. Menjadikan BKD tak hanya sebuah komedi romantis satire yang cerewet dan penuntut, tapi juga merekonsiliasi kesemua pihak dengan hati yang besar serta hangat. Menggelitik pun juga cerdas.
Tak perlu meragukan lagi kualitas akting sekaligus chemistry yang dijalin oleh Varun Dhawan dan Alia Bhatt kendati sebenanya masing-masing masih memainkan peran tipikal. Varun sebagai pria yang ‘agak kurang cerdas’ tapi bermodalkan nekad, sementara Alia sebagai wanita modern cerdas. Di BKD, image tersebut terpatri makin jelas dan kuat pada diri Alia. Pemeran-pemeran pendukung pun diberikan porsi yang pas untuk menjadi noticeable atau bahkan menancap dalam ingatan penonton untuk waktu yang cukup lama, terutama Sahil Vaid sebagai tokoh komedik, Somdev yang mengingatkan saya akan sosok Jack Black maupun Zach Galifianakis.
Dari segi teknis, BKD lebih dari cukup dalam menyampaikan kisahnya. Mulai sinematografi Neha Parti Matiyani yang mampu ‘bercerita’ dengan efektif sekaligus membuat nomor-nomor musikalnya terkesan megah dan cantik, hingga editing Manan Sagar yang menjaga keseimbangan pace tiap fase dan laju plot yang bergerak secara efektif. Sayangnya untuk urusan nomor musikal, lagu-lagu yang dihadirkan masih terasa kurang memorable kendati punya lirik-lirik yang bagus.
Melanjutkan sukses HSKD, BKD tampaknya juga mendapatkan sambutan hangat dari penonton India maupun dunia. Dengan penampilan serta chemistry manis dari Varun dan Alia yang masih terjaga, ditambah naskah yang solid, termasuk dalam memasukkan isu-isu sosial terkini secara tajam dan cerdas, tanpa kehilangan hati, serta humor-humor menggelitik yang memang terkesan slapstick dan komikal tapi effortlessly hilarious, segala pujian dan kesuksesan HSKD terasa begitu layak. Salah satu film Hindi terbaik dan terpenting di tahun 2017 ini.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates