Thursday, March 30, 2017

The Jose State of Mind
VOD Streaming Service:
A Substitute or a Complement
on How People Watching Movies?

How come people enjoy streaming movies to the max?

Sebagai seorang moviegoers sejak kecil, bioskop dan home video selalu menjadi pilihan utama saya untuk menonton film. Bioskop sebagai format yang menawarkan pengalaman terbaik dalam menikmati film, yang sampai sekarang pun masih menjadi tujuan pembuatan film yang utama. Teknis-teknis pembuatan film termaksimal dimaksudkan untuk bisa dinikmati di layar bioskop dengan fasilitas mumpuni. Sementara home video menjadi alternatif ketika suatu film tak dirilis di bioskop lokal atau koleksi untuk binge-watch film-film paling favorit kapan saja. Apalagi dengan dukungan perangkat home theatre yang cukup mendukung (setidaknya ada LCD 42" dan tata suara 5.1). Meski tak sedahsyat di bioskop, tetapi tetap terasa maksimal dengan perbandingan ukuran ruangan. Channel khusus movie di TV berbayar pun tak pernah membuat saya berpikir untuk berlangganan, karena toh kebanyakan sudah saya tonton di bioskop. Yang belum ditonton pun saya lebih memilih format DVD karena faktor fleksibelitas waktu. Dua pilihan format ini saya pegang teguh bahkan setelah era digital dimana film-film bisa dinikmati secara streaming ataupun digital download.
Saya sebenarnya sempat tak paham bagaimana orang bisa menikmati film secara streaming atau digital download di layar sekecil laptop atau bahkan tablet/smartphone. Belum lagi faktor kecepatan internet di Indonesia yang masih sering membuat acara streaming tersendat-sendat. Bagi saya, ini semua sangat mempengaruhi mood nonton. Well, digital download baru saya lirik ketika tertarik nonton film yang tak dirilis di bioskop lokal dan juga belum rilis DVD di sini (sedih, makin ke sini makin jarang film-film favorit rilis di format DVD). Jika suka dan merasa perlu koleksi, baru beli DVD atau BD. Jika tidak suka atau biasa saja, tinggal hapus. Yang jelas, digital download bagi saya bukan pilihan untuk mengkoleksi film (bayangkan punya tumpukan hard disk, bukannya box bercover DVD yang keren-keren. Big NO! NO!). Sementara VOD streaming service? Pernah sih coba iseng-iseng download aplikasi dan register karena masih gratis. Salah satunya HOOQ (anyway, saya sarankan untuk membandingkan kecenderungan koleksi tiap layanan dengan preferensi pribadi sebelum memutuskan berlangganan yang mana. As to me, I'd prefer HOOQ yang merupakan layanan VOD premium pertama di Asia dengan dukungan penuh dari Sony Pictures Entertainment, Warner Bros., dan Singtel). Dibandingkan layanan sejenis lainnya, koleksinya boleh juga, range variannya sangat lebar, dan kualitasnya pun oke. Namun saat itu saya belum menemukan alasan untuk terus berlangganan. Semua fasilitas untuk menikmati film secara 'layak' (setidaknya menurut opini saya pribadi) masih memadai.

Momen-momen 'menunggu'

Pandangan saya berubah ketika saya pindah ke Jakarta untuk bekerja. Agenda nonton film di bioskop masih tetap menjadi prioritas utama, tapi tak ada home theatre. Hanya ada seperangkat komputer untuk menonton film-film yang tidak tayang di bioskop nasional. Ditambah 'gaya hidup' di ibukota yang sama sekali berbeda. Ada sangat banyak waktu 'menunggu' yang sayang jika dihabiskan hanya untuk berdiam diri. Menunggu bus transjakarta tiba, menunggu selama berada di dalam bus yang minimal menghabiskan waktu sekitar satu jam. Bahkan ketika saya sudah berangkat lebih awal agar tidak terlambat meeting, saya masih punya waktu untuk menunggu klien atau vendor tiba. In these cases, iseng-iseng streaming film lewat HOOQ ternyata kinda addictive. Saya yang sebelumnya malas mengikuti serial karena alasan availabilitas waktu pun akhirnya bisa mengisi waktu luang sembari 'menunggu' untuk selalu update.
video

Obat Kangen

Lebih dari itu, layanan streaming macam HOOQ ternyata punya peran dan fungsi lebih banyak daripada yang saya kira sebelumnya. Misalnya ketika saya mengeksplor tempat-tempat di Jakarta yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, seringkali membawa kenangan akan film-film yang pernah menjadikannya lokasi syuting. Let's say kedai Filosofi Kopi di Melawai yang terinspirasi dari film Filosofi Kopi. Sempat sedih karena salah satu film Indonesia favorit saya itu tidak rilis dalam format home video. Ternyata exclusively available di HOOQ. Begitu juga Surat dari Praha, Daun di Atas Bantal, Pasir Berbisik, dan banyak lagi judul-judul lain yang sebelumnya saya tidak tahu bisa ditonton di mana. Untuk film Hollywood, tidak perlu dipertanyakan lagi. Yang sempat bikin saya kegirangan adalah My Girl dan My Girl 2 yang dibintangi Anna Clumsky. Somehow it has brought me back to my childhood where those were representing sweet romance for the first time to me. Untuk pertama kalinya akhirnya saya memutuskan mulai berlangganan HOOQ. Money value pun menjadi pertimbangan tersendiri. Tentu dengan harga harga IDR 49.500 perbulan sudah bisa mengakses semua film di library HOOQ jauh lebih ekonomis ketimbang harus beli per film seharga US$ 14.99-15.99 atau sewa seharga US$ 4.99-5.99 tapi dengan berbagai keterbatasannya.

Akses library referensi tanpa batas

Ada satu lagi faedah HOOQ yang saya temukan secara tak sengaja. Bekerja di bidang kreatif, khususnya audio visual production, membuat saya perlu menyiapkan referensi-referensi untuk dipresentasikan ke klien dan/atau menjelaskan ke tim divisi lain. Sebelumnya saya harus mempersiapkan materi-materi referensi dengan mengunduh filmnya atau mencari DVD-nya. Cara tersebut jelas memakan waktu tersendiri. Apalagi jika ketika meeting atau diskusi tiba-tiba kami menemukan ide-ide baru. Browse filmnya di HOOQ dan langsung memutarnya secara streaming jadi pilihan yang sangat efisien dan efektif, bukan?
Kelebihan lain yang dimiliki HOOQ adalah terbukanya akses untuk mendownload film yang diinginkan secara penuh terlebih dulu baru diputar. Fitur ini jelas sangat bermanfaat untuk jaga-jaga ketika jaringan internet sedang down san/atau untuk menghemat kuota internet. Tinggal download ketika terkoneksi wi-fi di kantor, baru kemudian dinikmati dengan lancar ketika perjalanan pulang dan berangkat kantor esok harinya. Oh how I love my new choice of watching movies!

Bukan menggantikan, tapi melengkapi

So, yes. Akhirnya saya menemukan fungsi dan manfaat berlangganan layanan streaming film, khususnya kelebihan-kelebihan fitur yang ditawarkan HOOQ ketimbang layanan sejenis lainnya. Selain tentu saja range varian library-nya yang patut diacungi jempol. Mulai Hollywood, Indonesia,  anime Jepang, Bollywood, Eropa, Telugu, Thailand, sampai Filipina. Baru maupun klasik. Major maupun indie. Film panjang maupun serial dan variety show. Bagi saya pribadi, memang tak akan menggantikan pilihan menonton film di bioskop dan mengkoleksi versi home video, tapi jelas melengkapi pilihan untuk kepentingan sehari-hari. Movies are definitely becoming so much more to life. You should give it a try too.
Coba HOOQ sekarang di Google Play dan App Store

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates