Friday, February 10, 2017

The Jose Flash Review
Surga yang Tak Dirindukan 2

Drama romansa dan reliji adalah dua genre yang selalu mendapatkan tempat di hati penonton Indonesia, terutama para ibu-ibu dan remaja putri yang sehari-hari begitu akrab dengan tayangan sinetron. Ditambah lagi masyarakat Indonesia dikenal masih memegang teguh nilai-nilai keagamaan, khususnya Islam sebagai agama dengan penganut terbesar. Maka tak salah jika perpaduan genre ini menjadi salah satu komoditas paling menguntungkan di layar lebar kita. You can’t just underestimate the power of ibu-ibu dan remaja putri. Nama Asma Nadia sebagai penulis novel yang satu per satu karyanya diangkat ke layar lebar adalah salah satu yang bisa dibilang jaminan laris berkat fanbase dan jaringan kepenulisan yang besar. Film adaptasi dari novelnya yang terlaris adalah Surga yang Tak Dirindukan (SyTD – 2015) dengan jumlah penonton  sebanyak 1.5 juta penonton lebih. Angka yang menobatkannya sebagai film Indonesia terlaris tahun 2015. Tentu kesuksesan ini tak lepas dari dukungan MD Pictures yang dikenal ambisius. Mulai pemilihan aktor-aktris sampai penggarapan teknis yang di atas rata-rata film Indonesia. Kesuksesan ini tentu sayang jika tidak dikembangkan lebih besar lagi.

Maka dibuatkan sekuelnya, Surga yang Tak Dirindukan 2 (SyTD2), dengan ambisi yang lebih besar lagi. Selain kembalinya Fedi Nuril, Laudya Cynthia Bella, dan Raline Shah dari SyTD, aktor yang dianggap paling versatile dan nomer satu di Indonesia, Reza Rahadian turut digaet. Bangku penyutradaraan pun diserahkan kepada ‘guru’ Kuntz Agus (sutradara SyTD) yang tak perlu diragukan lagi reputasinya, Hanung Bramantyo. Sementara naskahnya disusun oleh Hanung, Asma, dan Alim Sudio yang sudah menjadi ‘langganan’ adaptasi novel Asma.
Empat tahun setelah Meirose berpisah dengan pasangan suami-istri Pras dan Arini, kehidupan rumah tangga mereka berjalan bahagia bersama seorang putri bernama Nadia. Suatu ketika Arini mendapatkan undangan ke Budapest untuk membahas buku karyanya yang ternyata populer di negara tersebut. Maka berangkatlah Arini bersama Nadia dan asistennya, Sheila. Sementara Pras menyusul beberapa hari kemudian karena kesibukan pekerjaan. Tak disangka kondisi kesehatan Arini drop. Ketika diperiksa ternyata Arini mengidap kanker otak stadium tinggi dan usianya diprediksi tidak akan lama lagi. Bak jodoh, Arini bertemu dengan Meirose yang selama ini pindah dan membangun kehidupan baru di Budapest bersama putranya, Akbar. Maka Arini pun beride untuk menjadikan Meirose sebagai istri pengganti bagi Pras sekaligus ibu bagi Nadia. Maka ketika Pras tiba di Budapest, siasat untuk kembali mendekatkan mereka berdua dijalankan. Begitu pula Nadia yang semata-mata ingin mewujudkan keinginan terakhir ibundanya. Keadaan menjadi keruh karena Meirose selama ini menjalin hubungan serius dengan dokter yang merawat Arini, Syarief, dan bahkan sempat melamar Meirose.
Poligami adalah tema yang tergolong sensitif, bahkan di negara dengan mayoritas muslim yang mengijinkan poligami sampai batas maksimal empat istri. SyTD mengangkat tema ini dengan pengkondisian yang bisa dikatakan konyol. I mean, come on… Memang jaman dulu Nabi Muhammad memperbolehkan poligami atas dasar kemanusiaan, seperti menikahi janda miskin untuk lebih menyejahterakan. Namun menjadikan belas kasihan dan dengan ancaman bunuh diri sebagai alasan terasa menggelikan. Lagipula formula demikian bukankah tak berbeda dengan Ayat-Ayat Cinta (AAC) all over again? SyTD2 agaknya mencoba untuk ‘memperbaiki’ dan membawa kisah SyTD ke jalan yang lebih baik, fair, acceptable, baik yang pro maupun yang kontra dengan poligami. Memang memasukkan tema disease (penyakit) terkesan ‘cari jalan gampang’ dan masih tak kalah cliché-nya di genre drama kita, tapi setidaknya ini cara yang tepat untuk membuat justifikasi yang lebih fair atas tema poligami yang sempat diangkatnya.
SyTD2 pun memasukkan humor-humor untuk menyeimbangkan agar suasana tak jatuh menjadi kelewat melankoli dan tearjerker, dengan ditambahkan karakter-karakter komikal seperti Panji (Muhadkly Acho), Amran (Kemal Palevi), dan Hartono (Tanta Ginting). Bahkan di awal sempat dengan cukup berani menyindir (atau lebih tepatnya ‘mengolok-olok’) betapa menggelikannya premise di installment pertama.
Guliran plot dramanya memang masih sangat sinetron yang serba kebetulan. Well, dengan fanbase sebesar itu tentu ada tujuan fan-service yang harus dipenuhi. Namun berkat penanganan Hanung, plot melaju dengan ‘santai’ dan cukup mengalir. Sayangnya pilihan laju plot seperti ini bisa punya dampak yang berbeda bagi penonton. Sebagian penonton mungkin akan menikmatinya, apalagi jika ditonton dengan kondisi santai, tidak dengan prasangka tertentu atau terburu-buru. Sementara penonton lainnya akan merasakan sengaja dilambat-lambatkan agar durasinya mencapai dua jam dua menit.
Penyelesaian konflik di akhir pun juga akan menjadi kontroversi di antara penonton. Bagi sebagain penonton akan berpikir bahwa apa yang dilakukan Arini sangatlah egois dengan ‘memaksakan’ Meirose menjadi penggantinya, tanpa memperdulikan perasaan Pras kepada Meirose atau sebaliknya, maupun perasaan Dokter Syarief yang saat itu tengah menjalani hubungan serius dengan Meirose. Di sinilah SyTD membuktikan bahwa sikap egois dan logika tiap orang berbeda-beda, tergantung dari latar belakang masing-masing. Dalam konteks ini, penonton yang masih single (apalagi dengan pemikiran modern) akan berbeda dengan penonton yang sudah berkeluarga dan punya anak. Well, in this case sebenarnya saya pribadi mengalaminya dalam keluarga. Ibu kandung saya meninggal dunia ketika adik bungsu saya, satu-satunya perempuan, masih duduk di kelas dua SD. Sebagai satu-satunya perempuan di dalam keluarga dan masih sangat kecil, tentu memerlukan sosok seorang ibu. Apalagi adik bungsu saya tergolong susah akrab dengan orang lain, termasuk saudara almarhumah ibu. Setelah dikenalkan dengan beberapa orang, akhirnya ada satu orang yang berhasil ‘menaklukkan’ adik saya. Ayah saya lantas menikahinya semata-mata karena kebutuhan adik saya, sementara ia sendiri belum bisa berpaling hati dari almarhumah ibu. Awalnya saudara-saudara almarhumah ibu sempat mencibir karena menganggap terlalu cepat. Namun perlahan akhirnya sikap mereka biasa saja dan mulai bisa menerima. Time heals.
Sama seperti apa yang coba disodorkan SyTD2 dimana ia menggunakan karakter Nadia, putri semata wayang Pras dan Arini, sebagai alasan yang rasional untuk mempersatukan kembali Pras dan Meirose, which is sebenarnya juga merupakan bentuk fan-service. Urusan perasaan Pras dan Meirose, bukankah sejak SyTD pertama sudah digambarkan betapa bahagianya pernikahan mereka meski mempraktekkan poligami? Kekurangannya mungkin vkarena ia terkesan mengesampingkan perasaan Dokter Syarief. Namun saya masih bisa menerima pilihan tersebut. Selain faktor menjaga fokus cerita dan duration-wise, dengan kondisi yang demikian, tentu karakter se-intelek dan se-berhati besar Dokter Syarief akan lebih memilih mengikhlaskan diri. Toh, bukankah melalui interview dan press conference selalu disampaikan bahwa tema besar yang ingin diangkat SyTD2 adalah ‘keikhlasan’? Dengan demikian, apa yang disajikan SyTD2 sebenarnya masih pada koridor yang benar dan sejalan, terlepas dari resepsi penonton dengan logika yang berbeda-beda.
Fedi Nuril masih konsisten membawakan peran Pras. Well to be honest, ia masih memainkan karakter tipikal yang sudah melekat kuat pada dirinya sejak Ayat-Ayat Cinta. Tapi jika ia memang cocok memerankan karakter demikian dan bahkan sudah punya fanbase tersendiri, kenapa tidak? For some actor, certain self-branding termasuk penting. Begitu juga Laudya Cynthia Bella sebagai Arini dan Raline Shah sebagai Meirose yang semakin luwes memainkan perannya, termasuk urusan menjalin chemistry dengan Fedi maupun satu sama lain. Reza Rahadian lagi-lagi membuktikan kemampuannya dalam membentuk karakter sendiri dan terasa bedanya dengan peran-perannya yang lain. Menjadikan sosok Dokter Syarief punya kharisma tersendiri yang mampu menarik simpati penonton kendati porsinya masih di bawah drama antara Pras-Arini-Meirose. Penampilan aktris cilik Sandrinna Michelle Skornicki yang semakin luwes dalam memerankan karakter Nadia sulit untuk tak mencuri perhatian penonton, sementara Keefe Bazli Ardiansyah sebagai Akbar masih jauh dari kata mengesankan. Kehadiran aktris Malaysia, Nora Danish sebagai Sheila, Kemal Palevi, Tanta Ginting, dan Muhadkly Acho juga masih cukup memorable sebagai karakter-karakter ‘ice-breaker’.
Sinematografi Ipung Rachmat Syaiful mampu mengeksplorasi keindahan budaya Budapest (speaking of which, konon pemilihan Budapest sebagai setting sebenarnya karena menang pitch atas program kementrian pariwisata Budapest bagi filmmaker Indonesia, bukan ‘bonus’ karena kesuksesan film pertamanya seperti yang banyak digosipkan) sekaligus bercerita dan menyampaikan dramanya dengan baik. Camera work-nya bergerak mengikuti pergerakan aktor-aktornya dengan smooth sesuai dengan alurnya yang mengalir. Editing Wawan I Wibowo selaras dengan style penceritaan Hanung kali ini. Meski jika dipikir-pikir bisa dibuat lebih dinamis dan tak sepanjang hasil akhir, laju plotnya masih terasa mengalir lancar. Score music Tya Subiakto, seperti biasa sesuai karakteristik MD Picutres, terdengar dramatis berlebihan di banyak kesempatan, tapi masih acceptable. Menurut saya tak semengganggu score music {rudy habibie}. Artistik dari Allan Sebastian dan kostum dari Retno Ratih Damayanti menyuguhkan warna-warna vibrant yang cukup memanjakan mata. Terakhir, tata suara dari Trisno, Satrio Budiono, dan sound mixing Chris David (Oscar nominee untuk Legends of the Fall (1994)) di Hollywood, mungkin tak terlalu terdengar punya dampak yang kentara apalagi bagi penonton awam. Namun setidaknya membuat elemen-elemen suara yang ada terdengar serba seimbang dan nyaman bagi telinga.
SyTD2 memang sudah punya pangsa pasar sendiri dengan pola pikir, logika, dan selera yang cocok. Jika sejak awal Anda termasuk yang tidak cocok dan tidak setuju dengan pemikiran-pemikiran a la Asma Nadia, maka tak perlu Anda menyaksikannya hanya sekedar untuk mencaci maki. I mean, why bother buying a food you’ve already known you would’t like just to scold ‘em? Namun jika Anda merasa punya pola pikir dan logika yang sejalan, serta menyukai tema drama reliji khas Asma Nadia, maka SyTD2 adalah sebuah fan-service yang tetap akan memuaskan. Memang masih dengan formula-formula khas sinetron yang serba kebetulan, tapi dengan upaya untuk memperbaiki plot dengan justifikasi yang fair dengan kondisi, SyTD2 bagi saya masih acceptable dibandingkan installment pertama (saya tahu pendapat ini arguable, relatif bagi semua orang, juga tergantung dari segi mana).
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates